Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ren pun datang ke tempat biasa dia bertanding. King langsung mendatanginya " Wih boleh juga suara lu! " sergahnya langsung.
Ren pun mengernyitkan dahinya menanggapi omongan King " Ya elah lu terkenal men, gw liat lu nyanyi di cafe Moist " lanjutnya melihat Ren tampak bingung, King lalu menunjukan hpnya dan nampaklah disana Ren sedang mengisi suara di cafe Fay.
"Elah baru tau lu bang, dia mah kan jago segala-gala!" ucap Liam bangga.
King pun tertawa, menanggapi ocehan Liam, Ren tampak tak perduli, sedang Nuna pun melihat sosial medianya mencari video Ren itu.
"Lawan gw siapa bang malem nih!" tanya Ren.
"Si Romeo dia masih belom mo nyerah lawan lu!" King menyebutkan julukan dari lawan Ren.
"Elah belom kapok juga! kirain gw siapa gitu" Ren agak tak bersemangat saat tau lawannya, bukan apa-apa dia sudah pernah mengalahkan orang itu beberapa kali.
Ren pun kembali memenangkan pertandingan, hanya kali ini jaraknya dengan sang lawan tak terlalu jauh, ada kemajuan fikir Ren.
Ren dan para sahabatnya pun masih duduk di trotoar pinggir jalan menghabiskan malam dengan menonton pertandingan motor lainnya.
.
.
Ke esokan harinya adalah hari minggu, Ren bangun siang hari dan melewatkan sarapannya.
Setelah ia membersihkan diri Ren pun menuju ke bawah, untuk segera mengisi perutnya, samar-samar ia mendengar suara seorang gadis yang sedang berbicara dengan ibubya.
Ren hapal suara itu, lantas ia pun dengan segera menuruni anak tangga, benar saja itu adalah Fay, dia langsung menatapnya, dengan senyum yang sangat ceria.
Jantung Ren berdegub kencang, dia tak tau terbuat dari apa hati gadis itu, setelah perkataan kasarnya kemarin gadis itu tampak biasa saja, seharusnya saat ini dia menghindari dirinya, ini malah semakin mendekat.
"Hai Ren....baru bangun?" tanyanya sambil menopang dagu.
"Hemmm...." Ren pun hanya bergumam menjawabnya.
"Ada acara ngga weekend kaya gini?" tanya Fay lagi.
"Kenapa emang?" Ren balik bertanya.
"Gw BT sendirian!" keluhnya.
Ren gemas ingin mencubit pipi gadis di sampingnya yang menggembungkan pipinya menandakan dia memang sedang bosan.
"Owner apaan dah lu ini, bukannya cafe biasanya klo weekend rame? masa iya di tinggal ngayap" tukas Ren.
"Ishhh...rame sih, kan gw dah ada karyawan, masa iya bossnya ngga boleh liburan juga!" sergah Fay.
"Emang temen-temen lu pada kemana?"
"Mereka lagi pulang kerumah, makanya gw BT sendirian—"
"Jalan yuk Ren?" ajaknya Fay kemudian.
"Mo kemana? klo nge mall, apa ke salon ogah gw!" jawab Ren.
"Ya ngga lah, gw juga ngga terlalu seneng shoping kok, hemm...lu tau tempat yang asyik ngga buat di datengin?"
"Ada sih, yakin lu mau?" Ren memastikan.
"Ngga ke tempat aneh-aneh kan?" curiga Fay.
"Kagak lah! gw makan dulu ya, lu dah makan belum?"
"Udah, barusan"
Ren pun makan di temani oleh Fay, dia bingung kenapa dia tak bisa menolak keinginan gadis itu, apa dia mendengarkan nasihat ibunya untuk tak melukai gadis itu? gumamnya dalam hati.
Ren dan Fayre pun pamit ke Ibu dan Saka, Ren mengeryit saat gadis itu ternyata sudah membawa helm.
Fay yang tau Ren menatapnya bingung pun menjawab " gw sengaja beli tadi" cengirnya.
"Dah niat mo ngajak gw jalan ya?" jawab Ren.
Fay pun mengangguk dan segera naik ke motor Ren. Ren membawanya ke tempat yang belum pernah Fay kunjungi, jalan yang masih asri banyak sawah terbentang, Fay tidak tau di pinggiran kota ada pemandangan seindah ini, fikirnya.
