Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 24
Usai menemukan lokasi Ellena, Marco dan beberapa temannya berkumpul untuk menyusun rencana. Jackson dan Marco akan menyelinap ke dalam sementara pengawal yang lainnya akan berjaga di belakang. Tuan Aland dan beberapa pengawal yang masih tersisa juga sedang dalam perjalanan untuk menyusul mereka.
“Kita tidak tahu, mereka ada di ruangan yang mana. Maka dari itu, kita harus sangat berhati-hati, Marco!” ucap Jackson.
Marco tentu sangat tidak sabar ingin mendobrak masuk, tapi dia juga tahu itu akan berisiko untuk keselamatan Ellena. “Ya, aku sudah siapkan semuanya. Jackson, apa pun yang terjadi nanti. Ellena harus keluar dengan selamat!” balas Marco dengan menggebu-gebu.
Para pengawal sudah mendapat arahan dari Jackson yang menjadi pemimpin mereka. Sampai akhirnya mereka pun telah siap untuk menjalankan misi kali ini.
Ellena saat ini berhadapan dengan Vincent. Tangannya terikat dan mulutnya juga dibekap. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah mendengar semua ocehan lelaki bernama Vincent itu.
Dia berontak, tapi tubuhnya yang tertahan benar-benar membuatnya frustrasi. Ellena memejamkan mata dan berharap dan berharap Marco akan muncul dan menemukannya.
“Kamu pasti masih gadis! Aku ingin melihat bagaimana ayahmu akan menangis seumur hidupnya.”
Bulu kuduk Ellena seketika berdiri tegak saat mendengar jelas apa yang Vincent katakan. Ellena tidak mengerti kenapa dia dijadikan tawanan oleh laki-laki yang sudah membunuh ibu dan kakaknya itu.
Seringai menyeramkan timbul di wajah Vincent saat melihat Ellena yang tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu akan menjadi tawanannya.
Dia ingin membuat ayah Ellena merasakan apa yang dia rasakan selama ini. Kehilangan istri yang sangat dia cintai membuat Vincent memiliki dendam yang membara di hatinya.
“Bawa dia ke kamar!” perintah laki-laki itu pada beberapa anggota kelompoknya.
Ellena berontak dengan cara menendang ke segala arah, berharap para pengawal itu kesulitan dan akan melepaskannya. Namun, sayangnya usaha Ellena itu sia-sia saja karena para pengawal itu tetap membawa Ellena ke kamar yang ditunjuk Vincent.
Wanita itu dikurung di kamar mewah itu dengan tangan terikat dan mulut tersumpal. Bahkan, kini kaki Ellena juga diikat dengan tali supaya tidak bisa bergerak bebas lagi.
Wanita itu didorong hingga tertidur di kasur dengan posisi kaki yang menjuntai ke lantai. Lalu, para lelaki bertubuh tegap itu meninggalkan kamar sambil menunggu Vincent masuk.
Ellena hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil menangis. Dia teringat ayahnya, teringat ibu dan kakaknya, juga teringat Marco, suaminya. Kata-kata Vincent yang akan menjadikannya budak sampai melahirkan seorang putra membuat Ellena diselimuti rasa takut yang terus menjalar di pikirannya.
Aku tidak mungkin menjadi budaknya. Laki-laki itu benar-benar gila. Aku tidak mau di sini! Kak Marco tolong aku! Papa tolong aku!
Walaupun Ellena menjerit, tapi sayangnya tidak ada yang bisa mendengar jeritannya itu. Tidak ada yang mengerti penderitaan yang sedang dia alami. Tumpuannya hanya ayah dan suaminya, tapi sayang mereka tidak ada di sisinya.
Suara pintu yang terbuka membuat Ellena menoleh ke arah suara. Laki-laki bernama Vincent yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu tersenyum menyeringai pada Ellena.
“Sudah siap untuk malam pertama kita? Kamu harus membayar kejahatan ibumu yang sudah mati itu! Kamu harus mengembalikan anakku, dan setelah itu kamu yang akan mati!” ucap Vincent sembari berjalan mendekat ke arah Ellena.
Wanita itu semakin ketakutan, tapi Vincent justru menyukai sorot matanya yang panik.
“Aku akan berbaik hati. Akan aku izinkan kamu berteriak menikmati apa yang akan kita lakukan ini. Besok, kita akan ke New Zealand dan bersembunyi di sana. Tapi, sebelum itu aku ingin menikmati malam pertama kita, di sini! Di rumah yang menjadi saksi kebahagiaanku bersama mendiang istriku!”
Wajah Vincent seketika berubah drastis saat mengingat istrinya yang telah lama meninggal.
Dengan sangat kasar, Vincent menarik penutup mulut yang membekap suara Ellena. “Lepaskan aku!” Ellena langsung berteriak begitu bibirnya terbebas.
“Jangan mimpi! Kamu akan tetap di sini menjadi budakku, dan setelah itu kamu akan mati!” balas Vincent dengan penuh kebencian.
Ellena justru semakin memberanikan diri, dia terus berteriak minta dilepaskan, sayangnya Vincent tidak menggubrisnya sama sekali.
Sampai akhirnya, Ellena meludahi Vincent yang hendak menciumnya. Karena itulah, Vincent terbakar amarah dan menaampar wajah Ellena hingga tersungkur di kasur, masih dengan tangan terikat.
“Dasar gadis siial! Aku tidak akan mengampunimu!” pekik Vincent yang kini semakin berambisi untuk menghancurkan Ellena.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...