Mereka pernah bersama pada masanya. Namun, kesalahpahaman membawa mereka untuk mengakhiri hubungan itu begitu saja.
Sampai beberapa tahun kemudian Gavin masih memiliki rasa yang sama pada Karina. Akan tetapi, seorang anak kecil membuat Gavin berpikir jika orang yang selalu ia harapkan jadi miliknya itu sudah menikah. Pada akhirnya Gavin harus menerima kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Akankan Gavin memperjuangkan cintanya pada Karina? Bagaimanakah takdir mempersatukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xavieraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertentangan Keluarga
Mama dan Oma Gavin masih denial. Mereka seakan belum bisa menerima kenyataan itu. Padahal mereka juga sudah mendapatkan penjelasan dari hasil lab Gavin dan Shaka dari dokternya langsung.
Gavin seakan-akan sudah buntu akan membuat mereka percaya dengan cara apa lagi? Padahal tes DNA itu sudah hal paling valid. Gavin merasa ini semakin rumit, apalagi oma nya menentang jika Gavin menikahi Karina Gavin tak akan mendapatkan restu dari neneknya itu. Bahkan, mama nya juga mengatakan demikian seperti neneknya.
Gavin bingung, ia merasa putus asa.
Tut
"Ton, aku hari ini tidak ke kantor," sambungan telepon itu sudah terhubung dengan seseorang yang tak lain adalah Toni.
'Bapak sakit?' Tanya Toni di sambungan telepon itu.
"Nggak, aku baik-baik saja. Aku harus menyelesaikan masalah ini dulu, Ton."
"Kemarin kita dari RS buat tahu hasil lab, ternyata nggak sesuai ekspektasi aku. Mama marah, dan semua kecewa sama aku," terang Gavin pada Toni.
Baru kali ini Toni mendengar jika keluarga Gavin marah perihal hubungan yang baru saja Gavin jalin ini. Pasalnya memang Gavin tak pernah memperkenalkan wanita manapun saat ini kepada keluarganya.
Tiba-tiba Gavin bertunangan dengan Karina yang notabe nya Gavin akan menikahi Karina karena Gavin tahu mereka sudah memiliki buah hati, Shaka. Dan Gavin ingin memperbaiki semuanya dari awal bersama Karina.
'Terus gimana?'
"Ya itu, gue belum tahu. Gue bingung, Ton."
'Tenangkan diri, kalau butuh apa-apa bilang ke gue.' Jelas Toni pada Gavin.
"Thanks, Ton." Sambungan telepon itu pun usai.
Gavin meremas erat bed cover yang ia duduki sampai berantakan. Ia mengacak rambutnya asal. "Gue juga capek kalau gini terus," gerutunya pada diri sendiri.
Ia pun menuruni tangga untuk ke lantai bawah.
"Nggak kerja, Vin?" Tiba-tiba Papa nya muncul membuat Gavin tersentak.
"E-enggak, Pa," jawab Gavin.
"Ma..." Gavin menghampiri Mama nya yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kenapa?"
"Mau bahas itu lagi? Masih kurang puas kamu?"
"Maafin Gavin, Ma. Gavin tahu Gavin sa-"
"Itu kamu tahu! Apa kamu nggak mikir? Sama saja kamu mau bikin malu keluarga!"
"Maka dari itu Gavin mau tanggung jawab, Ma..."
"Mama bilang kalau Gavin harus jadi laki-laki-"
"Iya, Mama bilang buat kamu jadi laki-laki tanggung jawab. Tapi, bukankah apa yang kamu lakukan itu suatu kesalahan yang fatal?"
"Dan kamu masih yakin mau menikahi wanita murahan seperti dia?" Ucap Mama Gavin dengan penuh penekanan.
"Bukannya sama saja kamu membuka aibmu sendiri..."
Gavin pun mengikuti kemana Mama nya berjalan. "Ma, stop bilang Karina murahan!"
"Lalu apa? Disebut apakah dia?"
"Sampai punya anak diluar pernikahan. Dan kamu sama saja seperti wanita itu!" seringai Mama nya dengan ucapan penuh sindiran.
Mungkin itu lah kekecewaan orang tua terhadap anaknya, tega tak tega jika mengatakan demikian. Namun, dibohongi oleh anak kandung sendiri tak kalah sakitnya. Memendam cerita itu sendirian, dan tiba-tiba memberikan berita itu secara spontan kepada keluarga.
Mama Gavin duduk di ruang keluarga, diikuti Gavin dan Papa nya. "Ma, Gavin mohon..."
"Terserah! Mama sudah nggak peduli lagi sama kamu..."
