NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyambut Pagi, Menyusun Hari

Mentari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar, menyapa wajah Cika yang masih setengah terpejam. Di sampingnya, Al masih tertidur lelap dengan napas teratur. Cika menatap suaminya sebentar, lalu tersenyum dan perlahan bangkit dari tempat tidur. Hari ini bukan hari spesial, bukan hari ulang tahun atau peringatan apa pun. Tapi justru karena itu, ia ingin hari ini berjalan dengan hangat dan biasa saja—seperti pasangan suami istri pada umumnya.

Ia turun ke dapur, mulai menyiapkan sarapan. Musik instrumental mengalun pelan dari ponsel, aroma nasi goreng dan teh melati mengisi udara. Ia menata meja makan dengan rapi, lalu membuka jendela lebar-lebar agar cahaya pagi masuk sepenuhnya.

Tak lama kemudian, Al muncul di ambang pintu dapur dengan rambut masih berantakan dan mata setengah mengantuk. Ia mengenakan kaus putih longgar dan celana pendek santai.

“Selamat pagi,” kata Cika dengan nada riang.

“Pagi,” balas Al sambil duduk dan mengusap mata. “Kamu kelihatan semangat banget.”

“Aku pengen kita punya rutinitas kecil. Bangun pagi, sarapan bareng, obrolan ringan. Gitu.”

Al menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum. “Kedengarannya seperti hidup yang layak dicoba.”

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, sesekali saling menyuap dan tertawa kecil saat Al menumpahkan sedikit saus ke bajunya.

---

Setelah sarapan, mereka mulai membagi pekerjaan rumah. Cika membersihkan ruang tamu, Al menyapu halaman. Cika mengelap rak buku, Al mengecek keran air di dapur belakang yang sedikit bocor. Mereka bekerja dalam diam yang produktif, saling melirik dan tersenyum di sela-sela kegiatan.

Saat menyusun ulang rak buku, Cika menemukan sebuah kotak kecil berisi kartu pos dan catatan kecil dari masa kuliahnya. Ia menunjukkan pada Al satu kartu pos bergambar pantai dengan catatan di baliknya:

"Suatu hari, aku ingin tinggal di tempat yang tenang, penuh buku, dan orang yang mencintaiku sepenuh hati."

Al membaca pelan, lalu menatap Cika. “Sepertinya kamu udah sampai di sana.”

Cika tersenyum pelan. “Iya. Tapi kadang aku masih nggak percaya.”

“Kenapa?”

“Karena semua ini terasa terlalu baik. Setelah semua yang pernah aku lewati, aku nggak pernah bayangkan bisa punya pagi seperti ini.”

Al meraih tangannya. “Dan aku nggak pernah bayangkan bisa punya seseorang yang bikin rumah ini terasa hidup.”

---

Di sore hari, mereka pergi belanja ke pasar tradisional. Cika menggandeng tangan Al saat menawar tomat dan cabai. Al terkekeh saat Cika beradu mulut kecil dengan pedagang demi selisih dua ribu.

“Kamu galak juga ya kalau di pasar.”

“Harus. Ini ladang pertempuran.”

Mereka pulang membawa kantong-kantonG penuh bahan makanan dan semangat baru. Cika mulai memasak untuk makan malam, dan Al, dengan celemek bergambar ayam, membantu mencuci bahan dan memotong sayur.

“Aku kayak suami rumah tangga,” gumam Al.

“Kamu suami segala bisa,” jawab Cika sambil mencolek hidungnya dengan saus.

Mereka makan malam dengan lampu temaram, suara jazz pelan dari speaker, dan tawa yang memenuhi ruang makan.

---

Malamnya, mereka duduk di sofa kecil sambil menyusun to-do list minggu depan. Kalender rumah baru digantung di dekat meja makan, penuh coretan dan post-it warna-warni.

Cika membaca ulang daftar mereka, lalu tertawa. “Kita bahkan bikin jadwal kapan harus belanja sabun.”

“Pernikahan itu tentang hal remeh juga, kan?” kata Al, menyandarkan kepala ke bahu Cika.

“Dan dari hal-hal remeh itu, cinta tumbuh.”

Al mengangguk pelan. “Aku suka hidup kita sekarang. Bukan karena semuanya mudah. Tapi karena kita jalanin bareng.”

---

Di malam yang tenang itu, tanpa ada kejutan besar atau konflik hebat, mereka saling tahu: cinta tidak selalu hadir dalam bentuk grand gesture atau kata-kata puitis. Kadang ia hadir lewat sarapan pagi, tumpukan baju yang dilipat, atau obrolan sebelum tidur tentang harga cabai.

Dan dalam kesederhanaan itu, cinta mereka justru terasa paling nyata. Di rumah kecil yang mereka pilih bersama, cinta tumbuh perlahan—nyata, hangat, dan penuh syukur.

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!