Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang lebay...?
"Mas Fikri, sekarang rajin lembur Mas. Kenapa? Ada target baru?" tanya seorang sahabat bernama Alfin padanya.
"Eh, Fin. Ngga papa, pengen aja. Lagian, kamu kan tahu kalau saya adalah salah seorang kandidat untuk kepala cabang yang baru. Jadi, tahu lah maksudnya apa." lirik tajam Fikri pada Alfin.
Mereka saling tertawa, tapi saling lempar dukungan untuk setiap pekerjaan mereka masing-masing.
"Nanti, kalau Mas jadi kepala cabang, pasti bakal makin sering LDR sama Mba Is, gimana tuh? Apa betah?"
"Demi masa depan, Fin. Gimana lagi? Itu semua dilakukan demi anak dan istri." jawaban paling munnafik yang Fikri berikan pada rekannya. Seolah Ia adalah peria paling setia dan paling bertanggung jawab di dunia ini.
Mereka mengahkhir percakapan, dan memulai pekerjaan lagi. Begitu banyak setoran kelapa sawit dari para petani yang sedang di setorkan. Apalagi, harga sawit sedang melambung tinggi, sehingga menambah antusiasme mereka untuk memanen sawitnya.
"Benar-benar lembur hari ini." gumam Fikri, yang melihat antrian mobil pembawa sawit yang begitu panjang.
Hari ini Fikri ingin benar-benar meliburkan diri dari fikiran beratnya. Dari memikirkan Isti, hingga Naya. Bahkan Ia mematikan Hp dan meninggalkannya di ruangan. Ia ingin tenang dari semua huru hara yang Ia buat sendiri.
Sementara itu ditempat kerjanya, Naya sedang begitu gusar menanti kabar dari sang suami. Prasangka demi prasangka hadir didalam kepalanya. Ia berfikir yang tidak-tidak, antara Isti dan Fikri seharian ini. Meski Ia sadar, mereka adalah pasangan sah, tapi Naya sakit ketika membayangkan kebersamaan mereka.
"Nay, jaga hatimu Nay. Kamu itu istri kedua dan bahkan hanya istri siri. Masih untung kamu ngga langsung di buang sama Mba Isti, meski harus terima jika tertekan batin." gumam Naya, dengan terus memainkan Hpnya.
"Tapi, sakit... Sakit sekali rasanya terus seperti ini. Aku ingin seperti dia, ingin diperlakukan adil, dan menerima apa yang dia terima. Aku ingin semua sama rata." imbuhnya.
Sifat egois Naya mulai muncul ketika Ia sendiri. Perasaan ingin memiliki Fikri, di akui didepan umum dan keluarga Fikri, mendapatkan hak yang sama dengan Isti atas semua gaji dan keuangan. Ia ingin pernikahan itu di sahkan secara negara, dan ingin bebas kemanapun dan bergandengan tangan mesra dengan sang suami. Tanpa harus takut dilihat rekan kerja, anak, bahkan dibantai mentalnya oleh Isti.
"Mba Is memang terlihat tenang. Tapi, Ia langsung menyerang ke mentalku dengan kata-katanya yang penuh makna itu."
...*~*...
Sore datang dengan terang benderang. Mengiringi peluh yang menetes di kening, wajah dan bahkan tubuh Fikri. Kemeja yang Ia pakai sampai basah dengan peluh yang mengalir begitu deras itu. Tapi ini bukan kali pertama, Ia sudah sering kali mengalami ini semua, terutama ketika sedang di lapangan.
"Fin, istirahat mandi dulu deh. Gerah banget." ujar Fikri pada sahabatnya itu.
"Iya, Mas. Mandi aja duluan." sahut Alfin yang sedang sibuk dengan catatannya.
Fikri pun melambaikan tangan, lalu pergi meningalkan Alfin menuju ruang kerjanya. Ia masuk, dan mengambil handuk yang sudah Ia sediakan di dalam tas, bersama beberapa pakaian yang memang sudah di persiapkan Isti untuk gantinya selama lembur. Kurang apa Isti, wanita yang begitu smepurna, bahkan tanpa celah kekurangan sama sekali itu. Hingga Fikri masih saja bisa menduakan hati yang telah di jaganya selama ini.
Fikri duduk sejenak di kursi, dan mencoba menelpon Naya yang daritadi berusaha menelponnya.
"Iya Mas, kenapa?" tanya Naya.
"Kenapa nelpon terus?"
"Salah? Aku mau tahu kabarmu aja, sedang apa disana, sama siapa?"