"Mau kamu nikah, mau kamu pergi atau gimana itu urusan kamu," Mama Gavin bangkit dari duduknya. Meninggalkan Gavin dan Papa nya yang masih duduk berdua disana.
Papanya hanya menatap Gavin kasihan, dirinya legowo jika memang ini sudah jalan Gavin asalkan Gavin bahagia. Namun, ternyata istrinya tak semudah itu menerima kenyataan jika putra satu-satunya memiliki anak diluar nikah dengan seorang wanita. Sampai bertahun-tahun lamanya dan kebenaran ini baru terkuak 5 tahun kemudian. Orang tua mana yang tidak kecewa dengan perlakuan anaknya, anak yang selalu dibanggakan, selalu dinomorsatukan ternyata menyimpan rahasia yang bisa meledakkan semuanya.
Papa Gavin bangkit, meninggalkan Gavin yang masih termangu disana.
Air mata itu sudah lolos di pelupuk kiri Gavin. Entah sejak kapan air mata itu muncul. Rasanya sudah pasrah, tapi ia juga berhak bahagia batinnya. Jika memang malam itu tak terjadi, mungkin juga tak akan menjadi seperti ini. Mau bagaimana lagi? Sudah takdir dari Tuhan.
Ditengah lamunannya, Ponsel Gavin bergetar. "Karina..." Gavin membaca nama kontak yang sedang menelepon dirinya itu.
Sambungan terhubung. "Hai, my fiance," sapa Gavin dengan suara sedikit serak.
'Hai, kamu kerja, ya?' Tanya Karina pada Gavin.
Gavin diam. Menimbang jawabannya sendiri. "A-aku dirumah, work from home," alibi Gavin.
'Tumben? Kamu sakit ya?'
'Kok suara kamu lemas gitu?'Karina penasaran dengan sikap Gavin hari ini yang sedikit dingin dan tak banyak bicara, biasanya Gavin akan berceloteh saat di telepon.
"Aku baik-baik aja, kok. Kamu tenang aja," sanggah Gavin agar Karina percaya jika memang dirinya tak kenapa-napa.
"Semangat kerjanya, ya. Aku ada kerjaan," pamit Gavin sebelum panggilan terputus.
'Iya, terimakasih.' Panggilan itu pun selesai.
Saat akan beranjak, Gavin melihat ada mobil alphard putih yang ia kenali. Gavin menautkan alisnya, memastikan siapa orang yang datang ke rumahnya.
"Oma?" Ia melihat oma nya turun dari mobil itu dan mulai berjalan masuk ke dalam.
Gavin pun tak jadi beranjak, ia berjalan menghampiri pintu utama menyambut neneknya.
"Kebetulan kamu dirumah, apa memang kamu ingin menyelesaikannya saat ini juga?" Oma nya berjalan masuk ke ruang keluarga diikuti Gavin dibelakangnya.
Gavin berbinar, oma nya seakan tahu isi hatinya saat ini. Ia pun membuntuti neneknya dan ikut duduk di ruang keluarga.
"Oma, Oma merestui Gavin nikah kan sama Karina?" Gavin begitu antusias menunggu jawaban yang keluar dari mulut Oma nya.
Oma nya hanya tersenyum kecil, menarik sudut bibirnya. "Sampai kapanpun Oma nggak akan mengizinkan kamu untuk nikah dengan wanita itu."
Deg.
Bagai tersambar petir di siang bolong. Hati Gavin bergemuruh. Definisi sakit tak berdarah.
"Kenapa Oma nggak ngizinin aku nikah sama Karina? Aku cinta Karina, Ma, aku sayang sama dia. Kata Oma apapun boleh buat aku asal aku bahagia?" Gavin menahan gemuruh dalam hatinya, menyanggah jawaban dari sang nenek.
"Sekarang Oma tanya, alasan kamu menikahi dia apa karena dia punya anak darimu?"
Gavin menatap Oma nya. Mata mereka beradu. "Oma, mau dia punya anak dariku atau tidak aku sudah mencintainya sejak dulu. Sampai sekarang hanya ada dia, sekarang aku tahu Shaka adalah putraku dan aku ingin memulai hidup baruku dengan dia."
"Dijodohkan pun aku juga tak akan menerimanya, tak mungkin aku menikahi orang yang tak ku cintai," sambung Gavin lagi. Ia mengucapkan itu dengan bergetar, rasanya seluruh badannya tremor.
"Mama nggak boleh egois sama Gavin, Gavin berhak menentukan pilihannya!" Mendengar suara keributan di ruang keluarga, Papa Gavin pun menghampiri mereka.
Tak lama setelah itu Mama Gavin juga sudah ada disana.
