wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.
Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.
Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejanggalan-3
Ayu merasa kesal dengan ucapan Andana yang sangat menyinggung perasaannya. "Mengapa Ia mengatakan itu padaku? Apakah ia mengetahui jika aku menggunakan pesugihan?" ucapnya dengan kesal.
Sementara itu, Andana mengendarai motornya dengan perasaan jengkel karena wanita yang tak tau diri itu. Saat bersamaan, ia melihat Bagas dan Nisa pulang sekolah dengan berjalan kaki. Orang-orang menatapnya dengan tatapan sinis dan penuh cibiran.
Bocah itu berjalan dengan kening berpeluh, karena saat ini mentari tampak bersinar terik.
Gadis itu menghentikan motornya."Gas, Nisa, sini!" panggilnya.
Seketika kedua bocah itu menghampirinya. "Ada apa, Bu? Tanya mereka hampir bersamaan, dan tentunya dengan rasa penasaran.
"Kalian hafal surah An-nas dan ayat Qursi?" tanya sang bidan dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
Keduanya mengangguk serempak. "Bagus. Ingat pesan Ibu Bidan, baca kedua ayat itu, lalu tiupkan ke telapak tangan dan sapukan dari ujung rambut hingga ujung kaki, kalian faham?!" ucap Andana, sembari mempraktekan caranya kepada dua bocah itu.
"Faham, Bu...,tapi untuk apa? Ustaz Guntur juga mengatakan hal tersebut malam kemarin," ungkap Bagas.
Andana menghela nafasnya. "Agar tidak ada syetan yang mengganggu kalian," jawabnya dengan setenang mungkin.
Keduanya saling pandang. "Oh, Setan yang dirumah saya, ya--Bu?" Bagas menimpali.
"Sssttttss...," Andana menutup mulut Bagas dengan jemari telunjuknya, "Jangan kencang-kencang, nanti ada yang dengar," Gadis itu setengah berbisik, dan menganggukkan kepalanya."Jika kalian melihat, jangan takut, sebab sepantasnya dia yang takut pada kita," pesan Andana kepada keduanya.
Bagas beserta Nisa mengangguk cepat. Kemudian mereka berpisah.
Kedua bocah itu berjalan dengan cepat, sebab rasa lapar sudah sangat terasa pada lambung mereka. Nyanyian cacing didalam perut bagaikan sebuah nada lagu yang begitu syahdu dan sendu.
"Heei, Bagas, sini, Kamu!" panggi Mbak Santi dan juga Ida yang merupakan group ghiba.
Keduanya sudah tampak malas, karena perut mereka sangat lapar.
"Ada apa sih, Bu?" tanya Bagas, dengan wajah leau.
"Ih, ini anak dipanggil orang yang yang lebih tua koq jawabnya begitu," omel mbak Santi kesal.
"Maklum, orang kaya naru, jadi sombong dan norak," Ranti menimpali.
Tak ingin membuat omelan bertambah panjang, keduanya terpaksa menghampiri kumpulan emak-emak ghibah tersebut.
"Eh, Bagas...! Anak orang kaya kenapa jalan kaki? Tapi ibumu beli mobil dan juga motor," sindir Santi dengan tatapan sinis.
Kedua bocah itu tampak bingung. "Maksudnya apa, ya Bu?" tanya keduanya dengan tidak mengerti.
"Hallaaah! pura-pura gak tau. Ibumu pakai pesugihan apa bisa kaya mendadak? Numbalin anaknya--ya?" Santi kembali menimpali.
Keduanya semakin bingung. Namun kata tumbal ini sering terdengar ditelinga Bagas, dan membuat bocah itu semakin penasaran.
"Sebenarnya tumbal itu apa, sih, Bu Santi?" tanya Bagas dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Asal kamu tau, ya? Tum...,"
"Bagaaaas, Nisa, pulang!" teriakan Ayu yang berdiri dipagar rumah dengan jarak 50 meter ke tempat ghibahan para emak-emak.
Dengan cepat kedua bocah itu memutar tubuhnya dan berpamitan dengan para emak-emak yang yang tadi menahan langkah keduanya.
"Pulang!" Ayu kembali mengulangi titahnya, tentu dengan tatapan yang tajam dan kedua tangan berkacak pinggang.
Keduanya mempercepat langkahnya dan tentu saja karena takut mendapat omelan dari sang ibunda yang terkenal dengan arogan juga tempramental.
