Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Nggak! Lo salah, Tuhan nggak benci sama Lo. Kalau Tuhan benci sama Lo, Lo nggak akan hilang ingatan." ujar Daffi. Membuat Raka menoleh kepadanya. "Itu bentuk kasih sayang Tuhan ke Lo agar Lo nggak ingat kesalahan Lo. Tuhan tahu Lo bakal terpuruk kayak gini kalau Lo terus ingat semua yang Lo lakuin dulu." sambungnya lagi.
"Kalau Tuhan sayang gue, dia gak akan biarin gue buat banyak kesalahan fatal.."
Daffi menghela napasnya. Sangat sulit menasihati orang yang sudah terpuruk. Makanya dulu Daffi sangat bersyukur Raka kehilangan ingatannya. Setidaknya cowok itu tidak akan ingat semua yang dia lakukan dan tidak akan merasa bersalah seperti ini untuk sementara waktu.
"Stop ngomong yang nggak-nggak. Sekarang pulang, atau orang tua Lo bakal curiga." ucap Daffi.
***
Keesokan harinya Zylva pergi ke sekolah seperti biasa. Baru saja sampai gadis itu sudah disambut orang yang paling tidak ingin ditemuinya. Di belakang gadis itu ada sekumpulan siswa dan siswi membawa beberapa papan tulisan. Hampir semua bertuliskan meminta Zylva dikeluarkan dari sekolah.
"Sinting." ucap Zylva kemudian melengos pergi dari sana.
"Hey! J*lang murahan! Keluar Lo dari SMA Cempaka Putih!" teriak Lucy di ikuti siswa dan siswi di belakangnya.
"Keluar Lo dari sekolah kita!"
"Keluar dari sekolah kita!"
"Lo gak pantas sekolah disini!"
Berbagai teriakan yang diteriakkan pengikut Lucy. Ya memang tidak terlalu banyak, tetapi banyak siswa siswi lain yang melihat dari kejauhan. Bahkan mereka yang di lantai dua dan tiga berdesak-desakan melihat dari jendela.
Zylva berhenti dan tertawa kecil. Gadis itu berbalik lalu menatap tajam Lucy serta siswa siswi yang sudah dia sogok. "Di bayar berapa sih kalian?" tanya Zylva sambil melipat tangannya di depan dada.
"Jaga omongan Lo!" ucap Lucy dengan kesal.
Tanpa menghiraukan Lucy, Zylva terus menatap siswa siswi yang ada di belakang Lucy. Tatapan Zylva begitu mengintimidasi, hingga mereka yang tadinya teriak menyuruh keluar sekarang menjadi diam membisu.
"Kenapa diam? Berapa banyak yang dia kasih? 1 juta? 5 juta? 10 juta?" tanya Zylva lagi.
Semua langsung terdiam. Karena nominal yang disebutkan Zylva jauh lebih banyak daripada yang diberikan Lucy. Uang yang diberikan Lucy untuk masing-masing orang saja tidak sampai satu juta.
"500 ribu." jawab salah satu siswa dan langsung dipelototi Lucy.
"Oh, 500 ribu. Nih 50 juta sana jajan ke kantin." ucap Zylva sambil memberikan kepada siswa yang berani bicara tadi. "Bagi-bagi. Biar adil." ujarnya lagi kemudian beralih menatap Lucy.
"Maksud Lo apa hah?!" bentak Lucy.
"Why? Malu? Miskin aja pakai gaya nyogok orang. Nih duit biar gak miskin-miskin amat." celetuk Zylva sambil melemparkan uang 10 juta tepat di muka Lucy kemudian pergi dari sana di ikuti siswa dan siswi yang tadi mendukung Lucy.
"Sialan! Bagaimana bisa begini sih?!" Lucy menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Tidak ada yang mendukungnya sekarang. Thunder Boys? Mereka sudah tidak ada disampingnya. Raka bahkan entah kemana hari ini dia tidak masuk sekolah. Gadis itu melihat uang yang berserakan di bawahnya. Ada sedikit rasa ingin memungut uang tersebut. "Huh!" Lucy mendengus kesal lalu dia pergi dari sana.
Di kelas 3-3
"Zylva!" panggil Jessy dan Amel.
