Prolog
Cinta dan penantian adalah sebuah paket yang berbeda, namun memiliki keterkaitan.
Banyak laki-laki yang datang namun belum ada yang mematahkan penantian Sheina terhadap Dave selama bertahun-tahun?.
Hingga akhirnya Sheina bertemu dengan teman Dave yaitu Rangga.
Apakah Rangga dapat mematahkan penantian Sheina?
Apakah Sheina dapat membuka hatinya untuk Rangga?
Apakah Sheina dan Dave bisa bersatu? Atau justru Sheina dan Rangga yang akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24
PERTENGKARAN DUA WANITA
Suara adzan mulai berkumandang mengingatkan semua insan bahwa ada kewajiban yang harus segera ditunaikan.
Sheina kemudian terbangun dan melihat jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul 05:00 wib. Dia pun bergegas membersihkan tubuhnya kemudian berwudhu, setelah itu dia mulai menunaikan sholat subuhnya.
Setelah kewajibannya telah ditunaikan, Sheina kemudian mengecek ponselnya yang berada dinakas dan ternyata ada email masuk. Kemudian dia membuka emailnya dan ternyata email tersebut berisi program yang telah dikerjakan oleh Rangga.
Sheina kemudian mengambil laptop dari dalam lemarinya kemudian dia menyalakannya.
Alahamdulilla, akhirnya programnya selesai juga. Apakah Rangga mengerjakannya hingga dini hari?, gumam Sheina karena melihat email masuknya pukul 03:00 wib.
Sheina pun kemudian mengirim pesan melalui whatsappnya kepada Rangga.
Sheina : Terima kasih karena telah menyelesaikan programnya dan aku pasti akan membayar untuk programnya.
Setelah itu Sheina kembali membuka lembaran-lembaran skripsinya dan dengan semangat yang membara dia pun mulai merevisinya hingga selesai.
Tidak terasa jam di dinding menunjukkan pukul 08:00 wib, Sheina pun bergegas mandi dan segera sarapan. Setelah itu dia kemudian membereskan lembaran-lembaran skripsi yang telah berserakan.
“Ma, Sheina pergi ke kampus dulu, ya”.
“Apakah kamu ingin melakukan bimbingan skripsi, Shei?”.
“Iya ma”.
“Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati”.
“Iya ma”.
Sheina kemudian mencium punggung tangan mamanya kemudian menuju motornya dan mengendarainya dengan kecepatan yang tinggi.
Sebelum ke kampus, Sheina terlebih dahulu menuju tempat foto copy untuk mencetak skripsi yang telah direvisinya.
Tok tok tok!.
“Silahkan masuk”, terdengar suara dari dalam ruangan.
Klek!.
“Assalamualaiku, buk”, sapa Sheina ketika bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya.
“Waalaikumussalam”.
“Saya ingin melakukan bimbingan skripsi,buk. Apakah ibu memiliki waktu luang untuk hari ini”.
“Kemari lah, Shei!”.
Sheina kemudian duduk dan menyodorkan skripsi yang berada ditanganya.
Kemudian Buk Sinta mulai mengecek lembaran demi lembaran skripsi milik Sheina.
“Untuk bab nya semua sudah ok, apakah programnya sudah selesai?”.
“Sudah buk”, Sheina kemudian menyalakan laptopnya dan menunjukkan programnya.
“Ok, karena semua bab kamu sudah bagus dan begitupun juga dengan programnya maka saya akan men ACC skripsi kamu agar bisa lanjut ke sidang meja hijau, dan sebaiknya kamu segera mendaftar sidang meja hijau agar besok pagi nama kamu terdaftar dan kamu juga bisa melakukan sidang meja hijau”, saran Buk Sinta.
“Baik buk, terima kasih”.
Sheina pun segera mengundurkan diri dari hadapan Buk Sinta.
Dia kemudian menuju ke ruangan Biro dibagian pendaftaran sidang meja hijau.
Akhirnya, besok bisa sidang juga dan sebaiknya aku mempersiapkan semuanya sekarang agar tidak ada yang terlewatkan untuk besok, gumam Sheina.
Kemudian Sheina bergegas menuju parkir guna mengambil motornya, setelah itu dia mengndarainya dengan kecepatan tinggi.
Persiapan untuk sidang menguras waktunya hingga senja menyapa.
Terdengar adzan berkumandang yang mengingatkan semua insan akan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Sheina yang baru tiba dirumah, kemudian mandi dan melakukan kewajibannya setelah itu dia makan malam bersama keluarganya hingga adzan isya berkumandang.
