Setelah kedua orang tuanya wafat akibat insiden kecelakaan pesawat, Anya diasuh oleh mantan asisten rumah tangga mereka.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Anya tetap merasa bahagia bersama keluarga barunya, hingga tiba-tiba sahabat baik sang ayah datang mencari gadis itu.
Guna membalas budi akan kebaikan keluarganya dahulu, serta pengorbanan yang pernah Anya lakukan pada putra sulungnya, Maxim berencana menikahkan Anya dengan sang putra yang notabene adalah cinta pertamanya.
Akankah Anya mampu menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia? Terlebih ketika mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata berperangai kasar dan telah memiliki seorang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu.
Axton, Anya, dan Callista tiba di bandara untuk mengantar kepergian orang tua mereka.
"Kalian benar tidak ingin pindah ke rumah utama?" tanya Maxim sekali lagi pada Axton dan Anya. Pria itu memang menawari anak dan menantunya untuk pindah ke sana sekalian menemani Callista.
"Tidak, Pa. Kami hanya akan sesekali untuk menginap di sana." Jawab Axton yang langsung disetujui Anya.
Callista berkacak pinggang, "Sudah, Pa, aku bukan anak kecil lagi. Lagi pula rumah tidak akan pernah sepi!" katanya merujuk pada para asisten rumah tangga yang berjumlah belasan di sana.
Maxim mengalah. Pria itu sedikit memberi wejangan agar mereka saling menjaga diri, terutama Callista.
"Jaga istri dan adikmu, X, bantu Callista sesekali di kantor. Kau sudah berjanji, bukan?" Maxim menepuk pundak Axton.
Pria itu mengangguk. Ia memang sudah berjanji pada sang Ayah akan membantu Callista dalam mengurusi urusan kantor jika memang diperlukan. Namun, dengan syarat tidak menginjakkan kakinya di sana.
Mereka pun saling berpelukan. Anya memeluk erat ibu mertuanya sambil berpesan, "Mama juga harus jaga kesehatan di sana, ya?"
Theresa yang hari ini terlihat lebih pendiam hanya bisa menganggukan kepala.
"Jangan tidur terlalu larut ya, Ma. Jika malam telah datang, cepatlah tidur dan istirahatkan tubuh Mama, agar esok hari mentari menyambut Mama ....
" ... dengan senyuman manisnya."
Anya terhenyak. Gadis itu terkejut mendengar Theresa meneruskan kalimatnya barusan.
Kalimat itu adalah kalimat yang pernah dikatakan Theresa saat mereka pergi dari Indonesia dulu, dan Anya tidak menyangka Theresa masih mengingat hal tersebut.
Theresa sama terkejutnya dengan Anya. Wanita itu refleks meneruskan kalimat itu secara tidak sadar.
Keduanya pun saling bertatapan selama beberapa, saat sebelum akhirnya tertawa kecil.
Menyadari tingkahnya, Theresa kembali memasang wajah ketus seperti biasa.
Anya memeluk Theresa kembali. Ia tidak akan bertanya soal itu Ia tahu Theresa pasti tidak ingin membahasnya. Biarlah jika sang ibu mertua tidak mau mengaku tentang ingatan mereka dulu, yang penting Anya sudah tahu bahwa Theresa tidak pernah melupakannya.
Anya tidak tahu, bahwa kini Theresa tengah mati-matian menahan air matanya.
Selesai mengantar kedua orang tua mereka, ketiganya pun pergi. Callista kembali ke kantor, sementara Axton dan Anya pulang ke apartemen.
Di sepanjang perjalanan Axton mendapat telepon dari Ian untuk segera datang ke studio. Axton benar-benar lupa kalau siang ini memiliki jadwal pemotretan dengan salah satu brand pakaian ternama.
"Satu jam lagi aku akan ke sana. Aku harus pulang terlebih dahulu!" kata Axton karena harus mengantar Anya pulang dulu.
"Tidak ada waktu, 15 menit lagi kita harus mulai, X!" pekik Ian dari balik telepon.
"Ck! Bilang pada mereka aku akan terlambat sampai di sana." Axton menutup teleponnya.
Anya yang penasaran memutuskan untuk bertanya. "Ada apa, Kak?"
"Aku lupa ada janji hari ini."
"Oh, ya sudah kalau begitu, aku turun di sini saja dan pulang naik bus." Anya merasa tak enak hati jika Axton sampai terlambat karena harus mengantarnya pulang duluan.
"Tidak apa, aku akan mengantarmu dulu sampai lobi."
Telepon kembali berdering. Ian setengah berteriak menyuruh Axton untuk segera sampai di sana.
"Aku harus mengantarnya pulang dulu!" pekik A
xron tak kalah kesal.
"Terlalu lama, bro! Ajak saja Anya atau mereka akan memutus kontrak kita!" seru Ian sembari menutup teleponnya.
"Shit!" Perkataan Ian membuat Axton emosi. Pria itu tentu tidak ingin pihak brand memutuskan kontrak dan menggantikannya dengan orang lain. Kerjasama dengan mereka adalah hal yang sangat ia inginkan saat ini.
Mau tidak mau, Axton pun membawa Anya bersamanya.
"Diam dan ikut saja aku!" jawab pria itu ketika Anya bertanya mau ke mana tujuan mereka.
...*****...
Lokasi Studio Foto mendadak heboh ketika melihat kedatangan Axton bersama seorang gadis cantik yang mereka ketahui bukan Hana.
Beberapa wartawan yang memang menunggunya di depan studio kontan berusaha mendekati Axton untuk menanyakan identitas Anya.
Axton lupa akan hal itu. Ia dengan sigap menghindari kerumunan bersama Anya, dengan dibantu beberapa bodyguard yang Ian sewa.
Reaksi orang-orang di dalam studio juga tak kalah heboh saat melihat kedatangan mereka berdua.
Anya merasa ditelanjangi ketika sebagian besar kru menatapnya dari atas ke bawah sembari berkasak-kusuk. Ia jadi ikut memerhatikan dirinya, merasa bahwa pakaian dan dandanannya sama seperti biasanya.
Mendapat perlakuan demikian membuat Anya benar-benar merasa risih. Gadis itu tidak terbiasa. Ia ingin sekali pulang sendiri. Namun, mengingat banyak sekali orang di luar studio, Anya jadi mengurungkan niatnya.
Axton segera meninggalkan Anya kemudian berbisik pada Ian. Ian menganggukan kepala dan segera menghampiri Anya seraya membawa sebuah kursi.
"Duduk dulu Anya," tawarnya. Anya menerima kursi tersebut dan mengucapkan terima kasih.
"Maaf jika situasi ini membuatmu tidak nyaman. Ini hanya akan berlangsung sebentar. Kau bisa menunggu di sini atau berkeliling melihat-lihat sekitar guna mengusir kebosanan."
"Aku di sini saja," jawab Anya sembari tersenyum canggung.
Berkeliling di situasi seperti ini? Tentu Anya tidak akan melakukannya.
Ian tersenyum lalu menepuk pundak Anya. "Baiklah, aku tinggal dulu, ya?" Anya mengangguk. Pria itu kemudian pergi meninggalkan Anya setelah meminta air minum dan sedikit camilan pada salah satu office boy yang sedang berada di sana.
Sepeninggal Ian, beberapa orang gadis yang memakai id card menyapa Anya dan menanyakan identitas gadis itu. Mereka adalah staf yang bekerja di sana.
"Mbak. kalau boleh tahu, Mbak siapanya Kak X, ya?" tanya salah seorang gadis.
"Iya setahu kita, kekasih Kak X itu Mbak Hana." Seorang gadis lainnya mulai menimpali.
Suara gadis-gadis di sana pun mulai saling bersahutan satu sama lain. Mereka tidak canggung mengeluarkan tebakan akan identitas Anya. Bahkan ada yang dengan kurang ajar mengatakan bahwa dia adalah simpanan Axton.
Anya menghela napasnya, sedih juga mengetahui bahwa dia memang simpanan pria itu.
"Aku adiknya X." Jawab Anya kalem.
Gadis -gadis di sana terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Sepertinya Mbak berbeda sekali dengan Mbak Callista yang kita lihat," seloroh salah seorang gadis.
"Aku adik sepupunya." Jelas Anya yang kontan mendapat jawaban "oh" secara serempak dari mereka.
"Hei, bubar semua! Kalian menakutinya. X sudah siap, kalian bisa kembali bekerja!" Anya bernapas lega ketika melihat Ian datang sembari membawa nampan berisi beberapa kue dan sekaleng soda.
Para gadis itu kompak mengeluh sebelum akhirnya membubarkan diri.
"Terima kasih," ucap Anya meringis.
"Tidak masalah. Panggil aku jika butuh sesuatu," ujar Ian sembari meletakan nampan tersebut.
Anya mengangguk.
Pemotretan X dimulai. Anya menahan diri untuk tidak tersipu melihat ketampanan pria itu. Melihat sikap profesional Axton membuat Anya merasa bangga. Namun, perasaan itu sontak terganti saat seorang wanita cantik terlihat memasuki set dan bergabung dengan Axton.
Anya tahu wanita itu! Ia adalah Cassandra Schwarz, model papan atas berdarah Jerman yang sedang naik daun. Kepopuleran wanita itu bahkan disebut-sebut mengalahkan Hana.
Sandra terlihat sangat memukau dengan gaun malam berwarna hitam yang membalut tubuh rampingnya. Gaun itu memiliki potongan dada sangat rendah serta belahan samping yang mencapai bawah pinggulnya. Tampak serasi dengan Tuxedo hitam yang Axton kenakan.
Dalam sekejap Axton dan Sandra berpose sangat mesra.
Anya kontan membuang muka, ketika melihat tangan wanita itu masuk ke dalam Tuxedo Axton dan bertengger di dadanya. Sementara itu tangan Axton memegang paha Sandra yang terbuka dan mendekapnya mesra.
Anya mengembuskan napasnya beberapa kali guna menghilangkan rasa panas yang hinggap di dadanya. Gadis itu paham jika yang Axton lakukan hanyalah tuntutan pekerjaan. Toh, ia juga bukan siapa-siapa bagi Axton. Jadi seharusnya ia sudah terbiasa melihat hal-hal seperti itu, mengingat Hana pasti melakukan hal yang lebih bersamanya.
Akan tetapi, Anya tidak bisa menyangkal jika saat ini ia merasa sangat cemburu.
"Hei!" Sandra menyadarkan lamunan Axton yang tengah memandangi seseorang di kejauhan. Tangan Sandra yang semula berada di dada Axton merambat mesra menuju leher dan pipinya. Wanita itu mengarahkan wajah Axton agar kembali bertatapan. "Fokus," bisik Sandra seraya tersenyum.
Axton kembali fokus dan berpose lebih mesra.
Semangatt terus berkarya nya 💪💪💪💪