"Kamu fikir aku dimana? Aku di pabrik sekarang, lemburan." jawab Fikri, dengan sedikit nada judesnya.
"Mas, kok gitu jawabnya. Aku cuma khawatir, Mas."
"Yasudah, ngga usah sedih. Mas cuma capek aja, mau mandi."
"Iya...." jawab Naya, dengan nada yang sedikit lemah. Mungkin sedih dengan nada bicara Fikri barusan. Entahlah, manja atau hanya mulai protektif saja pada suaminya. Tapu manja itulah, yang sering di elukan oleh Fikri, menjadi pembanding antara dirinya dan Isti.
Beralih dari Naya, kini Fikri mengetik nomor Hp Isti dan menelponnya. Berharap, mendapat sambutan dan doa yang manis seperti biasa, yang menghilangkan semua rasa lelah di tubuhnya
"Hallo, Assalamualaikum.." jawab Isti, dengan ramah. Sudah di pastikan, jika Zalfa sedang ada di dekatnya.
"Is, lagi apa?"
"Lagi main sama Zalfa, kenapa? Mau ngomong sama dia?" tanya Isti.
"Mau ngomong sama kamu, Is. Bisa kan?"
Isti pun beralih sebentar dari Zalfa, dan menitipkannya pada sang Nenek. Ia berjalan ke teras belakang tanpa menutup telepon itu, lalu melanjutkan bicaranya..
"Kenapa?" tanya Isti, yang kembali jutek padanya.
"Kamu tahu aku lembur?"
"Ya, tahu. Kamu lembur demi dia kan, demi mendapat tambahan untuk bisa menafkahi dia?"
"Demi kamu juga, Is. Demi keluarga kita semua, kenapa kamu maish berkeras hati. Aku capek Is, kamu giniin."
"Capek, Mas? Ceraikan aku. Kita akan hidup masing-masing, dan bahagialah kamu bersamanya tanpa harus berbagi rasa."
"Is.... Ah, sudahlah. Sampai kapanpun, aku tak akan melakukan itu. Dan kamu, jika kamu melakukan itu tanpa persetujuan dariku, maka Zalfa yang akan menerima kepedihannya. Zalfa akan tertekan ketika kedua orang tuanya hidup dalam ego masing-masing, Is."
"Ancamanmu, Mas. Kau tak juga menyadari, siapa yang egois disini?" ledek Isti, dengan senyum pahitnya.
"Kamu tahu, aku lembur. Kamu tahu, aku lelah. Kenapa tak sekalipun berusaha menanyakan kabarku, bagaimana keadaanku?" Fikri mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa harus bertanya? Aku sudah faham, aku sudah terbiasa, dan aku sudah tak lebai lagi dengan semua ini."
"Menanyakan keadaanku, kamu anggap lebai?" tanya Fikri, dengan nada emosi.
Terdengar ketika nafas Isti dihembuskan dengan kasar. Pertanda Isti mulai menahan emosinya saat ini. Ya, Fikri sudah mulai memancing lagi dengan pertanyaan yang seharusnya bisa Ia jawab sendiri.
"Mas.... Aku sudah pernah begitu perhatian padamu. Pernah begitu nengerti dirimu, bahkan melakukan apapun yang kamu mau. Untuk apa? Menjaga hubungan kita, rumah tangga yang telah kita bina selama ini. Tapi apa?....."
"Is, jangan selalu mengungkit itu. Aku ingin kita bahagia bersama, tanpa adanya perkelahian seperti ini."
"Kamu memang tak pernah merasa, atau menyadari semua kesalahan yang telah kamu perbuat, Mas! Kamu tak ingin aku mengungkitnya, sementara kamu terus memancingku."
"Aku tak memancing, Is. Aku hanya meminta, terima semua ini. Aku tak ingin ada....."
"Perkelahian? Siapa yang mau berkelahi? Kamu merasa aku berkelahi dengannya? Kamu salah, Mas. Aku sama sekali tak mau berkelahi hanya untuk laki-laki seperti kamu."
"Ah, sudah lah Is. Aku tak mau bertengkar lagi denganmu." Fikri lalu mematikan Hpnya.
Isti benar-benar di buat geram sore ini. Amarahnya kembali memuncah, karena Fikri tak pernah bisa menyadari kesalahan yang telah Ia perbuat. Fikri tetap bersikukuh dengan keadaan ini, dan hanya bisa berdiri ditengah-tengah antara Isti dan Naya.
"Aku sudah tidak tahan, Mas. Aku sudah benar-benar jengah, Mas." pekiknya. Dan untung tak terdengar oleh Zalfa.
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya