Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bram meminum kopi yang ada
di depannya, kemudian membuang nafasnya panjang. Mami terus memandangi Bram
untuk meminta jawaban.
“Yaaa... Bram udah terus
terang sama dia soal perasaan Bram, tapi dia belum jawab. Bram akan terus berjuang
untuk mendapatkan dia..” Jawab Bram dengan muka sendu.
“Kamu gak mau ngenalin ke
mami...?” Tanya maminya lagi.
“Boro-boro ngenalin mi.
Jawab aja belum...”Kata Bram sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, lalu
mencomot roti yang sudah disiapkan maminya.
“Mami pengen lihat,
seperti apa sih anak gadis yang sudah bikin kamu jungkir balik...?” Ledek
maminya. Bram kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Mencari foto
Renata yang dia ambil waktu di Garut. Lalu menunjukkan kepada maminya.
“Ini mi... gimana menurut
mami..?” Tanya Bram sambil memperlihatkan beberapa foto Renata.
“Cantik... pantes kalau
kamu jadi kacau begini. Kalau dilihat
wajahnya, sepertinya orangnya lembut ya. Bener gak Bram, ini menurut pandangan
mami lho...”
“Iyaaakkk... betul sekali
mamikuuuu... Tapiii... gimana donk mi...?” tanya Bram dengan muka sedikit
memelas
“Yaaa... kalau kamu memang
mencintai dia, perjuangkan cintamu. Tunjukkan kesungguhanmu. Apalagi katanya
dia sedang patah hati. Itu tantangan buat kamu...” Bram diam, tidak menjawab
komentar maminya. Bram masih menikmati sarapannya. Tak lama Sasa muncul, siap
dengan seragam sekolahnya dan duduk di sebelah Bram
“Wuuiihhh... tumben
pagi-pagi mas Bram dah sarapan. Biasanya jam segini masih molor. Ada angin apa
nih....?” Tanya Sasa sambil mencomot roti yang ada di depannya.
“Ihhh... pagi-pagi bawel,
kayak burung aja...” Kata Bram sambil mencubit pipi adiknya.
‘Wooiii... sakiiittt...” Teriak
Sasa sambil menepis tangan kakaknya
“Biarinnnnn...!” Jawab
Bram sambil mengacak rambut Sasa.
“Masss.... rambutku....!!!!”
Sasa cemberut karena rambutnya berantakan diacak-acak kakaknya
“Eeee..... sudah...sudah.
Ayo pada sarapan. Pagi-pagi ribut aja...!” Kata mami melerai
“Mas Bram nih mi...kebiasaan...!”
“Sa ngomong-ngomong kamu
udah latihan lagunya? Kita dapat jadwal tugas hari Minggu” .
“Malessss...!” Jawab Sasa
masih dengan muka cemberut.
“Yeeee... gitu aja
ngambek. Bener nih... musuhan...” Kata Bram sambil menaik-naikkan kedua alisnya
menggoda Sasa.
“Syukurlah.. kalo
musuhan. Berarti kantong amannnn....” Ledek Bram lagi.
“Maaasss.... iihhh...nyebelin....”
Kata Sasa cemberut
“Haaa......” Bram tertawa
sambil kembali mengacak rambut Sasa.
“Braaammm.... sudah..!
Jangan ganggu adikmu terus..!” Mami mendelik ke arah Bram. Bram memang paling
hoby mengganggu adiknya.
“Papi belum bangun mi..?”
Tanya Bram
“Udah, lagi mandi..”
Bram terlihat sudah
selesai sarapan, tinggal menghabiskan kopinya.
“Mi Bram berangkat ya...”
“Lho kok...? Emang mau
ada acara apa kok tumben berangkat pagi-pagi..?” Tanya maminya heran
“Mau negok Renata bentar.
Soalnya tadi malem dia maksa Bram pulang. Takut ada apa-apa.”
“Mas.... ikut.. Sasa
belum ngerjain PR....” Kata Sasa sambil berdiri.
“Tapi turun di jalan
ya... Mas Bram masih ada perlu dulu...”
“Iya.... entar nyambung pakai
taxi...” Jawab Sasa.
“Mi... Sasa jalan ya.....”
Pamit Sasa sambil mencium pipi maminya.
“Ya sudah.... Ati-ati di
jalan...” Pesan maminya.
Bram juga mencium pipi
maminya., kemudian keluar menuju garasi.
*****
Pagi-pagi mbok Jum sedang
menyapu di ruang tamu sambil mengelap kaca-kaca jendela. Mbok Jum menoleh ketika ada mobil yang
berhenti di depan pintu pagar, terlihat Bram keluar dari mobil dan berjalan
masuk halaman rumah.
