Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Kevin Hartono tidak pernah perlu mengejar siapa pun.
Biasanya orang datang kepadanya, membawa proposal, permohonan, undangan, atau masalah yang ingin diselesaikan dengan satu tanda tangan. Namun selama tiga hari terakhir, Feng menyaksikan pemandangan yang membuatnya beberapa kali mempertanyakan kesehatan mental Boss-nya.
Pagi pertama, Kevin muncul di kafe kecil dekat PIK yang biasa dikunjungi Keira.
Ia memakai kemeja linen putih, celana gelap, dan ekspresi seolah benar-benar kebetulan ingin minum kopi di tempat yang bahkan tidak punya ruang VIP.
Feng berdiri di luar dengan wajah datar.
"Boss," bisiknya lewat earphone, "Nona Keira masuk."
Kevin mengangkat cangkir kopi. "Aku tahu."
Keira masuk lima detik kemudian. Ia berhenti ketika melihat Kevin duduk di meja dekat jendela.
"Pak Kevin."
"Nona Keira." Kevin menatapnya seolah ia tidak mengatur semua ini setelah membaca jadwal hariannya. "Kebetulan sekali."
Keira menatap cangkir di depannya. "Anda minum kopi gula aren?"
Kevin diam.
Keira tersenyum tipis. "Saya kira selera Anda espresso tanpa gula."
Feng di luar hampir batuk.
Kevin meletakkan cangkir. "Kadang orang perlu mencoba hal baru."
"Seperti mengikuti rute orang lain?"
"Seperti memahami seseorang."
Keira tidak duduk di mejanya. Ia memesan kopi, lalu pergi dengan tenang. Namun Kevin melihat sudut bibirnya sempat bergerak, sangat kecil, seperti menahan senyum.
Ia meninggalkan kopi gula aren itu di meja Kevin. Di gelasnya ada catatan kecil dari barista: pesanan rutin Nona Keira.
Kevin menatap gelas itu lama, lalu menyesap.
Terlalu manis.
Feng yang mengawasi dari luar hampir tertawa ketika Boss-nya menelan dengan wajah kaku.
"Boss, kalau tidak suka..."
"Diam."
Namun Kevin tetap menghabiskannya.
Hari kedua, Kevin datang menjemput Darren di JIP.
Pak Hadi yang biasanya menjemput berdiri di belakang dengan ekspresi bingung. Kevin sengaja memarkir mobilnya di samping mobil Keira. Ketika Keira keluar menggandeng Ethan dan Tiffany, ia sudah berdiri di sana.
"Jakarta kecil," katanya.
Keira menaikkan alis. "Atau jadwal saya bocor."
"Mungkin dua-duanya."
Ethan menatap Kevin dengan curiga. Tiffany justru melambai manis.
"Halo, Pak Kevin."
Kevin menunduk sedikit. "Halo, Tiffi."
Keira langsung menoleh. "Anda tahu panggilannya?"
"Anak-anak mudah diingat."
"Atau Anda terlalu rajin mencari tahu."
Kevin tidak menyangkal. "Aku memang rajin kalau sesuatu menarik."
Ethan menutup mulut Tiffany sebelum adiknya bisa berkata Daddy menarik juga.
Hari ketiga, lift Plaza Indonesia berhenti di lantai yang sama ketika Keira masuk. Kevin sudah berada di dalam, hanya bersama Feng yang tampak ingin hilang.
Keira menatap angka lantai, lalu menatap Kevin. "Luar biasa. Jakarta bukan hanya kecil. Liftnya juga berpihak pada Anda."
Kevin menahan senyum. "Aku mulai suka kota ini."
"Karena bisa dipakai untuk menguntit?"
"Bukan menguntit." Kevin menoleh. "Aku ingin tahu tentangmu."
Lift bergerak turun. Ruang sempit itu membuat aroma parfum Keira terasa jelas, lembut tetapi dingin, seperti bunga putih setelah hujan. Kevin menyadari ia sudah terlalu lama menatap.
Keira juga menyadarinya.
"Apa yang ingin Anda tahu?"
"Bagaimana seorang perempuan yang lima tahun lalu diusir dari Rumah Mulyono bisa kembali dengan Black Card, villa PIK, kemampuan bertarung, dan anak yang wajahnya sama dengan anakku."
Keira tidak langsung menjawab.
"Kalau saya bilang saya hanya beruntung?"
"Aku tidak percaya keberuntungan bekerja serapi itu."
Pintu lift terbuka. Keira melangkah keluar, lalu berhenti sebentar.
"Pak Kevin, rasa ingin tahu bisa berbahaya."
"Aku sudah hidup dengan bahaya."
"Belum tentu dengan bahaya seperti saya."
Kevin tersenyum tipis. "Justru itu yang menarik."
Malamnya, Keira pulang ke villa dan menemukan Rio menunggu di ruang kerja.
"Dia mengikuti lagi?" tanya Rio.
"Tiga hari berturut-turut."
"Perlu saya halangi?"
Keira membuka antingnya di depan cermin kecil. Ia memikirkan Darren yang masih berada di Hartono Estate, Kevin yang tidak membiarkan siapa pun menyentuh anak-anaknya, dan tatapan pria itu ketika berkata jangan samakan aku dengan mereka.
"Tidak."
Rio menatapnya. "Bos?"
Keira meletakkan anting di kotak beludru.
"Dia sedang menguji batasku." Ia berhenti sebentar. "Biarkan dia datang."
Rio tidak berkomentar, tetapi alisnya naik sedikit.
"Itu berarti Bos mengizinkan dia mendekat."
Keira menutup kotak beludru. "Itu berarti aku ingin tahu seberapa jauh dia berani berjalan sebelum menemukan duri."
"Dan kalau dia tidak mundur?"
Keira tidak langsung menjawab. Bayangan Kevin di lift muncul lagi, bersama suara rendahnya yang berkata ia ingin memahami dirinya.
"Kalau begitu," katanya pelan, "kita lihat apakah dia berdarah atau tetap berdiri."
Rio menunduk. "Saya akan tetap siaga."
"Selalu."
"Dan kalau suatu hari Bos butuh orang yang mengingatkan bahwa Pak Kevin berbahaya?"
Keira memandang jendela gelap. "Aku sudah tahu dia berbahaya, Rio. Masalahnya, aku mulai curiga dia juga tahu cara menjaga."
Di halaman belakang, Ethan dan Tiffany mengintip dari balik tirai.
"Mommy tidak marah," bisik Tiffany.
Ethan mengangguk serius. "Progres."
"Apa itu progres?"
"Artinya Daddy punya peluang."
Keira mendengar bisikan itu dari ruang kerja, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak menegur.
Ia justru mengambil ponsel dan membuka satu pesan dari Kevin yang belum ia balas sejak sore.
Terima kasih kopinya. Lain kali saya yang traktir.
Keira menatap kalimat pendek itu lama sekali. Kevin tidak memaksa, tidak merayu dengan kata manis, tetapi justru karena itu pesan tersebut terasa lebih sulit dihapus.
Di luar, malam Jakarta lembap dan tenang. Terlalu tenang untuk seorang perempuan yang tahu hidupnya sedang didekati oleh pria paling berbahaya di kota ini.
Namun anehnya, kali ini ia tidak ingin menutup pintu terlalu cepat.