2 bulan? 1 Tahun? Atau selamanya.
Siapa yang akan menang?
Amer? Buna Ibunya? Elena atau Alexa?
Amer Gunawijaya yang sudah punya tambatan hati Alexa, namun dijodohkan orang tuanya, Buna, dengan teman masa kecilnya yang tomboy karena kecelakaan, Elena.
Amer bertaruh dengan dirinya sendiri, bahwa akan membuat Elena menyesal dan Ibunya menyadari pernikahan ini adalah kesalahan. Namun Ibunya pun bertaruh kalau mereka akan jatuh cinta dan pernikahan mereka bahagia.
Lalu siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RirinRohman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untung Rugi
Amer membuang kertas yang dia print, dan berniat merubah isinya.
Ya, saat melihat Elen masih bisa menikmati keramahan Bagas dan Elen baik- baik saja tanpa khawatir, sedih atau sakit, hati Amer rasanya sangat kesal dan tidak terima.
Amer merasa pernikahanya ini sudah menghancurkan hidupnya. Bahkan Amer sangat bingung mau bagaimana menyampaikan ke Alexa. Amer juga merasa diserahi beban berat dengan mempunyai istri seperti Elen.
Amer sangat tidak suka jika Elen baik- baik saja. Elen harus merasakan apa yang dia rasa kalau bisa lebih. Amer ingin Elen tersiksa, menyesal, dan menyerah menikah denganya. Lalu Elen mengajukan gugatan cerai pada Buna.
Amer ingin perlihatkan pada Buna bahwa pernikahan yang dipaksa itu salah. Amer ingin buktikan ke Buna, cinta setelah menikah dan perjodohan itu salah. Amer ingin beritahu Buna cinta karena terbiasa itu tidak ada.
Amer memeras otaknya berfikir bagaimana caranya agar tidak membuat celah Elen mensyukuri pernikahannya dari segala sudut pandang.
Pokoknya Amer ingin bermain cantik, tanpa Amer bersusah payah atau merugi, tapi pernikahanya berakhir.
Amer juga merasa Lelah berdebat dengan Baba dan Bunanya. Dia pasti akan kalah. Jadi Amer ingin tanpa Amer protes pada Bunanya lagi, dengan sendirinya Amer dan Elen berpisah.
Setelah berpisah, Amer akan membawa Alexa secara terhormat ke hadapan Buna dan Baba sebagai orang yang membuatnya Bahagia dan Bahagia Bersama Amer. Amer akan menang terhadap Buna, perjodohan itu, salah.
Berbeda dengan Elen. Mendengar jawaban Amer, kalau dia akan merevisi surat perjanjianya, Elen yang hatinya jujur, tak ada beban dan apalagi dendam, jadi merasa geli dan ingin menertawai Amer.
“Ribet banget sih, Pak. Ada acara revisi segala. Macam kaya lagi buat laporan. Ini tentang pernikahan yang sudah berlangsung. Ya udah dibuat enaknya aja gimana? Aku selow kok Pak! Dari pada ribet, udah katakan saja, mau bapak terhadap saya apa?” tanya Elen lagi sangat santui.
Dan semakin Elen baik- baik saja, semakin Amer kesal.
“Hei… perempuan gila!” sahut Amer sudah sangat geram ke Elen.
Ya, bagi Amer, Elen gila, sejak awal kenapa Elen tak ada takut- takutnya, tidak ada jaim pula, padahal dia kan sedang merencanakan hal buruk untuk Elen, seumur hidup lagi.
“Aku nggak gila!” jawab Elen mencebik.
“Pernikahan kamu bilang, hanya? Bahkan ini lebih penting dari pekerjaan?” jawab Amer menekankan.
Elen masih mengekerucutkan bibirnya. Elen sekarang malah jadi kasian ke Amer. Kenapa Amer sepertinya sangat pusing.
“Pak. Tak kasih tahu ya? Kalau di sinteron dan film, wedding agreement atau apalah itu Namanya, itu udah siapin dari pihak cowok, thes… thesss… gitu! Nggak usah kelamaan! Sumpah Pak, aku siap ngejalaninnya, bapak mau tetap berhubungan sama pacar bapak, its Ok. Bapak mau tidak peduli terhadapku atau kita pisah ranjang. Its Ok. Udah katakan saja!” tutur Elen malah mengajadi dan sok tahu.
