*Kelanjutan dari karya sebelumnya, yaitu BENANG TANPA UJUNG*
Cinta tumbuh seiring dengan bertambahnya usia, saat kita tinggal bersama dalam satu keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Antara cinta dan saudara.
Setelah berita mengenai Yuan dan Caroline sebelumnya tersebar, Hendrik memutuskan untuk menikahkan mereka secepatnya. Hal tersebut membuat Yuan merasa tertekan kembali, ia sampai pulang ke rumah dalam kondisi berantakan.
Ia melangkah masuk ke dalam, dan sang adik bungsunya menghampiri untuk memastikan sesuatu.
"Koh Yuan, apa bener yang di bilang sama Daddy?" tanya Michael masih sulit untuk percaya.
"Kamu percaya pada Daddy atau pada Kokoh?" tanya Yuan.
"Michael percaya sama Kokoh, tidak mungkin Kokoh berlaku seperti itu pada ci Carol," balas Michael.
"Kalau begitu jangan percaya dengan apa yang diucapkan oleh Daddy," balas Yuan.
"Jadi Daddy berbohong?" tanya Michael.
"Daddy tidak berbohong, daddy hanya sedang salah paham saja," balas Yuan. "Sudahlah, Kokoh sedang tidak ingin membahas masalah ini. Apa kau sudah makan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Michael sudah makan, Kokoh bagaimana?" tanya Michael.
Yuan menggeleng, keadaan di kantor membuat nafsu makannya mendadak sirna. "Kokoh belum mau makan," balasnya.
Pria itu pun memilih masuk ke dalam kamar saja, bermaksud mengurung diri dan berusaha melupakan segala yang terjadi. Lalu setibanya di depan pintu kamar, ia tidak sengaja berpapasan dengan Mei Chen yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Mei," panggil Yuan.
Namun wajah gadis cantik itu seketika berubah datar, tanpa membalas dan memperdulikan pria didekatnya itu pun ia terus berjalan menuju tangga. Seolah-olah tidak melihat ada seseorang didepannya.
Hal tersebut membuat Yuan semakin kesal, lalu dengan cepat ia mencekal pergelangan tangan Mei Chen sebelum menjauh darinya.
"Mei, aku memanggilmu. Kenapa kau mengacuhkan aku?" ucap Yuan keberatan dengan sikap Mei Chen yang berubah dingin.
"Kenapa aku harus menjawab panggilanmu, Yuan? Apa kau ingin mengeluh padaku lagi, menceritakan semua yang kau alami tadi di kantor. Dimana kau mencoba menodai wanita yang kau bilang menyebalkan itu?" balas Mei Chen ketus.
"Kau juga, Mei? Kau tidak percaya padaku? Aku ini di fitnah!" balas Yuan menjelaskan.
"Difitnah sama siapa? Carol atau sama Daddy? Atau kau memang sengaja berkata seperti itu agar bisa menutupi kemesumanmu karena telah kepergok oleh Daddy? Andai saja Daddy tidak memergoki kalian, aku yakin kau sudah memiliki Carol secara utuh sekarang ini!" ucap Mei Chen tidak percaya.
"Mei aku berkata sejujurnya, Daddy telah salah paham dengan apa yang dia lihat di ruanganku. Saat itu aku meminta Carol menyerahkan laporannya yang belum selesai, tapi dia malah mempermainkanku dengan mempersulitku mendapatkan laporannya itu."
"Lalu aku berinisiatif merampas sendiri dari tangannya, tapi karena dia menghindar aku malah tidak sengaja jadi menarik kerah kemejanya hingga terbuka. Aku ingin meminta maaf karena ketidak-sengajaanku itu, tapi aku tidak tahu kalau Carol ternyata menarikku dan dia menciumku secara paksa. Lalu disaat kejadian itu terjadi, daddy kebetulan datang dan mau tidak mau dia harus melihat semuanya secara langsung. Tanpa tahu yang sebenarnya terjadi," tutur Yuan menjelaskan.
Mei Chen menghela nafasnya panjang dan menatap Yuan yang kehilangan semangat, ia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan penjelasan tersebut.
