Dipaksa menikah dengan musuh bebuyutannya di kampus karena sebuah perjodohan yang dibuat oleh kedua kakek mereka yang saling bersahabat. Membuat hidup Johan dan Jihan penuh dengan warna.
Bukan warna kebahagiaan namun warna pertengkaran di setiap hari yang mereka lalui bersama. Johan yang memiliki perasaan cinta pada Jihan namun tak bisa mengekspresikannya dengan baik karena sikap kaku, dingin dan isengnya membuat ia selalu bersikap menyebalkan di mata Jihan. Jihan selalu tak pernah tak marah jika bertemu dengan Johan.
Mampukah Johan membuat Jihan jatuh cinta padanya, meski Jihan sudah terlanjur sebal dan benci pada Johan?
Lalu bagaimana kisah rumah tangga tak biasa mereka akibat perjodohan ini?
Yuk simak novel ini hingga akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau ditinggal
Mata Jihan terbelalak melihat benda pusaka Johan berukuran sangat besar.
"Gede banget, kaya pisang raja nangka di kebun Ayah." Ucap Jihan yang tengah duduk di closet.
Kak berapa lama Johan pun keluar, saat ia sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih di bagian wajahnya. Ia terkejut melihat keberadaan Jihan.
"Ngapain di situ?" Tanya Johan yang segera melilitkan handuk putih di tangannya pada pinggangnya.
"Nabung,"
"Mana ada nabung di kloset nabung itu di bank. Cepat mandi udah sore!" Perintah Johan yang masih setia berdiri melihat aktivitas Jihan.
"Heem ntar dulu, mau bersihin pembalut." Jawab Jihan yang kemudian menggibaskan tangannya agar Johan segera pergi.
Usai membersihkan pembalut yang ia gunakan Jihan segera membersihkan dirinya, iya mandi di bawah guyuran shower. Seperti pada umumnya seorang wanita kadang suka berlama-lama saat waktu mandi, begitulah dengan apa yang dilakukan Jihan sekarang.
Kesal menunggu Jihan terlalu lama, terlebih Johan belum disiapkan pakaian oleh Jihan. Johan yang masih menggunakan handuk di pinggangnya. Kembali masuk ke kamar mandi. Ia dapati istrinya tengah bermain sabun, sembari bersenandung.
Bukannya meminta sang istri untuk segera menyudahi permainan sabunnya, Johan malah membuka handuk yang ia kenakan dan malah ikut bergabung bermain sabun bersama Jihan.
"Aaaaa...." Pekik Jihan ketika dua buah tangan meraih bagian dadanya dari belakang.
"Johan ihhh...."
Jihan berusaha menyingkirkan tangan Johan, namun ia tak bisa, tenaga Johan lebih kuat dan akhirnya ia membiarkan kedua tangan Johan itu bermain di bagian dadanya bersama busa-busa sabun yang hampir menutupi bagian tubuh Jihan.
"Aaahh... Geli jangan digituin Joe!" Protes Jihan ketika Johan mencubit kecil ujung bagian benda kenyal milik Jihan dan sedikit memutarnya hingga Jihan merasa ingin meraup bibir Johan yang telah merebut ciuman pertamanya.
"Kapan selesai datang bulannya?" Tanya Johan yang sudah tak tahan untuk mengambil haknya sebagai seorang suami.
"Setahun lagi," jawab Jihan singkat sembari menahan tawanya. Ia tahu betul, jika Johan sudah tak tahan ingin mengambil haknya. Iya juga tahu betapa seringnya suaminya ini bermain Solo setelah puas bermain-main pada bagian atas miliknya.
"Terlalu sebentar satu tahun itu kenapa nggak sekalian 10 tahun aja, biar mati berkarat punya gue ini." Jawab Johan ketus.
Johan kemudian menyalakan kran shower, ia membantu membilas tubuh istrinya. Sungguh memandikan Jihan adalah sebuah ujian yang sangat besar di mana dia harus menahan hasratnya yang begitu menjulang tinggi pada Jihan.
Usai mandi dan berpakaian Jihan hendak keluar dari kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika tangan Johan sedikit menyekal dirinya.
"Kenapa Joe?" Tanya Jihan yang menghentikan langkah kakinya.
"Jangan pergi dulu! Ada yang mau gua omongin." Pintar Johan yang menuntun Jihan untuk duduk di sofa berdua dengannya.
"Besok gue akan ke luar kota." Ucap Johan serius, ia menatap wajah istrinya yang berubah menjadi sedih.
"Kok dadakan? Berapa lama?"
"Paling lama seminggu. Dadakan soalnya baru dikasih tahu tadi siang. Lo nggak apa-apa kan gue tinggal?" Tanya Johan khawatir.
