Mohon anak-anak di bawah usia tidak membaca cerita ini, terima kasih :)
Calissa mencoba melarikan diri, setelah dirinya di paksa oleh menikah dengan seorang lelaki bernama Brian. Calissa tahu, jika Brian adalah sosok lelaki kasar dan sangat suka main tangan.
Untuk menghindari pernikahan paksa, Calissa nekad melarikan diri dari rumah. Gadis muda berusia 21 tahun, yang begitu polos dan bahkan tidak mengenali dunia luar.
Hingga dia bertemu dengan sang mantan kekasihnya, Arsen. Dan menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty forth : Saudara kembar ??
Calissa di berikan pesan, untuk tetap menunggunya di rumah. Karena Arsen sedang pergi membelikan makanan untuk kekasihnya, Calissa sebenarnya ingin ikut, tapi karena perginya tidak terlalu lama, jadilah Arsen meninggalkan Calissa sebentar di rumah.
Gadis itu tidak merajuk atau marah, dia tetap menuruti ucapan Arsen tanpa emosi, dia yakin Arsen sengaja membuatnya tidak ikut karena keadaan yang sedang membahayakan (mungkin) karena banyak pihak yang mengincar dirinya akibat hutang yang sangat banyak. Gadis itu menunggu di rumah tepatnya di ruang depan, atau ruang tamu. Calissa duduk bersantai sembari meminum minuman kaleng dingin dan menunggu kekasihnya datang.
Baru beberapa menit, kemudian dia mendengar suara langkah kaki. Tapi kali ini ada yang aneh, karena dia mendengar beberapa penjaga itu berbicara kepada seseorang dengan nada tegas, tidak mungkin mereka berbicara sekasar itu kepada bos mereka sendiri, apakah itu Brian ?? Batin Calissa, dia segera berdiri dari sofa dan bersiap untuk berlari bersembunyi, tapi sebuah nama di ucapkan oleh penjaga itu, bukanlah Brian melainkan orang lain.
“Arsel, maaf dengan sangat anda tidak diperbolehkan untuk masuk kemari.”
Calissa kemudian melihat seseorang lelaki, wajahnya hampir mirip dengan Arsen, hanya berbeda di bagian bola matanya saja. Arsen memiliki warna mata berwarna biru muda, sementara lelaki ini memiliki warna mata merah kecokelatan, gaya rambut mereka juga hampir mirip, karena itu Calissa hampir mengira dia adalah Arsen, tapi setelah di perhatikan lebih dalam, dirinya bukanlah Arsen.
“Ck, aku adalah saudara tuan kalian, tapi kalian seakan memperlakukanku seperti orang asing.” Lelaki itu memutar matanya malas, seakan tidak mau memperdulikan perkataan para bodyguard itu kepadanya.
Lelaki itu kemudian melihat sosok perempuan dengan rambut panjang dan mata cokelat cerah itu, dan tersenyum ke arah Calissa. Bukan senyuman manis atau sapaan, melainkan senyuman miring dan tatapan yang aneh.
“Ahh, rupanya kakakku memiliki sosok perempuan cantik..” Celetuknya menatap ke arah Calissa.
“Arsel, sebaiknya anda pergi sebelum Tuan Arsen datang.”
“Tidak mau... Jikalau dia ingin mengusirku, biarkan dia melakukannya sendiri. Lagipula dia pasti masih memiliki hati untuk saudara kembarnya ini.”
Perkataan itu membuat Calissa terkejut bukan main, rupanya Arsen memiliki saudara kembar ?? Pantas saja nama mereka hampir mirip, Arsel dan Arsen. Di tambah wajah keduanya juga hampir mirip, tapi Calissa masih bisa membedakan antara kedua lelaki itu. Dan beruntung sifat dan karakter mereka berbeda jadilah, Calissa bisa dengan mudah untuk membedakan keduanya.
“Dan siapa nona cantik ini ?? Apakah kau tunangannya ?? Pacarnya ?? Istrinya ?? Astaga kau sangat pendek.”
“A..aku tidak pendek !!” Calissa menggerutu kesal, karena tingkah dari lelaki bernama Arsel ini, argh !! Ternyata dia benar-benar menyebalkan, apakah ini tandanya lelaki menyebalkan ini akan menjadi adik iparnya ??
