Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam memasuki kawasan elit di pusat kota. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah bergaya modern dengan pagar besi tinggi menjulang. Rumah itu adalah kediaman keluarga Adhitama. Rumah yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempat tinggal Salsa bersama suaminya. Namun, begitu Salsa turun dari mobil, Ia langsung menyadari sesuatu yang tidak biasa.
Dari dalam rumah terdengar suara seseorang sedang berbicara dengan nada tinggi. Bukan, lebih tepatnya sedang marah. Salsa mengernyit. Langkahnya tanpa sadar dipercepat. Baru saja ia membuka pintu utama, suara seorang laki-laki menggema memenuhi ruang tamu.
"Cukup, Pa!"
Salsa langsung mematung. Ia sangat mengenal suara itu, suara suaminya, Ammar Adhitama.
Di ruang tamu yang luas itu berdiri seorang pria bertubuh tinggi tegap. Usianya sekitar awal tiga puluh tahun. Setelan jas hitam yang masih melekat di tubuhnya menunjukkan bahwa ia baru saja pulang dari kantor. Dasi yang biasanya terpasang rapi kini sudah sedikit longgar. Rahangnya mengeras, tatapan matanya tajam, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Wajah tampan yang biasanya terlihat tenang kini dipenuhi kemarahan yang nyaris tak bisa lagi disembunyikan. Di hadapannya, duduk sepasang suami istri paruh baya. Mereka adalah papa dan Mama Ammar. Dan untuk pertama kalinya, salsa melihat Ammar meninggikan suaranya kepada kedua orang tuanya.
"Ammar sudah bilang berkali-kali, tolong jangan terus menekan Salsa!"
Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Bahkan para asisten rumah tangga yang sejak tadi berdiri di kejauhan memilih menundukkan kepalanya. Tak seorang pun berani menyela karena mereka tahu bahwa hari ini, Tuan Muda Adhitama benar-benar sedang marah. Mereka saling berpandangan dengan wajah tegang. Sudah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun baru kali ini mereka melihat Tuan Muda Adhitama benar-benar kehilangan kesabarannya.
Ammar berdiri tegak di tengah ruang tamu. Dada bidangnya naik turun menahan emosi.
Jas hitam yang masih melekat di tubuhnya belum sempat ia ganti. Kancing bagian atas kemejanya telah terbuka, sementara dasi yang biasa terpasang rapi kini menggantung longgar di lehernya. Tatapannya tajam menyorot kedua orang tuanya.
"Sebenarnya apa yang papa dan mama inginkan?"
Suara Ammar terdengar berat, namun justru nada tenangnya itulah yang membuat suasana semakin menegangkan. Pria paruh baya yang duduk di sofa utama, Tuan Wira Adhitama, menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Sorot matanya tetap tajam, ia tak sedikit pun tidak terlihat gentar menghadapi putra sulungnya.
"Papa hanya menginginkan apa yang memang seharusnya menjadi hak keluarga ini."
Ammar tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Hak keluarga?"
"Iya." Pak Wira menjawab tanpa ragu. "Seorang penerus."
Kalimat itu membuat rahang Ammar kembali mengeras.
"Semua ini lagi?" Nada suaranya mulai meninggi. "Apa papa tidak pernah bosan membahas soal anak?"
"Kamu juga tidak pernah bosan mengabaikannya." Balas Pak Wira dengan nada yang sama dinginnya.
"Sudah tiga tahun kalian menikah. Mana cucu Papa?"
Kalimat itu membuat Ammar mengembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan berusaha mengendalikan emosinya. Namun bayangan Salsa yang tadi pagi pergi dari rumah dengan mata sembab kembali terlintas di kepalanya. Ia tahu, istrinya pasti menangis lagi dan ia yakin, penyebabnya tidak jauh-jauh dari kedua orang tuanya. Ammar kembali menatap mereka.
"Apa papa tahu? Tadi pagi Salsa pergi dari rumah sambil menangis." Pinta Ammar dengan kecewa namun tidak ada jawaban dari mulut kedua orang tuanya.
Mamanya, Ratih, hanya menundukkan wajah, sementara pak Wira tetap diam. Diam yang justru membuat kemarahan Ammar semakin memuncak.