Akan tetapi satu hal yang pasti, hatinya itu tidak bisa menerima begitu saja kejadian yang terjadi diantara Yuan dengan Caroline. Sehingga rasanya berat sekali untuk percaya perkataannya.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Lagi pula tidak lama lagi kau akan menikah dengannya, jadi aku rasa kejadian tadi itu tidak masalah kan. Mau bagaimana pun juga dia adalah tunanganmu dan kalian akan segera menikah, jadi Yuan aku sarankan agar kau membiasakan diri untuk terus berhubungan dengannya," balas Mei Chen tidak ingin mengambil pusing dan melanjutkan perjalanannya kembali menuju lantai dasar.
"Mei, kau tahu kan kalau aku tidak mencintai Carol. Tetapi kenapa kau malah mendukung hubunganku dengannya?" ucap Yuan merasa sedih.
"Lalu aku harus apa? Memisahkan hubungan kalian berdua tanpa alasan atau menjadi perusak hubungan saudara tiriku sendiri?" tanya Mei Chen.
Yuan seketika bungkam, ia memang ingin ada seseorang yang membantunya mengagalkan pernikahannya dengan Caroline.
Akan tetapi siapa yang bisa membantu? Mei Chen bahkan sama sekali tidak ada keinginan untuk membantunya.
"Kenapa diam? Apa kau kehabisan jawaban atas pertanyaanku?" tanya Mei Chen menunggu. "Kalau begitu tolong lepas tanganku sekarang juga," pintanya kemudian.
Yuan menatap Mei Chen dengan kedua mata berkaca-kaca, didalam hatinya itu ia tidak ingin melepaskan wanita yang sedang ia genggam tangannya saat ini. "Apa aku harus berbuat nekad?" batinnya mulai bertarung.
"Lepas tanganku!" pinta Mei Chen sekali lagi. Sambil mengibaskan lengannya agar lepas, namun cekalan tangan Yuan justru semakin terasa kuat.
"Yuan, lepas tanganku! Aku mau turun!" pinta Mei Chen penuh penekanan, sambil menatap wajah Yuan yang terlihat dingin tanpa ekspresi.
Sesekali mendengus kesal karena Yuan tidak kunjung melepas tangannya, walau ia telah berusaha menariknya. Sementara pria dihadapannya itu hanya terdiam, sambil terus menatap sendu wajahnya.
Tidak habis pikir Mei Chen bermaksud menggigit lengan yang menghalangi, namun belum sempat ia melakukan hal tersebut. Yuan sudah lebih dulu menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam pelukan, membuat Mei Chen seketika terkesiap dengan aksi dadakan itu.
Kedua matanya membulat sempurna, terlebih saat Yuan memeluknya begitu erat, hingga tidak menyisakan jarak untuknya bernafas lega.
Sedangkan Yuan memejamkan kedua matanya, tidak peduli dengan kondisi sekitar yang bisa saja ada orang lain yang melihat dan memprotes aksi nekadnya itu.
Karena didalam pikirannya saat ini adalah, menyampaikan apa yang ia inginkan, perasaan yang sudah ia pendam cukup lama.
Antara cinta dan saudara. Mana yang harus ia pilih?
Yuan mengurai pelukannya itu, setelah hatinya merasa tenang dan baikan. Lalu menatap wajah Mei Chen serius.
"Kau pernah memberiku satu solusi gila, tapi aku rasa itu tidak ada salahnya untuk dicoba," ucap Yuan sembari tersenyum.
"Apa? Apa yang ingin kau coba?" tanya Mei Chen ingin tahu.
"Kau tidak perlu tahu," balas Yuan lalu pergi masuk ke dalam kamarnya tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Mei Chen seketika merasakan takut, sesekali memikirkan solusi apa yang pernah ia berikan kepada Yuan. "Kenapa dia berkata seperti itu? Apa yang ingin dia coba lakukan?" batinnya bertanya-tanya.
Sedangkan Yuan bergegas mengemas semua pakaian dan juga keperluan pribadi lainnya dalam satu tas besar, ia telah membulatkan tekadnya untuk pergi dari rumah itu dan tidak akan pernah kembali lagi ke keluarganya, sampai ia bisa berdiri di kaki sendiri.
Berbekal nekad dan juga ajaran Mei Chen yang sering kaburan-kaburan dari rumah, serta tabungan pribadi yang ia miliki, Yuan akhirnya pergi secara diam-diam dari rumah, lalu menaiki sebuah taksi menuju suatu tempat baru.
Disana ia memikirkan bagaimana caranya mencari uang sendiri, dengan caranya sendiri dan juga kebebasan yang ia miliki saat ini.
...~ Bersambung ~...
slam dri Madu pilihan Ibu kak
ditunggu kisah terbarunya ya kak 🤗