WARNING : CERITA INI MENGURAS EMOSI SAMPAI TUTUP PANCI AKAN IKUT MELAYANG! BERMENTAL LEMAH HARAP JANGAN BACA. TAKUT DARAH TINGGI NAIK MENDADAK😈
Bercerai? Itulah satu permintaan Kaiden. Selama tiga tahun, mereka tidak bersinggungan. Tiba-tiba Kaiden suami kontraknya itu lontarkan. Devina Deborah, merasa tidak bisa melepaskan Kaiden Louis. Perempuan cantik itu memiliki perasan pada sang suami.
Ia memberikan persyaratan. Dalam kurun waktu 3 bulan. Jika Devina tidak mampu menggoyahkan hati Kaiden untuknya. Maka ia bersedia menandatangani surat cerai tanpa perlawanan. Mampukah Devina menaklukkan hati Kaiden. CEO angkuh yang malah jatuh cinta pada Dokter berdarah Rusia-Indonesia itu? atau malah harus terpaksa menandatangani surat perceraian. Dan pergi dengan mengibarkan bendera, pertanda menyerah.
Simak terus kisahnya di sini. Jangan lupa simpan di perpustakaan untuk mendapatkan update tiap harinya. Dan jangan follow akun Ig author di "Dhanvi Hrieya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. PENAWARAN
Lilin bergoyang pelan. Di atas kepala kedua pasang suami-istri itu terlihat lampu tumblr led. Yang terlihat terjuntai-jungai. Bahkan langit di atas sana seakan mendukung keduanya. Dengan menemani Devina dan Kaiden gemerlap bintang-bintang kecil yang bertaburan di atas langit malam nan kelam.
Suasana diantara mereka terasa sedikit dingin. Meskipun suasana terlihat begitu indah. Masih terjadi perang dingin diantara keduanya.
"Sampai kapan kamu akan seperti anak kecil begini?" seru suara bariton itu mengalun.
Devina membuang muka. Ia sakit hati dengan perkataan Kaiden tempo hari. Membuat dirinya cukup berusaha untuk menahan rasa cintanya.
"Bukankah kamu suka hal seperti ini. Seperti orang yang tidak saling kenal, huh!" dumel Devina dengan volume pelan.
Kaiden mengangkat gelas red wine yang disajikan untuk makan malam romantis mereka. Siapa sangka jika sang ibu mengambil paket honeymoon untuk mereka berdua. Hingga semua hal yang diberikan oleh pihak villa adalah sesuatu yang manis. Makan malam romantis, kamar yang ditaburi bunga mawar dengan bentuk hati.
Tidak satupun yang tidak ada kesan romantisnya. Seperti malam ini. Satu botol red wine dan ditemani oleh senandung piano dan lagu cinta.
"Kau mau begitu?" balas Kaiden malah melemparkan pertanyaan.
Devina mengeluh dalam diam. Siapa juga yang mau seperti ini. Apa lagi pada pria yang dia cintai. Tidak mudah untuk kembali mencintai. Apa lagi perempuan cantik ini sudah pernah merasakan sebuah pengkhianat.
"Ti—tidak begitu, maksudku," sahut Devina tergagap.
Kaiden mengangkat kedua sisi bahunya acuh. Sebelum menyesap minuman beralkohol di tangannya.
"Lalu sekarang?"
"Ha—harusnya kamu minta maaf!" sahutnya.
Sebelah alis mata tebal itu naik pelan ke atas."Aku?"
"Ya! Kamu kan sudah berkhianat!" dumel Devina.
"Hah?"
"Apa namanya pria yang sudah menikah malah makan malam dengan perempuan lain. Akui saja. Kamu berselingkuh dariku! Dan hampir membuat mukaku tercoreng di depan teman-temanku. Sedangkan aku selalu saja menjaga nama baikmu!" Devina menjawab menggebu-gebu hanya dengan satu tarikan nafas saja.
Gadis itu terlihat ngos-ngosan. Hanya karena berkata sedikit nge-rap. Devina meraih gelas berisi cairan merah pekat itu. Meneguknya dalam satu kali teguk saja. Pupil mata Kaiden langsung membesar melihat bagaimana Devina meneguk minuman di atas meja hanya satu kali teguk.
Apakah gadis ini bodoh atau bagaimana? Apakah Devina tidak tahu jika minuman beralkohol yang diminum seperti minum air putih itu memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi. Bahkan Kaiden saja hanya meneguk beberapa kali saja.
Devina meringis setelah meneguk red wine di atas mejanya. Rasa sepat dan manis bercampur menjadi satu. Kepala Devina mendadak pening karena minuman yang telah kosong itu.
"Kau ..." Kaiden bahkan tidak tahu mau berbicara apa melihat ekspresi Devina yang kembali berubah.
"Sirupnya kok rasa sepat? Kenapa kepalaku memdadak pusing, ya, Kaiden?" tanya Devina dengan nada serak.
Kaiden menghela nafas kasar melihat Devina langsung mabuk dalam satu kali minum saja. Tunggu. Apakah gadis ini tidak pernah minum sebelumnya? Sampai tidak bisa membedakan mana air sirup dan mana alkohol?
"Kau tidak bisa membedakan apa yang sedang kamu minum?" tanya Kaiden dengan ekspresi tak yakin.
"Hah?" Devina memasang wajah tak mengerti.
Punggung belakangnya langsung bersandar di sandaran kursi. Sebelah tangan Devina bergerak memijit pangkal hidungnya. Sebelum berpindah ke dahinya.
"Itu alkohol," ujar Kaiden,"mana ada sirup yang dihidangkan tanpa campuran air," lanjut Kaiden.
"Hah? Alkohol?" Devina menyahut dengan nada mulai meracau.
Kaiden mengeleng kecil. Sebenarnya kehidupan seperti apa yang Devina jalani. Hingga gadis ini tidak tahu membedakan mana alkohol mana sirup. Bagaimana orang tua Devina menjaga anak gadisnya. Sampai Devina tidak pernah menyentuh minuman memabukkan itu.
"Kaiden! Kepalaku sakit!" keluh Devina dengan mata sayu.
Kaiden bercak kecil."Siapa yang suruh kau minum alkohol seperti minum air putih. Kadar alkohol yang dihidangkan sangat tinggi."
"Mana aku tahu!" ketus Devina.
Kaiden mau tak mau. Harus bangkit dari posisi duduknya. Kedua kaki panjang Kaiden melangkah mendekati kursi sang istri yang tidak terlalu jauh dari dirinya. Devina menatapnya dengan pandangan sayu.
"Ayo kembali ke dalam," ucap Kaiden sebelum mengulurkan telapak tangannya untuk Devina raih.
"Ya!" Devina menjawab dengan tangan membalas urutan Kaiden.
Namun kepalanya langsung mengeleng beberapa kali.
"Kaiden kenapa tanganmu ada dua?" tanya Devina mulai eror.
"Tanganku satu, Devina. Kau sudah mulai mabuk!" tukas Kaiden.
Devina mengeleng tegas."Tidak. Aku tidak pernah mabuk. Aku ini gadis baik-baik!" sahut Devina meracau.
"Oh, ya?" balas Kaiden sedikit bernada.
Devina mengangguk antusias."Ya, aku ini gadis baik-baik. Tidak pernah mabuk. Hehe ... aku anak baik!"
Kaiden merasa kedua sisi bibirnya berkedut. Ingin tertawa mendengar jawaban Devina seperti anak kecil saja.
"Ya, mungkin itu dulu. Sekarang saja kamu sudah mulai mabuk, tuh!"
"Hah? Nggak! Devina nggak mabuk, kok!" bantah Devina.
Gadis itu cengengesan. Kepalanya menengadah menatap wajah gagah Kaiden. Kedua tangannya direntangkan.
"Kaiden! Gedong! Devina rasanya pusing." Devina meminta digendong dengan nada manja.
Ini sisi lain yang ditujukan oleh Devina pada Kaiden. Biasanya Devina selalu menunjuk sisi ketegarannya. Sisi dewasa yang selalu Kaiden lihat. Ternyata lucu juga melihat Devina menunjukkan sisi yang manis seperti ini. Kedua pipi Devina bahkan ikut memerah.
"Kalau aku mengendongmu. Apa yang aku dapatkan?" tanya Kaiden seakan tengah memulai penawaran.
Devina manyun."Semuanya! Aku dan hatiku. Akan menjadi milik Kaiden!" jawab Devina dengan mudahnya.
Sebelah sisi bibir Kaiden terangkat mengembangkan senyum menyeringai.
"Bagaimana dengan tubuhmu? Apakah aku juga bisa memilikinya?" tanya Kaiden tanpa pemuda itu sadari.
Brengsek bukan? Pemuda ini malah menanyakan tentang hal yang selama ini tidak pernah ia tanyakan pada Devina. Atau mungkin karena mereka berdua tidak pernah dalam posisi saling terbuka.
"Tentu saja. Jika aku sudah menjadi milik Kaiden. Hatiku juga milik Kaiden. Sudah pasti tubuhku, juga milik Kaiden!" papar Devina dengan nada polos.
Ia tersenyum kecil pada Kaiden. Kaiden mengangguk mengerti.
"Apakah kau tidak akan menyesal?"
"Kenapa? Harus?"
"Karena kau, mungkin tidak ingin memberikannya. Jika kau sadar."
Devina kembali mengeleng. Menolak spekulasi dari sang suami tercinta.
"Aku! Sedari awal sudah menyerahkan diriku pada Kaiden. Hati dan tubuhku. Bukankah Kaiden yang menolaknya?" tukad Devina.
Kaiden diam. Benar. Sedari awal jika dia mau. Devina adalah miliknya. Karena mereka menikah sah secara agama dan hukum. Hanya saja ada surat kontrak pernikahan yang Kaiden berikan pada Devina. Sebagai batasan dalam hubungan pernikahan.
Salah gadis ini di mana? Devina tidak pernah membangun tembok di pernikahan mereka. Tapi Kaiden lah orang yang membangun dinding pembatas.
Telpak tangan Kaiden terulur. Menyentuh sebelah sisi pipi Devina. Membuat empunya, langsung menutup kedua kelopak mata sakuranya. Menyembunyikan galaxy indah itu.
"Kau yakin tidak akan menyesal. Setidaknya jika kau masih perawan saat bercerai denganku. Kau tidak akan rugi apapun. Tapi jika kau sudah tidak perawan. Saat kita bercerai. Kau akan rugi," tanya Kaiden.
"Aku tidak akan menyesal!" sahut Devina serak. Masih dengan mata yang terpejam.
Kaiden menyeringai. Ini tidak lagi menjadi salahnya. Karena Devina yang mau.
Bersambung....
Menyesal apa nggak ya?
hehe ...