"Apa lagi yang Papa katakan kepada Salsa?"
Pak Wira mengangkat sebelah alis.
"Kamu sedang menginterogasi Papa?"
"Ammar sedang bertanya!" Suara Ammar menggema memenuhi ruangan. "Tolong jawab, pa!"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Ratih menghela napas pelan.
"Ammar," Suara wanita paruh baya itu terdengar lembut. "Mama hanya berbicara baik-baik dengan Salsa."
Ammar tertawa pelan, namun tawanya terdengar pahit.
"Bicara baik-baik?"
"Iya." Ratih mengangguk. "Mama hanya mengatakan kalau keluarga ini membutuhkan seorang pewaris, Itu saja."
Ammar kembali tertawa yang kali ini terdengar lebih keras.
"Tiga tahun, Tiga tahun Ammar mendengar kalimat yang sama. Tiga tahun pula Salsa harus mendengarnya." Tatapannya berubah semakin tajam. "Apa papa sama Mama pernah berpikir bagaimana perasaan Salsa?"
Ratih terdiam sementara pak Wira justru menjawab lebih dulu.
"Perasaan Salsa memang penting, Tapi masa depan keluarga Adhitama jauh lebih penting."
Kalimat itu membuat Ammar mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi, menurut Papa, Salsa tidak penting?"
"Tentu penting." Pak Wira menjawab tenang.
"Tapi seorang menantu tidak bisa mengalahkan kepentingan keluarga."
Ammar memejamkan mata sesaat. Ia benar-benar berusaha menahan diri. Namun setiap kalimat yang keluar dari mulut ayahnya justru semakin melukai hatinya.
"Papa." Suara Ammar kini jauh lebih pelan.
"Tolong dengarkan Ammar, Aku tidak peduli."
Pak Wira mengernyit.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak peduli apakah aku punya anak atau tidak."
Ruangan mendadak sunyi dan membuat Ratih langsung menoleh kepada putranya. Pak Wira pun ikut terdiam beberapa detik sementara Ammar melanjutkan perkataannya.
"Bagi Ammar, Rumah tangga bukan cuma soal memiliki keturunan. Aku menikahi Salsa karena Ammar mencintainya. Bukan karena ingin menjadikannya mesin yang harus melahirkan penerus keluarga." Air mata Salsa yang sejak tadi berdiri di balik pintu mulai menggenang. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut suaminya. Sementara di dalam ruang tamu, ammar kembali berkata, "Kalau memang Allah belum memberi kami anak, Aku akan menerimanya. Itu takdir dan Ammar tidak akan pernah menyalahkan Salsa."
Ratih menutup mulutnya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun Pak Wira tetap memasang wajah datar.
"Itu pikiranmu tapi bukan pikiran Papa."
Ammar kembali menghela napas.
"Papa, Ammar mohon. Tolong jangan ikut campur lagi dalam rumah tanggaku. Ammar yang menjalani hidup bersama Salsa, bukan Papa. Jadi biarkan kami menentukan jalan kami sendiri."
Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika pak Wira perlahan berdiri dari duduknya dan membuat tatapan ayah dan anak itu kembali bertemu. Sama-sama keras, sama-sama tidak ingin mengalah.
"Udah selesai ngomongnya?"
Ammar mengangguk.
"Sudah."
"Kalau begitu sekarang giliran Papa." Pak Wira melangkah beberapa langkah mendekati putranya. "Kamu boleh mencintai Salsa, papa tidak pernah melarang. Tapi sebagai pewaris keluarga Adhitama, kamu juga punya tanggung jawab. Tanggung jawab untuk meneruskan garis keturunan keluarga ini."
Ammar menggeleng pelan.
"Ammar sudah bilang kalau, ammar tidak peduli." Ucap Ammar yang membuat pak Wira tersenyum tipis.
"Tapi Papa peduli." Kalimat itu diucapkan dengan sangat tegas. "Perusahaan ini, seluruh aset keluarga ini, nama besar Adhitama, semuanya tidak dibangun dalam semalam. Papa menghabiskan puluhan tahun untuk membesarkannya. Lalu kamu ingin semuanya berhenti begitu saja karena mempertahankan seorang perempuan yang bahkan tidak bisa memberimu keturunan?"