NovelToon NovelToon
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Misteri / Dunia Lain / Penyeberangan Dunia Lain / Barat / Tamat
Popularitas:923.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: R.D. Villam

Abad ke-24 Sebelum Masehi. Kerajaan Akkadia menguasai tanah Mesopotamia, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris.

Ramir, seorang pemuda yatim piatu berusia 15 tahun yang mampu masuk ke dalam mimpi orang lain, menyelamatkan seorang gadis berambut perak yang pingsan di tepi sungai. Peristiwa itu membuat Ramir terseret dalam peperangan yang tengah berlangsung di Akkadia, sekaligus membawanya memulai perjalanan untuk mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.D. Villam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 ~ Pembawa Maut

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris

Bab 23 ~ Pembawa Maut

Karya R.D. Villam

---

Rahzad!

Semua orang terpaku begitu mengetahui sang panglima Akkadia ada di tengah-tengah mereka. Naia diam tak bergerak; otak dan darahnya serasa membeku. Sosok jangkung dan gagah yang sedang tersenyum di depannya itu bagaikan dewa pembawa maut.

Rahzad bukan manusia biasa. Dia legenda. Namanya tersohor ke seluruh penjuru negeri. Kedahsyatan, keganasan dan kematian adalah nama lainnya. Hanya nama dan perbuatannya yang pernah terdengar; tidak banyak yang mengetahui wajahnya. Ia dipuja sebagian orang, dan ditakuti sebagian yang lain. Di antara manusia, Rahzad bagaikan barion di antara hewan-hewan lain. Dialah sang pemangsa, dan manusia lainnya hanyalah sekumpulan buruan lezat. Bagaimanapun dibencinya ia oleh orang-orang yang bersumpah membalas dendam padanya, bertemu muka secara langsung dengan Rahzad biasanya tidak pernah mereka inginkan. Musuh yang bertemu dengannya seperti mendapat jaminan akan menemui ajal saat itu juga.

”Serang!” Teriakan Javad mengembalikan kesadaran Naia, dan juga semua yang lain. Raja Awan itu mengangkat tombak, langsung mengarahkannya lurus ke arah Rahzad.

Rahzad hanya menggeser tubuhnya sedikit ke kiri, menghindar. Para prajurit bergerak Awan mengepung, kemudian menyerang bersamaan dengan tombak. Rahzad melompat tinggi dan berputar di udara. Tangan kanannya mencabut pedang besar dari pinggangnya. Pedang itu terayun ke bawah, seperti hendak membelah tanah. Udara terbelah kencang, dan menyisakan lima mayat prajurit Awan dengan tubuh terpotong.

Naia mencabut pedangnya. Belum sempat ia bergerak lebih jauh, ketiga prajuritnya: Fares, Isfan dan Habik, menyerang dengan gada, pedang dan tombak. Rahzad berputar lagi dan seketika itu pula para pengeroyoknya terlempar. Fares yang paling kuat masih mampu berdiri tegak, walaupun gada di tangannya bergetar hebat, sementara yang lainnya terhempas. Habik tewas seketika dengan luka besar menganga di dada.

”Tidak!” Kemarahan Naia menutupi rasa takutnya. Ia berlari maju dengan pedang terhunus. Javad maju di sebelah kanannya, begitu pula para prajurit Awan serta Fares.

Tetapi Rahzad sudah siap. Seringainya justru semakin terlihat menakutkan.

Bayangan gelap berkelebat di atas mereka. Tinggal sedikit lagi pedang Naia beradu dengan pedang Rahzad, ketika sosok raksasa Davagni tiba-tiba muncul. Batu sebesar rumah disangga kedua tangan kekarnya di atas kepala, dan tanpa ampun dilesakkan ke arah Rahzad di depannya.

Suaranya keras menggetarkan bumi. Batu itu hancur berkeping-keping. Pecahan serta gelombang ledakannya menerpa semua orang di sekelilingnya. Tubuh kecil Naia terlempar ke belakang, menghantam tanah kering dengan punggungnya.

Kepala Naia sakit bukan kepalang. Pandangannya kabur, antara pening dan juga banyaknya debu yang beterbangan di sekitarnya. Amis darah di bibirnya terasa, bersamaan dengan pulihnya kesadarannya. Masih terlentang, Naia berusaha mengangkat kepalanya. Para prajurit bergelimpangan di sekelilingnya, sebagian terduduk sambil memegangi kepala dan senjata mereka, termasuk Fares, Javad dan Isfan, tetapi sebagian lagi sudah tak bernyawa. Lima tombak di depannya, Rahzad dan Davagni saling menatap.

Davagni sudah bersiap dengan kedua tangan terkepal. Namun pedang Rahzad yang terkenal, yang tadi mampu menghancurkan batu besar itu, sudah teracung pula ke depan.

Rahzad berseru, ”Aku bisa menghancurkanmu, Davagni!”

”Pedangmu hebat tak tertandingi, Rahzad, tetapi aku sudah siap.” Kedua tangan Davagni terbuka ke bawah. Angin berhembus kencang. Bumi berguncang; tanah di sekitarnya merekah. Debu-debu hitam tertarik, lalu berkumpul dengan cepat di sepasang tangan Davagni. Begitu banyak, begitu padat debu-debu itu membentuk dua buah benda panjang. Dalam sesaat, dua pedang berwarna hitam tergenggam di tangannya.

Davagni menyeringai. ”Kau lihat? Bukan batu biasa, Rahzad.”

”Ya, mari kita lihat!” Rahzad mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke depan. Begitu cepat dan dahsyatnya tenaga Rahzad, sehingga Davagni sampai harus menahan serangan itu dengan kedua pedangnya.

Rahzad mengayun lagi, dan Davagni kembali hanya bisa menahan.

Tak jauh dari keduanya Naia berdiri dengan susah payah, diikuti oleh rekan-rekannya yang masih bernyawa. Ia memandangi mereka, dan tak mampu menahan getar di bibirnya. Begitu banyak yang mati! Kini hanya tinggal Fares, Isfan, Javad, dan empat prajurit Awan. Yang lainnya mati, hanya karena Rahzad seorang!

Dan ada lagi bahaya lainnya yang mendekat.

"Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh!"

Kawanan barion. Mereka ada di balik bukit, mendaki dengan begitu cepat.

”Sebaiknya kita segera pergi,” kata Javad. ”Selagi mereka berdua bertempur.”

Bertempur? Naia menggigil mendengarnya. Bertempur, seperti halnya dendam dan takut yang kini bertempur dalam dirinya? Semangat baru tiba-tiba meluap. ”Kita harus membantu Davagni! Ini kesempatan kita membunuh Rahzad!”

”Dia bisa membunuh kita dengan mudah, Tuan Putri!” seru Isfan. ”Kita tak mungkin punya kesempatan melawannya. Kita belum mampu!”

Naia menoleh. ”Fares, bagaimana menurutmu?”

Pemuda itu tak menjawab, dan tetap memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan. Ia seperti tak ingin memandang wajah Naia. Kekesalan Naia timbul, tetapi lalu menghilang, begitu ia bisa memahami raut wajah pemuda itu. Ada sakit hati, dan kesedihan. Sepertinya Fares belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah mendatangkan bencana ke tempat ini.

”Tuan Putri, pasukan barion semakin dekat!” seru Isfan semakin panik.

”Ayo.” Tak sabar, Javad memegang lengan kiri Naia, dan mengajaknya berlari.

Lari, dan lari lagi. Seperti beberapa hari yang lalu, seperti seminggu yang lalu. Bahkan, sebenarnya Naia sudah berlari sejak berbulan-bulan yang lalu. Itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Derap rekan-rekannya terdengar, juga dengus napas yang saling memburu. Denting pedang Rahzad dan Davagni yang beradu juga terus terdengar, anehnya, terasa indah jika didengar dari jauh, tak kalah dengan suara seruling para penggembala domba di Ebla.

Yang mengerikan adalah suara itu: lolongan barion. Naia tak perlu menengok untuk tahu bahwa hewan-hewan buas itu sudah ada di belakangnya. Tinggal sedikit lagi bagi mereka untuk datang dan membuat terkaman mematikan.

Lari? Naia menggeram. Kemarahannya kembali datang. Kenapa ia harus terus berlari?

Terkutuk! Naia tahu ia punya senjata pamungkas. Tidak bisa tidak, inilah waktu yang paling tepat. Tidak perlu lagi ragu dan menunda-nunda. Ia melepaskan tangan kirinya dari genggaman Javad, dan menyarungkan pedang di tangan kanannya.

Javad menoleh. Seribu pertanyaan tergambar di wajahnya. Naia hanya tersenyum tipis. Kedua telapak tangannya mengatup di depan wajah. Tiupan angin dari mulutnya menembus celah tipis di antaranya. Sambil berlari, Naia memejamkan matanya.

”Datanglah, Nergal.”

Sesaat tak terjadi apa-apa.

Kemudian, dunia bagaikan membeku. Semua diam. Manusia. Alam. Waktu.

Kecuali satu. Mata Naia.

Dan bayangan putih yang berkelebat di depannya, menyapu kulit dan rambutnya.

Rasanya dingin. Jantung Naia bagaikan berhenti berdetak saat sesuatu itu melewatinya.

Seketika itu pula matanya berkedip, dan semuanya kembali normal. Javad masih menoleh di depannya, dan semua rekannya masih berlari di sekitarnya. Begitu pula dengan pasukan barion di belakangnya. Sesuatu yang terjadi tadi itu hanya sesaat, tetapi Naia bisa merasakan dan melihatnya, seperti memandang butir-butir pasir yang datang tertiup ke depan wajahnya.

Angin kencang bertiup beberapa saat kemudian.

“Hoaaaahhhh!” Jerit kematian menyusul.

Naia dan seluruh rekannya berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Seorang laki-laki jangkung berjubah putih berdiri menghadang pasukan barion. Pedang panjangnya berkelebat ke kiri dan kanan, memotong apa pun yang tersambar olehnya. Tubuh-tubuh perkasa para barion tercerai-berai. Demikian pula para prajurit Akkadia penunggangnya.

Naia terpana.

Itukah makhluk yang bernama Nergal itu?

 

 

1
Rin
bingung mau baca yg versi ini duluan atau baca ulang versi bukunya yg aku baca pas sd🫣
Ulun Jhava
Razhard keren😎😎
Ulun Jhava
javad ceroboh
Ulun Jhava
mantap
adi_nata
108 bab yang terasa singkat.

walau ber dasar pada sejarah, ternyata novel ini lebih kental akan nuansa religi.

thanks a lot.
adi_nata
jalan yang pasti berat untuk Fares memperjuangkan cintanya pada Naia.
adi_nata
Teeza sudah dibutakan oleh dendam dan tidak bisa berfikiran jernih.
adi_nata
Rahzad berkata seperti itu bukan karena dia tidak peduli pada Elanna, tapi dia sedang melakukan taktik tarik ulur.
adi_nata
Bargesi pasti sudah mati dan tubuhnya dijadikan cangkang oleh Nergal.
adi_nata
perempuan bertindak dengan perasaan, lelaki bertindak dengan logika.
adi_nata
Apa itu artinya ? Yang bisa mengerti artinya mungkin adalah Sang Terpilih yang sebenarnya.
adi_nata
Mereka dekat dengan sarang Gharoul ?
adi_nata
Rahzad memang sengaja digiring untuk menghancurkan pasukannya sendiri, agar ada alasan kuat untuk menyingkirkannya dari Akkadia.

Rahzad .. sudah masuk ke dalam perangkap perdana menteri Bargesi.
adi_nata
Mungkin memang bukan Ramir, tetapi Teeza lah Sang Terpilih itu.
adi_nata
aku rasa Davagni memang benar sudah bertaubat. makanya Nergal berkata seperti itu.
adi_nata
pada akhirnya, Rahzad hanya dijadikan boneka politik oleh Sargon.
adi_nata
jika Javad gugur, siapa yang nanti akan memimpin kerajaan Awan. apakah ini sudah dipikirkan ?
adi_nata
aku rasa .. keputusan Javad untuk terus maju di saat terjadi perpecahan di kubunya adalah keputusan yang gegabah.

mundur bukan berarti pengecut. apalagi dia berada di wilayah kekuasaan musuh dan jauh dari wilayahnya sendiri.
adi_nata
entah siapa yang benar siapa yang salah.
adi_nata
jika sudah masuk ke ranah politik, terkadang sulit membedakan mana yang baik dan mana yang benar.

seorang yang bersifat welas asih akan selalu ditentang oleh seorang ambisius berharga diri tinggi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!