Setelah menunaikan sholat isyanya, Sheina kemudian mengeccek kembali perlengkapan dan persiapan untuk sidang besok.
Ketika matanya ingin terpejam, tiba-tiba Sheina teringat akan Rangga.
Kemudian dia mengambil ponselnya dan melihat whatsappnya.
Kenapa pesanku tidak dibaca olehnya?, sebaiknya aku chat lagi saja, gumam Sheina.
Sheina kemudian mengirim pesan melalui whatsapp nya kepada Rangga.
Sheina : Rang, kamu lagi apa?. Apakah kamu besok ada waktu luang?, bisakah besok kamu datang ke kampus karena besok jadwal aku sidang.
Namun pesan Sheina tidak dibaca oleh Rangga.
Hmmm, mungkin dia lagi sibuk itu sebabnya semua pesanku tidak dibacanya. Kalau begitu sebaiknya aku tidur saja agar besok aku bisa kembali fress, gumam Sheina.
Lagi lagi suara adzan berkumandang dan pagi pun mulai menyapa.
Setelah Sheina menunaikan kewajibannya dia pun berberes untuk persiapan sidangnya.
“Ma, Sheina pergi dulu ya, doakan sidangnya berjalan dengan lancar ya”, Sheina mencium punggung tangan mamanya.
“Iya sayang, mama akan mendoakan yang terbaik untuk mu”.
Kemudian Sheina menuju motornya dan mulai mengendarainya dengan kecepatan sedang dan tidak berapa lama dia telah tiba di kampus.
Setelah memparkirkan motornya, Sheina bergegas menuju sekumpulan mahasiswa lain yang juga ingin melakukan sidang.
Hmmm, kenapa deg deg kan ya, batin Sheina.
Sheina kemudian mengambil ponsel yang berada didalam tasnya untuk mengecek apakah ada pesan whatsapp dari Rangga.
Hmmm, kenapa semua pesanku belum dibaca olehnya?, apakah dia lagi sibuk?, memangnya dia sibuk apa?, awas saja kalau sampai dia sibuk dengan wanita lain, batin Sheina.
Kemudian Sheina mencoba menghubungi Rangga melalui whatsappnya.
Drt drt drt. Pertanda ada panggilan masuk, namun yang empunya ponsel tidak mendengarnya.
Kenapa dia tidak mengkonfirmasi panggilan dariku?, memangnya dia kemana?, batin Sheina.
Kemudian Sheina mencoba kembali menghubungi Rangga hingga berulang ulang dan hasilnya tetap sama.
Awas saja kalau kamu sampai bermain-main dengan perasaanku, awas saja kalau aku tahu bahwa kamu sibuk dengan wanita lain, maka akan aku gorok batang lehermu, batin Sheina dengan kesalnya.
Ditempat lain, Rangga yang masih terbaring lemah ditempat tidur tidak berdaya hanya sekedar ingin membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya. Kepalanya sungguh terasa pusing begitu juga dengan tubuhnya yang terlalu panas.
Klek!.
“Den, ini sarapannya, silahkan dimakan dulu,den. Apakah bibi harus memanggil dokter untuk memeriksa aden?”.
Rangga hanya menggelengkan kepalanya.
“Jadi, apa yang harus bibi lakukan agar aden bisa segera sembuh?”.
“Tolong ambilkan obat di kotak yang ada didalam lemari, bik”.
Bik Ina kemudian bergegas mengambil kotak tersebut dan memberikannya kepada Rangga.
“Bik, tolong ambilkan ponselku disana karena obat yang kubutuhkan tidak ada, setelah itu bibi bisa kembali bekerja”, tunjuk Rangga kearah nakas dengan jarinya.
Setelah memberikan ponsel, bik Ina pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sheina?, banyak sekali panggilan darinya?, apakah dia rindu denganku?, hahaha, batin Rangga.
Rangga pun kemudian mencoba menghubungi Sheina.
Drt drt drt. Pertanda ada panggilan masuk.
“Assalamualaikum, kamu kemana saja dan kenapa semua pesanku tidak kamu balas?, apakah kamu tahu kalau hari ini aku ada sidang?, bagaimana nanti kalau aku gagal mempresentasekan programnya? dan bagaimana nanti aku harus memperbaiki programnya jika ada program yang eror?”, Sheina mulai menerjang Rangga dengan berbagai pertanyaan setelah dia mengkonfirmasi panggilannya.