"Lihat, lihat. Perut si Ayu sudah kempis. Berarti benar dia sudah melahirkan, dan si Yudi juga cerita jika subuh itu si Sugi pinjam motor untuk menjemput bidan Andana," Santi tampak mengamati dengan ujung ekor matanya.
"Iya, tapi kenapa gak ada dengar suara tangisan bayi, Ya? Apa bayinya meninggal?" Ida mulai angkat bicara.
Mereka mulai menebak-nebak apa yang terjadi.
Setibanya dirumah, Ayu tampak membolakan matanya. "Sedang apa kalian?" tanya Ayu dengan wajah bengis.
"Tidak ada, Bu," jawab Bagas berbohong.
"Kata Bu Santi Ibu numbalin anak," jawab Nisa dengan polosnya.
Seketika wajah Ayu memerah padam. "Sialan si Santi, awas saja, Dia!" Ayu menggeretakkan bibirnya dengan kuat. Ia seakan ingin menelan Santi bulat-bulat.
Ingin rasanya ia mendatangi perkumpulan ghibah itu untuk melabrak semuanya, namun tiba-tiba jahitannya terasa sakit dan ada yang terlepas.
"Lihat saja kalian, aku akan balas jika jahitanku sudah sembuh," ucapnya dengan penuh dendam.
Ia lalu beranjak akan masuk kerumah. Namun langkahnya terhenti karena melihat Bagas dan Nisa yang terlihat bingung karena memandangi mobil dan juga motor yang terparkir didepan rumah mereka.
"Bu, ini mobil dan motor dari siapa?" tanya Bagas dengan rasa curiga.
Ayu sepertinya sangat kesal dengan puteranya yang satu ini, sebab terbilang cerewet, dan itu membuatnya sangat kesal.
"Ya punya kitalah, masa punya orang!" sahut Ayu sengit.
"Tapi ibu uang darimana? Ayah cuma cari ilan, mana mungkin bisa beli mobil dan motor sebanyak ini," cecarnya.
Ayu semakin kesal terhadap puteranya. "Eh, Bagas! Bisa gak sih, kamu itu gak usah banyak tanya! Kamu ini terlalu cerewet sekali. Seharusnya kamu senang kita memiiliki semua ini!" Ayu tampak kehilangan kesabarannya karena bocah tersebut.
"Bagas cuma bertanya, kenapa ibu marah," jawabnya, lalu memasuki rumah.
Ia melihat Laila sedang menyapu rumah, sedangkan Meli tampak bermain diruang tengah. Ia melihat banyak perabotan mahal sudah mengisi rumah baru mereka. Bahkan terlihat kasur mereka juga sudah diganti dengan kasur busa empuk yang pastinya sangat mahal.
"Bagas, Nisa, makanlah, dahulu, kalian pasti lapar," ucap Laila yang terlihat sangat lelah.
Ayu baru saja menyusul masuk dan melihat Bagas masih berdiri memandangi perabotan mahal yang tampak memenuhi rumah mereka.
"Mau protes apalagi, kamu, ha?" tanya Ayu yang tampak sudah tak lagi mampu menahan kesabarannya menghadapi Bagas.
Bocah itu menatap ibunya dengan tatapan tanpa ekspresi. Ia berusaha menghormati wanita yang ia sebut ibu.
"Ibu banyak uang?" tanya Bocah itu dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Kalau iya kenapa!"
"Kalau iya tolong cari pembantu rumah tangga, minimal dua orang, agar ibu terlihat semakin berkelas dan orang kaya sungguhan, bukan menyiksa kak Laila yang sudah semakin kurus," jawabnya dengan penuh penekanan, lalu mengambil sapu yang dipegang oleh sang kakak dan meraih pergelangan tangan gadis kecil yang semakin tampak sangat kurus.
Ayu membolakan kedua matanya. Perkataan Bagas sungguh sangat menu-suknya, dan rasanya ia ingin segera melenyapkan bocah itu selamanya.
Saat bersamaan, tiba-tiba saja,
"Haaa....," Meli terpekik keras dan menangis ketakutan lalu berlari menuju Laila dan meminta digendong oleh sang kakak. Tampaknya Meli baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Ia menutup wajahnya pada dada sang kakak yang terlihat sangat lelah.
Bagas mengambil alih, dan berganti menggendong sang adik, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Belum sempat Ayu mengomel, seseorang sedang memanggil Ayu dari luar rumah.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
sampe baca 2x
oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya
hidup Sugi
baru kali ini ana baca novel gini amat
Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas