Nadia Vega, gadis cantik yang mencintai pria yang tak di anggap oleh keluarga nya. terpisah karena ambisi sang kakak pria yang juga mengagumi nya. melakukan berbagai cara licik untuk memiliki nya.
banyak rintangan yang harus mereka hadapi, termasuk terhalang restu dari orang tua nya sendiri.
dapatkan Nadia memperjuangkan kebahagiaan nya dan melawan kakak dari pria tersebut?
apakah setelah berpisah mereka akan bertemu lagi?
yuk kepoin cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun Nazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNIKAHAN DADAKAN
Part 26:
Hari ini Daniel di perbolehkan pulang dulu karena acara pernikahan nya. Sebelum akhirnya dia akan di bawa lagi ke luar negeri untuk operasi.
Hari yang tak bisa aku lukis kan perasaan di hati ini, di satu sisi setelah selesai acara Daniel harus segera menuju bandara untuk berangkat dan meninggalkan hari bahagia kami, yang harusnya malam ini adalah malam pertama kami, aku harus merelakan diri ku berteman kan sepi. Tapi di sisi lain pula, aku merasa bersyukur, keinginan kami yang sempat terhalang, kini telah tercapai. Aku pun yakin Daniel akan sembuh dan segera pulang ke pelukan ku.
Pagi ini aku sudah di dandanin oleh perias proposal, serta sudah memakai gaun pengantin yang sudah di persiapkan Bu Cetrin. Meski pernikahan ini secara mendadak, tapi bagi orang kaya seperti mereka, mempersiapkan segala sesuatunya itu hal yang sepele. Bu Cetrin membelikan gaun yang sangat pas dan cantik, dan tentunya dengan harga yang fantastis pula, bahkan dekorasi yang di rancang sangat mewah dan elegan, hingga tidak terasa sama sekali bahwa acara pernikahan ini di lakukan secara dadakan.
Ibu masuk ke kamar ku dan sudah berada tepat di belakang ku, memegang pundak ku dan dengan senyum yang terhias di bibir nya, dapat ku lihat di cermin, dia nampak begitu bahagia dengan pernikahan ku ini.
Flashback satu hari yang lalu.
Setelah memutuskan semua nya, pak Diendra langsung menghubungi ibu untuk segera datang ke rumah sakit, membicarakan tentang prihal rencana pernikahan dadakan ini, sekaligus meminta izin untuk melamar ku.
Ibu pun sampai di rumah sakit. Ibu berjalan memasuki kamar rawat Daniel, nampak langkah kaki nya begitu lambat, seakan ada keraguan yang terbesit di hati ibu.
Mungkin karena ibu menyesal dan merasa bersalah kepada Daniel karena pernah memperlakukan dia tidak adil.
"Bu!." Kata ku yang langsung menyambut dan menghampiri nya.
" Ayo ke sini." Ucap ku sambil menuntun nya lebih mendekat dengan Daniel.
Awalnya ibu sedikit ragu, namun setelah ku paksa akhirnya dia menurut.
Ibu juga masih enggan untuk bicara, bukan karena masih tidak suka, tapi karena merasa malu kepada Daniel.
" Pagi Bu!." Sapa Daniel yang memulai percakapan canggung itu.
" Hehehe. Pagi juga nak Daniel, bagaimana sekarang, apa sudah membaik?." Ucap ibu dengan senyum canggung
dan di balas anggukan oleh Daniel.
" Alhamdulillah sudah lebih enakan Bu, ibu sendiri bagaimana. Sehat?." Tanya Daniel dengan sopan meski dengan suara yang agak samar-samar terdengar.
" Iya, Alhamdulillah ibu juga sehat." Jawab ibu pula. Keduanya akhirnya sama-sama tersenyum satu sama lain meskipun masih terlihat canggung.
Sesaat semua nya terdiam, termasuk pak Diendra dan Bu Cetrin yang tidak menyapa terlebih dahulu karena memberikan ruang untuk mereka bicara.
Oh iya, tadi Ronal dan ka Andre sudah pulang lebih dulu karena mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ka Andre yang akan pergi ke kantor, sedangkan Ronal akan ke kampus.
" Oh iya Bu Diana, saya sampai lupa mempersilahkan ibu duduk. Mari silahkan duduk." Ajak Bu Cetrin dengan menunjuk sofa yang berada di sebelah pojok ruangan itu.
