Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.
Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Di Rumah Sakit
Di rumah sakit, Abian mengusap kasar wajahnya terduduk di ruang tunggu dengan mata yang benar-benar emosi.
Bram berdiri setia menunggu Tuannya di samping, ia juga sebagai seorang ayah tentu paham kekhawatiran pada anaknya jika mengalami hal yang sama seperti Abian.
"Bram, bagaimana?" tanya Abian tanpa mau memandang wajahnya.
"Semua sudah bergerak Tuan, saya akan segera memberikan kabar pada anda Tuan." tutur Bram.
"Abi, bagaimana Rabian? dimana dia apa yang terjadi?" Indira yang baru saja tiba begitu tampak panik, ia segera masuk ke dalam pelukan suaminya.
Belum sempat Abian menjawab, matanya melirik darah yang sudah menetes begitu deras di kaki istrinya. Meski Indira memakai pembalut namun sepertinya saat ini ia mengalami pendarahan karena pikiran dan gerakan yang tidak sadar ia lakukan.
"Sayang, kau pendarahan." Abian segera berdiri dan menggendong istrinya.
"Dokter, suster tolong istriku." Abian berjalan bolak balik dengan menggendong Indira tanpa tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
Kepanikannya membuat dirinya tidak bisa berpikir tenang.
"Tuan, mari." Bram dengan cepat membawakan brankar untuk Indira.
Suster segera membawa Indira ke ruang periksa, "Bi, aku tidak apa-apa. Aku mau lihat anakku." ucap Indira.
"Bram jaga Rabian." pintah Abian tanpa memperdulikan perkataan Indira lagi.
"Baik, Tuan." sahut Bram patuh.
Abian ikut mendorong istrinya menuju ruang pemeriksaan. Indira yang menangis histeris karena panik dengan anaknya tidak merasakan apa-apa hingga akhir ia kini mulai terlihat lemas dan perlahan matanya tertutup.
"Sayang." teriak Abian, namun suster sudah meminta Abian untuk berdiri di ruangan sementara mereka akan membawa Indira ke dalam.
"Kau akan menyesal telah melakukan ini." ucapnya .
Rabian yang baru selesai di periksa kini menangis di dalam ruangan itu saat membuka matanya. Terlihat tangan mungilnya terdapat luka akibat pecahan beling itu.
"Papah, Mamah." tangisnya terdengar dari luar ruangan.
Bram dengan cepat segera berdiri belum sempat pria itu masuk, Dokter sudah lebih dulu keluar.
"Permisi, Tuan. Pasien sudah sadar dan bisa di jenguk."
"Bagaimana keadaannya Dok? apa ada yang serius?" tanya Bram.
"Beruntung hanya luka yang tidak parah Tuan, hanya terkena pecahan beling saya sudah membersihkan sisa-sisa beling itu."
Dokter segera meninggalkan Bram dan seorang pria yang membawa Rabian dan Bi Qila ke rumah sakit.
Bram masuk ke ruang rawat Rabian, ia melihat Rabian menangis.
"Mamah, Papah, Bian atit." rintihnya seraya memperhatikan lengan yang banyak obat tertutup dengan perban kecil.
Karena takut ia kembali menangis lagi semakin kencang.
"Tuan muda Rabian, tenanglah. Uncle panggil Oma dulu yah." ucap Bram sembari mengelus lembut wajah bocah itu untuk mengeringkan air matanya.
Bram meraih ponselnya dan menghubungi Nyonya Ningrum.
"Baik, saya segera kesana sekertaris Bram."
Setelah mendapat telepon dari Bram, Nyonya Ningrum bersama Nyonya Veren segera di antar oleh supir di kediaman Abian.
"Gia, kau istirahatlah. Kami akan ke rumah sakit. Bibi tolong jaga Gia dan Raina yah."
"Baik Nyonya."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit. Di perjalanan Nyonya Veren segera menghubungi Tuan Kriss.
"Ayah, cepat ke rumah sakit sekarang. Rabian kecelakaan barusan."
Wajah Tuan Kriss mendadak tegang mendengar kabar cucunya kecelakaan. Segera pria itu tanpa ingat untuk mengakhiri panggilannya terus mendengarkan Nyonya Veren yang memberi tahu rumah sakitnya.
Pria tua itu sudah melangkah menuju mobilnya dan supir melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana nasib cucu kita?" tangis Nyonya Ningrum melihatkan tubuh yang bergetar.
Nyonya Veren memeluk tubuh Nyonya Ningrum keduanya saling memberi kekuatan sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
"Cucu kita anak yang kuat semoga Rabian tidak apa-apa." tutur Nyonya Veren.
"Iya kau benar, Rabian kuat." ucap Nyonya Ningrum.
Bram kebingungan saat ini, karena ia masih tidak bisa menenangkan Rabian yang ketakutan melihat lengannya terlebih lagi ingatannya tentang kecelakaan itu masih sangat jelas terngiang di kepalanya.
"Mamah, Bian atut."
"Tuan muda ayo tenanglah ada uncle di sini." tutur Bram mengusap pelan dada Rabian.
Kasihan sekali nasib sekertaris kurang pengalaman ini, saat keadaan tegang begini ia malah tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Abian juga panik melihat keadaan Indira yang tak sadarkan diri.
"Sayang, bangun." ucap Abian dalam hatinya tampak gelisah menunggu Dokter untuk menemui dirinya.
"Mami." ucap Abian mengingat Nyonya Ningrum.
Ia meraih ponsel dan menghubungi Nyonya Ningrum.
"Iya Abian," sahut Nyonya Ningrum.
"Mami cepat ke rumah sakit." ucapnya terisak.
"Iya Mami sudah di jalan ini. Kau tenanglah."
Abian tak mengatakan apa-apa lagi, ia segera mengakhiri panggilan itu dan kembali fokus menunggu kabar istrinya.
Nyonya Ningrum masih tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Indira. Ia hanya tahu tentang Rabian yang tak sadarkan diri.
Perjalanan menegangkan kini telah usai, tanpa menunggu supir membukakan pintu kedua wanita itu sudah melangkah cepat turun dari mobilnya.
Nyonya Ningrum saling menguatkan dengan Nyonya Veren, keduanya berlari kecil menuju ruang yang telah di beri tahu oleh Bram.
"Sekertaris Bram, bagaimana cucuku?" Nyonya Ningrum yang bertanya seolah menatap ke segala sudut ruangan itu, matanya mencari sosok Abian dan Indira.
"Oma." teriak Rabian menangis merengek minta di gendong.
"Sini sama Oma Veren sayang," Nyonya Veren segera meraih tubuh rabian karena ia tahu Nyonya Ningrum sedang tak bertenaga.
Nyonya Veren mencoba menenangkan Rabian. Ia mencium setiap beberapa luka yang ada di tubuh bocah itu. Sementara Nyonya Ningrum masih menunggu jawaban dari sekretaris Bram.
"Nyonya Indira sedang diperiksa, nyonya." tutur Bram.
Wajah Nyonya Ningrum dan Nyonya Veren tampak pias. "Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Ningrum panik.
"Nyonya sepertinya pendarahan, Nyonya." sahut Bram.
Kedua wanita itu membungkam mulutnya tercengang kaget.
"Astaga anakku." Nyonya Ningrum dan Nyonya Veren saling menatap sedih.
"Biar saya menemui Abian dulu." Nyonya Ningrum pergi dari ruangan Rabian.
Ia melangkah menuju ruangan tempat Abyan memeriksa Indira.
"Abian."
"Mami, Indira Mi."
Belum sempat keduanya berbicara panjang lebar kini dokter telah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" tanya Nyonya Ningrum.
"Pasien masih belum sadarkan sampai saat ini, tapi keadaannya tidak terlalu buruk. Sebenarnya pasien masih belum boleh untuk terlalu beraktivitas di luar ruangan, Nyonya."
"Istri saya tidak beraktivitas apa pun, Dok. Ini karena syok melihat anak saya kecelakaan barusan sampai ia tidak sadar jika bergerak begitu cepat."
"Baik Tuan, saya mengerti hal itu. Kalian sudah bisa menjenguk pasien."
"Terimakasih, Dok." tutur Nyonya Ningrum sementara Abian segera masuk menemui istrinya.
"Sayang," ucap Abian mencium punggung tangan istrinya.
"Indira, sadarlah Nak. Kasihan Rabian menangis." tutur Nyonya Ningrum.
Abian terkejut mendengar perkataan Nyonya Ningrum.
"Mami, Rabian sudah sadar?" tanya Abian.
"Iya, dia menangis mencari kalian." jawab Nyonya Ningrum.
Abian segera keluar dari ruangan istrinya ia menemui dokter dan meminta untuk memindahkan ruang rawat istrinya dan di satukan bersama ruang rawat Rabian.
Dengan segera dokter pun menyetujui permintaan Abian.
Tidak butuh waktu lama kini anak dan ibu itu sudah dalam satu ruangan, Indira masih belum sadar sementara Rabian sedang berada di gendongan Nyonya Veren.
"Mamah..." panggil Rabian meminta Indira untuk menggendongnya.
"Sayang, Mamah masih bobo jangan di ganggu yah." ucap Abian.
"Bu, Biar saya ambil Rabian." Nyonya Veren segera memberikan Rabian pada Abian.
Di ruangan itu Bram meraih ponselnya dan mendapatkan pesan dari anak buahnya. Mata Abian sudah tahu apa isi pesan itu.
Bram dan Abian saling menata paham. Hanya mereka berdua yang tahu tentang itu.
ika widya
semoga lbh seru y....😘