Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
"Code Blue!" suara Dokter Jason membelah lorong. "Siapkan defibrilator! Panggil tim resusitasi, sekarang!"
Pintu ruang pemeriksaan tertutup tepat di depan Keira.
Ia berdiri di lorong dengan selimut darurat jatuh di sekitar kakinya. Di balik kaca buram, bayangan orang-orang bergerak cepat. Satu perawat mendorong troli alat. Yang lain menekan kantong ambu. Suara perintah Dokter Jason datang berlapis-lapis, pendek, tajam, tidak memberi ruang untuk panik.
"Kompresi. Hitung."
"Defib siap."
"Clear."
Tubuh Keira menggigil lebih keras. Bukan hanya karena dingin. Di dalam ruangan itu, suara jantung Engkong Tedjo menghilang sejenak, seperti radio yang mendadak kehilangan sinyal.
Pak Chen berdiri tidak jauh darinya. Wajah pria itu sudah tidak merah karena marah. Warnanya pucat, hampir kelabu. Kedua tangannya menggenggam ujung lengan jas basah sendiri sampai kusut.
"Kalau tadi..." suaranya pecah. "Kalau tadi saya menurunkan Nona di jalan..."
Keira tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk menghibur orang yang beberapa menit lalu menuduhnya penipu. Ia juga tidak membencinya. Pak Chen hanya melakukan apa yang wajar dilakukan orang loyal saat majikannya terancam.
Yang tidak wajar adalah dunia yang membuat seorang gadis berpiyama kelinci harus menjelaskan isi hati sebuah jantung.
Suara monitor berubah. Dari pekikan panjang menjadi deretan bunyi pendek yang tidak stabil, lalu perlahan menemukan ritmenya.
Di dalam dada Keira, sesuatu ikut kembali bergerak.
Dua jam kemudian, Engkong Tedjo dipindahkan ke ICU dalam keadaan stabil.
Dokter Jason keluar dengan masker menggantung di leher. Rambutnya yang tadi rapi kini sedikit berantakan, tetapi wajahnya kembali dingin. Hanya matanya yang tampak lebih gelap oleh lelah.
"Cardiac arrest berhasil ditangani. Untuk sementara stabil, tapi harus observasi ketat."
Pak Chen menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya turun seperti orang yang baru saja melepas batu besar dari punggung.
Keira duduk di kursi lorong, dibungkus dua selimut, tangan dipasangi infus. Seorang perawat sudah memaksanya mengganti piyama basah dengan baju pasien. Rambutnya masih lembap, tetapi setidaknya tubuhnya tidak lagi terasa seperti terbuat dari es.
Dokter Jason berjalan ke hadapannya.
Ia diam beberapa detik.
Keira mendongak. "Kalau mau tanya riwayat penyakit jiwa lagi, mungkin besok saja. Saya agak mengantuk."
Ada jeda tipis.
Lalu Dokter Jason menundukkan kepala.
"Saya minta maaf."
Keira tidak menyangka pria sedingin itu akan meminta maaf secepat ini. Ia menatapnya, memastikan ia tidak salah dengar.
"Saya menilai Nona dari kondisi luar dan pernyataan yang tidak masuk akal secara medis," lanjut Jason. "Secara profesional, saya tetap tidak bisa menjelaskan bagaimana Nona tahu. Tapi faktanya, peringatan Nona membuat Engkong datang ke rumah sakit sebelum henti jantung terjadi."
Pak Chen juga maju satu langkah. Suaranya lebih rendah.
"Nona Keira, saya juga minta maaf. Saya kasar. Saya hampir... saya hampir membuat Bapak kehilangan kesempatan hidup."
Keira memandang dua orang itu. Rasa puas yang seharusnya muncul ternyata tidak datang. Mungkin karena tubuhnya terlalu lelah. Mungkin karena sejak awal ia tidak ingin menang debat. Ia hanya tidak ingin seseorang mati di depan matanya.
"Engkong selamat. Itu sudah cukup."
Jason menatapnya lebih lama. Kali ini tatapannya tidak seperti memeriksa gejala, tetapi seperti sedang mengukur batas sesuatu yang belum ia pahami.
"Nona tetap harus dirawat malam ini. Suhu tubuh rendah, ada dehidrasi ringan, beberapa luka gesek. Saya sudah siapkan kamar VIP."
"Tidak perlu VIP."
"Itu bukan tawaran." Jason mengambil pulpen dari saku jas putihnya. "Itu instruksi medis."
Pak Chen, mungkin karena masih ingin menebus kesalahan, kembali beberapa menit kemudian membawa bubur hangat dalam mangkuk porselen.
"Dapur rumah sakit membuat ini cepat. Bubur ayam tanpa banyak bumbu. Perawat bilang perut Nona belum boleh langsung makan berat."
Keira menerima mangkuk itu. Uap hangat menyentuh wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di jalan, sesuatu yang sederhana terasa hampir membuatnya menangis.
"Terima kasih, Pak Chen."
Pria itu menunduk lebih dalam daripada perlu. "Seharusnya saya yang berterima kasih."
Keira makan pelan-pelan. Setiap suapan terasa hambar, tetapi hangatnya turun ke perut seperti bukti kecil bahwa ia belum mati.
Sabtu pagi, hujan sudah berhenti.
Cahaya pucat masuk dari jendela kamar inap Keira. Kota S terlihat basah dan kusam, tetapi tidak lagi mengancam. Setelah tidur tidak sampai empat jam, Keira terbangun oleh suara langkah tertata di koridor.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
Seorang wanita masuk bersama Pak Chen.
Wanita itu mengenakan blus sutra warna gading dan celana panjang gelap. Rambutnya disanggul rendah, anting mutiara kecil menempel di telinga, wajahnya anggun dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Ia bukan tipe orang yang perlu meninggikan suara agar ruangan tahu dirinya penting.
"Nona Keira?" suaranya lembut. "Saya Mei Lin."
Mangkuk air hangat di tangan Keira hampir terlepas.
Nama itu tidak hanya masuk ke telinganya. Nama itu menabrak sesuatu yang tertanam jauh di tubuh ini, lebih tua dari kesadarannya sendiri.
Mama.
Kata itu muncul tanpa izin, bukan dari pikirannya, melainkan dari sisa perasaan pemilik tubuh asli. Rindu yang terlalu lama ditekan, sakit hati yang sudah mengeras, dan satu pertanyaan kecil yang tidak pernah mendapat jawaban: kenapa Mama pergi?
Keira mencengkeram gelas sampai buku jarinya memucat.
Mei Lin tidak menyadari badai kecil itu. Ia duduk di kursi samping ranjang dan meletakkan sebuah amplop putih di meja.
"Engkong sudah sadar sebentar tadi. Dokter Jason melarang terlalu banyak bicara, tapi beliau terus menyebut Nona. Saya datang untuk mengucapkan terima kasih." Ia mendorong amplop itu perlahan. "Ini hanya sedikit tanda terima kasih. Rp 50 juta. Kalau ada kebutuhan lain, katakan pada saya."
Keira menatap amplop itu.
Lima puluh juta rupiah. Bagi keluarga seperti Tanuwijaya, itu mungkin hanya angka sopan. Bagi Keira Santoso yang tadi malam dibuang tanpa ponsel, tanpa dompet, tanpa sepatu layak, angka itu terdengar seperti jarak antara dua dunia.
"Saya tidak menyelamatkan Engkong untuk uang."
Mei Lin tersenyum tipis. "Saya tahu. Justru karena itu saya berterima kasih."
Keira mengangkat wajah. Jantungnya berdetak terlalu keras.
"Nama saya Keira Santoso."
Senyum Mei Lin berhenti.
Untuk beberapa detik, seluruh kelembutan di wajah wanita itu membeku. Bukan menghilang, tetapi tertutup lapisan es yang sangat tipis dan sangat tajam.
"Santoso?"
"Gunawan Santoso adalah ayah kandung saya."
Pak Chen yang berdiri di dekat pintu tampak terkejut. Mei Lin tidak menoleh padanya. Matanya tetap pada Keira.
"Usiamu?"
"Dua puluh."
Warna wajah Mei Lin berubah. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat Keira tahu bahwa ia sedang menghitung tahun, tanggal, luka lama.
Di dalam ingatan tubuh ini, ada ruang sidang yang terlalu besar untuk anak kecil. Ada Gunawan yang menggenggam bahu Keira kecil terlalu keras. Ada Tante Lina berdiri tidak jauh, menunduk seperti wanita paling sabar sedunia. Ada suara hakim bertanya, "Kamu ingin ikut Papa atau Mama?"
Dan ada suara Gunawan malam sebelumnya, rendah di telinga anaknya.
Kalau kamu ikut Mama, Papa tidak akan tanda tangan cerai. Mama kamu tidak akan pernah bebas. Kamu mau membuat Mama menderita selamanya?
Keira kecil menangis sampai napasnya putus-putus. Tetapi di ruang sidang, ia berkata dengan suara yang sudah dilatih.
Aku mau ikut Papa. Aku tidak mau ikut Mama.
Mei Lin menarik napas pelan. Saat ia bicara lagi, suaranya tidak lagi hangat.
"Kamu yang dulu bilang tidak mau ikut Mama."
Kalimat itu mengenai Keira lebih keras daripada angin malam kemarin.
Sisa emosi pemilik tubuh asli menyerbu sampai matanya panas. Keira hampir bisa merasakan tangan kecil yang dulu ingin meraih ujung baju Mei Lin, tetapi dipaksa tetap di sisi tubuh.
Namun Keira sekarang bukan anak kecil itu. Ia menarik napas, menahan air mata di tempatnya.
"Yang terjadi waktu itu ada yang belum Mama tahu."
Mei Lin menatapnya. Dalam tatapan itu ada rindu yang ditahan, marah yang belum sembuh, dan ketakutan untuk percaya lagi.
Sebelum ia menjawab, suara tua terdengar dari pintu.
"Kalau begitu, kita cari tahu pelan-pelan."
Engkong Tedjo duduk di kursi roda, didorong oleh Dokter Jason yang jelas tidak setuju pasien ICU berkeliaran, tetapi kalah oleh keras kepala Engkong.
Wajah Engkong masih pucat. Kabel monitor portabel menempel di dadanya. Namun matanya hidup.
"Keira menyelamatkan nyawaku," katanya. "Aku tidak peduli dia anak siapa, atau kenapa semalam ada di jalan. Mulai hari ini, aku mau menjadikannya cucu angkatku."
Mei Lin membeku.
Keira juga terdiam.
Karena di antara semua kemungkinan yang Keira bayangkan, ia tidak sempat memikirkan bahwa lelaki tua yang baru diselamatkannya akan menawarkan keluarga baru tepat di depan ibu kandungnya sendiri.
semangat thor💪