Slowly Update!!
Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.
Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.
Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Semburan rasa kecewa yang besar membuat tubuh Meggy membeku ditempatnya berdiri. "Kau bilang, Rico sedang melakukan perjalanan bisnis?!" tanyanya dengan nada suara tak percaya.
"Benar Nona. Tuan berangkat sejak tadi pagi bersama Don" ucap Dion kepada Meggy yang tampak sedih.
Wanita itu padahal sengaja datang disela-sela jadwal syutingnya yang padat hanya untuk menemui kekasihnya. Rasa rindu yang menggebu membuatnya ingin sekali memberi kejutan pada sang tambatan hati. Alih-alih memberi kejutan yang indah, Meggy justru yang dibuat terkejut oleh ketiadaan kekasihnya di rumah. Meggy tidak tahu jika Rico sedang melakukan perjalanan bisnis.
Meggy terpaksa menelan pil pahit dari kekecewaannya. Ia mencoba untuk bersikap anggun dengan tidak menunjukkan raut wajah sedih pada pembantu Rico. Namun nampaknya hal itu percuma. Keheningan panjang diantara mereka telah membawa kabar sedih itu pada pemuda tangguh dihadapannya. Dion menatapnya dengan bola mata tak tega. Dan itu membuat Meggy semakin merasa kecewa.
Meggy menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. "Kemana dia pergi?" Satu-satunya cara meredakan kekecewaannya adalah dengan membuat pengalihan.
Dion seperti sedang berpikir. Ia menaruh kunci yang ia genggam di meja dekat pintu masuk rumah. "Tuan tidak mengatakan akan kemana ia pergi" sautnya lugas.
Meggy menggigit bibirnya karena kesal dengan jawaban pembantu itu. "Seharusnya kau tanya, bodoh!" Mendadak bentakan kasar meluncur dari mulutnya.
Dion sedikit terkejut. Namun akhirnya ia berhasil menguasai dirinya. Bagaimana pun juga yang berdiri dihadapannya adalah Meggy. Nona besar yang berprofesi sebagai aktris kenamaan dengan ego yang sama besarnya pula. Seharusnya ia tidak terkejut tadi. Toh bentakan seperti tadi sudah sering ia dengar.
Dion tersenyum dengan bijaksana. "Posisi saya hanya seorang pembantu, saya tidak berani mencampuri urusan majikan saya, Nona. Mohon Nona Meggy mengerti" Nada suara Dion ringan namun terasa tegas.
Meggy mendesah frustasi. "Sudahlah!" putusnya. "Jika Tuanmu datang, bilang padanya untuk segera menghubungiku. Awas jika kau lupa!" perintah Meggy sebelum ia membalikkan badan dan menghentakkan kaki meninggalkan teras depan rumah kekasihnya.
Dion masih berdiri menatap Meggy yang semakin mendekati mobilnya, bersamaan dengan itu ponselnya berdering.
"Halo Don. Nona Meggy baru saja pergi. Dia sangat marah ketika aku mengatakan Tuan sedang melakukan perjalanan bisnis," ungkapnya pada Don diseberang sana.
"Goodjob. Terus lakukan itu selama Tuan belum kembali ke rumah. Karena aku rasa, urusannya akan memakan waktu lebih lama kali ini" ucap Don sedikit ragu.
"Baiklah" sahut Dion sebelum ia menutup panggilan itu.
🍁🍁🍁
Wanita itu terlihat sangat lembut. Manik legam menelusuri tubuhnya dari jarak beberapa meter tempat wanita setengah Dewi tertidur. Gaun tanpa lengan membuat kulit halusnya tampak berkilauan. Menggoda tangan kasar lelaki yang duduk di kursi santai untuk berlabuh menyusuri kelembutan yang tiada duanya. Bola mata Rico hampir-hampir tidak berkedip menatap keindahan Ruma bagai lukisan Dewi Athena di daratan Yunani kuno. Sedikit pun tidak ada niatan dalam hati lelaki itu untuk mengganggu sang putri tidur. Lelaki itu lupa bahwa sebelum ia mendarat di Jakarta, janji bagai sumpah untuk membuat Ruma kapok berpikir mengenai kabur harus ia tunjukkan pada wanita itu.
Semua amarahnya hilang. Lenyap tertelan keanggunan sosok wanita cantik yang masih terbuai di dalam dunia mimpi. Rico berani bersumpah, tarikan nafas Ruma terdengar syahdu bagai tiupan seruling para pujangga. Membawa benak Rico mengawang oleh ilusi cinta yang maha dahsyat.
"Eehhmmm"
Erangan Ruma menyadarkan Rico dari keterpakuannya. Sorot mata lelaki tampan itu memperhatikan gerakan tangan Ruma yang terangkat keatas perlahan, sementara mulut mungilnya menguap dengan cara yang serampangan. Rico tersenyum geli melihatnya. Sikap apa adanya Ruma, entah mengapa memberikan sensasi hangat dalam dadanya.
Rico pikir sebentar lagi manik jernih itu akan terbuka setelah melakukan perenggangan otot tubuh tadi. Namun dugaannya salah. Ruma kembali terlelap. Teman tidurnya yang amat manis itu memiringkan kepala menghadap dirinya dan memilih tidur kembali setelah ia membuka mata kantuknya sekejap. Hanya sekejap, membuat Ruma tidak menyadari kehadiran Rico yang terus menatapnya seperti seorang pengganggu yang jahil.
"Manis sekali" gumam Rico yang melihat Ruma menguap dengan mata terpejam.
Lelaki itu masih mempertahankan tatapan matanya yang tajam namun hangat pada wanita cantik di pembaringan sana. Ia mengeratkan gerahamnya ketika ia menyadari betapa gila dirinya yang terpaksa berjuang sekuat tenaga untuk tidak mengusik Ruma dan melesakkan tubuh kekarnya pada kemolekan ragawi wanita itu. Aroma wanita jelita yang meruap dari sela pori-porinya dengan rona merah samar di bibir tipisnya cukup menjadi halangan terberat dari gejolak nafsu yang terasa kian merambati tubuh Rico.
Untungnya siksaan itu tidak berlangsung lama. Mata jernih tiba-tiba terbuka lebar. Ruma memicing demi memastikan sosok yang duduk sembari tersenyum ramah padanya. Kemudian tubuh indah itu tersentak kaget, ketika penglihatannya semakin jelas menangkap Rico sedang menatapnya dari kejauhan. Diam. Bagaikan mata predator yang sedang mengintai mangsanya.
"Se-sejak kapan kau disitu?" Ruma tergagap.
Belahan dada yang rendah dari gaun yang ia kenakan memberi Rico gambaran indah tentang dua buah payudara segar berukuran sedang dengan tingkat kekenyalan yang ia sendiri sudah pernah rasakan. Satu hal yang cukup memuaskan setelah perjuangan panjang menahan gejolak gairahnya tadi.
Ruma menarik selimbut sampai menutupi area dadanya. Dia tahu kemana mata legam terfokus. "Kau bilang padaku jika kau akan jarang datang kemari" ujar Ruma kembali.
Rico mengernyit. "Tapi kemarin aku juga mengatakan akan menuntaskan ciuman kita, begitu urusanku selesai. Apa kau lupa?" Rico menanya balik.
Ruma mencoba mengingat. Sementara Rico berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri posisi Ruma. "Lagipula, mengapa aku merasa kau begitu senang mendengar kita akan jarang untuk bertemu?!" selidik Rico.
Tubuh Ruma mulai menegang seiring langkah Rico yang semakin mendekat. Ia tidak menangkap pertanyaan lelaki itu dan malah menggeser tubuhnya ketika Rico mengambil tempat untuk duduk di tepian ranjang. Tempatnya tadi terlelap.
"Kemarilah" pinta Rico sambil mengulurkan tangan pada Ruma.
Ruma menggigit bibirnya dan menatap uluran tangan Rico. Ia merutuki khayalannya seputar Rico yang tidak akan datang dalam beberapa hari kedepan. Dengan keraguan, Ruma menyambut uluran tangan Rico. Rico langsung menggenggamnya erat. Halusnya jemari Ruma terasa menyenangkan dalam kepalan tangannya yang kokoh. "Aku sudah memberikan surat itu pada ayahmu" ucapnya pelan.
Kilasan rasa senang mencerahkan ekspresi Ruma dalam sekejap. Ia menatap dengan sinar terang yang tidak akan mungkin dapat Rico lupakan dalam jangka waktu lama. "Benarkah?" tanyanya antusias.
Rico mengangguk. Meskipun benaknya mengingat jelas isi surat itu, namun ia tidak ingin Ruma menyadari bahwa ia telah mengetahui apa yang wanita itu katakan melalui tulisannya. "Dia terlihat jauh lebih baik ketika aku memberikan suratmu" tambah Rico membuat Ruma semakin diliputi perasaan haru.
Seketika tubuh Rico berdesir. Ia merasa tidak ada yang lebih berisik saat itu melebihi berisiknya gemuruh di dalam dadanya pada saat jemari mungil Ruma meremas balik kepalan tangannya dengan sebelah tangan yang lain.
"Terima kasih, Rico"
Sialan! Suara semerdu nyanyian peri asmara yang berpadu dengan bola mata bagai mutiara membuat Rico kepayahan mengendalikan diri. Seketika Ruma memberinya semacam sihir menyebalkan dari lengkungan indah bibirnya. Rico merasa perlu menyudahi siksaan itu dengan merengkuh tubuh Ruma. Mendekapnya hingga wanita licik itu mendengar gemuruh gairah dalam dadanya.
"Berterima kasihlah dengan cara yang benar, sayangku" ucapnya seraya menarik Ruma untuk masuk dalam lingkaran dadanya yang bidang.
Aroma maskulin yang lembut langsung terendus oleh Ruma dari balik pakaian Rico. Wanita itu memilih untuk membiarkan lelaki yang kini melabuhkan bibirnya di pundak, melakukan apa yang ingin ia lakukan. Meski hatinya enggan menerima diperlakukan seperti wanita murahan, namun janji tetaplah janji. Dan Ruma ingat betul janjinya untuk tidak lagi menolak Rico.
Semuanya tampak berjalan teramat menyenangkan bagi lelaki yang terbuai dalam lautan hasrat birahinya sendiri. Entah sejak kapan tubuhnya sudah berada diatas tubuh Ruma yang berbaring gugup. Wanita itu merasakan tangan-tangan kekar Rico yang tidak tahu diri merayapi tubuhnya dengan serakah. Melintasi lingkaran pinggangnya yang ramping, menanjak pada bongkahan bukit kembar yang ia yakini menjadi tempat favorit lelaki itu berlabuh.
Senja semakin temaram saat kedua tubuh mulai terlucuti pakaiannya. Rico memeluk tubuh telanjang Ruma dengan bokong putih bersih yang sintal dari arah belakang. Posisi tidur menyamping, membuatnya dapat leluasa mengecupi garis punggung Ruma yang rapuh. Ah Ruma-ku sayang! Berapa kalipun bibirku berlabuh di setiap jengkal tubuhmu, mengapa rasanya selalu kurang dan kurang? Jimat apa yang tersemat dalam dirimu? Hingga aku merasa selalu haus akan sentuhan-sentuhan nakal pada tubuhmu yang anggun dan harum bak minyak kasuari.
Rico tenggelam. Tubuh keduanya bergerak seirama dengan kehangatan yang terus meningkat tajam. "Sayang, berbaliklah" pinta Rico dengan suara parau.
Ruma berbalik badan. Menghadapkan dadanya yang mencuat pada dada Rico yang kekar. Keringat membuat tubuh keduanya terasa seperti permen karet. Rico tersenyum ketika Ruma menundukkan kepalanya malu-malu. Rona merah semakin mempercantik tampilan vulgar wanita itu.
