Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kedekatan aku dan Mika, sekarang semakin tidak terlihat lagi. Aku memilih fokus dengan apa yang ingin aku dapatkan, agar aku segera bebas dari beban yang selama ini aku pikul.
Aku ingin segera menikmati masa indah menjadi seorang perempuan yang bebas. Bebas menggunakan pakaian perempuan, bebas berdandan, dan bebas menentukan apa yang harus aku lakukan untuk menjalani hidupku sendiri.
Hati ini, aku pulang agak larut malam. Karna ada beberapa pekerjaan yang membuat aku harus lembur untuk menyelesaikannya.
"Hallo Nino, kamu di mana sih," ucap mama terdengar sangat khawatir.
"Iya mama, aku masih di kantor ini. Asa beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucapku dengan santai.
"Nino, kamu sama siapa di sana?"
"Aku sendirian mama, tidak ada siapa-siapa sekarang. Hanya tinggal satpam yang berjaga di luar sana," kataku sambil melanjutkan pekerjaanku.
"Ya ampun Nino, mama cemas banget nih. Kamu pulang sekarang ya!" kata mama.
"Dikit lagi ma, dikit lagi juga selesai kok mama. Sabar yah, bentar lagi aku pulang," ucapku menenangkan mama yang terdengan sangat panik.
"Ya udah, mama kirim orang buat jagain kamu di sana ya nak," kata mama.
"Gak usah mah, aku inikan gak lemah. Mama lupa siapa aku?"
"Ya udah deh, mama tunggu. Pulang sekarang kamu, kalau ngak, mama yang akan jemput kamu sekarang juga."
"Ya udah iya, Nino pulang sekarang," ucapku sambil memutuskan sambungan telfon ini.
"Huft ...."
Aku melepaskan napas berat sambil melihat ponselku yang sudah tidak ada suara mama lagi.
Mama selalu saja seperti ini, selalu ingin didengarkan apa yang ia katakan. Selalu ingin menang sendiri dan tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan.
Aku bergegas membereskan semua barang-barangku yang berantakan di atas meja kerja ini. Kemudian, aku bergegas keluar dari kantor.
Jika aku masih belum pulang juga, maka mama akan datang sendiri untuk menjemputku.
Awalnya, aku tidak merasakan ada yang aneh, saat aku keluar dari halaman kanto menuju jalan raya. Semuanya wajar-wajar saja. Namun, aku dibuat kaget saat aku sudah berada di jalan yang agak sepi dan sangat minim kenderaan berlalu lalang.
Sebuah mobil yang berwarna sulver tiba-tiba memotong lajunya mobil yang aku kendarai. Sopir pribadiku yang melihat ada kendaraan lain yang menghadang, cepat-cepat ia menginjak rem mobil. Membuat tububku sedikit terlonjak kedepan.
"Aduuuh, ada apa sih pak?" kataku dengan sangat kesal.
"Ada mobil di depan tuan muda, maafkan saya, saya harus menghentikan laju mobil kita," ucap sopir itu dengan rasa bersalah.
"Siapa sih pak? Kok bisa tiba-tiba berhenti di sana."
Belum juga sopir itu menjawab apa yang aku katakan. Orang yang berada di dalam mobil itu keluar.
Empat orang bertubuh besar dan kekar, keluar dari mobil itu. Badannya penuh dengan otot-otot dan bertato di bagian lengan kiri, tato yang bergambarkan tengkorak manusia.
Itu sukses membuat aku sedikit kaget dan membuat nyali perempuanku bangun akibat takut.
"Celaka tuan muda, itu adalah geng tengkorak yang sangat jarang memperlihatkan wajah mereka. Sekali mereka memperlihatkan emwajah mereka, maka kita akan bernasib sangat buruk," kata sopirku dengan sangat ketakutan.
Ya tuhan, dari nada bicara sopirku saja sudah bisa aku tebak, kalau saat ini, ia sangat takut. Jangankan untuk melawan mereka, untuk keluar saja adalah hal yang mustahil dilakukan.
"Kita tidak pernah menyingung mereka pak, kenapa mereka malah menghadang mobil kita."
"Saya juga tidak tahu tuan muda."
Bruuukkkk
"Keluar kalian!" kata salah satu dari empat orang itu sambil nemukul pintu mobil belakang.
Dari nada bicaranya saja, sudah sangat membuat aku mati kutu. Bagaimana bisa aku menghadapi mereka? Apalagi jumlah mereka ada empat orang, bagaimana aku bisa melawannya satu persatu?
"Keluar! Keluar!" kata mereka sambil memukul pintu mobil ini dengan tangan kosong.
"Tuan muda, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang tuan muda?"
"Jangan cemas pak, biarkan saja keluar. Bapak kasih tahu anak buah kita, kalau kita punya masalah."
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe