Menikah bersama pria yang kita cintai merupakan impian bagi banyak orang. Namun apa jadinya jika pernikahan tersebut tidak seperti yang kita impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut dan Khawatir
Kala membopong Dinar turun dari mobil setelah mereka sampai di rumah. Keringat dingin sudah membanjiri pelipis wanita itu.
"Mas, sakit, mas .." ucap Dinar merintih.
"Iya, tahan sebentar, ya."
Sebelumnya Kala sudah mengajak Dinar untuk pergi ke rumah sakit, hanya saja Dinar menolak dan ingin minum obat saja yang masih tersisa di rumah. Obat yang Kala beli sebelumnya di apotek.
Kala membaringkan tubuh Dinar di atas ranjang tempat tidur dengan sangat hati-hati.
"Aku mau cari sesuatu di kulkas sebentar, ya. Kau belum makan apa-apa sejak tadi."
Dinar mengangguk. Kala bergegas pergi menuju dapur. Ia membuka kulkas dan mencari makanan yang bisa di makan saat ini juga. Akan tetapi, yang ada di kulkas hanyalah bahan masakan mentah saja.
Kala lekas mencari ke tempat lain di pantry. Dan ia menemukan roti tawar yang mungkin Dinar beli bahan untuk membuat sandwich. Ia ambil setangkep roti tersebut dan mengambil susu cokelat yang ia lihat di kulkas tadi.
Setelah jadi dan siap untuk di makan, ia segera kembali ke kamar. Tidak lupa ia juga membawa segelas air putih di tangan yang satunya.
"Makan ini dulu, ya." Kala memberikan roti tersebut pada Dinar, kemudian ia mencari obatnya di laci nakas.
Beruntung obatnya tidak di buang oleh asisten rumah tangga mamanya yang sempat membersihkan kamar itu.
Dinar memberikan sisa potongan rotinya ke Kala, karena perutnya semakin sakit.
"Minum dulu." Kala membantu istrinya untuk minum, lalu memberikan obat yang baru saja ia ambil dari bungkusnya.
Ada beberapa macam obat yang harus Dinar minum. Dinar menelannya sekaligus.
Dinar meminum air putihnya hingga setengahnya. Setelah itu, Kala meminta Dinar untuk tidur dan istirahat.
"Jangan banyak gerak, ya. Nanti kalau sakit nya masih terasa, kita ke rumah sakit. Oke?!"
Dinar mengangguk pasrah. Ia berharap sakitnya segera reda. Ia tidak ingin membuat siapapun mencemaskan dirinya terutama suaminya.
Dinar mulai memejamkan matanya. Kala sendiri duduk di di sampingnya. Tidak lama kemudian Kala melihat istrinya sudah tertidur, mungkin karena obatnya sudah bereaksi dan ada efek sampingnya mengantuk.
Kala melepaskan alas kaki yang masih terpasang di kaki Dinar. Setelah itu ia menyelimuti tubuh wanita itu sampai ke bagian atas perut. Ia duduk kembali di samping istrinya, memandang wajah Dinar cukup lekat dan lumayan lama.
"Jika di lihat seperti ini, Dinar ini cantik juga. Wajahnya teduh," ucap Kala tanpa sadar dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum tipis.
Tangan nya mulai bergerak, mengalihkan anak sulur rambut yang menutupi kening istrinya. Dengan penuh kehati-hatian agar istrinya tidak sampai terbangun.
Kala tidak sengaja menyentuh kening Dinar. Terasa sangat lembut. Meski sebelumnya ia pernah menyentuh wanita itu, namun sedikit kasar karena ia melakukannya bukan karena tulus akan cinta, namun dengan naffsuu.
Kala lekas menundukan kepalanya, mencium kening wanita itu dalam dan sedikit lebih lama. Entah kenapa ia baru saja menyadari jika ia beruntung sekali memiliki istri seperti Dinar. Wanita yang mencintainya dengan sangat tulus. Jika wanita lain, mungkin sudah ingin lepas darinya ketika mengetahui jika dirinya memiliki wanita lain bahkan jauh sebelum mereka menikah.
Dan kini, kala merasakan sebuah ketakutan akan kehilangan istrinya. Sebab tidak mudah bagi seseorang bertahan hidup dengan satu ginjal saja. Ia harap, istrinya mampu bertahan lebih lama. Dan sesuatu buruk tidak terjadi.
_Bersambung_