Demi menginginkan seorang anak, Dewi dikhianati oleh suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nairamzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 25
Dikhianati Suami dan Mertua
Part 25
"Kumohon ... beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pintanya sambil sesenggukan.
Aku yang menyadari kehadiran Dimas bergegas berdiri. Tidak ingin ia salah paham dengan keadaan ini.
Bang Irwan tidak menyadari itu. Ia justru mengikat kedua kakiku dengan melingkarkan lengannya, sehingga gerakku terhalang.
Tanpa sempat aku mencegah, Dimas menarik baju pria yang masih bersimpuh, diseretnya dari belakang dan mendaratkan satu pukulan di pipi hingga terjungkal. Aku dan Ibu memekik berasamaan.
"Jangan sentuh wanitaku!" amuknya. Raut wajahnya merah, suaranya meninggi. Tak segan ia berkata kasar meski ada Ibu mertua diantara kami.
Ibu berlari menghampiri putranya yang tak berdaya. Dengan derai air mata, Ibu mengangkat kepala Bang Irwan untuk dipangkunya. Membersihkan darah yang mengalir dari sudut bibir putranya dengan kain serbet yang biasa digunakan untuk menyeka keringat kala berjualan keliling.
"Kau tak punya hak untuk melarangku!" Meski sempoyongan, Bang Irwan berusaha berdiri. Ternyata ia keras kepala juga. Masih tidak merasa bersalah dan tidak mau mengalah.
"Setelah mengkhianatinya, masih berani memohon untuk kembali? Dasar tidak tau malu!" cerca Dimas.
Bang Irwan terdiam. Pun dengan Ibu. Wanita yang pernah kuperlakukan seperti Ibu kandungku sendiri tak berani menatap. Ia tertunduk. Seakan menuadari kebenarannya.
Dimas mendekatiku. Tangannya melingkar di pinggangku. Membuat Bang Irwan murka melihatnya. Dadanya yang naik turun menggambarkan kemarahan yang tertahan di sana. Tak berdaya melupakan api cemburu yang tersisa di hatinya. Karena ia sadar, dirinya bukan lagi siapa-siapa.
"Tidak lama lagi, seutuhnya dia akan menjadi milikku."
Kalimat yang membuatku merasa sangat didamba setelah disia-siakan. Ya, tidak lama lagi Dimas akan mempersuntingku. Tidak lama lagi, aku akan menyandang status baru. Nyonya dr Dimas akan menjadi gelarku.
Benar adanya cinta tidak memandang status. Dimas Anggara, seorang dokter muda yang jatuh cinta pada wanita biasa. Bahkan berstatus janda yang sering dipandang sebelah mata. Tak sering ditemukan kisah cinta yang begini. Cinta apa adanya.
Pada dasarnya, status sosial menjadi syarat pasangan yang memiliki titel. Aku hanya beruntung saja. Dicintai olehnya.
"Nak, Dewi," lirih Ibu memanggil namaku. Perlahan wanita yang kini tampak lusuh menghampiriku.
"Nggak kasihan sama Ibu, Nak?" Wajahnya memelas. Matanya berkaca. Suaranya serak. Mencoba mempengaruhi hatiku.
Kasihan? Apa kalian punya rasa kasihan saat mengkhianatiku? Bahkan kalian mengabaikan ketulusanku. Dengan aku tidak menerima kalian lagi, itu bukan kejahatan. Bukan pula balas dendam. Tapi, menghargai diri sendiri. Menyayangi diri sendiri.
"Maaf, Bu. Itu semua masa lalu. Biarkan berlalu seiring berjalannya waktu. Aku telah menemukan sandaran hatiku. Dengannya aku akan menempuh hidup baru." Aku sedikit mendongakkan kepala untuk melihat wajah calon suamiku. Dimas Anggara. Ia pun tersenyum puas.
Santun sekali Dimas pamit kepada Ibu untuk membawaku pergi. Sebagai seorang dokter yang harus serba bersih, ia tak sungkan ikut mencium takzim tangan Ibu yang sangat kontras dengannya. Ah, Dimas. Aku semakin kagum dibuatnya.
