Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.
Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.
Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?
Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka dan Bahagia
"Kamu kenapa Win? Coba cerita sama Bapak?" Pak Santoso berdiri di depan pintu.
"Ada apa sih Pak?" Tanya Bu Hamidah dari arah dapur.
"Ini lho Bu, Wina pulang-pulang masuk kamar!"
"Wina, ini Ibu! Kamu kenapa Win? Buka pintunya ya Nak!" Serunya.
"Semuanya sudah hancur Bu!" Teriak Wina dari dalam kamar.
"Hancur gimana Win?"
"Semua rahasiaku sudah terbongkar! Mas Guntur dan ibunya sudah tahu semuanya! Mereka sudah tahu kalau anak yang Aku kandung bukan anak kandungnya Mas Guntur!"
"Kok bisa Win?"
"Semua gara-gara Bobby! Cowok brengsek itu yang telah membongkar semuanya! Ternyata Bobby adalah teman SMA-nya Mas Guntur, Bu!"
"Kok jadi begini!"
"Mungkin ini semua balasan dari Allah karena Ibu dan Wina sudah membohongi Guntur dan keluarganya!" Pak Santoso menimpalinya.
"Bapak diam aja deh! Bukannya mencari jalan keluar, malah bicara nggak karuan!"
"Dengan kejadian ini, harusnya Ibu instrospeksi diri."
"Wina, lebih baik sekarang Kita ke rumahnya Bu Maya! Kita minta maaf secara baik-baik!" Pintanya.
"Semua sudah terlambat!!! Mereka sudah mengusirku! Mas Guntur juga sudah bilang akan menceraikanku! Apalagi Bu Maya, Dia sangat marah padaku! Aku sampai ditamparnya!
"Kurang ajar!!! Mereka pikir mereka siapa! Kalau begitu ceritanya, lebih baik tinggalkan Guntur! Masih banyak lelaki yang jauh lebih kaya dan ganteng daripada Dia, yang mau sama Kamu Win!"
"Siapa Bu? Siapa yang mau menikah dengan perempuan hamil sepertiku?
"Ada teman Ibu namanya Pak Wiryo. Dia orang kaya. Walaupun umurnya sudah lebih dari 50 tahunan, tapi hartanya melimpah! Tanahnya berhektar-hektar! Rumah ada tiga! Kalau Kamu jadi istrinya, Kamu dan keturunanmu dijamin hidup bahagia, Wina!" Katanya.
"Adam aja yang umurnya 40 tahunan, Aku menolaknya. Apalagi teman Ibu yang umurnya lebih tua daripada Bapak!"
"Jaman sekarang bukan lagi mencari jodoh karena cinta, Win! Harta yang utama! Apa Kamu mau makan cuma modal cinta? Banyak yang awalnya menikah karena cinta, tapi ujung-ujungnya cerai karena masalah ekonomi! Kalau Kamu menikah dengan Pak Wiryo, Kamu akan dijamin hidup bahagia. Kalau Pak Wiryo meninggal, seluruh hartanya akan jatuh ketanganmu, Nak!"
"Harta!!! Harta!!! Harta terus yang ada dipikiran Ibu!"
"Emangnya Kamu mau cari suami yang seperti apa? Kamu ini sedang hamil dan sebentar lagi punya anak! Apa Kamu jadi janda? Apa Kamu mau membesarkan anakmu sendirian?"
"Nggak mau!!! Lebih baik Aku mati aja daripada hidup menanggung beban berat ini!"
"Kalau Kamu nggak mau sama teman Ibu, lebih baik sekarang Kamu hubungi Adam! Dia kan sangat mencintai Kamu! Pasti Dia mau menikah denganmu, Wina!" Pinta Bu Hamidah. Mendengar perintahnya, Wina pun mengambil handphone miliknya dan bergegas menelpon Adam.
"Hallo ada apa Wina?" Tanya Adam begitu mengangkat panggilannya.
"Mas, suamiku selingkuh Mas! Aku ingin cerai dengannya! Aku mau menerima cintamu, Mas! Aku mau menikah denganmu Mas!" Wina mengarang cerita.
"Sorry Win! Aku sudah punya calon istri yang tulus mencintaiku. Dia bukan lain adalah tante Kamu sendiri."
"Tante Aku? Siapa Mas?" Wina kaget.
"Ranti. Sebentar lagi Aku akan melamarnya! Sudah dulu ya Win!" Adam pun memutuskan panggilan teleponnya.
"Ternyata Mas Adam mau menikah dengan Tante Ranti, Bu!" Wina pun menangis sesenggukan.
"Ranti! Dengar Kamu Mas, Adik kandungmu yang merebut Adam dari Wina, anak kandungmu sendiri!" Katanya.
"Bukankah Wina dulu menolak Adam? Mungkin memang Adam jodohnya Ranti! Kita nggak bisa memaksanya untuk menikah dengan Wina!" Balas Pak Santoso.
"Bukannya anak kandung sendiri yang dibela malah Ranti!" Celotehnya.
"Win, buka pintunya Win! Kamu pasti bisa mendapatkan suami yang lebih baik dari Adam!" Pinta Pak Santoso. Namun sama sekali tidak terdengar suara jawaban dari kamar Wina.
"Wina! Buka pintunya Nak!" Seru Bu Hamidah. Namun tetap saja tidak terdengar suara balasan dari Wina. Setelah menunggu beberapa menit, namun tidak ada lagi suara Wina dari dalam kamarnya. Yang ada hanya keheningan.
"Pak, dobrak aja pintunya Pak! Aku takut Wina berbuat nekad!" Pintanya. Mendengar ucapan istrinya, Pak Santoso pun membuka pintu kamar Wina dengan cara mendorong tubuhnya ke arah pintu dengan keras. Setelah dua kali gagal membuka pintunya, akhirnya Pak Santoso berhasil membuka pintu kamar Wina yang terkunci dari dalam.
Bbbrrraaaaakkkkk......!!!
Begitu pintu terbuka, Pak Santoso dan Bu Hamidah berkelebat masuk ke dalam kamar. Namun saat menginjakkan kaki di dalam mereka seperti tersambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak, Wina yang beberapa waktu yang lalu masih bersuara, kini dihadapan mereka berdua, Wina berada dalam keadaan tergeletak di atas lantai dalam keadaan mengenaskan. Dari mulutnya keluar busa berwarna putih berjumlah cukup banyak. Tidak jauh dari telapak tangannya, terdapat sebuah kemasan botol berisi cairan pembasmi nyamuk. Melihat anaknya dalam keadaan begitu rupa, Pak Santoso dan Bu Hamidah berteriak sambil menghampirinya.
"Wina.....!!!" Teriak mereka berbarengan.
"Mengapa Kamu nekad begini, Win?" Ratap Pak Santoso.
"Ayo cepat bawa Wina ke rumah sakit Pak!" Perintah Bu Hamidah dengan perasaan sangat ketakutan. Tanpa membuang waktu lagi, Pak Santoso langsung mengangkat tubuh anak sulungnya itu.
"Mba Lala kenapa Pak?" Seru Lala ketika melihat Wina diangkat oleh bapaknya.
"Mbakmu keracunan!!!"
"Bu! Ambilkan kunci mobil di kamar!" Pintanya. Pak Santoso pun membawa tubuh Wina ke arah mobil yang terparkir di depan rumah. Sedangkan Bu Hamidah berlari mengambil kunci mobil. Begitu Bu Hamidah muncul di depan rumah dengan membawa kunci, Pak Santoso langsung membaringkan tubuh Wina di jok belakang dengan dipangku oleh ibunya. Lala pun ikut serta, dengan duduk di jok depan di samping bapaknya. Dengan kencang Pak Santoso mengendarai mobilnya menuju salah satu rumah sakit terdekat.
Sementara itu, setelah Wina pergi dari rumahnya, Bu Maya langsung menghampiri Sovia, menantu yang selama ini tidak disukainya. Tanpa ragu-ragu, ia pun langsung memeluknya dengan erat. Air matanya seketika langsung menetes di pipinya.
"Sovia! Maafkan Ibu ya! Selama ini Ibu selalu membencimu!" Katanya.
"Jangan dipikirkan Bu! Saya sudah melupakan semuanya!" Balas Sovia yang membalas memeluknya.
"Kamu memang perempuan baik, Sovia! Ibu menyesal, selama ini telah menyia-nyiakan dirimu! Tapi malah membela cewek murahan itu!"
"Alhamdulillah kalau Ibu sudah mau menerima Saya sebagai menantu Ibu!" Mereka pun perlahan melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah! Aku senang dan bersyukur sekali melihat Ibu sudah mau menyayangi Sovia!" Guntur pun tersenyum bahagia melihat Sovia dan ibunya.
"Iya Gun! Ibu menyesal sekali telah mengenalkan Kamu sama Wina! Ternyata Dia cewek gampangan! Sekaligus cewek penipu!" Bu Maya tampak marah.
"Iya Bu. Tapi dengan kejadian ini, kan ada hikmahnya juga. Ibu jadi sadar bahwa selama ini Ibu telah bersikap keliru terhadap Sovia!"
"Iya Gun."
"Mas, Bu! Sebenarnya ada sesuatu yang mau katakan!" Ucap Sovia perlahan.
"Kamu mau bicara apa Sovia? Katakanlah!" Balas Bu Maya.
"Iya Dek! Ngomong aja!" Guntur menimpalinya.
"Tadi Aku sudah pergi ke dokter. Kata dokter Aku sedang hamil Mas, Bu!" Ucapnya.
"Serius yang Kamu katakan Dek?" Guntur masih tidak percaya.
"Kamu benar lagi hamil, Sovia?" Bu Maya juga tampak terkejut.
"Iya. Kata dokter usia kandungannya sudah dua bulan." Balasnya.
"Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya Engkau telah mengabulkan doa-doaku selama ini!" Seru Guntur. Ia pun bergegas memeluk tubuh istrinya.
"Alhamdulillah! Sebentar lagi Aku mau punya cucu!" Bu Maya terlihat sangat bahagia.