Bunga air mata itu seperti mawar. Kelopak merahnya melambangkan pernikahan bahagia, sedangkan durinya mendatangkan luka.
Air mata pernikahan terus mengalir deras di pipi Ayana Ghazella. Dinikahi seorang pianis terkenal, Zidan Ashraf ternyata tidak seindah nada-nada yang dimainkan. Orang ketiga pun hadir menimbulkan malapetaka serta kesengsaraan.
Zidan terus memperlakukan Ayana sangat kejam serta mendatangkan Bella, teman sesama pianis sebagai madu.
Mereka terang-terangan mengumbar kemesraan di depan Ayana tanpa mempedulikannya.
Pernikahan Zidan dengan Ayana hanya sebatas status dan kebohongan belaka. Ia tidak pernah mencintainya dan terus menyakitinya.
Sampai penyesalan datang membuat ia sadar jika Ayana yang terbaik. Namun, semua itu sudah percuma sebab Ayana pergi membawa luka. Ia lalu kembali sebagai pelukis terkenal bernama Ghazella Arsyad.
Mampukah Zidan menebus kesalahannya pada Ayana dan kembali melanjutkan membina mahligai rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Aroma bunga anyelir begitu menyengat menyadarkan diri jika keadaan tidak baik-baik saja. Ayana mengalihkan pandangan dari senyum mentari Zidan.
Senyuman itu sama seperti saat pertama kali bertemu. Ayana jatuh cinta pada pandangan pertama dan jatuh terlalu jauh ke dalam jurang kepedihan.
Bayangan beberapa tahun ke belakang bermunculan mengalirkan keringat dingin. Pengkhianatan, dusta nestapa, serta kematian sang anak menjadi pukulan telak.
Ayana menghindari tatapan Zidan berusaha tidak terjadi apa-apa. Ia menyapukan pandangan meneliti setiap sudut ruangan.
"Jadi, bisa kita mulai? Apa yang harus aku gambar?" tanya Ayana mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku minta maaf, Ayana."
Kata-kata itu lagi yang tercetus dari celah bibir menawan Zidan. Ayana mendongak menyaksikan penyesalan tersimpan apik dalam sorot matanya.
Ia mendengus kasar lalu meletakkan barang bawaan di bawah. Ia melipat tangan di depan dada tersenyum penuh makna pada Zidan.
"Apa yang sebenarnya Anda bicarakan sedari tadi? Kenapa Anda meminta maaf sambil melihat saya?" tanya Ayana menyadarkan.
Zidan terperangah, hazelnut nya melebar sempurna lalu menggaruk pangkal leher kikuk. "Ka-kamu Ayana, kan? Ayana, kenapa kamu harus berpura-pura menjadi orang lain?" Ia terus berpegang teguh pada pendirian jika wanita di hadapannya ini adalah Ayana, istri yang sudah disia-siakan.
"Apa yang Tuan bicarakan? Saya tidak mengerti ... saya Ghazella Arsyad, Ayana? Siapa itu Ayana?" ujar Ayana bersikap formal.
Menyadari kejanggalan terjadi dalam diri sang lawan bicara, Zidan mengusap wajah gusar. "Aku minta maaf ... aku hanya sedang teringat dengan mendiang istriku. Dia ... benar-benar mirip sepertimu. Bahkan dia juga memiliki hobi melukis."
Ayana mengangguk-anggukan kepala seraya menyeringai lebar. "Em, baiklah. Kalau begitu saya akan mulai melukis." Tanpa mengindahkan apa yang Zidan pikirkan, ia duduk di kursi kayu tidak jauh dari keberadaan piano.
Ayana meletakan kanvas pada sandaran kayu lalu membuka semua peralatan melukisnya. Zidan terperangah saat tidak sengaja melihat bekas luka sayatan di pergelangan tangan kiri Ayana.
Menyadari keheningan menyapa, Ayana mendongak melihat jika pria di hadapannya tengah memperhatikannya lekat. Ia pun mengikuti arah pandang Zidan dan buru-buru membenarkan kemeja bagian lengan yang sedikit tersingkap.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?"
Zidan mulai lagi, Ayana jengah dan menghela napas kasar. "Tuan, apa saya di sini hanya untuk mendengar ocehan Anda atau melukis? Jika keberadaan saya sebagai teman bicara ... maka saya akan pergi. Karena masih banyak lukisan yang akan saya selesaikan."
Sorot mata tegas nan serius memandanginya, Zidan terperangah dan tersadar jika sikapnya sudah menyinggung Ayana. Ia tidak profesional dalam pekerjaannya yang sudah memanggil sang pelukis untuk mengabadikan dirinya.
"Ah, saya minta maaf. Kalau begitu bisa kita mulai?" pinta Zidan.
"Sudah dari tadi," balas Ayana melihat pria yang telah memporak-porandakan hatinya bersikap kikuk.
...***...
Raksi bunga anyelir kembali melebur menemani setiap detik jam mebersamai kedua insan di sana. Garis demi garis terlukis indah di atas kanvas.
Ayana begitu serius mengerjakan tugasnya menggambar sang pianis. Dalam diam Zidan terus memperhatikannya, berharap dan terus berharap semua itu bukanlah mimpi.
Dalam benak berbisik lirih jika ia yakin wanita yang kini berada dekat dengannya adalah Ayana. Istri yang sudah ia sakiti dan khianati berulang kali.
Penyesalan itu semakin menyeruak menimbulkan butiran demi butiran bening di pipi tegasnya. Zidan menangis seraya melantunkan nada-nada lembut menghiasi kebersamaan.
Ayana terperangah, gerakannya terhenti dengan kuas mengambang di udara. Ia menatap lukisannya lekat tidak sadar sudah menggambar sosok Zidan sangat indah.
"Aku pasti tidak berpikir jernih, bagaimana bisa ... aku menaruh love di atas kepalanya? Aku harus segera menghapusnya," benak Ayana bermonolog.
Ia bergegas menghapus tanda love menggantinya dengan awan putih yang seolah-olah tengah berarak. Pandangan matanya menegas seiring debaran dada mengingatkan pada masa lalu.
Tanpa Zidan sadari, Ayana mengetahui jika pria itu memperhatikannya sedari tadi. Sudut bibir ranumnya terangkat sempurna menyaksikan butiran bening meluncur di pipi.
"Apa lagu itu sangat berarti bagi Anda, Tuan?" tanya Ayana seraya mengambil cat berwarna di bawah kaki.
Zidan terperangah dan buru-buru mengusap air matanya kasar. "Ah, em ... iya lagu ini sangat berarti."
Ayana mengangguk singkat lalu menyibukkan diri dengan kegiatannya lagi. Keheningan menyambut menjadikan atmosfer dalam ruangan begitu dingin.
Tidak ada kata terucap hanya goresan demi goresan kuas di atas kanvas. Kemelut dalam dada membayangi membentuk kenangan yang sudah terlewati.
Zidan semakin memfokuskan diri pada Ayana dengan duduk tepat menghadap sang pelukis. Tidak peduli dianggap aneh, ataupun risih ia hanya ingin terus memandangi wanita itu.
Sekian menit berlalu, Ayana pun akhirnya menyelesaikan lukisan. Ia beranjak dari duduk sembari mengelap kedua tangan pada celemek yang dikenakannya untuk menghindari percikan cat warna.
Senyum tersungging membuat ia bangun dari duduk. Netra nya memandang ke arah Zidan yang masih memandanginya lekat.
"Apa Anda membutuhkan sesuatu? Apa ada sesuatu di wajah saya? Kenapa sedari tadi Anda memperhatikan saya?" tanya Ayana beruntun.
Zidan masih kukuh dalam pendirian. Kepala bulatnya mendongak menatap ke dalam manik kelam Ayana. Tanpa di sadari bulan sabit melengkung sempurna membuat wanita itu menautkan kedua alis, heran.
"Tuan?" panggilnya lagi.
"Ayana? Kamu benar-benar Ayana, kan?"
Zidan sudah hilang akal, ia beranjak dari duduk lalu berjalan cepat menghampiri Ayana. Tanpa aba-aba ia mencengkram kedua tangan sang pelukis hingga membuat sang empunya terdorong ke belakang.
Punggung sempit itu terantuk ke tembok menghasilkan bunyi berdentum. Kepala berhijabnya mendongak bertatapan dengan sang pianis. Ayana menatap nyalang Zidan yang memberikan sorot mata hangat.
Entah keberanian dari mana, tangan kanan kekar itu terangkat mengusap pelan pipi kemerahan Ayana. Wanita itu terperangah dan menegang kala sesuatu dalam diri sang lawan bicara bangkit.
Zidan menganggapnya sebagai istri yang dulu pernah disia-siakan. Diam-diam Ayana menyeringai menyaksikan betapa terpukulnya pria yang pernah disebut suami.
"Ayana." Panggil Zidan lirih.
Ayana berdecak sebal lalu menampar pipi Zidan kuat hingga wajah tampan itu menoleh dengan cepat. Ia melipat tangan di depan dada sembari menengadah mencari iris cokelat di hadapannya.
"Sudah saya peringatkan berulang kali. Saya bukan Ayana ... saya adalah Ghazella Arsyad. Anda mengerti? Ini peringatan terakhir, jika Anda masih menganggap saya sebagai Ayana ... ini menjadi pertemuan pertama dan terakhir kita."
"Selamat tinggal."
Ayana pergi tanpa menunggu jawaban Zidan. Ia langsung menyambar semua peralatan melukisnya hingga tanpa sengaja menyenggol vas yang berisikan beberapa tangkai bunga anyelir.
Bunyi nyaring keramik yang hancur itu pun menyadarkan Zidan. Tanpa mengindahkan kekacauan yang dibuatnya, Ayana terus melangkahkan kaki sampai suara heelsnya tidak terdengar lagi.
Zidan menoleh ke samping kiri di mana pintu tertutup menghilangkan sosok Ayana. Ia menyaksikan keramik yang terjatuh membuat bunga anyelir tergeletak tak berdaya.
Air yang berada di dalamnya pun sudah melebar ke mana-mana. Beberapa tangkai bunga memperlihatkan kehidupannya saat ini.
"Seperti itulah hatiku sekarang, Ayana. Meskipun kamu sudah berubah, tapi ... kamu tetap istri yang sudah aku sakiti berulang-ulang kali," tutur Zidan mengulas senyum pedih.
semangat Thor ......wow ceritramu keren ...
👍👍👍💪💪💪