Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Dia istriku!
Suara adzan Isya dari masjid kompleks perumahan telah usai bergema beberapa jam lalu. Suasana kediaman mewah keluarga Wiraguna kini diliputi keheningan malam.
Cahaya lampu gantung kristal di ruang tengah telah di redupkan, menyisakan pendar keemasan hangat yang menembus hingga ke lorong lantai dua.
Di dalam kamar berinterior modern elegan milik Dimas, kehangatan lain tengah mengalir.
Aisyah baru saja menyelesaikan salat malam dan tengah merapikan mukenanya di tepi ranjang. Rambut hitamnya yang panjang dan terurai halus memantulkan pendar lampu tidur.
Dimas yang sejak tadi berbaring menyanggah kepala dengan sebelah tangan di balik selimut tebal, menatap sang istri tanpa berkedip, dengan senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Mas Dimas kenapa lihatin Aisyah seperti itu?" tanya Aisyah agak canggung, seraya mengusap pipinya yang mendadak terasa hangat.
"Nggak apa-apa. Cuma mau memastikan kalau istri cantik di depan aku ini beneran nyata, bukan mimpi," goda Dimas dengan suara serak khas pria yang menahan kerinduan.
Aisyah pun tersenyum malu, lalu melangkah pelan mendekati ranjang dan duduk di tepinya. "Mas ini ada-ada saja."
Tanpa membuang waktu, Dimas menarik lengan Aisyah hingga wanita itu rebah dalam pelukannya.
Selimut tebal segera ditarik menutupi tubuh mereka berdua. Bau harum minyak zaitun dan aroma bunga melati alami dari tubuh Aisyah memenuhi indra penciuman Dimas, hingga membuat pria muda itu makin enggan melepas dekapan hangatnya.
"Sesuai janji tadi sore ya..." bisik Dimas mengikis jarak, lalu mendaratkan kecupan lembut di dahi Aisyah yang terasa hangat. Kemudian tangannya melingkar posesif di pinggang istrinya.
Aisyah bersandar nyaman di dada bidang Dimas, dan mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. "Terima kasih ya, Mas... untuk hari ini. Untuk selalu berada di samping Aisyah."
"Sebaliknya, Syah. Aku yang harus makasih. Kamu udah melunakkan hati Mami pelan-pelan. Aku yakin, gak lama lagi Mami pasti bakal sayang banget sama kamu," tutur Dimas sambil mengusap punggung Aisyah dengan lembut.
Di dalam keheningan malam yang syahdu itu, pasangan suami istri muda tersebut menghabiskan waktu bersama, menyatukan rasa kasih dan janji setia dalam balutan kehangatan pernikahan yang makin erat.
**
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar dapur. Aisyah sudah berkutat sejak subuh, membantu Mbok Nah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga. Bau harum nasi goreng rempah dan hidangan pendamping memenuhi udara.
Langkah kaki Bu Rosma terdengar menuruni tangga. Pagi ini wajahnya terlihat lebih segar, meski ekspresi angkuhnya kembali terpasang rapi. Ketika melintasi meja makan, matanya melirik pada hidangan yang sudah tertata bersih.
"Aisyah," panggil Rosma dengan nada datar.
Aisyah segera keluar dari dapur dengan celemek yang masih melekat. "Iya, Mami? Ada yang kurang?"
"Pagi ini saya kedatangan tamu penting jam sepuluh nanti. Clarissa mau datang menjenguk," ujar Rosma seraya menarik kursi makan.
Nama itu membuat gerakan tangan Aisyah yang sedang memegang teko teh mendadak terhenti sejenak. Clarissa, wanita dari keluarga terpandang yang sejak lama dijagokan Bu Rosma untuk menjadi pendamping Dimas sebelum pernikahan ini terjadi.
"Oh... begitu, Mami. Baik, nanti Aisyah siapkan minuman dan camilan untuk Mbak Clarissa," jawab Aisyah yang berusaha bersikap setenang mungkin, meski ada sedikit rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya.
Rosma menatap Aisyah dengan sudut mata yang menyipit sinis dan berkata, "Saya minta kamu siapkan yang terbaik. Clarissa itu terbiasa dengan standar tinggi. Dan satu lagi..." Rosma menggantung kalimatnya, lalu menatap Aisyah dengan tajam. "...saat Clarissa ada di sini, sebaiknya kamu tau diri dan tidak perlu terlalu banyak tampil di depan dia. Saya tidak mau dia salah paham melihat status kamu di rumah ini."
Pernyataan menohok itu terasa bagaikan siraman air es. Namun, Aisyah menelan bulat-bulat rasa perih di hatinya dan menunduk dengan penuh kepatuhan. "Baik, Mami. Aisyah mengerti."
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di depan halaman kediaman Wiraguna. Seorang wanita berpenampilan sangat modis dengan gaun desainer dan kacamata hitam turun dari mobil.
Dengan langkah penuh percaya diri, Clarissa melangkah masuk dan langsung disambut hangat oleh Bu Rosma.
"Tante Rosma! Duh, kangen banget!" seru Clarissa manja, seraya memeluk dan mencium kedua pipi Rosma.
"Clarissa sayang, makin cantik saja kamu! Ayo duduk," puji Rosma berseri-seri, pemandangan yang sangat bertolak belakang dengan sikap dinginya pada Aisyah.
Dimas yang baru saja menuruni tangga dengan kemeja santainya tertegun sejenak melihat kehadiran Clarissa dengan dahi yang berkerut tipis.
"Clarissa? Ada apa ke sini?" tanya Dimas datar.
Clarissa langsung tersenyum manis saat melihat Dimas. Ia langsung berdiri dan menghampiri Dimas. "Hai, Dimas. Aku cuma mau main dan bawain oleh-oleh buat Tante Rosma dari Paris. Sekalian... aku kangen sama kamu."
Di saat yang sama, Aisyah keluar dari lorong dapur sambil membawa nampan berisi cangkir teh porselen dan kue kering. Langkahnya melambat saat melihat Clarissa berdiri begitu dekat dengan Dimas, bahkan tanpa ragu menyentuh lengan kemeja suaminya itu.
Mata Clarissa berganti menatap Aisyah dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang merendahkan.
"Oh, Tante... ini pembantu baru yang kemarin Tante ceritakan itu?" tanya Clarissa dengan nada polos yang dibuat-buat, namun terasa menusuk.
Atmosfer di ruang tamu seketika membeku. Dimas yang mendengar ucapan Clarissa langsung menarik tangannya dengan tegas dan menatap Clarissa dengan kilatan amarah yang tak tertahankan.
"Jaga bicara kamu, Clarissa! Dia bukan pembantu! Dia Aisyah... istriku."
Bersambung...