“Menikahlah denganku, dan aku akan menyelamatkan anak-anakmu. Terlebih baru melihat mereka saja, aku sudah langsung menyayangi mereka!” ucap Syam benar-benar dingin.
Segala cara telah Cinta coba untuk menghindari ajakan menikah dari Syam, sang bos mafia kejam. Karena setelah kegagalan dalam hidupnya, Cinta yang merasa dirinya sangat hina, memutuskan untuk menutup diri sekaligus tidak akan pernah menikah. Cinta hanya ingin fokus berhijrah.
Termasuk ketika akhirnya Syam nekat merenggut paksa ‘kesucian’ Cinta, wanita bercadar itu justru memilih melarikan diri, menyimpan segala kehancurannya sendiri. Namun hampir delapan bulan berlalu setelah tragedi itu, Cinta melahirkan anak kembar prematur. Fatalnya, salah satu bayi kembar Cinta dan memang benih Syam, mengalami kelainan karena meminum cairan ketuban.
Cinta membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan sekaligus menghidupi anak kembarnya, hingga Cinta terpaksa berurusan dan tak lagi bisa menghindari Syam. Cinta harus tunduk kepada Syam yang meski sangat kejam kepadanya, justru sangat menyayangi anak kembar mereka.
Di luar dugaan, bayi kembar mereka merupakan bayi genius. Tingkah keduanya selalu menghadirkan pelangi yang begitu indah dalam hubungan mereka. Bahkan kekejaman Syam kepada Cinta, perlahan menjadi cinta yang begitu dalam. Mereka benar-benar tak terpisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 : Gubuk Di Sebelah Sekolah
Pak Helios sudah rapi dan siap pergi ketika akhirnya, Syam sampai rumahnya. “Aku masih sangat ingat, ketika Excel dan Azzura menyelamatkan hubunganku dan Chole. Karena tanpa peran mereka, rumah tanggaku dan mamanya anak-anak pasti sudah tidak ada. Jadi, dengan apa yang kini terjadi, aku merasa ini saatnya aku melakukan hal serupa. Aku harus menyelamatkan hubungan Syam dan Cinta. Mereka yang sama-sama hadir dengan masa lalu kel-am, pasti kesulitan untuk menjadi satu. Namun paling tidak, demi anak-anak mereka, mereka harus tetap bersama!” pikir pak Helios.
“Khususnya untuk Syam, dia harus mulai bisa mengalah kepada Cinta. Meski aku sendiri masih ragu kepada Cinta, dan memang belum tahu keadaannya yang sekarang. Tentunya, demi menjaga perasaan istriku karena kami pernah sempat ada di masa lalu, aku tidak bisa ikut campur terlalu jauh.” Karenanya, pak Helios berniat meminta bantuan Excel. Karena dari semuanya yang mengenalnya, Syam, maupun Cinta, hanya Excel yang posisinya netral.
Kini, waktu memang sudah larut. Tepat pukul setengah dua belas malam, ketika pak Helios memastikannya di ponsel. Pak Helios yang awalnya menunggu di teras rumah ditemani oleh seorang pengawalnya, segera menghampiri Syam.
“Kamu langsung ikuti mobilku saja, ya!” sergah pak Helios.
Syam yang baru melepas helmnya, makin bertanya-tanya. “Ada musuh di daerah sekitar sana apa gimana, Mas?”
“Lebih dari itu, makanya kamu cepat ikuti aku. Enggak usah kabar-kabar ke yang lain, takutnya jadi gagal.” Pak Helios tetap melangkah tanpa sedikit pun melirik Syam.
Sepanjang perjalanan, selain menerka-nerka targe-t mereka di wilayah yang terbilang pelosok, mata tajam Syam juga fokus mengawasi sekitar. Syam berharap bisa menemukan Cinta dan juga kedua anak mereka.
“Pasti Cinta pergi pakai mobil pribadi makanya jejaknya sulit ditemukan,” pikir Syam. Sebab setengah hari ini bahkan hingga malam, Syam sampai mencari Cinta ke stasiun maupun terminal terdekat.
Setelah melewati jalanan yang jauh dari mulus karena masih banyak lobang hingga perjalanan sangat tidak nyaman, mobil yang Syam ikuti pun berhenti. Mobil tersebut berhenti tepat di sebuah rumah kecil yang ada di sebelah sekolah dasar.