"Gavin sudah dewasa, dia lebih tahu mana yang pantas dan tidak pantas."
"Kita sebagai orang tua harusnya mendukung, memberi support dia. Apalagi dia punya anak dengan wanita itu."
"Jangan pandang masa lalu mereka, mereka juga punya masa depan. Apalagi anak kecil tak bersalah itu, dia juga berhak mendapat kasih sayang dari ayahnya." Papa Gavin berucap panjang lebar, memberi penjelasan kepada wanita itu agar bisa membuka pikiran dan hatinya. Ia juga tak mau Gavin berlarut dalam masalah ini.
Perihal perjodohan kemarin, Papa Gavin juga sudah mengatakan pada Hendra dan Vallene mengenai kerumitan masalah keluarga. Papa Gavin mengatakan jika Gavin belum bisa menerima perjodohan ini.
"Papa sama saja dengan Gavin! Memangnya Papa mau keluarga kita dipandang sebelah mata? Hanya karena anak tak jelas ini!" Mama Gavin berucap sembari menunjuk Gavin yang sedang duduk di sofa besar itu.
Gavin merasa dihakimi. Ia terus menunduk tak berani menatap mereka.
Keadaan semakin menegang, ucapan demi ucapan terlontar dari mulut ketiganya. Sedangkan Gavin hanya bisa mendengarkan perdebatan mereka.
Papanya selalu membela Gavin, terus memberikan statement logis agar para wanita itu bisa terbuka.
"Baiklah jika Papa begitu, aku sudah tak mau tahu lagi," sela Mama Gavin pada Papanya ditengah cekcok itu.
Sudah muak, mereka mendebatkan hal yang membuat Gavin sakit hati. Mengusik masa kelam Gavin dengan Karina, one night stand yang merubah kehidupan Gavin. Bukan hanya Gavin tentunya, justru Karina lah yang menjadi korban dari hal ini
Gavin berdiri meninggalkan ruang keluarga itu dan menuju kamarnya. Sedari tadi ia hanya menahan air mata agar tak lolos dari pelupuk matanya. Begitu egois oma dan mamanya. Sampai menjelekkan Karina dan mengatakan jika Shaka adalah pembawa sial.
Hati Gavin sakit, mendengar orang yang ia cintai dikatakan demikian. Jangan sampai Karina tahu apalagi mendengar ucapan seperti ini. Karina tak pantas mendapat cemoohan seperti itu.
Gavin pun berdiri di balkon kamarnya, menyalakan sebatang rokok dari saku celananya.
"Gue tahu gue salah, semua orang pasti punya khilaf. Apa gue pantas dihakimi seperti ini?" Ucapnya sembari menghisap rokok yang ia selipkan di tangan kanannya.
"Shit!" Umpat Gavin merutuki nasib malang dalam hidupnya. Entah mengapa hidupnya selalu rumit dan tak jelas. Kalaupun bahagia pasti tak akan berlangsung lama.
Gavin masuk dan duduk di sofa dalam kamarnya. Menyalakan laptop dan membuka pekerjaannya.
Cara apalagi yang akan ia lakukan agar hati para orang tua itu melunak. Rasanya sudah stress memikirkan ini semua, tak kunjung menemukan titik terang.
Gavin bangkit dari duduknya. Menuju lemari pakaian dan berganti pakaian. Selesai bersiap ia turun dan melajukan mobilnya.
Tujuannya saat ini untuk bertemu Valdo, sahabatnya.
Gavin pun sudah sampai di tempat Valdo bekerja. Mengetuk pintu dan Gavin pun masuk ke ruangan Valdo.
"Hai, Vin!" Sapa Valdo saat Gavin sudah masuk ke ruangannya.
"Hai," sapanya lalu pria itu duduk di hadapan Valdo.
"Kenapa? Tumben banget kesini?" Tanya Valdo penasaran mengenai kedatangan Gavin tiba-tiba ini.
"Gue capek, Val. Akhir-akhir ini gue jarang tidur, insomnia gue kambuh, sering pusing dan cemas banget rasanya," keluh kesah Gavin pada Valdo. Gavin menceritakan semua keadaannya akhir-akhir ini pada Valdo, dan segala isi hatinya.
Cukup lama Gavin menceritakan segala masalahnya pada Valdo. Menurutnya, pada Valdo lah ia bisa leluasa menceritakan ini semua tanpa penghakiman. Saat ada masalah apapun ia selalu datang ke Valdo untuk meminta solusi ataupun pencerahan agar dirinya sedikit tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo semuanyaa! Apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia selalu ya dan jangan lupa untuk bahagia. Jangan lupa untuk vote, like, komen dan subscribe ya!❤️❤️