IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan pernah menyebut namanya lagi!
Maria kini sedang melajukan mobilnya dengan lambat, sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Setelah lima belas menit berkendara, Maria melihat kedai bakso di pinggir jalan.
Kedai bakso itu terlihat sederhana, tapi pengunjungnya cukup ramai. Maria menepikan mobilnya, setelahnya dia mengajak Aksa untuk masuk ke kedai bakso tersebut.
"Kang, baksonya dua ya. Sama es teh manisnya dua," ujar Maria memesan.
"Siap, Neng," ucap Kang bakso.
"Mau pesan yang lain lagi, gak?" tanya Aksa dengan perhatian.
Siapa tahu wanita itu ingin memesan makanan yang lainnya, atau mungkin mau memesan minuman yang lainnya. Karena selain bakso, di sana juga ada mie ayam, ada juga berbagai minuman yang dijual.
"Tidak usah, itu sudah cukup," jawab Maria.
"Oke, kalau begitu kita ke sana saja." Aksa menunjuk tempat duduk untuk pembeli.
"Oke," ujar Maria.
Aksa dan Maria mencari tempat duduk yang kosong, lalu mereka memutuskan untuk duduk di bangku kosong yang ada di bawah pohon. Hanya menunggu lima menit dua mangkok bakso dan dua gelas es teh manis sudah diantarkan.
"Wangi ya, Sayang. Kayaknya baksonya enak deh," ujar Maria.
"Sepertinya begitu, ayo kita racik," ujar Aksa.
"Siap, Sayang," jawab Maria.
Aksa dan Maria mulai menambahkan saos dan sambel pada bakso mereka, setelah itu Aksa mulai memasukan satu sendok penuh bakso ke dalam mulutnya. Dia mengunyah bakso tersebut sambil memejamkan matanya, Maria tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya.
"Enak?" tanya Maria.
"Enak, Sayang. Kamu coba sendiri deh," ucap Aksa sambil menyuapkan kembali baksonya.
"Kamu tuh laganya kaya orang yang sering makan bakso aja tau nggak?" ucap Maria.
"Dulu sih sering, kalau gak salah, terakhir kali aku makan bakso itu saat kelulusan SMA. Tapi ini beneran enak loh baksonya," ucap Aksa.
"Iya aku tahu," ucap Maria membenarkan, karena dia sudah mencoba baksonya dan rasanya memang enak.
Saat sedang asik makan, Maria menolehkan wajahnya ke arah belakang, dia melihat seorang wanita yang dengan tekun menyuapi gadis kecil di hadapannya.
Maria tersenyum. "Yang, lihat sana deh. Anak kecil itu gemesin banget, kalau dia adik aku, pasti aku akan bawa dia ke mana mana." Maria menatap gadis kecil itu dengan begitu gemas.
Aksa ikut menolehkan wajahnya ke arah mana Maria memandang, Aksa begitu kaget karena ternyata garis kecil yang dimaksud oleh Maria adalah gadis kecil yang sangat disukai oleh dirinya.
"Icha!" ujar Aksa tanpa sadar.
Callista yang merasa namanya dipanggil langsung menolehkan wajahnya ke arah suara, lalu dia melambaikan tangannya.
"Om Aksa! Sini Om, makan bareng kita." Wajah Callista nampak berseri-seri kala menatap wajah Aksa, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang selalu bersikap baik kepada dirinya itu.
Aksa memandang Maria sebagai tanda meminta persetujuan, Maria menganggukkan kepalanya, karena jujur saja Maria juga ingin bergabung bersama dengan Calista.
"Makasih, Sayang. Karena kamu sudah mengizinkan aku untuk bergabung dengan mereka," ujar Aksa.
"Sama-sama, Sayang. Ayo kita makan bareng mereka," ajak Maria.
Akhirnya Aksa dan Maria membawa baksonya dan ikut bergabung dengan Najma dan Callista.
"Kalian makan bakso di sini juga?" tanya Aksa.
Baru saja Najma mau menjawab pertanyaan dari Aksa, tapi Maria sudah memotong ucapan dari Najma.
"Ehm! Kalian saling mengenal? Sejak kapan? Kenapa kalian terlihat sudah akrab?" tanya Maria dengan rasa keingintahuan yang besar.
"Iya, kami saling mengenal. Dia pemilik toko kue deket taman itu loh, nenek sama kedua orang tua aku sangat menyukai kue buatannya. Boleh dibilang, keluarga aku itu langganannya dia," jelas Aksa.
