NovelToon NovelToon
Lintas Waktu : Kultivasi Di Dunia Modern

Lintas Waktu : Kultivasi Di Dunia Modern

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:303.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: A Veil Asvara

Lin Yue terjatuh dari tebing dan mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat asing, dimana gedung pencakar langit dan hal-hal yang belum pernah dia lihat di dunianya.
Bagaimana kah kehidupannya di dunia modern?

Slow update

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Veil Asvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

"Kau bilang ada pekerjaan baru untukku?" Tanya Veronica antusias dengan mata berbinar. Wanita itu berjalan mengekori Regina yang berjalan menuju kamarnya.

"Benar. Bukankah kau sudah belajar akupuntur? Kali ini ada pasien pertama untukmu."

"Sungguh? Oh, Budha! Aku benar-benar berterimakasih padamu~" Pekiknya girang penuh syukur.

Regina yang melihat respon Veronica hanya bisa tersenyum tipis. Setelah perceraian dengan suaminya, mata wanita itu tampak berbinar, berbeda dengan saat pertama kalinya bertemu.

"Kalau begitu kapan kita pergi?" Veronica menatap Regina dengan tak sabar.

"Besok. Kau kosong, kan?"

"Aku senggang besok. Tidak ada jadwal."

Mereka berbincang-bincang cukup lama, hingga malam beranjak larut. Veronica berpamitan pulang mengingat pekerjaan baru untuknya telah datang.

Regina mengecek akun sosial media miliknya yang kini sudah memiliki banyak followers. Setelahnya dia juga mempelajari tentang beberapa hal tentang tempatnya tinggal, meski sudah bisa beradaptasi dengan baik.

"Dunia ini berbeda dengan tempatku tinggal sebelumnya. Jika di tempat ku selalu ada beberapa pertarungan antar pendekar maupun sekte, tempat dimana yang kuat dan berpengaruh yang menjadi prioritas serta di puja, tetapi jika memiliki kekuasaan tetapi tidak memiliki kekuatan percuma juga." Gumamnya sambil beranjak menuju jendela, menatap pemandangan malam yang tampak indah, dimana lampu-lampu jalanan, kendaraan serta gedung pencakar langit yang terlihat seperti cahaya bintang di kejauhan.

Berbeda dengan dunianya, dimana yang menjadi sumber penerangan adalah lilin dan lentera, malam akan benar-benar pekat, membuat beberapa orang memilih enggan keluar, kecuali saat terdesak.

"Aku merindukan tempatku dulu. Bagaimana caranya aku kembali." Gumam Regina sambil menatap bulan sabit yang kini berada di ufuk barat.

🐾🐾

Suasana di ruang VIP cukup tegang saat melihat Veronica memeriksa tubuh Dhea yang terbaring tak sadarkan diri dengan wajah yang memucat dan tampak kurus kering.

Sesekali wanita itu mengernyit saat memeriksa nadi wanita yang terbaring tak sadarkan diri itu.

"Bagaimana?" Lui Ahin bertanya dengan cemas setelah Veronica menyelesaikan pemeriksaan nya.

"Di dalam tubuh nyonya Dhea terdapat gumpalan racun langka, dan tidak ada penawarnya. Sepertinya racun ini jenis baru." Ucap Veronica sambil menatap tubuh Dhea, lalu menatap beberapa orang dengan ekspresi serius, "Racun ini sudah menyebar ke seluruh tubuh dan tinggal menunggu waktu menuju jantung." Dia melanjutkan perkataannya membuat beberapa orang yang berada di sana shok.

"Kau tidak bohong, kan?" Lui Ahin bertanya dengan penekanan.

Regina menatap tubuh wanita itu dengan mata spiritual miliknya. Apa yang di katakan oleh Veronica itu benar, terdapat racun salju di tubuh wanita itu dan sudah menyebar ke seluruh tubuh.

"Dia tidak berbohong, Komandan. Sepertinya dia juga terkena racun lain dan sudah menumpuk cukup lama di dalam tubuhnya." Regina menimpali membuat Lui Ahin terkulai lemas dan segera di papah oleh Mahardika yang juga sangat shok mendengar penuturan Regina.

Alvin dan Huayana terpaku dan menatap sedih sang ibu yang terbaring tak berdaya. Mereka berdua berpelukan mencoba menguatkan diri.

"Apa ibu kami bisa di sembuhkan? Tolong sembuhkan ibu kami." Pinta Lui Huayana dengan mata berkaca-kaca menahan isak tangis.

"Kami tidak yakin. Tapi akan kami coba." Sahut Veronica.

"Siapkan mangkok kosong dan segelas air hangat, Komandan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan istri Anda." Titah Regina dengan gaya sok bossy yang terlihat menjengkelkan. Tapi mereka mengabaikan hal itu.

Lui Ahin segera keluar dari sana, memenuhi permintaan Regina. Setelah beberapa saat, pria itu kembali dengan mangkok kosong dan segelas air hangat permintaan Regina.

"Terimakasih." Ucapnya sambil tersenyum lalu meletakkannya di atas nakas.

"Saya ingin dua pria yang berada di dalam ruangan ini, sisanya mohon keluar." Tegas Veronica.

Alvin dan Huayana memilih keluar dari sana meninggalkan para orang dewasa disana. Bukan ramah mereka untuk berada di sana dan mereka tak ingin ikut campur.

"Tolong selamatkan ibu kami." Huayana berkata sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu.

"Saya ingin mendampingi menantu saya!" Sergah ibu Lui Ahin, Lui Ana yang terlihat ngotot ingin berada di sana.

"Terserah. Yang penting jangan menghalangi kami." Tegas Veronica dan menatap Regina yang kini mengangguk memberi perintah.

"Lakukanlah."

Regina mengangkat tubuh Dhea dengan mengalirkan sedikit energi spiritual miliknya, mencari beberapa titik akupuntur sekaligus memperlambat penyebaran racun di tubuh wanita itu.

Veronica segera menusukkan beberapa jarum di titik akupuntur bagian belakang tubuh Dhea setelah menyingkap pakaian wanita itu.

Regina mengeluarkan sebuah pil pendetox dan memasukan ke dalam mulut Dhea. Beberapa saat kemudian, efek pil itu beraksi dengan tubuh wanita itu bergetar hebat.

Tanpa di beritahukan, Veronica segera mencabut jarum yang tertancap di tubuh Dhea. Regina memerintahkan seseorang untuk membawa mangkok dan memeganginya.

Lui Ahin segera mendekati Dhea sambil menyodorkan mangkok ke dekat bibir wanita atas saran Regina.

Tiba-tiba saja, tubuh Dhea mengejang hebat membuat Mahardika dan Lui Ahin panik hingga akhirnya wanita itu memuntahkan banyak darah hitam pekat.

"A-apa yang terjadi? Adikku baik-baik saja, kan?" Tanyanya beruntun dengan panik dan cemas saat melihat adiknya masih memuntahkan cukup banyak darah hitam.

"Dia sedang mengeluarkan racun yang bersarang di tubuhnya selama sepuluh tahun. Benar-benar hebat." Puji Regina bertepuk tangan sambil menatap satu persatu orang yang berada disana. Tatapannya tertuju pada Lui Ana yang terpaku dengan wajah jelek.

Tiba-tiba Lui Ahin berteriak panik saat Dhea memuntahkan seteguk darah segar berwarna merah, membuat seisi ruangan di landa panik.

"Oho! Rupanya racun-racun itu sudah keluar semua." Regina tepuk tangan sambil memasang wajah ceria. Lalu mengeluarkan sebotol penambah energi dan menyerahkan pada Lui Ahin.

"Minumkan ini dan dia akan segera sadar."

🐾🐾

Dhea membuka matanya dan melirik sekitar. Terlihat ruangan serba putih berbau obat-obatan menyapa pengelihatan nya.

Wanita itu mencoba mengambil air yang berada di atas nakas dengan perlahan, mengingat sekarang tubuhnya terasa sangat lemah dan dirinya haus.

'Brukh'

Botol air kemasan jatuh dengan suara keras bertepatan dengan masuknya Ana yang kini menatapnya dengan wajah jelek.

"Dasar merepotkan! Tidak bisakah kau melakukannya dengan benar?!" Maki Ana pedas membuat Dhea menunduk.

"Segini saja kau tidak bisa mengambil sesuatu dengan benar! Dulu saat aku habis melahirkan, aku bisa mengambil air diatas nakas! Dasar menantu menyusahkan! Seharusnya Ahin menceraikanmu saat ini!"

"Aku tidak meminta Ibu mengambilkan air." Dhea menjawab dengan suara serak.

"Kau berani melawan Ibu?"

Dhea memilih diam. Dirinya sudah lelah mendengar ocehan ibu mertuanya yang selalu membandingkan dengan Yun Ella dalam segi apapun.

'Cklek'

Dhea menatap ke arah pintu dan melihat Mahardika dan Ahin memasuki ruangan bersamaan. Dua pria itu segera berlari ke arah Dhea sambil memasang ekspresi haru.

