sebuah lengan membawaku kedalam pelukannya entah kenapa ragaku tidak bisa aku kendalikan, aku menatapnya lelaki dengan manik coklat dengan rahang kokoh.
sentuhan demi sentuhan membuatku terlena, aku tidak bisa berbuat apa apa entah ada apa dengan tubuhku, aku menikmati setiap sentuhannya.
"egh"
hanya itu yang keluar dari mulutku, hingga sesuatu yang melesak masuk kedalam tubuhku aku hanya mampu menangis namun menikmatinya sangat menikmatinya.
hingga berita kehamilan menyebar membuatku tak bisa mengelak sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak aku inginkan menjadi tameng penghalang impian impianku untuk meniti masa depan yang indah dan cerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ranjang Tua
Mata Kena dan Rey beradu, rey menahan tubuhnya agar tidak jatuh di atas tubuh kena. Ranjang yang mereka gunakan untuk melepas rindu ternyata tidak tahan dengan gairah keduanya, alhasil merobohkan dirinya sendiri.
"non, itu suara apa?" tanya bi inah sambil mengetuk pintu diluar sana, sedangkan kena dan rey mencoba untuk bangkit, tubuh polos keduanya membuat suasana kikuk.
"mmm ngga apa apa bi" ujar kena dengan sedikit ragu.
"yakin? itu seperti suara yang patah atau roboh" seru ima, rey mengangguk tengkuknya yang tidak gatal.
"kamu sih rey" ujar kena sambil melayangkan tinjuan kecil ke lengan kekar itu.
"kok aku?" ujar rey tidak Terima.
"ya pokoknya salah kamu, ngapain pake keluarin tenaga extra kan jadinya begini" protes kena, rey mendesah pasrah bagaimanapun ia pemegang kendalinya tadi.
10 menit kemudian, Kena dan rey telah mengenakan pakaiannya kembali.
"nanti saya ganti tempat tidurnya" ujar rey saat membuka pintu sambil berjalan melewati bi inah dan ima yang berdiri di depan pintu kamar mereka dengan bingung.
"maaf bi, jadi rusak" ujar kena, semburat merah di pipi keduanya menandakan bahwa rasa malu tengah menyergap, Kena dan Rey saling pandang sedangkan bi inah dan ima yang penasaran langsung melebarkan pintu yang sedikit terbuka.
"ya ampuuun, kenapa bisa begitu?" tanya ima dengan wajah polos, bi inah yang telah berpengalaman sangat tahu apa yang baru saja terjadi di dalam sana.
"ma, ini mah atuh ancur" ujar ima, sambil melihat ranjang itu dengan teliti.
"nanti saya ganti" seru rey di luar sana, ima menoleh dan memicingkan bola matanya.
"emang abis ngapain sih? jendela di tutup segala" ujar ima sambil menyibak gorden dan membuka jendela kamar "ini lagi ranjang kenapa bisa begini"
"anak kecil di jelasin mana paham" ujar Kena kemudian, ima mendengus kesal.
"ih si tth, gini gini juga pengalaman ima teh banyak" ujar gadis itu tak mau kalah.
"oh ya? masa sih?" ujar kena menantang.
"sudah sudah, hayu beres beres nanti keburu sore" ujar bi inah menengahi, dalam hati perempuan tua itu penasaran seberapa hebatkah keduanya sampai ranjang miliknya hancur? atau memang ranjangnya saja yang sudah tua dan tak layak pakai, jadi harus di ganti.
setelah menepis pikiran yang berkelana di otaknya, bi inah melanjutkan kegiatannya mengemas barang barang yang akan dibawa kembali ke jakarta.
semoga setelah ini, tidak ada lagi kejahatan yang menimpa orang orang yang dicintainya..[]
"kok diem?" tanya rey saat melihat kena diam membisu.
"aku malu tahu ngga sih rey, masa tadi ranjangnya roboh kan ngga lucu" ujar kena dengan kesal, lelaki itu menanggapinya dengan tenang.
"yaudah mau gimana lagi" ujar rey membuat kena tambah kesal.
"kamu tuh ya, emang ngga punya hati! masa sih ngga ada rasa malunya" protes kena.
"ya aku malu, lagian kan mau gimana lagi sayang udah kejadian juga" ujar rey.
"lagian tadi kenapa sih heboh banget" protes kena kembali, rey mendekatkan wajahnya.
"terus yang teriak teriak minta cepet siapa?" ujar rey penuh kemenangan.
"ya, apa sih udah lah ngga seru" ujar kena lalu berbalik sambil melipat kedua tangannya.
"teh Kena, kita berangkat jam berapa kata ema?" tanya ima, rey menoleh pada kena.
"sekarang aja, jadi maghrib udah di rumah" ujar rey.
"ekhem, itu tadi ima nanya ke emak katanya di kamar teh kena ada gempa bumi? emang bener?" tanya ima penasaran, rey yang sedang menyesap teh miliknya tersedak.
uhuk uhuk
"loh, kok malah batuk?" ima menggelengkan kepalanya, perasaannya tidak ada gempa bumi hari ini, BMKG juga tidak menyiarkan berita apapun.
ah sudahlah...[]
lanjutkan