"Jika diberi kesempatan mengulang waktu. Hal apa yang akan kamu ubah?"
"Mencegah pertemuan ku dengan suami ku!"
Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang menyangka kesempatan emas itu membuatnya terlempar jauh di masa SMA sebelum semua tragedi dimulai.
Mampukah Ita membelokan takdir yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Senioritas
Malam menjadi waktu istirahat bagi sebagian orang. Melimpahkan segala lelah aktivitas di siang hari. Bunyi suara pintu terdengar di salah satu apartement. Si pemilik berjalan gontai memasuki hasil jerih payahnya.
Walau punya rumah sekalipun. Kadang orang memiliki tempat singgah kedua yang lebih dekat dengan tempat kerja. Begitupun Raga.
"Astaga!" pekik seorang gadis menyadari kehadiran seseorang.
"Sera? Kamu di sini?" saut Raga.
"Haaah! Ternyata Paman. Aku kaget tau!" Raga hanya terkekeh, ia mendudukan dirinya di sofa setelah menyampirkan jas. "Memangnya siapa lagi yang bisa masuk sini? Ngomong-ngomong ngapain kamu di sini? Nanti Paman dikira punya simpenan lagi."
"Haha. Mana orang yang bilang? Sini biar tau karakter Sera yang sebenarnya!" ancam Sera.
"Serius. Kamu ngapain kesini?" ucap Raga setelah terkekeh singkat. Sera memang diberi tahu pasword apartemen-nya. Dia juga kerap bolak-balik untuk mengantarkan sesuatu. Tapi tidak terpikir Sera akan hadir semalam ini.
Setelah mengambil hak asuh Sera. Raga memutuskan membawa Sera ke rumah utama. Raga pun sering pulang ke sana. Tapi ada beberapa hari ketika hari penat ia akan menyendiri di apartemen ini.
"Aku pingin makan bareng. Aku habis belanja bahan makanan tadi," saut Sera semangat.
"Memangnya bisa masak?"
"Bisa dong. Ini hasil pengalaman setelah bolak-balik kabur dari rumah. Hehe."
"Paman percaya nggak kalau sebanyak ini aku cuma habis dua ratus ribu?" Sera semangat menunjukan dua kantung plastik besar berisi bahan makanan.
"Memang belanja di mana?"
"Hehe, banyak tempat. Aku sama Ita habis berburu diskonan. Seru banget ternyata! Aku nggak nyangka lho orang kayak Ita perhitungan sama keungan. Padahal dia anak tunggal kan? Pasti dia manja. Apa keluarganya tipe yang pel—“
Raga menggapai pucuk kepala Sera. Jika tidak dihentikan, keponakannya ini akan mengoceh panjang lebar sampai melewati makan malam. Miris! Saat mengetahui orang periang ini tiba-tiba ingin mengakhiri hidup.
"Jangan ambil kesimpulan sembarangan. Mungkin dia memang tipe orang yang hemat."
Hemat ya? Setelah mengucapkannya Raga agak menyesal mengingat gadis itu sudah meraibkan uangnya tempo lalu.
"Ita keren ya Paman. Dia bisa bersikap tenang. Nggak kekanakan dan peka sama keadaan. Kayak orang dewasa. Aku yakin kalau usia mentalnya di ukur dia sebanding sama usia Paman," ucap Sera memuja.
Keheningan menyapa. Raga memilih tak berkomentar. Ia beralih ke kamarnya untuk mandi. Sedangkan Sera menyiapkan makan malam.
^^^^^^
"Kepada Kak Ita?"
"Kak Ita?"
"Ada yang namanya Kak Ita?"
Seorang waiters nampak membawa nampan sambil celingak-celinguk mencari sosok Ita. Ia hampir saja kembali sebelum Ita bersuara.
"Saya kak. Saya!"
Waiters itu kelihatan kesal, "dari mana aja Kak?"
"Sorry ya. Tadi habis dari kamar mandi."
"Lain kali konfirmasi dulu kak!" ucap ketus waiters itu.
Ita melirik tajam. Pelayanan macam apa ini? Merasa kecewa, Ita tidak akan menginjakan kaki di cafe ini lagi!
Sudahlah! Tidak ada untungnya memperpanjang masalah. Ita pergi membawa pesanan yang sialnya untuk Raga. Orang yang membuatnya dendam sampai bangkit dari kematian.
"Liat aja! Gue siram es ini ke muka dia!" monolog Ita yang hanya bisa ia lakukan di imajinasi.
Terik panas membuat bulir-bulir manja terjun menuruni lembah di balik baju Ita. Yang bisa ia lakukan hanya mendumel dalam hati. Tidak di masa depan, tidak di masa ini. Raga selalu menyebalkan bagi Ita.
Ita sudah membayangkan duduk di kursinya sambil menikmati dinginnya ruangan ber-AC. Namun, baru saja beberapa langkah memasuki kantor. Dua orang menghadangnya. Mereka tampak membawa satu rim kertas.
"Kamu mau ke tempat Pak Raga ya? Sekalian dong anterin ini ke lantai tiga. Ke divisi Administrasi," ucap wanita itu seringan kapas.