Ya, Elen sangat berani dan berfikir santai. Elen kan juga beberapa kali menonton film tentang kisah, seseorang yang dijodohkan, dipaksa menikah dan bahkan Elen sudah menebak apa mau Amer.
Hati Elen tulus menikah demi Ibu dan adik- adiknya bisa makan, jadi Elen tidak peduli lagi dengan cintanya dan nasibnya. Elen merasa asal keluarganya tetap hidup saja, itu artinya dunianya juga akan baik- baik saja.
“Plak!” saking kesalnya tangan Amer akhirnya kelepasan melempar botol air mineral kosong. Semakin Elen santai semakin Amer kesal.
“Auh!” pekik Elen tapi Elen malah tertawa. Gemas lagi, melihat Ekspresi Amer mengelola emosinya yang malah lucu. Walau tangan kanannya tak bisa bergerak, tapi tangan kiri Elen terampil menangkap.
Amer semakin dibuat keki, karena sedang marah malah diketawai, dirinya pun berbalik menjadi terlihat seperti anak kecil.
“Santui, Pak. Santui! Kalau mau main basket, tunggu Elen sembuh tanganya. Nanti lempar- lemparanya pakai bola!” jawab Elen ngeledek lagi.
"Dasar perempuan gila kebanyakan. Nonton drama." cibir Amer kesal.
"Ish...dibilang saya nggak gila!" jawab Elen lagi.
“Tunggu, ya! Aku akan print ulang, dan kamu harus tanda tangan! Awas !” ancam Amer kesal, Amer tidak tahan diledek terus oleh Elen. Amer pun berdiri dari duduknya.
“Humm… Ok!” jawab Elen hanya mencebik dan mengangguk santai.
Amer yang kesal segera keluar.
“Haish….” Sesampainya di depan ruang rawat Amer langsung mengacak- acak rambutnya kasar, merasa frustasi diledek Elen terus
“Bisa ikutan gila aku kalau begini? Apa kelebihan Perempuan itu di mata Buna sampai dia dijodohkan denganku? Bahkan otaknya tidak waras!” gumam Amer mengatai Elen.
“Lihatlah, kamu pasti akan tercengang dan menyesal pernah bertemu deganku!” gumam Amer bertekad mengepalkan tanganya, kini di otaknya muncul ide. Ya. Amer memeras otak bagaimana cara membuat Elen merasa sakit.
Walau sebenarnya Lelah, Amer berjalan cepat, ingin segera merevisi surat perjanjian agar tidak dikatai ribet oleh Elen.
Tidak butuh waktu lama seperti pagi tadi, Amer langsung merevisi dan menambahkan aturan yang dia buat. Amer pun mencetak ulang bahkan menempel materai dua sekaligus, dan Kembali ke ruang rawat Elen lagi.
****
“Nih baca, dan tanda tangani segera. Tidak protes, aku sudah memberimu kesempatan!” ucap Amer ketus menyodorkan surat perjanjianya ke Elen.
Elen yang tadinya berbaring santai menonton TV hanya mengangguk santai, menerima kertas yang Amer sodorkan.
Elen pun membacanya runtut dari atas, urutan satu sampai beberapa nomer, Elen tersenyum merasa dia jenius dan tebakanya benar.
Isi tata tertibnya hampir mirip dengan novel yang dia baca, tapi saat bola matanya turun ke baris bagian bawah, Elen langsung mendelik ke Amer menegang.
Amer sedikit mengangkat ujung bibirnya, hatinya mengembang. Amer yakin Elen pasti syok dan keberatan melakukan semua aturanya.
“Bapak serius ingin saya lakukan ini?” tanya Elen ke Amer.
“Kalau kamu tidak mau, oke, ajukan cerai, kita bereskan urusan kita. Sudah clear semuanya!” jawab Amer enteng.
Akan tetapi sepersekian detik, Elen bukan keberatan tapi malah menatap Amer sedikit tersenyum lagi dan membuat Amer Kembali salah tingkah.
“Kamu gila ya? Ketawa lagi?” desis Amer geram.