Rico merundukkan kepalanya sesaat. Kemudian dengan mata terpejam dan nafas memburu, ia berbisik pada Ruma. "Cium aku, Ruma. Aku ingin kau memulainya"
Jantung Ruma berdegub semakin keras. Diantara semua ucapan Rico padanya, ucapan yang tadi ia dengarlah ucapan paling membuatnya malu. Bagaimana caranya ia memulai, jika keinginan terpendamnya adalah menjauh dari tubuh menjijikan ini?
"Sayang ... Aku menunggumu"
Rico bedebah! Ruma tampak kalang kabut dalam diamnya. Perlahan ia mendongahkan kepalanya, menatap bola mata Rico yang sayu akibat gairah erotis yang belum sempurna terlepas.
"A-aku ..."
"Sssttt. Lakukan saja, sayang. Cium aku, sebagaimana aku sering mencium bibir indahmu" Rico menghentikan sanggahan yang hendak Ruma lontarkan.
Ruma menelan ludahnya. Tubuhnya meremang oleh karena gerayangan Rico yang tak juga berhenti. Kali ini tangan lelaki itu bergerak memutar di area sensitif Ruma. Sementara bola matanya masih menanti keberanian Ruma untuk memulai sesi percintaan yang memabukkan.
Ruma semakin tersesat dalam gairah erotis Rico yang besar. Jemari mungilnya terangkat lemah menggapai rahang Rico yang mulus tanpa bulu-bulu halus. Rico memilih memejamkan matanya, meresapi belaian selembut sutra yang membawanya terbang mencapai surga.
Bayangan keindahan senja lambat laun tergambar jelas dari pertautan bibir yang akhirnya terjadi. Ruma seperti pencium amatir. Bibirnya terasa lebih kaku daripada biasanya. Rico yang merasakan hal tersebut menyeringai gemas. Sejauh ini, Ruma telah berhasil menerima tantangannya. Masih banyak waktu bagi wanita itu untuk banyak belajar bagaimana caranya menyenangkan gairah kelelakian Rico.
Pada satu waktu yang tepat, Rico mengambil alih kendali. Ia membimbing Ruma untuk ikut masuk dalam gelora cinta yang membara. Cukup untuk membakar tubuh keduanya hingga melebur menjadi senyawa dopamin yang menyebabkan rasa bahagia muncul meski tubuh hangus terbakar.
Rico mengerang menyambut kematian. Keindahan Ruma melumpuhkan semua sendi dalam tubuhnya. Rasa senang yang menggebu memicu adrenalinnya untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam pada diri Ruma. Dan ia melakukannya! Membuat Ruma ikut mengerang ketika benihnya tertanam mulus di bagian terdalam tubuh menawan itu. Oh Tuhan, Sang Dewi itu mendesah! Desahan tersekat yang dapat dipastikan membuat malu siapapun yang mendengarnya.
Rico merundukkan kepala perlahan. Mengecup lembut kening, puncak hidung Ruma dan berlama-lama di bagian bibir yang merekah itu. Gairah birahinya tertumpah sudah. Menyisakan kelegaan bercampur bahagia yang begitu jelas terlihat dari wajah tampannya. Keduanya terengah di bawah sorotan senja yang semakin memudar. Lampu kamar belum dinyalakan, namun Rico dapat melihat dengan baik paras jelita Ruma yang berkeringat tampak berkilauan dibawahnya. Lelaki itu tersenyum hangat menatap Ruma yang memejamkan matanya.
"Kau tidak bisa lari dariku, sayang. Tidak akan bisa" ucapnya setengah berbisik sebelum ia menenggelamkan diri pada kehangatan tubuh wanitanya. Memeluknya dengan cara paling posesif yang belum pernah ia lakukan pada wanita manapun--kecuali Ruma.
🍁🍁🍁
bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌
mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.
krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.
sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya