Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.
Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.
Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.
Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.
Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.
Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernah Cium Disitu Nggak ?
Aldo berdiri di depan penginapan menunggu Gadhis dan teman-temannya pulang. Kesal sekali rasanya karena tadi dia harus berjalan ke rumah Pak Karun buat mandi. Benar-benar kurang ajar, tidak ada sisa air yang cukup buat dia mandi tadi pagi, jangankan buat mandi untuk buang air kecil dan buang air besar saja tidak cukup, sialan anak-anak itu.
Karena niatnya sejak awal untuk mendinginkan suasana dengan Gadhis yang semalam memanas dia memutuskan untuk menahan diri ketika melihat Gadhis berjalan bersisihan dengan Pria. Dan Gadhis yang dari jauh sudah melihat di depan rumah ada Aldo akhirnya berjalan mendahului Pria dan menggandeng Santi untuk berjalan di sisinya.
Pas di depan Aldo mereka berhenti. Aldo memasang senyumnya yang paling manis di hadapan wanita yang dicintainya, “sayang…bicara sebentar yuk.”
“Mau ngomong apa lagi, kalau mau ngajak bertengkar aku nggak mau.”
“Nggak ngajak bertengkar…yuk,” Aldo mengulurkan tangan dan menggerakkan telapak tangannya naik turun karena lama tidak disambut, “Ayo ya…please.”
Gadhis menyambut tangan Aldo setelah beberapa saat. Sebelum meninggalkan teman-temannya dia menoleh sekilas ke arah Santi.
“Jangan sore-sore baliknya,” pesan Santi pada Gadhis, “Mas, aku boleh ikut nggak, kita belum makan ini tadi,” ucap Santi setengah berteriak.
“Nggak…kali ini private.”
Santi mencibir melihat sikap Aldo, private apaan palingan juga modus ada maunya. “eling Dhis jangan mau diapa-apain.”pesan Santi sekali lagi kepada Gadhis.
Pria melangkahkan kakinya ke dalam rumah, disusul Sandy kemudian. Karena merasa ditinggal sendiri akhirnya Santi melanjutkan langkahnya menuju rumah Pak Karun. Seperti pasukan upacara bubar jalan semua menuju tempatnya masing-masing.
“Kenapa berhenti disini?” tanya Gadhis ketika mobil dihentikan di pinggir jalan.
“Nggak apa-apa, kebetulan ada tempat lapang untuk berhenti, pemandangannya bagus pula, biar kamunya adem sayang.”
Kedua makhluk Tuhan itu melangkah keluar dari dalam mobil. Mengambil tempat di sisi mobil yang menghadap ke area persawahan dengan pemandangan menakjubkan. Panasnya terik mentari berkurang karena desir angin yang menyejukkan. Padi yang mulai menguning menampilkan gradasi warna kuning dan hijau tua alami.
“Aku minta maaf,” kalimat Aldo mengudara membuka percakapan. “Aku sadar, sikapku kemarin kekanakan."
“Bukan sama aku harusnya mas minta maaf, tuh sama temen aku yang sudah mas kasih bogem mentah kemarin,” rasa jengkel Gadhis rupanya belum berkurang sedikitpun.
“Kamu masih marah?”
“AKu nggak marah, aku lebih merasa ke malu dari pada marah. Bisa-bisanya mas yang umurnya lebih tua dari kita, bersikap kekanakan dan nggak masuk akal.”
“Oke…oke, aku akan minta maaf. Jangan marah lagi ya…aku harus kembali sore ini. sekarang juga sudah masuk waktu dhuhur dan kita harus segera balik buat sholat. Tapi sebelumnya maafkan aku dulu, baru kita pulang hmm.”
“Aku mau maafin mas, tapi ada syaratnya.”
*Pasti syaratnya sesuatu yang nggak aku suka*, Aldo diam tak mau menjawab.
“Mau nggak…kalau nggak mau ya sudah aku nggak maksa juga kok,” Gadhis memutar tubuhnya meninggalkan tempatnya berdiri, belum sampai dia masuk ke dalam mobil Aldo menarik tangannya dan menahannya. “Baik aku akan minta maaf sama laki-laki sialan itu.”
“Nah gitu dong, itu baru calon suami aku,” *biarlah dia dibilang sialan juga*, *yang penting Mas Aldo mau minta maaf*.
Wajah Aldo yang awalnya ditekuk menjadi cerah ketika Gadhis merentangkan tangannya, “mau peluk nggak?” sebuah tawaran yang tak mungkin Aldo tolak tentunya. Benar kata orang kontak fisik yang dilakukan dengan pasangan setelah bertengkar sensasinya memang beda. Apalagi diselingi kecupan kecil antara mereka. Hati jadi tenang dan merasa lebih dekat secara batin.
Pertikaian hari itu selesai sudah. Meskipun dengan berat hati dan sedikit paksaan Aldo akhirnya bersedia meminta maaf kepada Pria. Memang benar kata orang pintar. Laki-laki itu memiliki sisi kekanakan lebih kuat dari seorang wanita. Ada pula yang mengatakan kalau seorang perempuan itu tingkat kedewasaannya lima tahun lebih tua dari lelaki. Meskipun itu tidak sepenuhnya benar, karena kedewasaan terbentuk dari bebagai faktor.
Sore yang tenang, Aldo sudah berangkat balik ke kota sejak usai sholat Ashar tadi. Sekarang tinggal Gadhis dan Santi duduk berdua di teras. Risa sepertinya janjian sama teman ekonominya untuk memberikan bimbingan kepada penduduk desa pembuat jenang. Pak Karun dan Bu Karun sedang pergi menghadiri undangan acara keluarga di desa sebelah.
Dua gelas teh hangat dan beberapa makanan ringan berserak di atas meja. Paling asik memang suasana seperti ini, menikmati teh hangat dan makanan kecil bersama seorang sahabat. Memandang bintang yang tersebar seperti butiran permata di langit karena cuaca cerah. Ditambah dengan cahaya bulan yang menerangi gelapnya malam.
“Tinggal beberapa hari lagi kita disini, kita harus mulai membuat laporan untuk disetorkan ke kampus.”
“Hmm…aku sudah mulai membuat laporannya kok, mungkin tinggal revisi sedikit.”
Keduanya berjanji untuk saling bantu menyelesaikan laporan penelitian tindakan kelas yang harus mereka buat. Mulai besok mereka akan praktik menggunakan metode pembelajaran lain untuk tugas milik Santi. Kalau kemarin-kemarin Gadhis yang mengetik laporan. Besok Santi yang akan mengetik laporan dan Gadhis membantu menyiapkan alat peraga sebagai media belajar.
“Maaf, tadi kamu harus menyiapkan alat peraganya sendiri,” sesal Gadhis karena tadi siang dia banyak menghabiskan waktu bersama Aldo.
“It’s ok…toh media belajarnya gampang kok. Aku sudah siapkan permennya dan beberapa kaleng kosong untuk pembelajaran hitung sederhana besok.”
Gadhis memeluk pundak Santi dari samping, “Kamu memang yang terbaik.”
“Masalahmu sudah selesai sama mas Aldo?”
“Sudah, tapi masih ada yang ganjel gitu di hati.”
“Apa lagi, kan semua sudah diselesaikan tadi. Mas Aldo juga berbesar hati mau minta maaf.”
“Bukan itu, beberapa minggu terakhir, aku merasa mas Aldo berubah, seperti ada yang disembunyikan gitu. Ada banyak waktu aku merasa kehilangan Mas Aldo yang dulu. Mas Aldo yang dewasa dan tenang, beberapa kali juga aku merasa dia nggak nyaman ketika aku peluk, entah kenapa.”
“aku boleh tanya nggak?” Santi tampak seperti ragu-ragu bertanya tetapi kelihatan kalau sangat ingin tahu. “hmm…tanya aja?” balas Gadhis tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.
“Begini…aku cuman tanya, kalau nggak mau jawab gak papa kok. Asal kamunya jangan marah.”
“Iya tanya saja.”
Santi menarik nafas panjang sebelum mengucapkan pertanyaannya, “Aku sudah sering melihat kalian berpelukan, kalian juga beberapa kali kepergok sama aku saling kecup pipi. Pertanyaannya…kalian pernah cium di situ nggak?”
“Di situ mana?” Gadhis mengalihkan pandangan dan menatap Santi sambil mengerutkan alisnya,
“Tuh…kamu janji nggak marah loh…ciuman di situ.” Santi melanjutkan kalimatnya sambil berkali-kali memonyongkan bibirnya di depan Gadhis.
“Santet…sialan kamu, ya enggak lah…cium pipi no bibir. Biar nanti aku berikan semuanya ketika sudah nikah.” Gadhis memukul beberapa kali pundak Santi.
“Kadang aku ngebayangin kalian ciuman di situ sambil tangan kemana-mana, lidah kemana-mana,” Santi menggoda gadhis sambil mengangkat tangannya di udara seperti sedang memeluk seseorang dengan gerakan telapak tangan meremas sesuatu, ditambah lagi gerakan kepala yang bergerak ke kanan dan kiri plus bibirnya yang monyong kemana-mana.
Gadhis yang melihat tingkah Santi jadi tertawa terbahak dan berteriak, “Santet….dasar dukun mesum.” Yang diteriaki berlari masuk ke dalam meninggalkan semua sampah dan gelas sisa teh di teras depan. Disusul Gadhis dengan tawanya yang masih mengudara.
Ingat ya…pacaran jangan berlebihan, karena sesungguhnya pacaran itu terlarang. Setiap ada laki-laki dan perempuan berduaan pasti ada setan yang niupin telinga biar manusianya mencoba sesuatu yang iya…iya. Kalau setannya seperti Santi sih boleh lah. Setan mesum yang tak pernah lupa mengingatkan sahabatnya untuk selalu menjaga diri dan kehormatannya.
semangat
lanjut
aku suka ceritanya