Bang Irwan hanya bisa memandang saat Dimas memboyongku meninggalkan mereka. Dari sorot matanya, ia terluka. Luka yang tak kasat mata.
*****
"Kok, tau aku ada di situ tadi?" tanyaku sambil mengaduk-aduk jus jeruk hangat yang baru kupesan.
"Si Abang warung bilang kamu pergi sama Ibu-ibu penjual kue keliling. Katanya kalian seperti kenal dekat. Enak aja suruh tunggu di warung. Mana aku tenang. Aku cari sampai dapat."
Aku mendengarkan ceritanya sambil memperhatikan wajahnya. Duduk kami yang saling berseberangan dengan meja memudahkan ku menikmati setiap gurat wajah tampannya.
Kini wajah itu sedikit berbeda. Dimas baru saja cukur rambut. Membuat wajahnya tampak lebih segar. Dan ketampanannya semakin terpancar.
Sengaja ia merapikannya, ingin tampil sempurna di hari istimewa nanti.
"Untung aku cepat menemukanmu. Jika tidak, mungkin kamu sudah luluh dan kembali padanya," imbuhnya lagi.
"Eh, enak aja. Enggak bakal, ya ...." Aku mengelak. Eh, bukan sekedar mengelak. Itu memang tidak akan terjadi. Meskipun Dimas tidak hadir dalam hidupku, aku tidak akan kembali pada orang-orang yang menyakitiku.
"Aku tau aku tampan. Itu sebabnya Laras cinta mati padaku."
Rupanya dia sadar juga aku perhatikan. Namun, aku tidak suka dia membawa-bawa nama Laras antara kami. Sebagai orang yang sedang mencintai, pastilah aku cemburu.
Tawanya pecah melihat ekspresiku. Ia terus meledekku.
"Tau nggak? Kamu wanita yang beruntung. Disaat wanita lain mengejar cintaku. Aku malah mengejar cintamu. Iya, kan?" candanya lagi sambil menahan geli.
Bener juga, sih. Tapi aku tidak mau dia besar kepala. Eh, bukannya aku yang jadi besar kepala? Kan, dia yang mengaku mengejar cintaku? Duh, Ge-eR jadinya.
Dimas meraih jemariku. Memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisku.
"Kok, dibuka?" tanyaku heran. Dia hanya diam, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku kemejanya.
Cincin? Ia menukar cincin yang lama dengan yang baru. Setelah melingkar sempurna, ia mencium jemariku, lalu matanya mengering, genit sekali. Rona malu menjalar di wajahku. Kucuri pandang satu persatu pengunjung warung. Takut ada yang memperhatikan tingkahnya.
"Kenapa ditukar?" Aku masih penasaran. Padahal cincin yang lama tidak kalah bagusnya.
"Kamu lebih suka yang ini?" Ia menunjukkan cincin yang sudah dilepas.
"Bukan begitu ...."
"Cincin ini sudah bekas orang. Aku mau kamu pakai yang baru."
Bekas orang? Laras maksudnya? Ah, menurutku kalimat itu kurang enak didengar. Bagaimana pun, Laras adalah bagian dari keluarganya. Mereka sudah seperti keluarga. Tak sepantasnya Dimas mengatakan seolah Laras adalah orang asing yang harus disingkirkan.
Namun, tak bisa kupungkiri. Aku terharu serta tersanjung. Dimas begitu pedulinya sehingga hal kecil seperti ini pun ia perhatikan.
"Terus ... itu mau dikemanakan?" tanyaku lagi.
"Kenapa, sih, peduli sama ini. Mau?" Dimas mulai sewot.
"Bu-bukan. Takut aja kamu buang. Kan, bisa dijual terus uangnya bisa disumbangkan sama yang membutuhkan," jawabku pelan.
"Wow ... aku makin cinta sama kamu." Matanya berbinar. Sekagum itukah dia?
