Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 24
Wanita cantik itu tampak terlihat kelabakan sesaat ia terbangun kesiangan akibat ketiduran selepas sholat subuh. Semalam pria tampan itu tidak lagi mengurungnya. Namun ancaman tersebut dapat melumpuhkan pergerakan si gadis yang kini rela saja di nikahi.
Walaupun sangat terpaksa ia lakukan, setidaknya keluarga dan masa depannya dalam keadaan baik-baik saja. Tampaknya ancaman pria dingin itu benar nyata adanya jika Laura terus menerus berontak dan berusaha untuk kabur lagi.
Ia pun dengan mudah keluar kamarnya untuk mencari seseorang yang dapat membantunya. Selain Laura sangat bosan di dalam kamar. Ia harus mencari udara segar lainnya dan berkenalan dengan orang-orang di sana.
Masih menggunakan pakaian tidur, Laura melihat kamar yang tampaknya tidak ada orang di dalam sana. Gadis itu pun turun ke lantai bawah. Namun saat di sana ia masih tak menemukan seseorang.
Siska tidak sengaja melihat calon nyonyanya itu seperti sedang mencari sesuatu. Apa mau kabur lagi? Siska bergegas mendekati sebelum calon nyonyanya kabur. "Nyari siapa Non?" tanya Siska basa-basi.
Gadis itu terperanjat. "Bibik ngagetin aja." Laura memegang dadanya yang berdebar-debar.
Siska tertawa renyah. "Habisnya Nona fokus banget, emang nyari siapa sih?"
"Itu Bik, semua orang pada kemana sih, kok sepi? Setidaknya adalah pegawai yang seliweran jalan. Ini kosong banget." Laura melihat ke seluruh ruangan.
"Oh, tuan Renggra dan tuan Angga sudah pergi ke kantor ada urusan mendadak, sedangkan ibu Ani sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan Nona dan tuan Renggra. Pesan tuan Renggra nanti siang dia akan mengajak Nona keluar, tunggu aja di dalam kamar atau di taman belakang." jelas Siska.
Ternyata rumah itu ada tamannya juga. Sekilas saja gadis itu teringat dengan nama yang di sebut asisten rumah itu. "Eh Bik, siapa nama pria selain mas Renggra tadi?" Laura penasaran dengan Angga.
Siska semakin melebarkan senyuman. Wanita di hadapannya jelas sekali sudah mulai dekat dengan tuannya. Siapa sih yang nggak tahu soal malam yang terlihat begitu romantis di belakang rumah. Walau suasana hanya di terangi lampu remang-remang, mereka juga mengintip adegan mesra itu. Ah, Siska kembali balik muda jadinya.
"Bibik malahan senyum-senyum sendiri. Aku butuh jawaban, bukan senyuman," tegur Laura.
Siska jadinya salah tingkah. "Tuan Angga maksudnya Nona?"
Oh Angga namanya. "Dia itu adiknya mas Renggra ya Bik?"
"Itu keluarga angkat tuan Renggra saat masih kecil Non. Sekarang tuan Angga menjadi sekretaris tuan Renggra," balas Siska yang tak mau banyak bercerita. Biarkan tuannya sendiri yang bercerita tentang masa lalunya.
Itu pun mereka saja tidak boleh membahas masa kecil tuannya. Jika terdengar oleh pria dingin itu, maka habislah orang tersebut. "Nona baru aja bangun, gimana sarapan aja dulu. Bibik siapkan," tawarnya.
"Kalau aku makan di teras atau di taman yang di bilang Bibik tadi, boleh nggak?" Laura tak mau makan di meja makan sendirian.
"Boleh dong Non," Siska tersenyum manis. Walau sebenarnya ia masih mewanti-wanti takut wanita di hadapannya itu kabur lagi. Namun Renggra telah memberitahukan pada mereka semua, bahwa mereka harus siap siaga dalam menjaga gadisnya.
Kasihan juga jika gadis itu hanya terbekap di dalam kamar. "Oh iya Non, bibik baru ingat! Kata tuan Renggra, Nona mau apa aja di rumah ini di perbolehkan. Asal ingat, nggak boleh kabur," jelas Siska menyampaikan perintah dari tuannya.
Laura mengangguk saja. Tampaknya ia tak memiliki ambisi lagi untuk kabur. Setidaknya ia sudah di perbolehkan keluar dari dalam kamar yang membuatnya bosan.
"Nona tunggu aja di belakang, nanti bibik antarkan sarapannya."
Laura kembali mengangguk. Siska pun bergegas berjalan ke arah belakang meninggalkan Laura, sedangkan Laura berjalan ke arah lainnya. Ia tak tahu di mana letak taman itu. Namun yang pasti mencari pintu yang semalam ia masuki lewat arah belakang. Mungkin letak taman itu di sana.
Setelah mengingat jalan dan menemukan tempat itu, Laura terdiam. Bola matanya seakan di cuci oleh pemandangan alam yang terlihat sekali seperti di daerah pegunungan. Walaupun gadis itu tahu bahwa tempat itu hanya buatan saja. Namun terlihat seperti sungguhan berada di alam terbuka.
"Ini Non sarapannya," ucap Siska membuyarkan lamunan Laura. Wanita paruh baya itu meletakkan makanan di atas meja khusus untuk orang yang mau duduk di teras itu. "Silahkan di makan dulu Non."
Laura terus menerus mengangguk. "Terima kasih banyak Bik."
"Sama-sama Non. Kalau begitu bibik lanjut tugas dulu."
Laura kembali mengangguk. Setelah Siska berlalu, gadis itu mulai duduk dan memakan yang telah di sediakan Siska. Roti tawar berisi sayur, tomat, daging, dan lainnya. Serta susu rasa vanila. 'Enak banget jadi orang kaya, bangun tidur terus makan yang kayak beginian.' ia sebenarnya sangat sungkan, tapi mau bagaimana lagi.
Gadis itu di paksa menikah dengan pria yang terlihat sekali terobsesi dengannya. Hanya gara-gara ia tidak mau menikah dengan pria dingin itu. Garis bibirnya meninggi. 'Itu terlalu aneh.'
Setelah selesai makan gadis itu beranjak sembari membawa piringnya ke dalam. Ia mengikuti jalan Siska yang mengarah ke ruang lainnya.
Tampak terlihat dapur itu hanya ada Siska seorang. "Bik biar aku aja yang nyuci piring ini," ucap Laura sembari mendekati Siska yang sedang mengelap dapur.
"Silahkan Non. Nggak ada lagi yang ngelarang, bebas pokoknya. Kecuali jangan kabur aja," balas Siska sembari bercanda.
"Nggak bisa kabur juga Bik. Pagar aja tinggi-tinggi. Mana pagar besi di jaga bapak-bapak menyeramkan itu," jelas Laura sedikit merinding.
Tentu Siska tertawa kecil mendengar wanita muda di sampingnya mengatai penjaga di sana cukup mengerikan. Memang benar sih, namun mereka semuanya baik.
"Apa Bibik aja yang hanya bekerja di sini?" Laura cukup prihatin jika wanita paruh baya itu membersihkan rumah yang sangat besar baginya.
"Tentu nggak Non. Ada pegawai lainnya yang khusus membersikan rumah. Kalau bibik tugasnya masak sama ngurus dapur aja. Itu pun masih ada yang bantu. Mereka datangnya subuh, siang, sama malam. Enggak dua puluh empat jam kayak bibik ini," jelas Siska.
"Oh, aku kira Bibik sendirian yang melakukan semua ini," Laura tertawa kecil.
"Ya nggaklah Non. Mana mampu bibik menyelesaikan semuanya. Bisa-bisa sudah separuh jalan udah pingsan duluan," balas Siska. Keduanya menjadi tertawa bersama.