Menjadi penyebab utama kecelakaan seorang wanita hingga berakhir buta, Yudha memutuskan untuk menikahi korbannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pernikahan yang dilandasi atas dasar kasihan, dengan rahasia yang ditutup rapat-rapat demi menjaga mental Kalila.
Keduanya bahagia, dan kepribadian Kalila berhasil membuatnya jatuh cinta hingga menjadikan wanita itu sebagai dunianya. Namun, sebaik apapun bangkai disimpan pada akhirnya akan tercium juga. Saat Yudha setengah mati mencintai istrinya, Kalila mengetahui bahwa Yudha adalah penyebab kehancuran dunia dan mimpinya.
Lantas, bagaimanakah pernikahan mereka? Mampukah Kalila menerima pria yang telah menghancurkan dunianya? Atau justru memilih pergi dan turut menghancurkan dunia Yudha?
......
Follow ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Tidak Bisa Dipercaya
"Apa kubilang? Kamu sih!!"
Bukan hanya Jihan yang terkejut, tapi Kalila juga sama paniknya. Dia memang tidak bisa memastikan, tapi dari jeritan seorang wanita bernama Jihan itu dapat disimpulkan jika mereka baru saja tertangkap basah.
Sudah Kalila katakan berhenti, sejak mendengar pintu di ketuk, Kalila sudah panik. Namun, Yudha seakan tuli dan tidak peduli dengan peringatan Kalila hingga terus mencumbunya.
Belum apa-apa Kalila sudah mendapat pengalaman buruk yang membuatnya tidak akan pernah bersedia andai Yudha ajak ke kantor lagi. Dia yang tidak berdaya untuk lari ataupun melepaskan diri membuat Yudha berani berbuat seenaknya.
Sungguh, fakta itu membuat Kalila sebal sendiri. Dia cemberut dan mengancingkan kemejanya asal, entah benar atau tidak, tapi yang jelas dia sedang malas meminta bantuan Yudha saat ini.
"Kamu marah?"
"Apa wajahku terlihat sedang bahagia?" kesal Kalila menghela napas kasar. Andai saja keadaannya tidak begini, mungkin Kalila sudah memilih pulang sendiri.
"Santai saja, Jihan tidak melihatmu."
"Santai? Bagaimana bisa santai? Aku malu."
Kalila tidak habis pikir kenapa sang suami bisa sesantai itu. Padahal, tertangkap basah tengah bercumbu bukanlah hal yang bisa dibanggakan, terlebih lagi di kantor. Agaknya mereka memang sedikit berbeda dalam menghadapi masalah kali ini, Kalila yang panikan sementara Yudha mengganggap hal itu angin lewat.
Dia membentak Jihan agar keluar bukan karena ketahuan sedang berbuat apa, tapi dia memikirkan sang istri. Ya, memang Jihan sama-sama wanita, tapi jelas Yudha takkan mengizinkan siapapun melihat Kalila dalam keadaan hampir terbuka seperti tadi.
"Hm, lalu maunya apa? Ice Cream? Cokelat? Kinderboy? Atau apa bilang saja asal tidak marah lagi."
Seumur hidup, baru ini Kalila dipertemukan dengan sosok pria seperti Yudha. Jika pria lain akan membujuk wanitanya dengan untaian kata maaf dan merasa bersalah, Yudha justru berbeda.
Kalila yang tadinya memang marah, semakin marah begitu mendengar pertanyaan Yudha. Ice Cream? Cokelat? Kinderboy? Cih, apa di mata Yudha dia tidak lebih dari balita yang kemudian luluh dengan hal-hal semacam itu.
"Kalila ayolah, aku stres tahu kalau kamu cemberut begini," ucap Yudha tampak frustrasi, dia menggigit bibir seraya terus menatap lekat sang istri.
"Kamu pikir aku anak kecil?"
Yudha menghela napas panjang, wanitanya kali ini berbeda. Dibilang keras tidak juga, tapi bukan kategori manja dan agak sulit menemukan cara agar dia luluh jika sudah semarah ini.
"Terus kamu maunya gimana? Mau aku pecat si Jihan?" tanya Yudha seketika membuat mata Kalila membola. Sudah jelas dia yang salah, dia pula yang melempar kesalahan pada pihak lain dan berencana menyelesaikan masalah dengan masalah.
"Mau pulang," jawabnya singkat, padat dan berhasil membuat Yudha berdecak pelan.
Kenapa harus pulang? Baru hendak memulai, tiba-tiba sang istri mendadak minta pulang. Sungguh, Yudha gusar sendiri dan mendadak ingin bicara empat mata Jihan yang telah membuat istrinya sampai pucat pasi begini.
Yudha memang bisa memaksa, tapi dia memilih mengalah. Saat itu Kalila minta pulang, saat itu juga Yudha mengiyakan. Tak apa, dia bisa membujuk sang istri selama di perjalanan ke rumah. Andai masih marah juga, turunkan di jalan, begitulah pikirnya.