“Bapak yakin ini sudah dipikirkan dengan baik?” tanya Elen malah menantang lagi.
“Lakukan saja, apa yang aku tulis di situ dengan benar, kalau tidak mau, ajukan surat cerai ke ibuku?” tanya Amer merasa aturan yang dia buat sudah maksimal kejamnya.
“Ntar dulu Pak. Cuma saya boleh tanya nggak?” jawab Elen lagi.
“Tidak ada hak untuk kamu bertanya. Tanda tangani saja!” Jawab Amer lagi galak. Sudah menebak pasti Elen keberatan.
“Ya, tapi saya penasaran, bapak cinta ya sama saya, sampai bikin aturan begini?” tanya Elen malah berfikir lain.
Amer semakin tidak bisa berkata- kata, bisa- bisanya Elen malah menanyakan cinta. Benar- benar geregetan ke Elen.
"Ngarang kamu. Najis saya cinta ke kamu!" jawab Amer saking kesalnya.
“Bapak di sini bilang, Saya nggak boleh pergi tanpa seijin Bapak, tidak boleh ada orang lain yang menemui saya, tanpa seijin bapak. Dan saya tidak boleh beranak, saya harus KB? Lah Ini beneran Pak?” tanya Elen lagi.
Amer mengeratkan rahangnya, Amer berfikir aturan itu akan membuat Perempuan merasa tercekik dan sengsara kenapa Elen malah bertanya cinta.
“Tidak ada diskusi, dan cepat tanda tangani!” omel Amer malas berdebat.
“Entar, dulu Pak , saya masih mau baca dulu, dan tolong jelaskan apa maksudnya?” jawab Elen lagi.
“Tidak ada penjelasan!” jawab Amer lagi.
“Ya harus adalah, bapak bilang aku nggak boleh KB, ap aini artinya kita akan melakukan hubungan itu?” tanya Elen dengan polosnya.
Amer tambah gelagapan. Sebenarnya, Amer juga tidak berminat dengan Elen, tapi Amer membuat peraturan itu berfikir itu adalah ujud menghinakan Elen.
“Kenapa tidak, kamu istriku kan?” jawab Amer.
“Lhoh, katanya Bapak, nggak cinta sama saya? Emang bisa?” tanya Elen lagi masih dengan ekspresi jujur dan bersih hatinya.
Amer menghela nafas menahan geregetanya.
“Apa kamu pikir aku pria impo ten? Apa kamu pikir hubungan badan itu harus selalu dilandasi cinta? Kamu pikir aku mau rugi? Aku sudah mengeluarkan uang untukmu! Kamu menikah untuk apa? Kamu menjual hidup dan dirimu demi mendapatkan uang untuk biaya hidup keluargamu kan?” jawab Amer kasar menjelaskan apa maksud dirinya merendahkan Elen.
“Gleg!” Elen menelan ludahnya di sini Elen sedikit tersinggung.
Elen pun kembali membaca detail setiap point yang Amer tulis.
*****
Kaak.
Bantu aku biar nupel ini lolos kontrak.
Pokoknya selalu like koment dan kasih hadiah tiap baca. Jangan loncat juga ya bacanya. Makasih.
kita nunggu up smp reinkarnasi ini 😄😄
semangat ka @Ririn Rohman N 🥰🥰🥰
ditunggu lanjutannya Amer elena
lanjut.......
buka mendadak tamatkan ?? 🤔
sudah lamaaaa banget nggak up,tiap hari dibuka,tidak up2😭
lamaaaaa banget up nya😭
akhirnya ka @Ririn Rohman N up juga,, happy nya para pembaca menahan rindu seperti Amer yang sudah ketemu elena setelah menahan rindu ga ketemu 😁😁 makasih ya ka @Ririn Rohman N up nya 🙏🥰🥰 ditunggu kelanjutannya Amer elena🙏🙏
bagaimana selanjutnya pulang dari RS elena pulang kemana🙄🤔 kalo pulang ke rumah Buna baba otomatis Amer ga bebas apalagi pasti direcokin omah yang menerapkan aturan tunggu trimester 2 nunggu kandungan kuat 😁😁 pening ga tuh kepala amer 🤣🤣🤣