“Waalaikumussalam, maaf aku tidak bisa datang ke sidangmu, tapi aku percaya bahwa kamu bisa mengatasi semuanya”, jelas Rangga.
“Apakah kamu lagi sakit dan kenapa dengan suaramu?”.
“Aku tidak apa-apa hanya sedikit batuk saja”.
“Apakah kamu berbohong kepadaku?, sejak kapan kamu sakit?”.
“Tidak”.
“Rang, aku tidak suka dibohongi”.
“Hmmm”.
“Ya sudah, kamu istirahat setelah itu jangan lupa minum obatnya, dan aku tutup dulu karena sidangnya akan segera dimulai. Assalamualaikum”.
“Waalaikumussalam”.
Tut tut tut, panggilan pun terputus.
Sidang pun dimulai, satu persatu nama mulai dipanggil untuk memasuki ruangan sidang dan tibalah bagi Sheina untuk memasuki ruangan tersebut.
Setelah memberikan salam, Sheina kemudian memulai presentase skripsinya hingga dua jam berlalu dia pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Sheina kemudian menuju motornya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran
kampus.
Klek!.
“Assalamualaikum”, salam Sheina.
“Waalaikumussalam”, jawab bik Ina.
“Apakah Rangganya ada, bik?”.
“Ada non dikamar, aden lagi sakit”.
“Iya bik, saya sudah tahu oleh karena itu saya datang kesini ingin menjenguknya”.
“Oh begitu, ya sudah non, kalau begitu non langsung ke kamarnya aden saja”.
“Iya bik, terima kasih”.
Sheina kemudian menuju kamar Rangga.
Klek!.
Sheina kemudian meletakkan tasnya disofa yang ada didalam kamar Rangga, dia kemudian mendekati Rangga dan meletakkan tangannya dikening Rangga untuk mengetahui suhu tubuhnya.
Rangga yang sadar akan sesuatu yang menyentuh keningnya mencoba membuka matanya secara perlahan.
“Shei”, sembari menggenggam tangan Sheina.
“Apakah kamu sudah makan dan minum obat?”.
“Belum non”, jawab bik Ina yang datang dengan membawa minuman.
“Ini non minumannya”, bik Ina meletakkan minumannya dimeja.
“Terima kasih,bik”.
“Aden belum ada makan dan minum obat dari kemarin non, setiap bibik perintahkan untuk makan dan minum obat, aden selalu berkata nanti akan sembuh. Non bisa lihat sendiri makanan itu”, jelas bik Ina sembari menunjuk ke arah meja kemudian berlalu dari ruangan tersebut.
Sheina kemudian bangkit dan mengambil makanan tersebut.
“Apakah kamu bisa duduk?”.
Rangga menganggukkan kepalanya kemudian dia berusaha duduk dengan dibantu Sheina.
“Sekarang makanlah, aku akan menyuapimu. Jika kamu tidak makan maka aku tidak akan pernah lagi bertemu denganmu!”.
“Apakah kamu mengancamku?”.
“Menurutmu?”.
“Aku akan makan dengan satu syarat”.
“Katakan apa syaratnya?”.
“Kiss me!”.
“Kalau begitu maka lupakan dan kamu juga tidak perlu makan apalagi minum obat”.
Sheina kemudian meletakkan piring yang berisi makan diatas meja.
Rangga pun tersenyum melihat tingkah Sheina.
“Tolong berikan satu atau dua suapan kedalam mulutku!”.
Sheina kemudian mengambil makanan tersebut kemudian mulai menyuapi Rangga dengan penuh hati-hati hingga makanan tersebut habis tidak tersisa.
“Mana satu obatmu diantara semua ini?”, tanya Sheina sembari mengorek-ngorek obat yang berada didalam kotak.
“Obatya tidak ada disitu”.
“Apa merk obat yang biasa kamu minum agar aku bisa membelikannya”.
Rangga kemudian mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
“Bawa Sella kemari dan katakan kepadanya untuk membawa peralatan dan obatku, sekarang!”, pinta Rangga.
Kemudian panggilan pun terputus.
“Kenapa kamu datang kesini?,bagaimana dengan sidangmu?”.
“Sidangnya sudah selesai”.
“Apakah selesai sidang kamu langsung datang kesini?”.
Sheina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Apakah kamu rindu denganku?atau apakah kamu khawatir denganku?”.
“Menurutmu?”.
Tidak berapa lama Sella pun datang.
Klek!.
