Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAZAR RAMADHAN
Detik yang berdetak menggulirkan waktu yang kian cepat bergerak, meninggalkan hari demi hari terbaik di bulan yang penuh berkah. Ramadhan sudah berada di ujung kepergian. Meninggalkan manusia-manusia yang sudah menentukan pilihan. Sekiranya sudah ada hasil di dalam buku catatan masing-masing. Apakah termasuk yang mendapat maghfirah? Atau puasa yang hanya sebatas menahan lapar, dahaga dan amarah?
Yang jelas dalam kehidupan Sandra, ini adalah ramadhan terbaik sepanjang hidupnya. Untuk pertama kali setelah belasan tahun, dia kembali menjalankan ibadah yang telah tersurat sebagai perintah dan konsekuensi sebagai seoranghamba Allah.
Tepat hari ini, Bening genap berusia 17 tahun. Usia remaja yang katanya merupakan masa transisi dan menjadi angka yang amat kursial dan seringkali diistimewakan.
Usai melaksanakan shalat subuh, Bening kembali masuk ke kamarnya dan meringkuk dalam selimut memeluk jerapah kecil. Bening tidak terlalu ingat tanggal hari ini. Sejak kecil memang maminya tidak pernah mengadakan acara atau perayaan apapun di hari lahirnya, jadi semua berjalan seperti biasa.
Sandra masih menyelesaikan lembaran-lembaran terakhir di juz 29. Kurang dari 20 lembar lagi dia akan mengkhatamkan bacaan Al Qur'an. Hal yang belum pernah terjadi sejak dia lahir. Setelah meletakkan mushaf Al Qur'an dan alat shalat kembali ke tempatnya, dia mencium kening puteri remajanya.
"Semoga Bening u mendapatkan kebahagiaannya dunia dan akhirat. Jadilah Bening yang Taat, tangguh dan bermanfaat buat orang banyak. InsyaAllah Bening adalah anak mami yang soleha. Aamiin."
Untuk menopang kehidupan mereka, sejak bulan lalu Sandra memulai usaha dari sudut rumah kontrakannya. Walau kecil, kini dia sudah memiliki brand sendiri untuk produksi hijabnya.
Walau produksi dan pengirimannya masih ke beberapa daerah, tapi cukup untuk kebutuhan dirinya dan bening sehari-hari, bahkan cukup untuk memutar modal lagi. Yang paling penting, kehidupannya terasa jauh lebih nyaman hari ini. Mungkin itulah definisi dari keberkahan yang selama ini tak dia dapati.
Hari belum pukul lima, sinar matahari masih cukup terik menyinari kebun buah naga yang terbentang luas di sepanjang jalan menuju kediaman rumah Bening. Baru selesai ashar, masih lama menjelang waktu berbuka. Tapi Bern sudah sampai di depan rumah.
"Huuum, wangi banget. Masak apa sih, Tante?" Bern menghampiri Sandra yang sedang mengaduk-aduk nasi dengan potongan daging.
"Eh Bern, udah sampai? ini tante bikin nasi briyani kambing, kamu suka gak? duh tante gak tau kamu sukanya makan apa sih?"
"Ehehehe, belum pernah sih. Tapi ini kayaknya enak," Bern mendekatkan hidungnya ke arah uap nasi yang mengebul.
Bening menghampiri keduanya dengan jilbab yang sudah rapi. Sejak Ramadhan pertama, Bern tak pernah melihat Bening melepas hijab lagi di hadapannya.
"Mumpung masih sore, kita ke bazar ramadhan aja, gimana?" ajak Bern.
"Ngabuburit? waaah, let's go!" sorak Bening setuju.
***
Mereka menuju bazar Ramadhan yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Bening. Sepanjang jalan kiri dan kanan penuh dengan tenda yang berisi beraneka macam kudapan.
"Ning, cilok dan ceker pedas itu sepertinya enak. Aku kesana ya mau beli itu dulu,"
"Bern, aku gak nyangka. Padahal kamu ini calon dokter, tapi jajanan mu sama aja kaya bocah,"
"Sesekali gak masalah,"
Tanpa sadar mereka sudah membeli beberapa jenis makanan dan minuman yang tampak menggiurkan. Tapi Bening masih betah berputar-putar mengelilingi bazar.
"Kamu cari apa sih Ning?"
Bening tidak menjawab pertanyaan Bern karna matanya menangkap satu pandangan yang lebih menggiurkan dari segala makanan atau minuman disana. Setengah berlari dia menghampiri penjaja mainan dengan keranjang pikulnya.
"Bern, sini!" melambaikan tangan Bern untuk menghampirinya. "Aku mau ini," serunya memegang beberapa jenis kembang api. "Sama yang ini, kata oomnya ini yang seperti roket itu loh Bern yang pecah di udara terus apinya warna-warni,"
"Kamu dari tadi keliling-keliling cuma buat nyari ini?"
"Ehehe, Sorry. boleh gak aku beli yang ini?"
"Hemmm. Pak, bungkus semua kembang api yang ada di tangan gadis ini ya," perintah Bern pada lelaki itu.
Penjaja tua itu membungkus kembang api dengan senyum sumringah. Sebuah senyum kesyukuran, hari ini akhirnya bisa membawa pulang uang untuk anak,istri dan cucunya berbuka puasa.
"Ini terlalu banyak Nak," tolaknya saat Bern membayar dengan uang sejumlah semua mainan di kedua bakulnya.
Bern menahan punggung tangan keriput itu agar menerima pemberiannya.
"Terimakasih banyak, Nak, semoga Allah memberkahi kehidupan kalian," imbuhnya.
Bern menarik tangan Bening keluar dari lorong sempit itu. Bening berusaha menyamai langkah Bern sambil melihat ke arah plastik besar yang berisi kembang api.
"Kok kamu bayar sebanyak itu, Bern? "
"Walau dagangannya terjual semua, keuntungannya pasti tidak seberapa. Dibalik pedagang kecil seperti itu, aku ngebayangin keluarga yang nungguin dia dirumah,Ning." Bern kembali melanjutkan langkahnya dan melepaskan genggaman tangan Bening karena mereka sudah sampai di area parkir.
Bening yang terlepas sejenak terdiam menatap punggung Bern dari belakang sebelum Bern masuk ke dalam mobil.
Bern Jullian memang yang terbaik
Ucap Bening dari dalam hatinya.
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