Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Pak Ben! Siapkan mobil sekarang!" potong Alessio tegas. Suaranya bergema menembus kepanikan di ruang makan. Tanpa ragu sedikit pun, ia merengkuh tubuh lemas Vanessa ke dalam pelukan tegapnya.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit!"
Jordan yang baru tersadar dari rasa syoknya bergegas melangkah mendekat. Pria itu tampak panik melihat wajah Vanessa yang kian memerah dan terkulai lemas tak berdaya.
"Alessio! Serahkan Vanessa padaku! Dia tunanganku, biar aku saja yang menggendongnya!"
"Jangan halangi jalanku!" bentak Alessio keras. Tangan kirinya mengayun kasar, mendorong dada Jordan hingga pria itu terhuyung dua langkah ke belakang.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Alessio membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan sambil membawa Vanessa dalam gendongannya.
Jordan mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi perpaduan antara amarah murni dan cemburu yang membakar.
Rahangnya mengeras saat membayangkan kembali raut wajah Alessio beberapa detik lalu. Ekspresi kekhawatiran yang memancar dari mata Alessio terlalu nyata dan terlalu dalam.
Sebuah sorot mata yang sama sekali tidak wajar ditunjukkan oleh seorang pria kepada wanita yang statusnya hanyalah sebagai calon adik ipar.
"Kenapa Alessio tampak sepanik itu?!" batin Jordan membakar jiwanya sendiri.
"Dia bahkan tidak peduli pada Yessika yang menangis di meja makan! Apa jangan-jangan... pria sialan itu memang benar-benar tertarik pada Vanessa?!"
Jika dipikirkan secara dingin, Vanessa memang wanita yang teramat cantik, anggun, dan memiliki daya pikat yang kuat.
Selama ini, kekurangan Vanessa di mata Jordan hanya satu. Wanita itu terlalu keras kepala dan selalu menolak disentuh atau diajak bermesraan sebelum mereka sah menikah.
Pemikiran bahwa Alessio, sang saudara yang berbahaya itu mungkin menginginkan calon istrinya, membuat cemburu Jordan kian membabi buta dan tak terkontrol.
"Sialan kau, Alessio!" umpat Jordan kasar. Ia berbalik dan bergegas berlari ke arah garasi utama.
Namun saat kakinya menjejak area pelataran depan, mobil Maybach hitam berkecepatan tinggi yang dikemudikan Alessio sudah melesat menembus pintu gerbang utama.
Ban mobil itu mencengkeram aspal hingga memicu suara decitan nyaring yang membelah kesunyian siang.
Jordan menyambar kunci mobil SUV pribadinya dengan jemari gemetar. "Bangsat! Aku harus menyusul ke rumah sakit!"
"Mas Jordan! Jangan pergi!" jerit Yessika histeris.
Ia menggerakkan roda kursi rodanya penuh emosi, matanya menyipit cemburu setengah mati. Wajah manisnya yang biasa terlihat lembut kini terdistorsi oleh amarah.
"Untuk apa kau menyusul wanita itu?! Biarkan saja Alessio yang mengurusnya! Kau kan harus menemaniku!"
"Aku harus memastikan dia baik-baik saja, Yessika!" gertak Jordan tanpa memalingkan wajah sedikit pun. Tangannya sudah memutar kunci kontak hingga mesin mobil menyala gagah.
Di saat bersamaan, Benny Grey melangkah terburu-buru keluar dari pintu utama, menyusul ke sisi mobil Jordan.
"Jordan, tunggu! Aku ikut denganmu!"
Rika, ibu Yessika, berlari kecil dan menahan kuat lengan suaminya. "Benny, Sayang! Untuk apa kau ikut?! Biarkan saja Vanessa! Dia kan cuma alergi biasa!"
"Bagaimanapun juga Vanessa itu tetap anak kandungku juga, Rika!" tegas Benny seraya menyentakkan tangannya hingga genggaman isterinya terlepas.
"Kalau sampai terjadi hal buruk padanya, reputasiku juga yang hancur! Aku harus memastikan kondisinya!"
Benny langsung melompat masuk ke kursi penumpang depan. Tanpa membuang waktu lagi, Jordan menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil SUV itu melesat kencang membelah jalanan raya kota menuju rumah sakit terdekat.
Setibanya di koridor lantai VIP rumah sakit, seluruh prosedur penanganan darurat rupanya telah diselesaikan dengan sangat cepat oleh Alessio dan Pak Ben.
Vanessa sudah dipindahkan dari ruang IGD menuju ruang perawatan intensif. Di dalam sana, tabung oksigen dan selang infus penawar racun telah terpasang rapi di tubuh rampingnya.
Jordan dan Benny melangkah setengah berlari menyusuri lantai marmer yang mengilat. Langkah mereka terhenti saat melihat Pak Ben berdiri tegap di depan pintu kamar perawatan VIP nomor 401.
"Pak Ben! Bagaimana keadaan Vanessa?!" tanya Jordan setengah berteriak. Napasnya memburu akibat berlari dari area parkir.
Pak Ben membalikkan badan perlahan. Wajah tuanya yang biasa tenang dan penuh tata krama kini memancarkan amarah yang teramat dingin dan menusuk.
"Kondisi Nona Vanessa sudah mulai stabil setelah mendapat suntikan epinefrin dan penawar racun dari tim dokter, Tuan Muda," jawab Pak Ben dengan nada datar tanpa nada.
"Beruntung, Tuan Muda Alessio membawanya tepat waktu. Jika terlambat lima menit saja, saluran pernapasannya akan tertutup total dan Nona Vanessa akan benar-benar dalam masalah besar."
Jordan menghela napas lega, menyapu keringat di dahinya. " B-baguslah kalau begitu... Dia tidak akan mati..." lirihnya.
"Tidak ada yang bagus dari situasi ini, Tuan Jordan!" sembur Pak Ben kasar. Ia memotong kalimat Jordan tanpa sedikit pun rasa takut atau segan.
Jordan tersentak, terkejut mendengar nada bicara sang kepala pelayan senior. "Apa katamu?!"
"Saya sudah mengabari Tuan Besar Arthur mengenai kejadian penyerangan dan insiden ini," lanjut Pak Ben dengan suara tenang namun penuh penekanan yang mematikan.
"Beliau sangat murka. Saat ini beliau telah membatalkan seluruh agenda bisnisnya di luar kota dan sedang dalam perjalanan pulang menuju kediaman utama!"
Kata-kata Pak Ben seperti hantaman godam yang menghancurkan pertahanan mental Jordan. Wajah Jordan seketika berubah pucat pasi, matanya membelalak lebar memancarkan ketakutan yang luar biasa.
"Apa?! Kau... kau gila, Pak Ben?!" jerit Jordan gagu. Tubuhnya gemetar hebat. "Kenapa kau harus mengadu pada Ayahku, hah?! Ini cuma masalah sepele! Cuma salah paham di meja makan!"
Pak Ben hanya berdiri tegak, membuang pandangannya ke dinding dan berpura-pura tuli seolah tidak mendengar bentakan dan raungan dari calon tuannya itu.
"Jawab aku, tua bangka!" amuk Jordan yang telah kehilangan seluruh kontrol emosinya.
Ia melangkah maju secara agresif, meraih dan mencengkeram erat kerah kemeja hitam yang dikenakan Pak Ben.
"Kau lupa siapa aku di rumah ini, hah?! Aku ini Jordan Carlton! Penerus tunggal dan ahli waris sah Keluarga Carlton! Sementara kau? Kau cuma budak rendahan yang diberi makan oleh keluargaku!"
Benny Grey yang berdiri di samping Jordan hanya bisa terdiam dengan bibir terkunci rapat. Ia terlalu takut untuk ikut campur saat melihat pertikaian bernada tinggi tersebut.
Di bawah cengkeraman kasar Jordan, Pak Ben sama sekali tidak menunjukkan raut panik. Ia menatap lurus, menghujam tepat ke dalam iris mata Jordan dengan pandangan yang sarat akan cemoohan tersembunyi. Senyum miring yang tipis dan dingin terukir di bibir tuanya.
"Penerus tunggal keluarga?" bisik Pak Ben rendah, suaranya sarat akan intimidasi dari seorang pria yang telah berpuluh-puluh tahun menyaksikan dinamika perebutan takhta keluarga Carlton.
"Tuan Jordan... posisi kepala keluarga belum tentu jatuh ke tangan Anda. Jangan pernah merasa jumawa dan di atas angin... sebelum Tuan Besar Arthur sendiri yang mengumumkan status Anda didepan semua orang."
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