Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 24
Seorang dokter dan beberapa tim medis lainnya sudah mengelilingi tempat tidur Lala. Mereka berjuang untuk menstabilkan kondisi wanita tersebut. Padahal beberapa waktu yang lalu, keadaan Lala sudah dinyatakan stabil. Entah kenapa sekarang tiba-tiba dia harus memakai selang oksigen lagi.
Bahkan tetesan infus harus diganti dengan kantung darah lagi. Bibir Lala pucat seperti tidak ada tanda kehidupan. Tangannya dan sekujur tubuhnya dingin. Semua tim medis juga panik. Mereka berjuang keras menstabilkan kondisi Lala saat ini.
"Dok, denyut jantung pasien melemah." Seorang perawan memegang pergelangan tangan Lala dan memeriksa denyut nadi wanita itu. Dokter masih memeriksa detak jantung yang memang kini kembali melemah.
Alat pendeteksi detak jantung telah di pasang. Semua melakukan tugas masing-masing. Satu perawat beralih ke Rena. Ia ingin memastikan kalau Rena tetap stabil.
Buliran air mata menetes di sudut mata Lala. Dokter yang menangani Lala memandang wanita itu dengan alis saling bertaut. Dia tahu kalau kini pasiennya sedang mengalami hal yang menyedihkan. Bisa jadi karena sakti hati atau karena merindukan seseorang.
"Dimana keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.
"Berdasarkan informasi yang di tulis, pasien tidak memiliki keluarga lagi. Mereka berdua bersahabat dok. Atasan mereka yang membawa mereka ke sini," jelas suster itu apa adanya.
"Dimana atasannya? Apa ada di sini?"
"Ada di depan, dok." Dokter itu mengangguk sebelum melanjutkan pemeriksaan.
Robi berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar. Pria itu tidak di izinkan masuk karena memang tim dokter tidak mau di ganggu. Robi berdiri di depan kamar sambil sesekali memandang ke dalam.
Wajahnya terlihat khawatir walau mereka tidak memiliki hubungan yang spesial. Rama yang baru saja tiba, berdiri di depan Robi. Sebenarnya pria itu juga ingin masuk. Tapi apalah daya. Robi saja di larang masuk. Apa lagi dirinya. Rama sangat penasaran dan ingin tahu. Seisitimewa apa karyawan yang kini di tolong Robi. Sampai-sampai Robi bisa sekhawatir itu.
"Tuan, apa anda baik-baik saja? Apa tidak ada keluarga dari karyawan anda yang menunggu di sini?" Rama memandang ke kanan ke kiri. Dia tidak menemukan siapapun lagi selain Robi dan pengawalnya.
"Mereka tidak memiliki keluarga lagi," sahut Robi. "Tapi, saya juga tidak terlalu mengerti. Sebenarnya bagaimana kehidupan mereka selama ini."
"Anda atasan yang hebat, Tuan. Senang bisa bekerja sama dengan sosok pemimpin seperti anda." Rama menepuk pundak Robi. "Saya doakan semoga karyawan anda cepat sembuh agar bisa bekerja lagi di resto. Kapan-kapan jika keadaan sudah tenang, saya ingin bertemu dengan karyawan anda ini. Saya ingin katakan kepada mereka kalau anda pemimpin yang begitu sempurna," puji Rama.
"Anda terlalu berlebih-lebihan, Tuan." Robi tertawa kecil mendengar pujian Rama.
"Tuan, saya permisi dulu," ucap Rama. Walau kini dia berucap ingin pulang, tetapi kedua matanya tidak bisa berbohong. Ia berusaha mencari cela agar bisa melihat wajah pasien yang ada di dalam kamar. Sayangnya tidak ada akses yang bisa membuat Rama melihat ke dalam.
"Terima kasih, Tuan." Robi memijat dahinya ketika kepalanya kembali pusing. "Saya akan menyesal seumur hidup saya jika sampai wanita itu tidak selamat!" keluh Robi.
Rama lagi-lagi menahan langkah kakinya untuk pergi. Rasa ingin tahunya kembali memenuhi pikirannya. "Apa yang sudah menyebabkan dia masuk rumah sakit, Tuan?"
"Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Setibanya di lokasi, saya menemukan mereka berdua dalam keadaan kritis. Penuh darah. Rumah itu sangat berantakan," jelas Robi secara singkat. "Sepertinya ada orang yang dendam sama mereka."
"Sekarang tingkat kejahatan semakin tinggi. Anda juga harus hati-hati, Tuan."
"Terima kasih, Tuan."
Rama mengambil ponselnya yang berdering. Pria itu kembali pamit sebelum mengangkat panggilan masuk sambil berjalan menuju lift.
"Halo."
"Tuan, saya belum berhasil melacak keberadaan Nona Lala. Nomornya sampai sekarang belum aktif."
"Kau yakin ponselnya mati?"
"Ya, Tuan. Jaringan tidak aktif. Saya tidak bisa melacak keberadaan. Anda bisa membayar hacker yang lebih baik daripada Saya Tuan."
"Tidak! Rama segera memutuskan panggilan telepon tersebut secara sepihak. Pria itu masuk ke lift sambil memandang ke arah Robi yang sudah diperbolehkan masuk ke dalam. "Sepertinya dia memiliki rasa terhadap salah satu pekerjanya itu. Tidak mungkin orang sibuk seperti dia membuang waktu seperti ini. Aku yakin, Tuan Robi telah jatuh cinta. Hanya saja dia belum menyadarinya."
Di dalam ruangan, semua tim medis bisa bernapas dengan lega. Keadaan Lala kembali stabil. Satu kabar yang sangat menggembirakan adalah ketiak Rena membuka mata. Sebagian perawat memilih untuk memeriksa keadaan Rena. Sedangkan sisanya masih memperhatikan Lala dan menjamin kalau wanita itu benar-benar sudah stabil.
"Lala," lirih Rena ketika pertama kali dia membuka mata. Wanita itu terbayang-bayang ketika Lala jatuh ke lantai dan dipenuhi darah.
"Lala baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," jawab Robi. Rena memiringkan kepalanya. Wanita itu merasa sedikit lega karena pada akhirnya masih ada orang yang ia kenal di dalam ruangan tersebut.
"Pak, dimana Lala?"
Robi memandang ke depan sebelum mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Lala. "Dia masih belum sadarkan diri."
Rena mengikuti arah yang di tunjuk Robi. Wanita menangis ketika melihat sahabat terbaiknya kini masih belum sadarkan diri.
"Maafkan aku, La. Maafkan aku."
"Rena, sebenarnya apa yang terjadi?"
Rena menghapus air matanya yang terus saja menetes. Perawat yang ada di dekat Rena terlihat tidak suka ketika melihat Robi menekan Rena seperti itu.
"Tuan, sebaiknya anda keluar. Pasien masih butuh ketenangan dan banyak istirahat," usir perawat itu.
Robi mengatur napasnya agar tidak terpancing emosi. "Maafkan saya, Sus. Saya tidak akan bertanya apa-apa lagi."
Rena menggeleng pelan. "Pria itu sudah merenggut masa depan saya, Tuan. Saya tidak menyangka kalau dia akan memiliki niat jahat terhadap Lala."
"Sejak kapan Rena? Kenapa kau membawa Lala ke rumahmu?"
"Saya juga tidak menyangka hal ini akan terjadi. kabar terakhir yang saya dapat dia sudah tidak tinggal di kota ini. Saya sangat kaget ketika Lala bercerita kalau dia melihat seorang pria. Saya tahu itu mimpi. Tetapi, kejadiannya sangat sama dengan apa yang pernah saya alami."
"Rena, tenanglah."
"Nona, anda harus tenang. Kondisi anda masih baru stabil. Anda tidak boleh banyak pikiran," bujuk perawat yang ada di dekat Rena.
Rena terus saja menyeka air matanya. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu terhadap Lala. "La, maafkan aku. Tadinya aku pikir kau akan aman bersamaku. Jika aku tahu keadaannya akan seperti ini, aku tidak akan mungkin membawamu ke rumah."