"Sudah saya katakan, keluar!". Lee sudah kehilangan kesabarannya. Semenjak lumpuh ia menjadi tempramental.
" Saya tidak akan keluar Tuan. Sekarang Tuan adalah tanggung jawab saya. Saya akan merawat Tuan". Kei tetap kekeh dalam pendiriannya untuk merawat Tuan Mudanya itu.
"Apa yang kamu inginkan?!". Lee menatap nyalang Kei. Ia begitu gusar karena kedatangan Kei sebagai orang yang merawatnya.
" Saya menginginkan untuk merawat Tuan. Jadi mohon kerjasamanya. Saya juga butuh uang saat ini, Tuan". Kei memelas, ia memang butuh uang untuk membayar angsurannya.
"Butuh berapa? Cepat katakan!". Lee benar benar membentak Kei. Kei malah memandangi Tuannya lamat lamat.
" Kenapa Tuan menanyakan itu?".
"Supaya kamu cepat pergi. Saya tahu kamu seperti pengasuh sebelumnya. Hanya menginginkan uang".
Lee sangat meremehkan tekad Kei. Kali ini Kei tidak tergoda dengan iming iming uang itu.
Akankah Kei bisa melunakkan hati Tuan Muda Lee yang sangat tempramental itu? Atau justru akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cemaraseribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Gede sih gede Honey. Tapi kalau menyangkut junior, aku kayanya pasrah deh. Takut ukurannya jadi mengecil terus kamu tidak puas."
Sekarang omesnya Tuan Muda Lee mulai terlihat
"Ih apaan sih mas, dasar omes!" Kei mencubit pinggang kekasihnya itu
"Aw sakit Honey, tega banget kamu. Oh ya, aku tidak langsung mau sunat Honey. Aku harus belajar tentang Islam dan aku ingin belajar... "
Tuan Muda Lee menggantung bicaranya, ia sebenarnya enggan berbicara ini. Tapi keinginannya besar untuk bisa sembuh.
"Ingin apa Mas? Katakan?" Kei memegang tangan kekasihnya itu dan memandangnya lekat lekat.
"A-aku ingin latihan berjalan Honey. Ya, seperti yang kamu tahu, bahwa kemungkinan besar kesembuhan kakiku sangat tipis. Bahkan mustahil, apa salahnya untuk mencoba. Apakah kamu mau menemaniku latihan?"
Tuan Muda juga memandang wajah cantik Kei itu. Ia tidak berharap banyak dari Kei. Kalau ia tidak mau menemani juga tidak apa apa. Ia sadar diri kalau ia memang sebenarnya tidak pantas diperjuangkan.
"Mau dong, Mas. Aku akan bantu kamu, semangatin kamu. Kamu adalah separuh dari diriku sekarang ini."
Kei menangkup pipi Lee dengan lembut. Lantas ia langsung memeluk kekasihnya itu.
Pelukan itu begitu hangat sampai mereka merasa nyaman dengan satu sama lain.
"Honey, tapi aku belajar Islam dari kamu juga bisa?" Lee Mencari jalan mudahnya, lagian kalau pun Arsa, ia masih sibuk dengan aktivitasnya dan pertemuan antara Arsa dan Tuan Muda Lee hanya sesekali saja.
Sedangakan pertemuannya dengan Kei sangatlah intens. Jadi ia memutuskan untuk sharing mengenai Islam dari Kei. Tapi jika urusan sunat mungkin Arsa akan bicara dengan Arsa hahaha. Ia malu jika dengan Kei.
"Boleh dong Mas. Apapun itu boleh, selagi itu berdampak positif untuk aku dan kamu, aku pasti dukung." Kei mengembangkan senyumnya.
****
Jam menunjukkan pukul satu siang dan Tuan Muda Lee agaknya sudah tidur siang. Walaupun tidak melakukan apapun, tapi rasanya juga capek.
"Oke, Mas Lee sudah tidur. Sebaiknya aku juga istirahat walaupun tidak tidur. Main sosial media ah."
Kei mengambil ponsel yang ia kantong di sakunya. Saat ini ia berada di kamar Lee tapi di sofa. Sementara Tuan Muda Lee di ranjangnya dengan mata terpejam.
Kei melihat pesan notifikasi dari seseorang, dan ternyata dari Tuan Akash.
"Tuan Akash? Kirim pesan sebanyak ini? Apa isinya?" Kei langsung membukanya daripada terus penasaran.
[Hai Kei, bagaimana keadaanmu? Apakah jauh lebih baik daripada kemarin?]
[Oh iya Kei, aku mengirimi bucket bunga tadi, apakah kamu sudah menerimanya?]
[Jika sudah aku harap kamu menyukainya ya. Maaf aku tidak tahu bunga kesukaanmu. Tapi bunga mawar itu sudah mewakili kecantikan yang terpancar dalam dirimu, Keila]
[Kei, maaf. Apa kamu hari Sabtu bisa keluar sebentar? Aku ingin mengajakmu jalan jalan]
Kei membaca pesan itu dengan seksama. Kenapa Tuan Akash begitu peduli dengannya akhir akhir ini?