"Istriku! Kau sudah sadar? Ada yang sakit?" Tanya Ahin beruntun.

"Adik! Kau baik-baik saja? Syukurlah kau sudah sadar." Mahardika berkata penuh syukur.

"Aku haus, Kak."

Dua pria itu segera melirik nakas dan tidak mendapati botol air di sana. Mahardika berpamitan keluar untuk membeli minuman.

Lui Ahin melihat botol minuman tergeletak di bawah ranjang dekat sepatunya. Dia segera mengambil botol minuman itu dan menyerahkan pada Dhea setelah membukanya.

"Jangan manjakan istrimu, Ahin! Nanti dia keterusan bergantungan padamu!" Seru Ana kesal melihat pemandangan itu.

"Lalu aku harus bagaimana, Bu? Memukulnya? Membunuhnya?" Balas Ahin dingin membuat Ana terpaku.

Pria itu menatap ibunya yang kini tampak gelisah, menghindari kontak mata dari sang anak yang menatap tajam dirinya.

"Ibu tidak suka memiliki menantu, ya? Ibu sudah keterlaluan."

"Itu demi kebaikanmu, Ahin! Masih banyak wanita yang lebih baik dari Dhea!" Ana mencoba membela diri dan menatap tajam Dhea yang kini sudah bersandar nyaman di brankarnya.

"Memang banyak. Tapi Dhea adalah ibu dari anak-anakku dan semua anggota polisi tau siapa istriku. Jangan membuatku kehilangan pekerjaan dan gelar ku karena ucapanmu, Bu!" Tukas Ahin membela Dhea.

"Pasti kau yang menghasut Ahin dan berkata tidak-tidak, ya!" Tudingnya pada Dhea membuat Ahin kesal.

"Dhea baru saja sadar, Bu."

"Kau berani melawan ibu? Jangan-jangan kau terpengaruh oleh Dhea, kan? Dengar, ya! Sampai kapan pun anak laki-laki milik ibunya! Bukan orang asing seperti Dhea!"

"Lalu anak perempuan itu milik ayahnya dan kakak laki-laki nya. Apa ibu tidak tau bagaimana beratnya dia meninggalkan keluarga yang menjaganya sejak kecil dan hidup jauh bersama orang asing yang menjadi pilihannya? Dhea tinggal jauh dari orang tuanya dan mereka mempercayakan aku yang sebagai suaminya untuk menjaganya, membahagiakan nya seperti dia diperlakukan oleh keluarganya dulu."

"Ibu juga tinggal jauh dari keluarga ku dan tidak manja seperti dia." Bantah Ana membuat Ahin menghembuskan nafasnya.

Pria itu sudah mengetahui bagaimana istrinya diperlakukan oleh ibunya. Dia juga sudah berkali-kali menasehati sang ibu, tetapi sikapnya malah semakin menjadi.

"Ah~ Aku jadi ingat kakek. Apa kabarnya, ya? Sepertinya kakek merindukan Ibu yang notabene anaknya sendiri yang tak pernah menjenguk ayahnya. Bukankah tadi Ibu bilang anak laki-laki milik Ibu selamanya? Kalau begitu, tinggalkan ayah dan pulanglah ke rumah kakek. Mungkin kakek sedang kesepian di rumahnya." Oceh Ahin tajam yang sukses membuat Ana tidak bisa berkata-kata.

1
Erni andi arifuddin
ya Allah bagaimana kl ada 2-3 orang yg seperti regina😂😂😂
Erni andi arifuddin
kocak dan menghibur
Erni andi arifuddin
sangat bagus 👍
Erni andi arifuddin
mampir
Travel Diaryska
good
Neneng Zakiyah
sy mampir thor..penhen tsu verita nya dsri kuno ke moderen...pasti cerita nya menarik
Liana Simon
cerita yang menarik
Angel Ribka
kubayangkan nonton film kartun
Empong Tihyar
Hehehe..lanjuut
Empong Tihyar
hihihi..jd males berhenti baca
Empong Tihyar
Hahaha...lucu banget thor.../Facepalm/
Empong Tihyar
Haha
Ayu Mestari
Luar biasa
PHSNR👾
mampir /Smile/
Ana Rusliana
Luar biasa
Febriani Nazularahmatika
good
Febriani Nazularahmatika
turun lagi dr tingkat raja?
Febriani Nazularahmatika
kotanya jd tempat persinggahan penjahat 😅
Rahimahhassan Rahimah
Lumayan
Meigha
jarang2 ada cerita zaman kono ke modern,tp aku tetep suka....💪💪🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!