"Jadi nggak sabar ...."
"Nggak sabar apa?"
"Halalin kamu." Lagi, ia mengerlingkan matanya. Tak kusangka, Dimas yang selama ini tampak kalem ternyata periang dan pandai menggoda.
Tidakkah dia seperti ini saat dengan Laras? Jika sikapnya dingin, tidak mungkin Laras bertahan sampai bertahun lamanya. Jika sehangat ini, pantas saja Laras terpaut hatinya.
"Kenapa?" Dimas mengernyitkan dahi melihat wajahku yang tiba-tiba murung.
"Apa kamu begini dengan Laras?" Cemburu merasuki hati. Terlintas di benak Dimas genit seperti saat ini.
Apakah Dimas juga mencium tangan Laras? Apakah Dimas juga mengerlingkan matanya? Apakah tatapan Dimas juga menelusup ke hati Laras? Semua yang Dimas lakukan padaku, apakah sama dengan Laras?
"Kamu memberi harapan palsu!" ketusku. Tidak mungkin Laras sanggup bertahan kalau bukan karena Dimas menyuguhkan kehangatan.
"Kamu bicara apa, sih?"
Rupanya dia belum peka juga. Haruskah aku berterus terang?
Dimas beringsut dari tempat duduknya dan pindah di sampingku. Menggeser kursi agar lebih dekat denganku.
"Kamu cemburu?" Apa lagi yang kamu cemburui dari Laras?"
Benar juga. Apa lagi yang membuat aku cemburu dengan Laras? Dia sudah menyerah karena cintanya yang tak terbalas.
"Masih ragu?" tanyanya lagi.
Cepat aku menggeleng. Netraku lekat menatap kedua bola matanya. Agar ia yakin bahwa aku tidak lagi meragu. Secepat itu? Hm ... mengapa aku jadi labil begini?
"Kalau begitu ... aku ingin membawamu kesuatu tempat."
"Ke mana?"
"Adalah. Yuk ...." Dimas menarik tanganku dan bergegas dari tempat ini.
*****
Mataku ditutup dengan sehelai kain sehingga jalanku tertatih meski Dimas merangkul bahuku untuk menuntun jalan.
Dimas menahan langkah agar berhenti. Membuka penutup mata yang membalut di wajahku.
Perlahan aku membuka mata. Setelah terbuka sempurna, betapa terkejutnya mendapati pemandangan di depan mata. Saking terkejutnya mulutku hampir menganga.
Pakaian muslimah terpajang di sekililing ruangan butik.
"Ma-maaf. Kamu tersinggung, ya? Kalau begitu kita pulang saja. Tapi, tolong maafin aku." Melihat aku hanya diam, Dimas menjadi merasa bersalah.
Aku menahan lengannya saat Dimas hendak pergi meninggalkan butik ini. Ia menurut, namun perasaan bersalah masih mewarnai wajahnya.
"Maafkan aku, Dewi. Aku hanya ingin kamu menutup aurat. Aku hanya ingi cantiknya kamu hanya aku yang lihat. Aku ingin kita sama-sama hijrah. Tapi, kalau kamu belum siap nggak apa-apa."
Mataku berkaca, mengaburkan pandanganku pada pria yang di depan mata. Aku bukan tersinggung. Aku bukan marah. Aku terharu. Sampai sulit untuk berkata. Akhirnya, niatku berhijab akan terlaksana.
Aku mengangguk. Rona pada wajah Dimas berubah ceria. "Serius?" tanyanya tak percaya.
Sekali lagi aku mengangguk. Kalimat 'Alhamdulillah' terucap dari bibirnya.
"Aku borong, ya?"
"Butiknya pun kita beli," selorohnya.
Dimas sangat antusias membantu memilihkan gamis mana yang cocok untukku. Mambantu memadu padankan dengan warna hijabnya.
Setelah semua dirasa cukup, Dimas membawa semuanya ke kasir.
'Ya Allah ... mudahkanlah langkah kami untuk berhijrah,' doaku dalam hati.