Tahun 9.999 Dunia hancur akibat peperangan yang di sebabkan oleh manusia, dengan berbagai alat tempur canggih, seperti Robot dan sebagainya.
Di dunia yang sudah hancur tersebut terdapat penyintas yang masih bertahan hidup di dunia yang baru.
Arian Smeltz Pria berumur 22 tahun, salah satu penyintas yang bertahan hidup di Dunia baru, dia menemukan sosok Robot saat sedang melakukan penjelajahan demi menemukan tanah yang subur.
Robot tersebut merupakan sebuah Sistem yang akan membantu Arian membuat kehidupan barunya di dunia yang sudah rata dengan tanah tersebut.
Arian membangun sebuah peradaban baru, hingga lama kelamaan tanah yang tadinya di huni oleh dia dan keluarganya saja, mulai di datangi penyintas lainnya.
Sosok dua Wanita cantik kakak beradik yang pandai bela diri dan menggunakan senjata tertarik kepada Arian.
Mereka pun membangun keluarga bersamaan dengan membangun sebuah peradaban baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alveandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Arian tidak mengajak siapa-siapa selain X-Ray, mengingat misinya kali ini akan sangat berbahaya dan menjijikan, lagi pula mana ada orang yang mau memunguti kotoran monster?.
"X-Ray, apa kamu sudah mendeteksi gerombolan monster?" tanya Arian berada di dalam tubuh robotnya yang berubah menjadi pesawat.
"Saya sudah mendeteksinya, tapi kalau sesuai dengan apa yang anda bilang, saya belum menemukannya tuan. Mengingat para Monster selalu berpindah-pindah," jawab X-Ray yakin.
"Kamu benar juga, bagaimana caranya kita bisa menemukan kotoran monster?" Arian bertanya pada robotnya itu.
"Tuan, kenapa kita tidak mengumpulkannya perlahan?" usul robot itu.
"Maksud kamu?" tanya Arian bingung.
"Kita kumpulkan kotoran tersebut seperti mencari benda-benda yang akan di gunakan untuk membuat pemukiman," jawab robot itu dengan yakin.
Wajah Arian langsung berseri. "Kamu benar juga, kenapa tidak kepikiran olehku? Baiklah, kita cari seperti itu saja."
"Baik Tuan!" jawab Robot tersebut yang langsung turun ke tanah.
X-Ray dan mulai memunguti kotoran-kotoran monster yang berjatuhan di tanah. Mirip seperti para pemulung yang mencari sampah, hanya saja bedanya mereka berdua menggunakan kemampuan pengendalian gravitasi milik X-Ray.
Arian tidak merasa jijik sama sekali, pasalnya kotoran-kotoran yang mereka dapatkan sudah mengering, karena memang tanah di sana tandus dan kering, jadi kotoran tersebut tentu saja cepat mengering.
Setelah sampai sore hari, mereka berdua mendapatkan cukup banyak kotoran-kotoran monster tersebut yang menggunung melayang di samping X-Ray.
"Baiklah, sepertinya ini cukup, lebih baik kita sudahi saja pencarian kita," ucap Arian lembut.
"Baik tuan," X-Ray langsung berubah menjadi pesawat. Arian masuk ke dalamnya dan mereka pun pergi dari sana.
Karena hari sudah semakin gelap, Arian menyuruh X-Ray agar menambah kecepatan, agar sampai di rumah dengan cepat.
Robot itu langsung menambah kecepatan, hingga akhirnya mereka sampai di kediaman Smeltz. Namun, ketika mereka sampai di kediaman Smeltz tampak ada dua pesawat besar dan sepuluh orang yang sedang berkumpul di tanah kosong kediaman Smeltz dengan tangan di ikat.
Arian mengerutkan keningnya, ia menyuruh X-Ray menaruh kotoran yang ia bawa di ladang, sementara dirinya menghampiri orang-orang tersebut yang sedang di kelilingi Wiliam dan yang lainnya.
"Ada apa ini Ayah?" tanya Arian yang baru datang.
"Baguslah kamu sudah pulang Arian, kita mau memberikan hukuman kepada mereka, karena berani menyerang tempat ini!" ucap Wiliam geram.
"Benar tuan Arian! Lebih baik kita kubur mereka hidup-hidup saja!" ucap salah satu orang Bren.
"Iya, kita hukum mati saja! Mereka pantas mendapatkannya!" tampak Sreud juga sangat geram.
Orang-orang di sana tentu saja sangat geram terhadap kesepuluh orang tersebut, jika saja tidak ada Alpa yang menjatuhkan pesawat mereka, pasti sudah banyak orang yang terluka.
"Diamlah sebentar!" tegur Arian dengan suara sedikit lantang.
Seketika mereka semua terdiam. Arian menghela napas. "Aku tahu kalian marah karena mereka menyerang kita, tapi bukan begitu caranya menghukum mereka," ucap Arian sambil menyeringai.
Bren buka suara. "Tapi tuan Arian, kalau kita melepaskan mereka dari hukuman mati, yang ada mereka akan besar kepala?" ucapnya mengingatkan.
"Aku tahu itu Bren, aku juga tahu perasaan kalian semua, tapi bukankah kita sedang kekurangan orang untuk membantu pekerjaan kita?" tanya Arian kepada mereka semua.
Perkataan Arian membuat semua orang di sana bingung. Namun, Bren langsung memahami maksud Arian. Begitu juga dengan Wiliam yang tahu dengan pemikiran anaknya itu.
"Jangan bilang kamu akan menyuruh mereka bekerja Arian?" tanya Wiliam memastikan.
"Ya, Ayah benar! Aku akan menyuruhnya bekerja untuk membantu kita, tentunya dengan pengawasan yang ketat, dan juga bukankah kita mendapatkan untung juga dengan kehadiran mereka yang membawa itu?" tanya Arian yang menunjuk dua pesawat ke sepuluh orang tersebut.
Semua orang menoleh ke arah pesawat orang-orang itu, lagi-lagi mereka semua bingung dengan ucapan Arian.
Arian menghela napas. "Kalian ini, seharusnya kalian berterimakasih kepada mereka, dengan begini aku bisa membuat robot canggih lagi dengan suku cadang yang ada di pesawat tersebut, bagaimana?"
Seketika semua orang tercengang, mereka tidak berpikir sampai ke sana, padahal sudah jelas mereka mendapatkan banyak keuntungan, dari menambah pekerja hingga bahan-bahan pembuatan robot seperti yang Arian katakan, kini mereka semua baru bisa berpikir positif dan senang mendengar kehadiran orang-orang itu.
Sementara kesepuluh orang yang di tangkap, mereka semua berwajah masam. Bukannya mendapatkan apa yang di mau, tapi malah terperangkap dikediaman Smeltz yang akan memanfaatkan mereka semua.
klo awal2 cerita jgan mnculin heroine dlu klo bsa fokus ke inti cerita dlu nnti pertengahan bru mnculin heroin
awal2 muncul gni ujung2nya beban nnti.
saran aja broo