Sheina kemudian bangkit dari duduknya dan memilih berdiri.
“Rang, kamu kenapa?kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku kalau kamu sakit?”, Sella kemudian memeriksa detak jantung Rangga.
“Kenapa bisa separah ini, Rang?,bukankah sudah aku katakan kalau kamu tidak bisa bergadang lagi. Kenapa kamu tidak mendengar perkataanku?, memangnya apa yang membuatmu sampai harus bergadang?”, Sella terus mengomeli Rangga dengan menulis beberapa resep.
“Brian!”, panggil Sella.
Empunya nama pun kemudian masuk kedalam kamar.
“Tolong ambilkan minum agar Rangga bisa meminum obatnya!”.
Brian pun bergegas menuju dapur untuk mengambil minum dan membawakannya ke dalam kamar setelah itu dia pun berlalu keluar dari kamar tersebut.
Sella kemudian mengambil obat dan memberikannya kepada Rangga.
Rangga kemudian meminumnya.
“Kamu siapa?”, Sella mengalihkan pandangannya kearah Sheina.
“Nama saya Sheina”, Sheina mengulurkan tangannya.
“Apakah jangan-jangan kamu yang telah membuat Rangga sakit seperti ini karena bergadang?”, Sella tidak menerima uluran tangan Sheina.
Sheina kemudian tertunduk mendengar tuduhan Sella.
“Sel, jangan menyalahkannya karena ini bukan salahnya”, bela Rangga.
“Memangnya apa yang Rangga lakukan untukmu hingga dia harus bergadang?”.
Sheina hanya diam tak bergeming.
“Kenapa kamu diam, apakah kamu tidak memiliki telinga untuk mendengar atau kamu tidak memili mulut untuk berbicara”, suara Sella naik satu oktaf.
“Sel, sudahlah, jangan dipermasalahkan”, bela Rangga lagi.
“Bagaimana tidak dipermasalahkan, apakah dia tahu bahwa kamu tidak bisa bergadang?, apakah dia tahu seberapa parahnya jika kamu bergadang?dan apakah dia tahu bahwa kamu bisa saja mati karena itu”,jelas Sella dengan nada marahnya.
“Maaf mbak, saya tidak tahu tentang itu karena Rangga tidak pernah bercerita tentang itu kepada saya dan maaf jika karena saya, Rangga harus menanggung rasa sakit seperti ini. Saya akan merawatnya hingga sembuh sebagai gantinya”, jelas Sheina.
“Kamu merawatnya?, memangnya kamu bisa?”, ejek Sella.
“Saya akan mencobanya”.
“Kalau begitu sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah kembali karena aku yang akan merawatnya!”.
“Cukup Sel”, teriak Rangga.
“Kenapa kamu justru marah denganku?apa salahku?”, tanya Sella.
“Aku memanggilmu datang kesini untuk memeriksa dan mengobatiku bukan untuk memarahinya dan aku tidak suka kalau kamu memarahinya”.
“Memangnya kenapa kalau aku memarahinya, bukankah karena dia kamu menjadi sakit seperti ini?”.
“Kamu tidak lupakan dimana letak pintunya?”.
Sella bangkit dari duduknya dan ingin pergi namun dicegah Sheina.
“Mbak, saya saja yang pergi dan tolong mbak rawat Rangga karena Rangga lebih membutuhkan mbak daripada saya”, Sheina kemudian mengambil tasnya.
“Shei”, panggil Rangga.
Namun Sheina tidak menghiaraukan panggilan itu.
“Sial”, Rangga mencoba bangkit semampunya untuk mengejar Sheina.
Sheina yang ingin membuka pintu tiba-tiba tertahan oleh tangan Rangga.
“Apakah kamu ingin pergi?”.
“Rang, maaf”.
“Baiklah kalau begitu, jika kamu ingin tetap pergi maka bawa wanita itu juga karena aku tidak membutuhkan kalian semua!”, Rangga mulai melepaskan tangannya dari pintu dan bergegas menjauh dari Sheina dengan marah.
Namun tiba-tiba,
brukk!.
“Rang”, teriak Sheina.
“Lepaskan, aku tidak membutuhkanmu!”.
“Tolong jangan bersikap seperti ini kepadaku”, Sheina kemudian memapah Rangga dan membawanya menuju kamar.
Didalam kamar mereka bertemu dengan Sella.
Sella kemudian menghampiri mereka.
“Kamu harus menemuiku setelah sembuh!”, Sella kemudian pergi meninggalkan mereka.