Ren mengajak Fay ke tepi sungai yang pernah di datangi Nuna dan Liam dulu saat Nuna terluka oleh penolakan Ren.
Fay pun langsung berjalan ke jembatan dan duduk di ujungnya, sambil menurunkan kakinya.
Ren pun duduk di sampingnya sambil memberikan botol air mineral yang dia beli pada pedagang asongan di pinggir sungai.
"Gw baru tau ada tempat indah kaya gini di kota ini loh!" ucap Fay takjub.
"Ya lu maennya di kota mulu, ya taunya cuma mall sama permainan elit aja!"
Ren pun membukakan botol minum Fay, karena entah kenapa gadis itu selalu kesulitan membuka tutup botol.
"Lu sering kesini ya Ren?" tanya Fay.
"Ngga sering sih cuma beberapa kali"
"Sama siapa Ren klo kesini?" masih penasaran.
"Seringnya sendirian, tapi pernah sama temen-temen gw yang lain"
"Sama pacar?" bertanya dengan sedikit nada mengejek.
Ren pun menghadap Fay " lu mo tanya gw punya pacar kagak?" ucap Ren mengenai sasaran.
Fay pun tertawa " ya kali cowok keren kaya lu masa iya jomblo!" tukasnya.
"Serah!" sungut Ren.
"Eh serius lu kagak punya cewek Ren?"
"Kagak! gw ngga ada niat cari pacar buat sekarang mah!" jawab Ren.
"Jangan-jangan gw cewek pertama yang lu ajak kemari?"
"Yoi" jawab Ren singkat.
"Lu ngeledek gw jomblo kaya lu ngga jomblo aja!" seloroh Ren.
"Ishhhh.....bales gw lu!" Fay pun memukul lengan Ren yang berada di sampingnya.
"Gw boleh curhat ngga Ren?" Fay sambil menghela nafas.
"Gw pendengar yang baik, tapi gw ngga janji bisa kasih lu nasehat yang baik, toh hidup gw juga kagak bae-bae amat" jawab Ren.
"Lu temen cowok gw pertama Ren" Fay mulai bercerita.
"Gw ngga tau apa gw ini harus bersyukur dengan hidup gw, gw lahir dari orang tua kaya, tapi semua yang gw lakuin sama yang gw inginin semuanya di atur, seolah semua yang gw mau itu ngga ada yang bagus tau ngga!" curhatnya.
"Ren lu dengerin kan?" menoleh kesamping, berharap lelaki itu mendengarkan keluh kesahnya.
"Ngga semua orang seberuntung lu, ya mungkin ortu lu emang berusaha ngasih yang terbaik buat lu!" jawabnya.
"Yang terbaik buat gw ya gw yang tau dong Ren, seenggak nya nanya kek pendapat gw" entah kenapa Fay tiba-tiba menggebu-gebu.
"Gw mo tanya, alesan lu benerin mobil di bengkel gw, apa lu ngehindarin ortu lu?"
"Iya— bisa di pasung gw klo ampe bokap gw tau gw pernah kecelakan, dia overprotectif banget" keluhnya.
"Yakin lu klo ngga bakal ketauan?" tanya Ren serius, dia jadi sedikit faham kenapa reaksi gadis itu saat kecelakaan dulu begitu frustasi, bukan karena takut di marahi karena mobilnya rusak, toh dia sendiri sanggup membayar kerusakannya itu dengan membeli spearpart yang harganya lumayan mahal itu. Ternyata gadis itu takut ketahuan orang tuanya, apa segitu overnya orang tua gadis ini terhadap dirinya, gumam Ren.
"Gw ngga tau, klo suatu saat ketauan juga ya urusan nanti lah, yang penting gw nikmatin aja dulu kebebasan gw ini" ada nada terluka di akhir kalimat Fay, Ren tau itu.
Akhirnya mereka menceritakan hal-hal remeh tentang kehidupan mereka masing-masing.
Fay senang akhirnya dia memiliki teman yang jauh dari dunianya, dia bisa mengenal seseorang yang tak akan pernah ia temui di kehidupannya jika ia masih tinggal dengan orang tuanya, Dunia sangat luas dan ia bersyukur bisa melihat isi dunia yang lainnya.
.
.
.
...****************...
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti