Selama 4 tahun Paula bekerja keras dan rajin menabung demi mengejar impiannya untuk bertemu Paulo Dybala, pemain sepak bola favoritnya yang akan berlaga di Piala DuniaQatar. Hasil dari kerja kerasnya selama ini, akhirnya ia bisa membeli tiket pesawat ke Qatar.
Sesampainya di Doha, Qatar, ia justru bertemu dengan seorang lelaki yang tengah terluka parah tergeletak di dekat penginapannya. Rasa kemanusiaan membuatnya tergerak untuk menolong lelaki tersebut. Ia membawa lelaki itu masuk ke dalam kamar dan mengobatinya.
Saat malam, cuaca Doha sangat dingin. Penginapan murah yang Paula tempati hanya memiliki satu ranjang dan satu selimut. Paula rasanya hamper mati kedinginan. Terpaksa ia ikut berbaring di samping Hamish dan memakai selimut bersama.
Menjelang pagi, tiba-tiba polisi Qatar datang menggerebek mereka. Karena tidak bisa menunjukkan bukti surat nikah, mereka terancam sanksi penjara selama dua tahun dengan tuduhan perzinahan. Mereka diberi pilihan untuk menikah atau dipenjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pindah ke Apartemen
"Aku sudah siap," kata Paula usai membereskan barang-barangnya dari sana.
Tak ada lagi yang bisa Hamish lakukan selain memandangi istrinya menenteng satu tas tangan dan memegang koper besar.
"Kamu mau mengantarku tidak? Atau aku naik taksi saja?" tanya Paula.
Tanpa berkata-kata, Hamish meraih tangan Paula dan menggandengnya. Ia mengambil alih koper di tangan itu lalu membantu membawakannya.
Di lantai bawah, orang-orang masih terlihat berkumpul. Mereka memandangi Paula dan Hamish yang kembali turun dan kini membawa koper besar.
Hamish berhenti tepat di hadapan ibunya. Ia menatap dalam-dalam wanita yang telah berjasa melahirkan dan merawatnya selama ini.
"Ibu, Paula adalah istriku, kehormatanku. Ketika Ibu membenci dan merendahkannya, aku ikut merasa direndahkan. Seharunya Ibu mengerti bahwa Paula merupakan wanita yang sangat berjasa besar bagi putramu ini. Jika bukan karena ini, mungkin malam itu aku pulang tinggal nama dan Ibu akan menjadi orang yang paling sedih melihat putranya mati," kata Hamish.
Salma memalingkan wajahnya. Ia kesal mengetahui putranya lebih membela wanita itu dibandingkan dengan dirinya.
"Hamish, kalian mau kemana? Paula baru saja kembali, bawa dia ke kamarnya untuk istirahat," pinta sang ayah.
"Aku akan membawanya keluar dari rumah ini, Ayah, agar Ibu merasa lega dan senang," ucap Hamish.
"Kak Hamish, jangan begitu ...."
"Kamu juga, Aisy. Sekalipun kita memang dijodohkan, tapi saat ini Paula adalah istriku. Kedudukannya lebih tinggi dari wanita manapun selain ibuku. Kemarin kamu baru saja memfitnah istriku dan membuat hubungan kami berantakan. Itu bukan hal yang baik, Aisy!" Hamish kali ini terlihat marah pada wanita yang selama ini ia perlakukan dengan lembut.
"Hamish, jangan emosi dalam menyikapi permasalahan." sekali lagi Faruq berusaha memberi nasihat.
"Kali ini aku tidak bisa tetap diam, Ayah. Aku sedang membela kehormatan istriku sendiri!" kata Hamish dengan tegas.
Ia lantas membawa Paula pergi dari rumah itu menaiki mobilnya.
Hamish mengajak Paula ke sebuah unit apartemen mewah yang menghadap ke Teluk Persia. Apartemen yang terletak di lantai 30 itu benar-benar menyajikan pemandangan yang sangat indah dari balik kaca-kaca lebar yang sengaja terpasang di setiap sisi dinding apartemen.
"Mulai hari ini, kita akan tinggal di sini. Kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan masalah ibuku atau Aisy," ucap Hamish.
"Hamish, kamu tidak perlu melakukan sejauh ini. Biarkan aku tinggal di penginapanku yang dulu menikmati sisa waktuku di Qatar."
Hamish menghampiri Paula dan memeluknya. "Kamu masih istriku, Paula. Aku belum menceraikanmu," katanya.
"Kamu harus meminta maaf pada ibumu. Hatinya pasti sangat terluka mendengar ucapanmu yang kasar tadi."
Hamish mempererat pelukannya. "Kenapa kamu masih saja memikirkan ibuku? Dia sudah banyak menyakitimu. Aku sudah seharusnya memintakan maaf darimu untuknya."
"Tidak, tidak ... Bagaimanapun juga, ia tetap ibumu yang harus kamu hormati."
"Aku tetap menghormati ibuku, Paula. Dan aku juga ingin memuliakan istriku," ucapnya.
Hamish melepaskan pelukannya. Ia memandangi wajah Paula seraya menyibakkan rambut ke belakamh telinga istrinya. "Pasti selama dua minggu ini sangat berat untukmu. Aku pastikan tidak akan ada lagi tangis dan kesedihan di hatimu selama di Qatar. Aku akan membahagiakanmu sampai tak bisa melupakanmu, Paula," ucapnya dengan penuh kesungguhan.
Keduanya saling mendekatkan bibir memagut satu sama lain dengan lembut. Langit Kita Doha yang cerah siang itu menjadi saksi kemesraan mereka.
berharap hamish nyusul perjuangin cintanya
lanjut thor
lanjutin ngapa hikss
ceritanya bagus seru gak monoton