Ibu pun mengikuti perintah Bu Cetrin untuk duduk.
" Begini Bu Diana, maksud kami meminta ibu agar datang ke rumah sakit karena ada tujuan. Kami ingin membicarakan kepada ibu agar ibu mau merestui hubungan Daniel dan Nadia, sekaligus melamar Nadia untuk anak saya Daniel. Jika ibu setuju, besok mereka akan melangsungkan pernikahan." Tutur pak Diendra menjelaskan dengan panjang lebar.
Ibu hanya terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Saya akan sangat merasa senang jika bapak berniat untuk menikahkan mereka, dan saya sama sekali tidak keberatan. Saya hanya tidak enak hati dengan nak Daniel, karena selama ini saya sudah sangat tidak baik kepada nya, saya takut dia malu mempunyai calon mertua seperti saya, saya minta maaf nak Daniel ." Sesal ibu dengan air mata yang mulai mengalir.
Aku langsung mendekati ibu dan memeluk nya dari samping untuk menenangkan nya. Ibu pun mengusap puncak kepala ku.
" Ibu!." Ucap ku ikut merasa sedih.
" Ibu ndak papa kok nak."
Tiba-tiba Daniel ingin beranjak duduk di tempat tidur nya dan ingin membuka selang oksigen yang ada di hidung nya agar leluasa untuk bangkit. Tapi aku yang melihat tidak tinggal diam. Aku langsung menghampiri nya agar aku bisa cepat mencegah nya.
" Jangan Daniel!." Seru ku yang kini sudah berada di samping nya.
" Udah gak papa, aku udah baikan kok. Kamu jangan khawatir, aku cuma mau nyamperin ibu." Ucap nya enteng. Aku kembali membaringkan nya dan sedikit meninggikan bantal nya agar merasa nyaman.
" Jangan dong Daniel, nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana?. Gak bisa! kamu harus tetap di sini sampai dokter sendiri yang bukain selang oksigen kamu. Kalau kamu mau ngomong sama ibu, ngomong aja dari sini, apa susahnya." Kesal ku. Dia hanya tersenyum melihat ku yang terlalu offer protektif terhadap nya, bukan hanya dia, Bu Cetrin dan pak Diendra serta ibu juga tersenyum-senyum saling pandang.
" Kenapa senyum-senyum, emang ada yang aneh ya dari aku?." Tanya ku cemberut, hingga menampakkan pipi ku yang semakin cabby.
" Ehemmm, ada calon istri galak-galak tapi sayang kayaknya nih." Ledek Bu Cetrin, yang membuat ku bertambah malu.
Wajah ku langsung merah merona karena nya.
Memang ini bukan pertama kalinya bagi ku perhatian terhadap Daniel, tapi jika di saksikan orang lain aku merasa malu, apalagi mereka orang tua kami dan pertama kalinya mereka bahagia dengan hubungan kami, setelah sekian lama mereka membenci hubungan kami.
" Sudah-sudah ma. Nadia nya jangan di ledekin terus dong, lihat tuh muka nya jadi merah kan." Jawab pak Diendra yang malah ikut-ikutan meledek ku.
" Apaan sih pa, ma. Sukanya main keroyokan, kasian kan calon teman tidur ku jadi malu." Tambah Daniel yang membuat ku berkali lipat lebih malu, bukan hanya karena malu, tapi juga baper, yang membuat wajah ku bertambah panas.
" Ihhhh, jangan gitu dong." Protes ku sambil menahan malu.
" Gak papa sayang. Aku suka kok." Ucap Daniel lagi, aku langsung mengembangkan senyum ku kepada nya, membuat ibu, Bu Cetrin dan pak Diendra berdehem.
" Ehemmm."
" Oh iya Bu, aku mau bilang sama ibu. Ibu jangan merasa tidak enak hati sama aku, aku sudah memaafkan ibu jauh sebelum ibu minta maaf sama aku. Aku malah merasa sedih jika ibu merasa begitu. Aku mau ibu menganggap ku sebagai menantu sebagai mana mestinya." Kata Daniel.
Ibu hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat sendu, air mata nya mengiringi rasa penyesalan di hati. Suasana menjadi hening seketika, tak lama dokter pun masuk untuk kembali mengecek kondisi Daniel sambil mengatakan bahwa Daniel sudah di izinkan untuk pulang.