Ita melirik tumpukan kertas itu. "Maaf Kak, aku lagi bawa pesanannya Pak Raga. Nanti beliau nungguin," tolak Ita sopan mengingat mereka sudah lama bekerja di sini.
"Bentar aja. Lagian ruang administrasi nggak jauh dari ruang Pak Dirut."
"Emh.... maaf kak, maaf banget. Kata Pak Dirut aku nggak boleh mengerjakan sesuatu yang bukan tugas ku."
"Tsk! Sok banget sih! Masuk jalur koneksi aja belagu!" gumam salah satu mereka.
Siapa yang bilang Ita tidak menahan diri? Perilaku mereka yang menunjukan senioritas saja membuatnya jengah.
Terlebih, apa mata mereka buta? Ita sedang membawa pesanan es kopi Raga. Masak mau bawa tumpukan kertas itu! Kecuali tangan Ita ada banyak ia tidak akan keberatan.
"Maksudnya Kak?" ucap Ita tersulut.
"Nggak. Bukan apa-apa," jawabnya meremehkan.
"Iya! Gue masuk sini lewat koneksi. Nggak kayak kalian merayap kayak lintah haus jabatan! Udah gitu nggak mau tanggung jawab sama pekerjaannya sendiri! Mau makan gaji buta?!"
Mereka ikut tersulut. Hampir saja salah satu dari mereka menampar Ita. Namun dengan sigap Ita mencekal pergelangan tangannya.
"Mau main kasar?"
PLAK!
Wanita itu terhuyung. Tumpukan kertas itu berhambur hingga menyita perhatian semua orang. Sampai seorang Meneger melihat dan menghampiri.
"Ada apa ini?" saut Meneger Galih. Atasan mereka.
Sesuai dugaan. Dua sejoli itu mendramatisir kejadian ini. Sampai akhirnya mereka berakhir di ruang Meneger.
Ita di ceramahi habis-habisan. Ia terlalu muak untuk melawan. Terlebih lagi, disaat semua menyalahkan. Trauma paska kehidupan silamnya terngiang kembali. Mendorong lidah Ita untuk mengalah saja. Percuma ia membela diri karena tidak ada yang percaya padanya.
"Saya mengerti Pak. Maaf jika perbuatan saya—“
"Di sini rupanya," saut seseorang setelah terdengar suara pintu dibuka.
"Lama sekali cuma beli es kopi—“ perhatian Raga tertuju pada ketiga karyawannya, "ada apa ini?"
Menyadari sesuatu yang ganjil membuat keinginan untuk bertanya semakin tinggi. Hal itu langsung disambut oleh sang Meneger. Dia menceritakan kronologi kejadian berdasarkan apa yang disampaikan dua karyawan tadi.
Pupus sudah! Ita tau betul kebanggaan Raga terhadap karyawannya. Setelah ini, Ita harus siap-siap memberesi barang-barangnya.
"Kamu tau apa kesalahan mu?" tanya Raga.
"Hem, iya."
"Sekarang minta maaf atas perlakuan kasar mu tadi!"
Pandangan Ita beralih ke dua sejoli itu, "maaf." Seolah tidak bisa mengelak. Perintah Raga seperti sihir yang sudah tertanam sangat dalam.
Tidak adakah sedikit pun pembelaan yang Ita dapatkan dari laki-laki ini seumur hidupnya? Miris! Ketika menganggap pundaknya bukanlah untuknya bersandar. Melainkan tempat pengharapan tiada ujung.
"Saya juga minta maaf," tukas Raga. Ia membungkuk secara tak terduga di depan ketiga bawahannya. Sontak mereka berdiri untuk mencegah Raga.
"Maaf sudah merepotkan kalian atas perilaku Ita," lanjutnya masih membungkuk.
"Pak Raga tidak perlu minta maaf. Lagi pula ini kesalahannya," saut Meneger itu dan dibenarkan oleh dua wanita tadi.
"Kesalahannya adalah kesalahan saya. Karena saya pribadi yang memilihnya. Tolong maafkan perilaku kekanakannya," Raga membungkuk kembali. Kini ia menghadap wanita yang ditampar Ita.
Mereka ternganga atas tindakan Raga begitupun Ita. Sadar Ita! Raga melakukan ini untuk terlihat baik di depan karyawannya!
Setelah membicarakan panjang lebar. Mereka sepakat untuk tidak memperpanjang masalah ini. Raga menggiring Ita untuk keluar ruangan. Begitupun mereka mengantar kepergian atasannya.
"Tunggu!" cegah Ita.
Tbc
kpn up lg thor
......
hesa apa raga y...🤔🤔🤔🤔🤔⁉️⁉️⁉️⁉️
q kehabisan kata".....
lg dong thor part ny
iini msih pov ita....
pov raga nya blm....😄😄
khidupan sebelum it mninggal raga berkhianat tp stelah kehidupan ke-2 kok raga ud knal ita ....
pusing kn jd ny??? tlong dong buka tabir chaya ny.....