Entah kenapa Maria merasa cemburu saat Aksa mengatakan kalau pria itu mengenal wanita berkerudung yang ada di hadapannya, padahal rasanya Aksa tidak mungkin dekat dengan wanita itu. Karena mereka berbeda agama.
Namun, tetap saja dia ingin menjelaskan kalau Aksa adalah miliknya. Tidak ada wanita lain yang boleh memiliki pria itu selain dirinya.
"Oh, gitu! Kenalin, aku, Maria. Aku pacarnya Aksa," ucap Maria memperkenalkan diri. Tak lupa Maria juga mengulurkan tangannya ke hadapan Najma.
Najma dan Callista dengan senang hati menerima uluran tangan dari Maria, wanita itu tersenyum ramah dan langsung memperkenalkan dirinya.
"Najma," ucap Najma seraya membalas uluran tangan Maria.
"Aku, Icha, Tante." Callista ikut memperkenalkan dirinya, dia bahkan dengan sopan mencium punggung tangan Maria.
Ada rasa kagum di dalam hati Maria, karena anak kecil yang ada di hadapannya itu begitu sopan dalam bersikap.
"Waah! Selain cantik, kamu juga sangat sopan, Sayang. Tante suka banget sama kamu, kamu sama Kakak kamu sering makan bakso di sini ya?" tanya Maria.
Maria mengira kalau Najma adalah kakak perempuan dari Callista, bukan ibu dari gadis kecil itu. Karena dilihat dari sisi manapun, Najma terlihat masih sangat muda sekali.
Callista terlihat menekuk wajahnya, bibirnya kini terkatup seperti orang yang sedang kesal. Maria yang merasa heran langsung memandang Aksa dan Najma secara bergantian, dia seakan sedang meminta penjelasan.
"Najma itu Bunda-nya Icha, makanya Icha kesal saat kamu bilang Najma adalah kakaknya." Aksa menjelaskan, lalu dia menyesap kuah bakso yang terasa pedas dan gurih itu.
"Astaga! Maaf, aku kira kamu kakaknya Icha. Abis kamu terlihat masih sangat muda. Apa kamu menikah di usia dini?" tanya Maria.
"Aku menikah di usia dua puluh satu tahun, dan sekarang aku sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Rasanya aku tidak menikah terlalu dini, karena usiaku sudah cukup saat aku menikah."
Maria langsung membulatkan matanya dengan sempurna, bibir wanita itu bahkan terlihat menganga dengan begitu lebar. Dia tidak percaya jika Najma ternyata sudah berusia dua puluh tujuh tahun.
Wanita itu bahkan sampai memindai penampilan Najma dari ujung kepala sampai ujung kaki, wajah wanita itu benar-benar sangat imut sekali.
"Ya ampun! Kamu terlihat seperti abege, beruntung sekali sih kamu tuh. Kamu benar-benar terlihat begitu awet muda," ucap Maria dengan tatapan penuh kagum saat menatap wajah Najma.
Najma hanya memutarkan bola matanya dengan malas, dia merasa jika apa yang dikatakan oleh maria terlalu berlebihan. Aksa terkekeh geli melihat wajah Maria, sedangkan Najma terlihat kesal, karena lagi lagi di bilang seperti anak abege.
Najma malah hanya bisa diam, Aksa paham. Namun, Aksa juga merasa perlu merayu Callista yang saat ini terlihat sedang merajuk.
"Maaf ya, Sayang. Pacar Om nggak tahu kalau wanita yang sejak tadi bersama kamu adalah Bunda, kamu. Abisan salah Bunda kamu juga sih, kenapa dia memiliki wajah seperti baby," ujar Aksa.
"Mana ada kaya gitu," sangkal Najma.
Wanita kita selalu saja merasa kesal kalau ada yang menyebut dirinya memiliki wajah seperti bayi, wajah yang sangat awet muda dan tidak akan pernah tua.
"Jangan marah, kamu tuh sama aja kaya Icha. Sama-sama suka marah," ujar Aksa.
Najma hanya terdiam seraya menghela napas panjang, sedangkan Callista nampak kurang nyaman berada di di sana untuk waktu yang lama.
"Aku makannya udahan, Om. Icha pamit pulang dulu, sudah waktunya harus pulang soalnya."
Aksa pun menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, sedangkan Maria yang merasa gemas langsung menghampiri Callista dan duduk tepat di samping gadis kecil itu.
"Sayang, apa boleh Tante cium pipi kamu?" tanya Maria dengan gemas.
"Boleh dong, tapi bibirnya di lap dulu, aku lihat kuah baksonya merah banget. Pasti bibir Tante juga ikut pedes, aku takut nanti pipi aku malah kepanasan," ujar Callista.
Maria tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Callista, anak itu benar-benar sangat menggemaskan di mata Mari. Maria dengan cepat mengambil beberapa lembar tisu, lalu Maria mengelap bibirnya.
"Sudah bersih dari sambal, Sayang. Apakah sekarang Tante sudah boleh cium kamu?" tanya Maria.
"Boleh dong, di sini." Callista menunjukkan pipinya.
Maria yang merasa gemas langsung menghujani wajah Callista dengan kecupan, anak itu benar-benar sangat lucu dan membuat Maria jatuh hati.
"Makasih, Sayang. Kamu hati hati di jalan ya?" ucap Maria penuh perhatian.
"Iya, Tante. Assalamualaikum," pamit Callista dengan sangat sopan.
"Waalaikumsalam," jawab Maria.
Aksa langsung mengernyit heran, pasalnya itu adalah hal yang biasa diucapkan oleh orang yang beragama muslim. Kenapa Maria begitu paseh menjawab salam dari Callista, pikirnya.
"Kok kamu pandai bener jawab salamnya Icha?" tanya Aksa.
"Ya, aku sudah terbiasa mendengar Andrew mengucapkan kata itu di kampus. Memangnya kenapa, Sayang?"
Aksa langsung mendelik sebal, jika sudah mendengar nama itu, Aksa selalu saja kesal. Wajah pria itu bahkan kini sudah mulai berubah kesal.
"Onta lagi aja yang di sebut, bukannya aku sudah bilang kalau kamu ngga boleh lagi bahas dia!" Aksa menggerutu.
Maria langsung tertunduk melihat kemarahan di wajah Aksa. "Maaf, tapi aku nggak berniat ngomongin dia kok."
Maria hanya berniat menjawab pertanyaan dari Aksa saja, dia sama sekali tidak berniat membuat Aksa cemburu.
"Ck! Mending sekarang pulang aja, males aku tuh," ujar Aksa.
Aksa langsung bangun dan memberikan uang seratus ribu kepada kang bakso, saat hendak dikembalikan Aksa tak menerimanya.
"Ambil aja kembaliannya, Pak. Baksonya enak," ucap Aksa.
"Makasih, Bos. Makasih banyak," ujar Kang bakso.
Kang baso bahkan tak hentinya berterimakasih kepada Aksa, di saat zaman makin sulit, manusia semakin pelit, hutang kian melilit, tapi masih ada manusia seperti Aksa yang rela berbagi duit.
Selama perjalanan pulang, Aksa dan Maria hanya saling diam. Tak ada yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu, apalagi Aksa yang masih kesal karena nama Onta di bawa bawa saat mereka bersama.
Sampai di depan rumah Aksa, Maria tak segera membuka kunci pintu mobilnya. Dia ingin sebentar saja menahan kekasihnya, Maria tidak ingin pulang karena kekasihnya masih terlihat marah.
"Yang, maafkan aku. Aku janji gak akan menyebut nama dia lagi," ujar Maria penuh permohonan.
"Iya, aku mau turun. Kamu pulang aja sana," ujar Aksa.
Maria tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa, walaupun pria itu terlihat marah, tetapi dia yakin kalau Aksa marah karena begitu mencintai dirinya.
Maria benar-benar merasa gemas sekali saat melihat kekasihnya itu, terlebih lagi saat melihat bibir Aksa yang begitu seksi di matanya.
"Aku cinta kamu, Yang," ujar Maria.
Setelah mengatakan hal itu, Maria mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa. Lalu, dia mencium bibir Aksa yang bebas dari racun rokok, rasanya begitu manis sekali.
Aksa tentu saja tidak melewatkan hal itu, dia langsung membalas setiap pagutan dari bibir wanita itu. Cukup lama mereka berciuman, hingga Maria melepaskan pagutannya karena mulai kehabisan napas.
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji aku akan berusaha untuk tidak menyebut namanya lagi," ucap Maria mengulang janjinya.
"Hem! Jangan ulangi lagi, aku nggak suka."
"Iya, Sayang. Sekarang masuk sana, aku juga mau pamit pulang, takutnya keburu malam."
"Iya, Sayang. Hati-hati," ujar Aksa.
"Ya," ujar Maria.
Aksa langsung turun dari mobil Maria dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin menikmati kesendiriannya dengan melihat hamparan bintang dari balkon kamarnya.
Berbeda dengan Maria, wanita itu langsung pergi ke kediamannya karena memang waktu sudah sangat malam. Dia juga butuh waktu untuk beristirahat.
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he