Arsel melangkah mendekati Calissa, dia bisa melihat perbedaan tinggi badan, dan ya memang sih. Untuk ukuran lelaki tinggi badan Calissa itu pendek, bahkan dengan Arsen juga, tapi tetap saja berbeda. Arsel menyeringai licik, matanya menatap dari bawah hingga ke atas seakan menyelidiki wanita itu dari bawah hingga ke atas.
“Kau pendek dan menggemaskan.. Berapa kali Arsen memakai tubuhmu ?? Kau sangat cantik.”
Well, pujian itu sepertinya mulai terdengar sangat... Creepy bagi Calissa, adik ipar menanyakan hal privasi kakaknya sendiri, apakah ada yang salah dari pikiran lelaki di depannya sendiri ?? Calissa mencoba untuk menghindari tapi tidak bisa, tatapan matanya terus memaksa agar Calissa melihat ke arahnya. Tangan lelaki itu mencoba meraih Calissa tapi..
“Singkirkan tangan kotormu dari kekasihku, Arsel !!!”
Lelaki itu dan Calissa menoleh melihat Arsen berdiri di depan pintu membawa beberapa bungkus makanan di tangannya, tapi itu bukanlah fokus utama, karena Arsen terlihat sangat tidak suka, bahkan tatapannya seakan ingin membunuh lelaki kembarannya ini, iya Calissa tahu jika Arsen adalah sosok pencemburu yang begitu berat, tapi tidak mungkin dia semarah itu hanya karena saudara kembarnya ingin berkenalan atau dekat dengannya, ataukah ada masalah pribadi lainnya ??
“Ahh~ Arsen, kakak kembarku, apa kabarmu ?? Lama sekali kau tidak mengabari ku..”
“Berhenti berbasa-basi !! Apa mau mu ?!”
“Well, aku akan tinggal disini.”
“Tidak !!”
“Kau mengusirku ??”
“Ini rumahku, aku berhak mengusir siapapun yang tidak aku inginkan.”
Lelaki bernama Arsel itu menghela nafasnya perlahan, tapi dia kemudian duduk di sofa dan mulai berbicara lagi di sana.
“Aku di usir oleh mereka.”
Arsen memutar matanya malas, “Apa yang kau harapkan dari kedua bedebah sialan itu ?! Menyayangimu, mencium mu setiap hari ?? Memberikan kasih sayang ?! Oh aku berani taruhan, mereka bahkan tidak memperdulikan siapapun kecuali diri mereka sendiri.”
“Bedebah yang kau sebut adalah sosok yang melahirkan mu juga.”
“Aku memilih untuk tidak di lahirkan di dunia, terima kasih.” Ujar Arsen sedikit ketus di sana, terlihat Arsen sepertinya tidak suka arah pembicaraan yang ada di sana.
Arsen mendekati Calissa dan berbicara dengan nada berbeda dari sebelumnya sembari menyerahkan makanan di tangannya.
“Calissa, sayang.. Makanlah dulu, aku ada urusan dengan orang tidak berguna itu.”
“Hey !! Sejahat itukah kau dengan saudara kembarmu ?! Tidakkah kau merindukanku ?!”
“Menjijikan.” Celetuk Arsen menanggapi perkataan Arsel yang duduk dengan posisi sangat kurang ajar, menaikkan kedua kakinya dan duduk santai seakan dirinya adalah pemilik rumah. Padahal sudah jelas, si pemilik rumah mengusirnya dengan kata-kata yang lembut itu.
“Aku belikan makanan kesukaanmu, makanlah dulu. Oke ??”
“Oke..” Calissa menerima uang itu kemudian pergi berlalu dari sana, Arsen membalik badan melihat tingkah saudara kembarnya itu.
...
Calissa sama sekali tidak bisa menikmati makanan di depannya, dia terus berfikir akan informasi yang begitu mengejutkan baginya, dia tidak pernah menyangka Arsen memiliki saudara kembar atau saudara sekalipun, Calissa bahkan tidak tahu wajah dan seperti apakah keluarga dari Arsen sendiri ?? Kedua orang tuanya, Arsen tidak pernah mau memperlihatkan mereka sejak awal, entah kenapa.