Orion terperanjat, Putri (8 tahun), anak semata wayangnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang akan menjadi ibu sambungnya sendiri. Sudah lebih dari 7 tahun Orion penyandang status sebagai duda pasca di tinggalkan untuk selamanya oleh istrinya tercinta.
Apakah Orion akan menikahi wanita yang di bawakan oleh putrinya setelah anak itu terus saja merengek-rengek ingin memiliki seorang ibu sama seperti anak lain seusianya? Atau, dia telah memiliki calon ibu sambung lain untuk sang putri?
Di baca perbab jangan lupa like ya, Reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISUP bab 24
Orion benar-benar merasa kewalahan. Istrinya ini ternyata lebih liar dari yang dia bayangkan. Namun, dia tetap saja merasa puas. Kenikmatan surga dunia benar-benar Orion dapatkan dengan sempurna bahkan tanpa perlu bekerja keras, karena Tania istrinya begitu pandai dalam melayaninya, jiwanya bahkan terasa melayang ke awang-awang.
Tubuhnya berbaring lemas di atas ranjang masih tanpa sehelai benang pun, sementara Tania segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Wanita itu keluar dari dalam kamar dengan hanya memakai handuk berwarna putih untuk menutup sebagian tubuhnya.
"Bangun, Mas sayang. Bukannya kamu harus kembali ke kantor ya," pinta Tania berjalan ke arah lemari lalu membuka pintunya kemudian.
"Tega kamu ya, udah di bikin lemes kayak gini malah di suruh langsung bekerja. Bukannya di suruh istirahat," decak Orion seraya memeluk bantal guling, sementara ke dua matanya nampak menatap tubuh istrinya.
"Hah? Hahaha! Masa baru gitu aja udah lemes sih?" tanya Tania seketika tertawa nyaring, "Gimana kalau aku kasih yang lebih hot dari tadi," decaknya, seraya memakai pakaian tepat di depan suaminya tanpa sungkan.
"Ish, kalau itu sih Mas mau-mau aja. Mas bakalan siap melayani kamu kapan pun kamu minta, kalau perlu Mas bakalan mengkonsumsi obat kuat. Hahahaha!" sahut Orion seketika tertawa nyaring.
"Hah? Obat kuat?" Tania seketika mengerutkan kening seraya menatap wajah suaminya dengan tatapan mata berbinar.
"Kenapa? Kamu mau Mas minum obat kuat? Tapi ada konsekuensinya lho," tanya Orion seketika duduk tegak di atas ranjang.
"Memangnya apa konsekuensinya?" tanya Tania yang baru saja selesai berpakaian. Wanita itu pun berjalan menghampiri suaminya lalu duduk di tepi ranjang.
"Kamu harus siap melayani Mas sepanjang malam. Harus siap dengan gaya apapun, si Joni bakalan tahan lama soalnya. Gimana?"
Tania tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang masih basah usai keramas.
"Kenapa kamu diam saja? Malah cengar-cengir kayak gitu lagi," tanya Orion memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.
"Ikh, jangan peluk-peluk kayak gini, Mas. Kalau nanti si Joni bangun lagi gimana? Aku udah mandi lho," decak Tania berusaha untuk melepaskan lingkaran tangan suaminya.
Bukannya mengurai pelukan, yang dilakukan oleh Orion adalah menggoda istrinya. Dia seketika berbisik di telinga Tania dengan suara lirih.
"Kamu ketagihan si Joni, kan?" bisiknya membuat Tania seketika membulatkan bola matanya.
"Apa? Ketagihan? Hahahaha!" Tania tertawa nyaring hanya untuk menutupi kenyataan bawah apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya ini 100% benar.
"Kenapa malah ketawa? Si Joni memang perkasa, sayang. Apa lagi udah lama dia tak masuk sarang, gimana kalau kita bercinta sekali lagi." Orion kembali berbisik benar-benar menggoda istrinya.
Plak!
Satu pukulan seketika mendarat di bahu Orion keras membuatnya memekik kesakitan juga sontak mengurai pelukan.
"Arghh! Kamu apa-apaan sih? sakit sayang! Kekerasan dalam rumah tangga ini namanya," decak Orion seraya mengusap bahunya yang agak memerah.
"Lagian kamu ini lho, kalau ngomong itu di jaga gitu lho, kalau ada yang dengar gimana? Malu, kan!" sahut Tania seketika berdiri tegak, "Lagian, mana kuat si Joni di ajak main sekali lagi, orang dia udah lemas kayak gitu," celetuk Tania balas menggoda.
"Apa? Dasar nakal ya, sini kamu? Mas telanjangi kamu sekarang juga, dasar!" sahut Orion hendak bangkit. Namun, laki-laki itu seketika menghentikan gerakan tubuhnya ketika pintu tiba-tiba saja di ketuk dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Rion, Ibu mau pamit. Apa kamu sedang tidur?" tanya Diana dari luar sana membuat Orion dan Tania seketika membulatkan bola matanya.
"Ibu, Mas," bisik Tania dengan nada suara pelan juga menatap ke arah pintu.
"Aduh! Mana Mas gak pakai baju lagi," decak Orion seketika berdiri tegak mencari pakaian miliknya.
"Rion, Tania?" Diana kembali memanggil juga mengetuk pintu secara berkali-kali, "Apa Ibu menganggu kalian? Ya sudah, Ibu langsung pulang saja kalau begitu."
"Tidak, Bu. Tunggu sebentar," sahut Tania, sementara Orion segera berlari ke arah kamar mandi tanpa sempat mengambil pakaian miliknya yang tergeletak sembarang di atas lantai.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka. Diana masuk ke dalam kamar tanpa basa-basi. Wanita paruh baya itu seketika terkekeh tatkala melihat ranjang besar yang bertengger tepat di tengah-tengah kamar terlihat berantakan, begitu pun dengan pakaian putranya yang terlihat tergeletak di sembarang tempat di atas lantai.
Wajah Tania seketika memerah seraya meraih satu-persatu pakaian suaminya, "Eu ... maaf, Bu. Kamarnya berantakan, Mas Rion juga kebiasaan banget kalau ganti baju itu main lempar-lempar gak jelas, hehehe!" sahut Tania, rasa malu terasa menjalar di sekujur tubuhnya kini.
Diana mencoba menahan senyuman di bibirnya semampu yang dia bisa. Dia tidak ingin menantunya ini semakin merasa malu nantinya. Wanita paruh baya itu pun seketika berbalik seraya bergumam pelan.
"Sepertinya Putri bakalan cepat punya adik," gumam Diana dengan nada suara pelan, tapi tetap saja terdengar samar-samar oleh Tania.
Ibunda Orion Dirgantara itu pun segera keluar dari dalam kamar tanpa sepatah katapun lagi, tapi Diana seketika menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar yang masih terbuka lebar, dia berbalik dan menatap wajah Tania menantunya.
"Katakan sama suami kamu, Ibu tunggu di bawah," ucap Diana lalu kembali berbalik dan benar-benar meninggalkan kamar tersebut.
'Astaga, Ibu gak nyangka Orion bakalan jatuh cinta secepat ini sama kamu, Tania. Kamu benar-benar gadis yang luar biasa. Ibu bangga memiliki menantu seperti kamu,' batin Diana merasa senang bukan kepalang.
Dia pun berjalan menuruni satu-persatu anak tangga hendak turun ke lantai 1. Namun, Diana seketika menghentikan langkah kakinya tatkala mendapati ponsel yang sedang dia genggam bergetar.
Diana menatap layar ponsel. Keningnya seketika dikerutkan. Nomor yang tidak di kenal terpampang di layar ponsel canggih miliknya. Tanpa menunggu lama, dia pun segera mengangkat sambungan telpon.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Diana mengangkat sambungan telpon.
"Selamat siang, Nyonya Diana," samar-samar terdengar suara seorang laki-laki yang sangat dia kenal.
"Be-beny?" ucap Diana ke dua kakinya seketika gemetar.
"Syukurlah, Anda masih ingat dengan saya. Hmm! Saya ada di luar, Nyonya. Bisa kita ketemu sekarang?"
"Hah? Di lu-luar? Luar mana maksud kamu? Bukannya kamu masih di penjara ya?"
"Di mana lagi, saya tahu Anda sedang berada di rumah putra Anda. Saya juga tahu bahwa Anda menjadikan putri korban sebagai menantu Anda. Apa menantu Anda itu tahu, siapa Anda sebenarnya?"
Diana diam seribu bahasa. Sejak kapan mantan supirnya ini bebas dari penjara? Dari mana dia tahu bahwa Tania adalah menantunya? Apa mungkin diam-diam laki-laki bernama Beny itu pengintai kehidupannya selama ini?
"Halo, Nyonya? Kenapa Anda diam saja? Apa Anda mau saya masuk ke sana dan memberitahukan kepada menantu Anda siapa Anda sebenarnya? Saya yakin si Tania itu tidak tahu bahwa sebenarnya Andalah yang telah menyebabkan orang tuanya meninggal!"
BERSAMBUNG