“Ini tempat tinggal Cinta dan sudah dipastikan juga oleh tetangga,” batin pak Helios mengawasi rumah yang dimaksud, dari kaca jendela penumpang sebelahnya.
Pak Helios mengernyit ketika tangis bayi terdengar samar dari rumah mungil tujuannya. Rumah yang penerangannya sangat redup. Yang membuat pak Helios merasa prihatin, selain dinding hanya berupa bilik atau anyaman bambu, dan itu saja sudah rapuh, pintu rumah juga tidak kalah rapuh. Beberapa bagian sudah dimakan rayap. Gagang pembuka pintunya pun berupa kain lusuh.
“Kabarnya Cinta sudah tinggal cukup lama. Dia jadi tukang gorengan dan guru ngaji,” batin pak Helios yang memang sudah mengantongi informasi kehidupan Cinta, di sana.
Syam sudah langsung turun tanpa melepas helm hitamnya. Ia menghadap pak Helios sambil membuka kaca helmnya.
“Coba kamu ketuk rumah itu!” ucap pak Helios.
Detik itu juga, Syam langsung mengawasi rumah yang dimaksud dengan sangat serius. Namun, efek dirinya memakai helm, membuatnya tidak mendengar tangis bayi. Hanya pak Helios dan sang sopir saja yang bisa mendengarnya. Barulah ketika jarak Syam dengan pintu rumah sangat dekat, Syam bisa mendengarnya. Ada suara tangis bayi, dan itu tidak hanya satu, melainkan lebih.
Merinding, Syam langsung melepas helmnya. “Kok, tangisannya mirip tangisnya Hasna sama Hasan?” lirihnya langsung deg-degan. Padahal, ia belum memastikan. Namun nalurinya sebagai papa sudah langsung mengenali tangis anak-anaknya.
“Sebentar, ....” Syam berangsur mengawasi sekitar. Baru ia sadari, rumah atau yang lebih pantas disebut gubuk di hadapannya, tepat bersebelahan dengan sekolah.
“Bentar-bentar!” Syam ketar-ketir, makin deg-degan, dan memang jadi tidak bisa tenang.
Syam baru ingat mengenai salah satu cerita Cinta mengenai tempat tinggal Cinta. Saat itu, Cinta pernah menceritakan tempat tinggal sekaligus pekerjaannya. Cinta mengaku tinggal di kantin sebelah sekolah, dan sorenya akan mengajar TPQ. Hanya saja, saat itu Syam sengaja meminta Cinta untuk tidak cerita.
“Dok ... dok ... dok!” Kini, dengan sangat tidak sabar, Syam mengetok pintu. Syam terus melakukannya bahkan kini sampai menggunakan kedua tangan.
Diam-diam, pak Helios yang masih mengawasi langsung mesem. “Kenapa dia sama sekali enggak bersuara? Gengsinya lebih gede dari gaban, kah? Lebih parah dari pas aku ke Chole? Padahal jelas-jelas, dia sangat khawatir!” lirih pak Helios jadi cekikikan sendiri.
Di dalam rumah yang hanya memiliki dua ruangan dan itu hanya dipisahkan oleh hamparan tirai, ulah Syam sudah membuat Cinta ketakutan. Belum lagi, kedua anaknya malah jadi sibuk menangis. Tangis yang makin lama makin kencang seolah keduanya sedang terlibat dalam perlombaan. Ditambah lagi, kini sudah sangat malam. Sudah nyaris pukul satu pagi ketika Cinta memastikannya pada jam biru yang menghiasi kusen di kamarnya.
“Duh, andai kalian enggak nangis, pasti Mama punya alasan buat enggak buka pintu. Duh ... gimana ini dong? Pintu dan dinding rumah ini yang sudah sangat rapuh! Gimana kalau tuh orang nekat menerobos!” batin Cinta merasa sangat gelisah.
“Lagian siapa sih, dini hari gini, iseng banget? Andai mau meram-pok, ngapain milih yang gubuk?!” kesal Cinta. Ia bergegas ke depan. Di sana menjadi ruang tamu sekaligus dapur tempatnya jualan. Ia mengambil dua wajan berukuran besar. Cinta berniat menggunakan itu untuk jaga-jaga sekaligus senjat-a.
Sebenarnya hatimu Syam itu selembut hello kitty sblm menjadi ketua mafia bahkan smpai skrng pun msh sangat baik penyayang & sangat perhatian sm orang² yg dia sayang