Johan sangat mengkhawatirkan Jihan, iya tahu betul jika Jihan ini masih merasa takut saat berada di kampus. Apalagi tanpa dirinya.
Kalau dulu Jihan akan berjingkrak kesenangan karena musuhnya nggak ada di depan mata, sekarang semuanya terasa berbeda. Jihan malah ingin selalu bersama dengan Johan yang selalu setia melindunginya.
"Emang gue nggak boleh ikut Jo?" Tanya Jihan yang berharap diperbolehkan ikut bersama dengan Johan.
"Nggak boleh. Gue mau lihat proyek bukan mau jalan-jalan. Di sana bahaya banyak alat-alat berat." Jawab Johan yang malah membuat manik mata Jihan berkaca-kaca.
Jihan kecewa ia pun berlari pergi meninggalkan Johan yang masih duduk di sofa kamarnya. Jihan pergi ke bagian belakang rumahnya. Ia menangis di tepi kolam renang yang memang berada di belakang rumahnya.
Gunawan yang melihat adiknya segera menghampiri Jihan.
"Kenapa lo pengantin baru berantem?" Tanya Gunawan pada adiknya ya sama sekali tidak disahuti oleh Jihan yang masih belum puas untuk menumpahkan air matanya.
"Diapain lo sama Johan sampai nangis gerung-grungan kayak gini? Apa dia KDRT sama lo? Kalau dia KDRT sama lo Lo bilang sama gue, Jie. Biar gua tendang bokongnya sampai nyungsep." Tanya Gunawan yang khawatir jika adiknya mendapatkan KDRT dari Johan.
"Apa sih lo? Dia nggak pernah mukul gue. Gue mau ditinggalin sama dia." Jawab Jihan sembari terus menangis.
"Hah? Lo mau diceraikan sama dia? Kasihan baru nikah berapa hari lu udah mau jadi janda aja." Tebak Gunawan yang terkejut. Rupanya Gunawan salam mengartikan jawaban sang adik.
Plakkk!!! [Satu tamparan Gunawan dapatkan dari tangan adiknya]
"Anjirrrr sakit banget! Waras lo ya Jie?" Rintih Gunawan sembari mengusap pipinya yang memerah karena tamparan sang adik.
"Kalau doain gue jadi janda sih! Lagian siapa bilang Johan mau nyerein gue. Gue kan bilang dia mau ninggalin gue bukan nyerein gue,Kak."
"Tapi lu juga nggak usah mukul gue, lo perhatiin malah gue dapat tabokan dari lu. Emang dia mau ninggalin lu ke mana sih? Baru nikah udah ninggalin adik gua aja." Tanya Gunawan masih sebari mengusap pipinya yang habis ditampar oleh Jihan.
"Keluar kota katanya nengokin proyek." Jawab Jihan yang membuat seketika Gunawan manggut-manggut.
"Oh dia ikut rupanya. Baguslah kalau dia ikut berarti gua ada temennya."
"Emang lu pergi juga? Terus Mbak Nesya gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana. Dia harus terbiasa gua tinggalin pergi ke luar kota, lagi juga gue pergi ke luar kota tuh nyari uang buat nafkahin dia dan calon anak gue, bukan mau selingkuh atau cari bini baru. Lagian cuma sebentar kok 5 sampai 7 hari. Gua kirain lo kenapa nangis, tau-tau nya cuman kayak gini doang, aduh tahu kayak gini ngapain gua samperin lo. Pipi gue jadi nyeri-nyeri sedap." jawab Gunawan yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Jihan yang masih setia duduk di tepi kolam renang.
Usai makan malam, dengan mengabaikan rasa lelah yang Jihan rasakan, Jihan mengambil sebuah tas koper, ia membantu Johan memilah beberapa baju untuk ia bawa ke luar kota bersama dengan Gunawan sang kakak. Rupanya ada kerjasama bisnis antara perusahaan sang ayah dengan perusahaan mertuanya.
"Sudah kalau capek biar gue aja yang beresin."ucap Johan sembari menggeser tubuh Jihan ia melihat beberapa kali Jihan sudah menguap tanda jika istrinya sudah mengantuk.
Namun tangannya ditepis oleh Jihan. Jihan tetap melakukan kegiatannya mempersiapkan keperluan suaminya yang akan dibawa esok hari.
Hanya merapikan pakaiannya saja Jihan menumpahkan air mata yang turun tanpa bisa ia cegah. Kini Jihan benar-benar bingung tentang perasaan hatinya pada Johan.
"Apa gua sudah mulai mencintai dia?" Guman Jihan di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mampir ke sini juga ya...