Entah sampai kapan hari itu tiba ...itulah yang di rasa
seorang ineke hapstari.Lahir dari keluarga miskin hingga saat dia remaja tetap itu yang dia rasa.Ada kala jenuh dan ada kala bosan dengan semuanya
namun semua kembali lagi dengan keadaan yang tetap sama .....sampai suatu ketika di ujung rasa lelah nya ,seperti ada uluran tangan yang akan mengubahnya menjadi lebih baik walau masih banyak lika likunya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episopde 24
"Maksud lo apaan si " Ineke melepas cengkeraman tangan Dion yang menyeretnya ke arah teras belakang.
"Sakit tau...gak usah tarik tarik juga kali" Ineke mengibas ibas kan tangannya yang merah karna Dion.
" Ya maksud lo apa , ngomong gitu ke nenek lo sengaja mau ambil simpati nenek , norak lo"? ucap Dion penuh penekanan.
" Terserah lo mau ngomong apa juga , memang gak ada hati lo"
Ineke berlari masuk ke kamarnya, tapi sebelum pintunya tertutup rapat , tiba tiba pintu di dorong dan seseorang nylonong masuk dan langsung menutupnya dari dalam .
" Lo ngapain si gw mau tidur awas " Ineke mendorong badan Dion untuk keluar , Dion bukan keluar tapi berbalik dan menarik kedua tangan Ineke ke arah belakang, kemudian dia tengkurapkan badan Ineke ke atas kasur , karuan itu membuat Ineke teriak kesakitan.
" Lo maen maen ama gw ya ...lu seneng kalo gw marah hem " Ineke menangis karena kesakitan , dan dia teriak hingga mau tidak mau Dion melepaskan kembali .
" lo kalo mau nyiksa gw jangan tanggung tanggung , bunuh aja sekalian BUNUH !" Ineke mengusap pergelangan tangannya yang memerah
Ineke bangun dan duduk di bawah tepi ranjang di usapnnya kasar air matanya , di ikuti Dion yang duduk di samping nya.
"Ok gw minta maaf , habisnya lo gak konsisten " Sebetulnya Dion tidak ingin berbuat kasar pada Ineke , tapi dia sangat marah saat Ineke merubah kesepakatan mereka .Dia terancam gagal untuk menikahi kekasihnya tahun depan.
" Tolong kali ini aja gw mohon , biarin gw mewujudkan rasa terimakasih sama nenek , gw kehilangan kedua orang tua sebelum gw bisa bahagiain mereka , dan gw gak mau kalo harus kehilangan nenek juga sebelum gw mengabulkan permintaanya, nenek sudah mengangkat gw dari keterpurukan, cuma satu permintaan nenek dari gw . Lanjutkan kuliah lo keluar negri tapi sebelumnya , mari kita nikah siri , gak akan ada yang tau termasuk cewe lu , pakai syarat ini untuk nenek , bilang kalau lo mau kuliah dulu ke luar negri , gw bakalan tepati janji buat nyerahin bagian ayah buat lo, tpi inget jangan balik sebelum gw lulus , gw mau selsain pendidkan gw tanpa harus bertemu lo " setelah mengatakan itu Ineke masuk ke kamar mandi.
Dion terdiam dan mencerna semua ucapan Ineke barusan, dia mengacak rambutnya frustasi , sepertinya kali ini dia harus menyetujui usul Ineke, Ineke keluar dari kamar mandi , dia pikir Dion sudah pergi , ternyata masih ada, dan dia sedang berbaring di kasur Ineke sambil menutup wajahnya dengan tangan .
" Oke gw setuju usul lo , tapi cuma nikah siri dan gak boleh ada yang tau , selain keluarga di sini , dan untuk bagian lo akan tetap jadi bagian lo , gw punya lebih banyak dari lo" selanjutnya dia berdiri dan keluar dari kamar Ineke setelah mengatakan itu
"Terserah .... untuk usul gw tdi lo yang ngomong sendiri sama nenek " sebelum menutup pintu kembali Dion menoleh saat Ineke bicara kembali, dan pada saat keluar dari kamar Ineke ternyata ada sang papa yang sedang berdiri di depan pintu kamar Ineke , papanya yang akan mengambil air minum tidak sengaja mendengar percakapan mereka , kemudian sang ayah menganggukan kepala , saat Dion menatapnya , menunjukan bahwa dia juga menyetujui usul mereka . Dan ke esok harinya Dion mendatangi neneknya di kamar untuk mengatakan semuanya . Tentu sang nenek sangat bahagia , walau pun mereka mengajukan syarat , itu tidak masalah baginya , nenek yakin akan ada hal baik setelah itu.
Setelah dengan kesepakatan itu , akhirnya mereka menikah tapi hanya nikah agama , dan hanya di hadiri keluarga inti , Ineke juga tidak mengabari bibinya .
"Ibu ...ayah .. mohon restui ine..ini mungkin bukan yang kalian harapkan dari ine , tapi ini demi kebaikan semua ....maafkan ine yang mungkin salah ambil keputusan , maaf kan eneng.......ya allah rido'i lah hamba aamiin " ineke membatin dan menangis sebelum ijab khobul di lakukan.
Mereka semua sudah berada di masjid untuk melangsungkan acara yang sangat sederhana , hanya ada kedua mempelai , mama ,papa dan juga nenek serta kiai dan wali hakim , walau dengan suasana haru tpi semua berjalan lancar , mahar hanya sebuah cincin emas dua gram saja . Dion hanya memakai kemeja putih celana hitam dan peci hitam , sedang kan Ineke tadi karna di desak sang nenek akhirnya dia ke salon terlabih dahulu , dia menggunakan kebaya putih seperti pada umumnya , dan hiasan kepala khas pengatin biasanya , cantik , sangat cantik .Seandainya pernikahan ini bukan terpaksa mungkin Dion menjadi orang yang bahagia mempunyai istri yg sangat cantik .
udh ketumpuk ma novel lain
sampai ke tumpukan novel baru