Zylva hanya menatap kedua gadis itu.
"Gila, Lo tahu nggak? Katanya sekolah tetap membiarkan Lucy sekolah disini." ucap Jessy.
Zylva mengerutkan keningnya. "Lanjutin." perintah Zylva.
"Orang tuanya tadi datang, gue dan Jessy nguping semua guru yang ada disini harus biarin apa aja yang dilakukin tuh cewek dengan imbalan uang." terang Amel lagi.
Zylva memutar bola matanya malas. Memang sih kalau menuruti alur permainan gadis itu akan sangat ribet. Lucy sudah tidak ada hubungan lagi dengan balas dendamnya karena Raka sudah membenci gadis itu. Tapi kalau nggak ditangani malah bikin runyam.
Zylva mengambil handphonenya dan mengirim sebuah pesan singkat ke Matthew. Dia meminta Matthew untuk menangani gadis itu. Urusannya hanya dengan Raka. Dia melibatkan gadis itu hanya untuk menyakiti Raka. Raka sudah kecewa kepada Lucy. Artinya urusan dia dengan gadis itu sudah selesai.
"Btw, hari ini gue gak lihat Raka sama yang lainnya?" tanya Jessy.
Zylva tidak menjawab, dia sudah tahu Raka tidak akan masuk sekolah hari ini.
Tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu kelas mereka. Membuat seisi kelas menatap orang tersebut. "Gue boleh masuk?" tanya cowok itu yang tak lain adalah Gibran.
"Gak!" sahut Zylva. Kemudian langsung beranjak menghampiri sepupunya tersebut.
"Pelit, kelas juga bukan kelas Lo." cetus Gibran kesal.
"Ngapain?"
"Ikut gue." ucap Gibran sambil menarik Zylva keluar kelas.
Hampir semua yang dikelas tercengang melihat kejadian barusan. Apa itu tadi? Cowok populer biang onar yang suka bolos berani memegang tangan Zylva yang sangat anti bersentuhan dengan cowok?
"Gue nggak salah lihat kan?" tanya Jessy sambil ngucek-ngucek matanya.
"Katarak?" tanya Amel balik.
"Sialan Lo!"
*
Rupanya Gibran mengajak Zylva ke belakang sekolah. Tepatnya di taman. Cowok itu menunjukkan sebuah rekama video kamera tersembunyi. Video tersebut menampilkan seorang cowok yang duduk sendirian di pemakaman.
"Dia sejak tadi malam di sana." ucap Gibran.
"Darimana Lo dapat Video ini?" tanya Zylva. Entah kenapa tiba-tiba terbesit perasaan bersalah melihat Raka yang seperti itu. Tapi gadis itu segera menepis pikirannya. Dia harus membalas semua perbuatan Raka.
"Bang Varrel ngirim drone kecil buat ngikutin dia." jelas Gibran.
"Buat apa?" tanya Zylva lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.
Gibran menggeser videonya sekarang handphone Gibran menampilkan rekaman video tadi malam. Tepat setelah dirinya membunuh Cainsley. Terlihat Raka yang meninggalkan Cainsley sendirian di hutan tersebut.
"Sinting!" cetus Zylva melihat hal itu. Orang kesayangannya mati malah ditinggalkan begitu saja? Benar-benar tidak punya perasaan.
Video terus berjalan. Memperlihatkan Raka yang duduk di tepi pantai melihat keganasan laut tadi malam. Tetapi sayangnya Zylva dan Gibran tidak mendengar apa yang di ucapkan Raka dan Daffi karena gemuruh ombak bercampur petir dan hujan.
"Terus? Fungsinya nunjukin ini ke gue?" Zylva mencoba bertanya. Walau nada bicaranya sudah sedikit bergetar karena merasa bersalah melihat Raka seperti itu.
"Kak Matthew nyuruh Lo ke pemakaman Cainsley." ucap Gibran.
"Hah? Kenapa dia nggak bilang gue langsung?"
Gibran menggedikkan bahunya. Kemudian menunjukkan sisa chatting-nya dengan Matthew beberapa saat lalu. "Yang jelas dia nyuruh Lo kesana." ucap Gibran lagi.
***
Bersambung...