"Aku bukan anak haram.. hiks.. hiks''
teriak seorang gadis kecil seraya mengusap air matanya yang terus mengalir.
" Tata anak haram..anaak haram.. gak punya ayah.''
ledek beberapa anak-anak terus meneriaki gadis kecil itu dengan kata-kata anak haram.
'' aku punya ayah..hiks..hiks,'' gadis kecil itu terus menangis.
" Dimana coba ? kau itu tak punya ayah, ibu kamu kan pe*l**r,"
teriak seorang gadis memakai baju berwarna biru.
Tata Dwi Lestari seorang gadis yang harus mengalami kehidupan yang pahit akibat profesi ibunya sebagai wanita penghibur. Dimana hal itu membuat dirinya dicap anak haram oleh orang-orang disekitarnya dan mengalami kehidupan pahit serta psikis yang tidak mudah percaya pada orang lain.
Bagaimana perjuangan Tata dalam menghadapi semua cobaan hidupnya ??
apa dia akan ikut masuk dunia gelap seperti ibunya, atau dia akan mengubah pandangan setiap orang tentang dirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Gendis dan Cindy
Begitu sunyi kontrakan minimalis itu. Terlihat seorang gadis duduk di sebuah kursi persis di depan kontrakan itu seperti menunggu kedatangan seseorang. Tatapannya kosong kedepan, seperti ada sebuah beban pikiran yang sedang ia tanggung.
Dalam pikirannya berputar-putar mengenai hari esok apa yang harus dirinya lakukan saat melamar pekerjaan. Dalam angannya ia berharap semoga kelancaraan menimpa dirinya esok.
" Tata semangat! Lo harus bisa hadapi hari esok." Tata menyemangati dirinya sendiri untuk hari esok.
" Ibu kemana ya? Sudah pukul satu siang tapi ibu belum juga pulang." Gumam Tata penuh khawatir.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan kontrakan itu, membuat Tata bertanya-tanya siapa gerangan orang yang ada didalamnya dan alasan mobil itu berhenti persis di depan kontrakannya. Dan semua rasa penasaran Tata terjawab saat ia melihat sosok pria yang membukakan pintu dan keluarlah sosok wanita yang tak lain adalah Ratih. Tata begitu terkejut melihat kondisi ibunya itu yang sangat buruk, dengan segera dia berlari mendekati Ratih dan bertanya.
" Ibuuuu..! Apa yang terjadi, kenapa ibu bisa seperti ini?" Tanya Tata begitu khawatir melihat kondisi Ratih yang ternyata kakinya juga sedikit pincang, dengan segera Tata memapah tubuh Ratih membantunya untuk masuk kontrakan.
" Suruh pria itu masuk juga Ta, dia yang sudah menolong ibu." Pinta Ratih yang di angguki Tata dan berkata. " Mari pak ikuti kami masuk ke dalam." Keduanya berjalan yang juga di ikuti oleh pria itu di belakangnya.
Dengan segera Tata mengambil kotak P3K dari dalam kamarnya dan mengobati luka-luka Ratih dengan lembut di dalam kamarnya. Sesekali Ratih mengernyit kesakitan saat rasa perih menyerangnya. " Sekarang ibu jawab dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Tata, tapi Ratih sungguh sosok ibu yang sangat baik, ia berbohong kepada Tata dan mengatakan bahwa ia terjatuh saat berbelanja di pasar sehingga ia terluka. Tata masih terus mendesak agar Ratih berkata dengan jujur, namun pada akhirnya Tata harus mengalah dan berpura-pura mempercayainya.
" Ya sudah, Tata ke dapur dulu mau buat minum untuk bapak yang sudah menolong ibu hari ini." Ujar Tata yang di angguki oleh Ratih. Tata keluar dari kamar Ratih menuju dapur membuat secangkir minuman untuk pria itu.
" Silahkan pak diminum." Ucap Tata saat meletakkan gelas di atas meja. Pria itu mengangguk tersenyum.
" Panggil saja om Deni, siapa nama kamu?" Tanya pria yang mengenalkan sosoknya sebagai Deni.
" Oh maaf om, nama saya Tata om! Maaf kalo boleh tahu om ini siapanya ibu?" Tata begitu penasaran pada sosok Deni yang terkesan dimatanya seperti sosok yang hangat.
" Kami hanya dua kali bertemu, pertama di angkotan umum dan yang kedua tadi di pasar saat saya melihat ibu kamu berlari terseok-seok dalam kesulitan karena pengunjung pasar lainnya." Ujar Deni yang mana membuat Tata yakin bahwa apa yang sebelumnya Ratih katakan adalah kebohongan.
" Maaf om! Bisa om Deni ceritakan kejadian yang sebenarnya, karena saya pikir untuk bertanya ke ibu rasanya tidak nyaman melihat kondisi ibu saat ini." Pinta Tata pada Deni.
" Saya gak tahu betul peristiwanya namun saya bisa menceritakan apa saja yang saya lihat." Deni mengambil secangkir minuman itu dan meminumnnya kemudian ia mulai menceritakan semuanya.
Tanpa sadar kristal-kristal bening keluar dari kedua matanya, dengan suara sedikit seraj Tata menucapkan terima kasih banyak kepada Deni.
" Sayangi ibumu ya Ta, om pikir sebenarnya banyak sekali hal yang telah ia korbankan untuk kamu." Ucap Deni kembali yang di angguki oleh Tata dengan cepat.
" Iya om, itu pasti om dan Tata akan usaha supaya ibu tidak di perlakukan dengan buruk kedepannya." Ucap Tata dengan penuh keyakinan.
" Ya sudah om pulang dulu, salamkan untuk Ratih nama saya Deni dan tetap kuat." Deni beranjak melangkah keluar dari kontrakan itu di iringi Tata di belakangnya.
" Iya om." Balas Tata.
Setelah mengantar kepergian Deni, Tata segera masuk dan menuju kamar Ratih. Lama Tata memandang Ratih yang terlelap, bangga itu yang kini Tata rasakan memiliki sosok ibu seperti Ratih.
" Bu, maafkan Tata! Tata janji mulai saat ini Tata akan terus melindungi ibu." Gumam Tata membenahi selimut Ratih dan meninggalkan kamar Ratih.
****
Suara tawa yang begitu keras terdengar dari dalam rumah yang terlihat paling besar di gang itu.
" Hari ini ibu bahagia sekali Cindy..hahahah." Ucap Gendis tertawa.
" Ibu sungguh hebat bisa buat wanita itu malu di depan umum." Timpal Cindy yang ikut sumringah.
" Ibu yakin Cin, sekarang pasti pasangan anak dan ibu itu sedang menangis tersedu-sedu kerana malu hahahaha." Ucap Gendis yang membuat Cindy tersenyum licik dan mendekati Gendis yang kini sudah beranjak dari sofa dan berdiri membelakangi Cindy.
" Apa ibu akan terus melakukan ini pada mereka?" Tanya Cindy.
Dengan pongahnya dan tatapan penuh kemarahan serta dendam terlihat jelas di dalamnya.
" Ibu tidak akan pernah berhenti sampai Ratih dan anaknya merasakan apa yang dulu ibu dan keluarga ibu rasakan saay di desa." Ucap Gendis sinis.
" Apa ibu?" Tanya Cindy yang begitu penasaran melihat sikap ibunya yang begitu membenci Ratih dan Tata, walau Cindy juga membenci mereka tapi ia rasa kebencian yang ia miliki tak sebesar kebencian Gendis pada mereka.
" Dulu saat masih di desa, keluarga aku bekerja di rumah keluarga Ratih sebagai pembantu, saat berusia 4 tahun aku sudah berada di Jakarta bersama paman dan bersekolah disini, hari itu saat berusia 17 tahun aku memutuskan untuk kembali mengunjungi orang tua di desa, namun saat tiba disana tak sangka justru menjumpai hal yang begitu manyakitkan, Aku melihat kedua orang tua ku atau kakek dan nenekmu di usir dari kediaman Ratih, dan hal yang paling menyakitkan saat itu bapak dalam kondisi sakit parah, aku yang saat itu pulang hanya membawa sedikit uang mencoba mengobati penyakit bapak, namun pada akhirnya bapak gak bisa diselamatkan, dan ibu... dia meninggal karena kecelakaan saat pulang dari pemakaman bapak, dan coba kau tebak Cindy siapa yang ibu lihat di dalam mobil itu?"
" Si..siapa bu?"
" Ibu lihat salah satu dari penumpang mobil itu adalah Ratih." Terlihat kesedihan mendalam dan dendam dari matanya.
" Tapi siapa sangka keluarga yang kaya itu tidak lama bangkrut dan yang lebih membuat bahagia ialah keluarga Ratih mengalami kecelakaan dan yang selamat hanya Ratih." Gendis tersenyum lebar.
" Sungguh malang nasibmu Ratih, bahkan sekarang kondisi kamu sang kembang desa dulu begitu memperhatinkan." Cindy menepuk punggung Gendis mencoba memberi dukungan pada ibunya itu dalam membalaskan dendam mereka pada Ratih dan Tata.
****
**Bersambung...
******
Terimakasih buat kalian para pembaca yang budiman! Mohon dukungan dan bantuannya memberikan like, komen, vote, dan rate, pada setiap karya ku ya...
See youu di eps selanjutnya ya guys! jangan lupa tinggalkan jejak😊😊**
mentang2 byk duit, seolah2..........
hehehe
bukannya Tata udah rau kalau Adit itu CEO dan juga kan Tata juga dah sempat jadi karyawannya Adit?
Kok jadi kesannya di bab ini Tata masih nyangka Adit fotografer?