"Tumben ngajakin jalan? Tapi kayanya aku tidak bisa deh, aku harus ngantar mas Lee terapi kan?" Kei bermonolog sendiri. Lantas ia langsung membalas pesan dari Tuan Akash.
[Saya sudah menerima bucket itu Tuan Akash. Terimakasih, anda terlalu repot repot. Dan mengenai ajakan untuk jalan jalan saya mohon maaf tidak bisa karena saya harus menemani Tuan Muda Lee untuk terapi]
"Semoga dia bisa mengerti. Lagian mas Lee pasti akan marah marah jika Tuan Akash mengajakku jalan jalan seperti itu. Secara kan aku sekarang pacaranya Mas Lee."
****
Karena jam menunjukkan pukul dua siang dan sepertinya Kei juga mengantuk, ia terlelap di sofa empuk nan panjang itu.
Keduanya tidur sampai jam tiga sore. Tuan Muda Lee yang bangun terlebih dahulu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar itu. Ia melihat wajah damai Kei yang masih terpejam itu.
Tuan Muda Lee tersenyum. "Cantik sekali kamu Kei. Aku tidak akan tahu nasibku jika kamu tidak hadir di sini menjadi pengasuhku. Kamu benar benar wanita yang sangat baik. Aku mencintaimu, Keila Anjani."
Tuan Muda Lee beranjak dari ranjang dan naik ke kursi roda. Ia tidak merasa keberatan karena setiap hari ia terbiasa bangun dan beranjak di kursi roda itu.
Ia lalu mendekat ke arah Kei. Ia membelai rambut lembut Kei. Ia mengulas senyum tipis ke arah kekasihnya. Ia juga menyelipkan anak rambut ke telinga Kei.
Kei yang merasa ada yang meraba wajahnya, ia perlahan membuka matanya. Dan ternyata Tuan Muda Lee yang tersenyum kepadanya. Begitu tampan bagi Kei.
"Mas, kok sudah bangun. Ini jam berapa?" Kei mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengucek matanya.
"Sudah jam tiga sore, Honey." Kei manggut manggut dan langsung berlalu dari hadapan kekasihnya.
"Mau kemana Honey?" Tuan Muda Lee merasa aneh saja karena Kei langsung beranjak pergi dari hadapannya.
"Mau wudhu dulu, Mas. Aku mau salat Ashar ini. Kan sudah jam tiga sore. Tunggu ya." Kei langsung berlalu dari kamar Tuan Muda Lee.
Ia menuju kamarnya. Karena mukenah juga ada di kamarnya. Ia langsung saja salat Ashar pada waktu itu.
*****
Tuan Muda Lee menunggu Kei di kamar saja samping sofa. Ternyata ponsel Kei ketinggalan.
"Ya ampun, ponselnya tidak dibawa. Mana hampir lowbat baterainya."
Tuan Muda Lee memegang ponsel Kei dan melihat daya baterai itu. Tiba-tiba saja, ada notifikasi pesan bunyi dari ponsel itu.
Tuan Muda Lee tidak sengaja melihat dan ia cukup terkejut karena Kei memiliki nomor dari adiknya, Akash.
"Darimana Kei punya nomor ponselnya Akash? Apa Akash yang memberikan Kei nomornya? Atau bagaimana?"
Tuan Muda Lee penasaran dengan isi pesan itu. Tapi ia tahu batasan. Ia tidak membukanya.
Ia lantas menunggu Kei saja untuk membuka dan ternyata notifikasi itu kembali ada.
"Akash, kamu cari gara gara denganku. Kenapa kamu harus mengusik Kei-ku."
Tuan Muda Lee agaknya geregetan dengan notifikasi yang terus berbunyi itu.
Ia mencoba menahan untuk tidak membukanya.
"Sabar Lee, tunggu Kei dulu. Kamu tidak boleh membukanya terlebih."
Dan berselang lima menit, ponsel Kei berdering. Ada panggilan yang masuk dari ponsel Kei.
Tuan Muda Lee melihat panggilan telepon itu, ternyata dari Akash. Seketika darahnya mendidih.
Ia langsung menyambar ponsel itu dan mengangkatnya. Akash melewati batasannya saat ini. Padahal Tuan Muda Lee sudah beberapa kali memperingatkannya.
"Halo, Re. Apa kamu memang benar benar tidak bisa meluangkan waktumu untuk bertemu denganku. Mengapa urusan kakakku itu tidak kamu ajukan saja di hari Jumat atau Minggu? Bukankah terapi bisa kapan saja?"
Akash sudah bicara panjang lebar, ia tidak tahu bahwa yang mengangkat adalah Lee.
"Jangan harap kamu bisa bertemu dengan Kei, Akash. Sekarang dia adalah milikku. Hanya milikku."
...Jangan lupa saweran gift seikhlasnya readers hehehe terimakasih. ...