"Tidak perlu menunduk, kamu tidak melakukan kesalahan apapun di sini."
Pandai sekali dia bicara, Kalila menunduk karena malu dan itu sangat wajar. Jangankan Kalila, bahkan Jihan yang berperan sebagai saksi mata tak sengaja turut merasakan hal sama kala Yudha bersama sang istri berlalu di hadapannya.
Hingga berhasil keluar dari gedung perusahaan, Kalila tetap bertahan dan terus menunduk. Dia tidak senaif itu, paham betul bagaimana bahayanya mulut seorang wanita. Meski belum bisa dia pastikan, tapi bisa saja kejadian tadi sudah menyebar kemana-mana.
.
.
Seperti yang tadi sempat Yudha katakan, dia takkan berhenti sebelum suasana hati Kalila membaik. Selama di perjalanan dia terus merayu sang istri, berbagai cara bahkan Yudha menawarkan balon udara yang dijual pedagang keliling di jalan raya, dan Kalila makin kesal saja.
"Ah, atau kamu mau burung-burungan?"
"Tidak," tolak Kalila lesu setengah mati, untuk apa juga dia beli benda semacam itu.
"Ikan-ikanan? Kuda-kuda_"
"Yudha stop!! Sampai kapan kamu begini?" Lama-lama kepala Kalila sakit juga, demi Tuhan mulutnya mungkin sudah berbusa lantaran menolak tawaran Yudha.
"Sampai kamu berhenti marah dan wajahmu tidak begitu lagi, aku sebal melihatnya." Yudha tidak suka berbasa-basi, jujur dia tidak kuasa andai sang istri terus menerus seperti itu. "Cepat pilih, mau mainan atau cokelat!!" desak Yudha memaksa, dia butuh validasi jika Kalila tidak marah lagi.
"Tidak dua-duanya."
"Ya sudah, sampai malam kita di sini ... biarkan saja pengendara lain marah-marah," ucapnya santai dan berhasil membuat Kalila naik darah.
"Ya sudah, cokelat saja." Prinsip Kalila bahwa yang waras harus mengalah masih tetap dia pegang.
"Benarkah?" tanya Yudha berbinar, anggukan Kalila seketika membuatnya menepi begitu saja.
Padahal, Kalila sebenarnya sudah berada di titik pasrah saja. Terbiasa dengan sosok Juan yang memberikannya waktu sendiri jika sedang marah membuat Kalila terkejut kala dipersatukan dengan Yudha. Bagaimana tidak, belum juga sempat berpikir jernih, Yudha sudah melakukan ribuan cara dan membuat kepalanya sakit seketika.
Kalau kata mamanya, pria seperti Yudha adalah sosok paling dicari dan tidak akan Kalila temukan di belahan dunia manapun. Dia hanya perlu bersyukur memiliki Yudha, sekalipun nanti mungkin mereka akan lupa siapa yang wanita dalam hubungan itu.
"Cokelatnya yang mana?"
"Yang mana saja, aku suka semua," jawab Kalila ketika tiba di sebuah minimarket kebanggaan seluruh penduduk ibu kota.
"Ya sudah, Mas semuanya," ucap Yudha pada seorang pria yang berada di depan mereka, lagi dan lagi Kalila dibuat terkejut mendengar ucapan Yudha.
"Semuanya?"
Pertanyaan yang sama dan dalam waktu bersamaan lolos dari bibir Kalila dan pria itu. Mereka sama-sama terkejut dan bingung, khawatir saja dugaan mereka salah.
"Iya semuanya."
Tidak ada lagi waktu untuk Kalila menghentikan suaminya. Benar-benar tidak dapat ditebak, para staff toko mungkin bahagia saja, sementara Kalila hanya bisa terdiam karena jika protes Yudha mencubit bibirnya.
"Ada lagi, Mas?" tanya pria berseragam biru dengan senyum penuh keramahan itu.
"Kon-dom satu."
Antrian sedang ramai, tanpa dosa Yudha menjawab dengan tegas dan begitu jelas jika dia menginginkan benda itu. Percayalah, Kalila benar-benar malu dan ingin tenggelam ke dasar bumi. Terlebih lagi kala dia mendengar bisik-bisik beberapa orang di belakangnya.
Usai menguras dompetnya, Yudha merasa semua sudah beres. Namun, ketika tiba di mobil wajah istrinya masih sama saja, bahkan lebih kusut lagi. Dia bingung dimana letak salahnya, padahal cokelat yang Kalila minta sudah berjejer dan penuh di kursi belakang. "Ck, kenapa lagi dia? Apa marah kon-domnya hanya satu?"
.
.
- To Be Continued -
sukur🤣🤣🤣