“Pagi den Bram. Kok tumben..”
“Pagi juga mbok. Gimana Rena...
sudah baikan?” Tanya Bram
“Sudah mendingan. Silakan
masuk den...”
“Makasih mbok...”
Bram masuk rumah dan
langsung ke atas menuju kamar Renata.
Tok..tok...tok
Bram mengetuk pintu kemudian
membukanya. Terlihat Renata tiduran sambil menonton TV. Wajahnya tidak sepucat
tadi malam, tapi badannya masih lemas. Renata berusaha bangkit untuk duduk.
Tangannya tiba-tiba memegangi kepalanya, karena merasa pusing.
“Eeeiitss... gak usah bangun,
tiduran aja Ren...”Bram memegang pundak Renata agar merebahkan badannya
kembali, dan Bram duduk di kursi dekat ranjang.
“Gimana kondisinya, udah
mulai enak..?” tanya Bram
“Lumayan tinggal pusing saja.
Mas Bram gak ke kantor?”
“Ke kantor entar habis
dari sini. Udah minum obatnya Ren?’
“Sudah mas. “
“Masih merasa pusing
terus..?”
“Kadang-kadang aja. Tapi
gak separah kemaren.” Kemudian keduanya diam. Mata Renata melihat ke arah TV,
tapi Bram yakin pikiran Renata entah melayang kemana. Bram pun ikut-ikutan
mengarahkan matanya ke TV. Tak lama mbok Jum masuk.
“Den Bram mau minum
kopi?” Tanya mbok Jum.
“Gak usah mbok. Makasih,
tadi udah ngopi di rumah,sekalian sarapan.”
“Baiklah kalau begitu. Mbok
tinggal dulu lanjutin bersih-bersih”
Setelah mbok Jum keluar,Bram
menghela nafas panjang.
“Ren... boleh aku bicara..?’
Tanya Bram tiba-tiba
“Ada apa mas..?”
“Kenapa kamu kemaren gak
mau kasih tau kalau kamu sakit? Aku kan bisa antar kamu pulang. Kamu bahkan
pesan ke Tia gak boleh kasih tau aku. Apa maksudmu???”
“Mas aku gak mau ngrepotin.
Aku tahu mas Bram sangat sibuk, dan aku bisa pulang sendiri.”
“Terus kalau ada apa-apa
di jalan bagaimana? Apalagi semalem kondisimu begitu lemah.” Kata Bram dengan
suara lembut. Dia gak mau Renata merasa tertekan dengan prertanyaannya.
“Gak papa mas. Kan aku sudah sampai rumah juga gak papa.”
“Tapi tolong... jangan
diulang lagi ya....”
Bram mendekatkan badannya
ke arah Renata, menggenggam tangan Renata.
“Rennn.. Aku sangat sayang
padamu. Aku gak mau terjadi apa-apa dengan kamu. Apa sih susahnya kasih tau
kalau kamu gak enak badan. Tia kalau gak ku paksa-paksa, gak akan kasih tau
kalau kamu sakit. Kamu tidak sedang menghindar kan Rennn?” tanya Bram dengan
muka murung.
“Kenapa mas Bram bicara
begitu...?” tanya Renata dengan memandang Bram
“Hari Senin kamu menolak
aku jemput pulang kantor, terus kemarin kamu sakit juga gak mau kasih tahu. Rennn...
tolong.... jangan ulangi lagi. Aku akan selalu ada untuk kamu.”kata Bram sambil
mencium tangan Renata. Renata menarik tangannya dari genggaman Bram. Wajahnya
terlihat murung..
“Renn... maaf kalau
omonganku ngelantur pagi-pagi..” Renata diam, dia berusaha untuk duduk menyandar
di kepala tempat tidur, Bram membantu Renata duduk, kemudian Renata mengambil guling
dan menaruh di atas pangkuannya. Renata masih diam sambil mempermainkan
jari-jarinya di atas guling. Kepalanya menunduk.
“Ren... Kamu marah..?” Tanya
Bram sambil memegang jemari Renata.
Renata mengangkat wajahnya
dan memandang Bram sambil tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. Bram sangat
paham melihatnya. Mata kucing itu.... menyimpan luka.
“Marah untuk apa...?” Tanya
Renata lirih.
“Ren... maaf... mungkin
kamu menganggap aku suka memaksakan kehendak. Tapi percayalah... semua aku lakukan
karena aku sangat mencintaimu. Aku gak mau terjadi apa-apa dengan kamu.” Kata
Bram dengan sungguh-sungguh. Renata diam, kemudian menghela nafas dan melihat jam
yang ada di meja, lalu menoleh lagi ke arah Bram.
next