Mengandung Unsur 21+ di pertengahan cerita.. Harap lebih bijak dalam memilih bacaan.
Andita, ia bernasib buruk pada pernikahan pertama dengan suaminya yang bernama Tio.
Hidupnya penuh dengan pengkhianatan dan kekerasan, dimulai dari hadirnya mertua tiri atau bapak tiri suaminya yang tidak beres. Hingga ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya juga menyimpan banyak rahasia.
Namun takdir Andita berkata lain. ternyata ia masih memiliki kebahagiaan yang menunggunya didepan, kebahagiaan yang teramat besar, Yaitu Rifqan suami Andita yang kedua.
Simak perjalanan hidup Andita selengkapnya di dalam novel yang berjudul PESONA suami yang kedua.
Jangan lupa follow Author ya, love you mmmuaachh..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELVI Ya Ya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rifqan mengaku sebagai suami Andita
"Rifqan?"
"Iya Andita, Kenapa?"
"Eum, boleh nanya?"
"Silahkan," Rifqan tersenyum tanpa menoleh, karena dia sedang fokus menyetir mobil.
"Kemaren itu.. waktu mas Tio menarik ku ke jalan, kenapa kamu tiba-tiba ada disana?"
"Oh, kebetulan aja. Aku habis pulang dari rumah teman yang ada di kompleks itu juga. Kamu ingat kan waktu kita ketemu ditaman.. Itu aku baru mau kerumah dia."
"Oh iya benar.. Terus, kenapa kamu mau menolong ku dari mas Tio. Nggak takut dapat masalah?"
"Andita, aku paling nggak bisa tinggal diam, jika ada wanita yang ditindas didepan mataku. Apalagi wanita itu juga pernah menolongku."
"Memangnya aku pernah menolong kamu Rifqan?"
"Iya, Kemaren itu kan kamu sudah mau meminjamkan handphone untukku."
"Ha ha ha.. " Aku tertawa melihat kearah Rifqan dan dia malah tersenyum melihat ku. Hingga membuatku ingin tertawa lagi.
"Ha ha.. itu kamu anggap pertolongan Rifqan?"
"Iya dong ! Andita.. sekecil apapun bantuan orang terhadap kita, hargai dia. Maka lain kali, dia akan membantu kita dengan hal yang lebih besar." Jawab Rifqan dengan begitu serius.
Apa yang dikatakan Rifqan memanglah sangat benar. Hingga aku pun merasa malu telah menertawakannya.
"Iya, Rifqan. Aku mengerti !"
"Ada yang mau ditanyakan lagi Andita? Putri kecil mau nanya apa sama om,"
"Ada.. Aku juga penasaran, bagaimana bisa kamu mengetahui semua tentang mas Tio dalam waktu kurang dari 24 jam. Aku saja yang sudah menikah dengannya selama 3 tahun tapi nggak tau apa-apa."
"Setelah kemaren itu aku melihat kamu diusir sama Tio. Pulang dari sana, aku langsung berinisiatif untuk menggali semua rahasia dia. Pertama, aku tanyakan pada teman ku yang tinggal satu kompleks dengan Kalian. Tio itu kerja dimana?"
"Terus?"
"Ternyata dia karyawan di perusahaan ku. Hal itulah yang membuat ku lebih gampang untuk menggali rahasia lainnya. Aku tinggal memberi perintah pada orang kepercayaanku untuk mencari teman terdekatnya Tio, dari sanalah semuanya terbongkar. Dan malamnya, aku langsung telvon pak Hardian untuk mengurus semuanya."
"Keren banget ya?"
"Iya donk seperti orangnya.. Putri kecil, om keren nggak?" Kulihat Mila mengangguk lalu tersenyum, entah dia tau atau nggak keren itu apa. Yang jelas Mila selalu merasa senang setiap kali berinteraksi dengan Rifqan.
"Ngapain kamu kebukit indah?" Tanyaku Karena sangat penasaran, apa sebenarnya Rifqan hanya mengikuti ku.
"Aku lahir dibukit indah ! kakek nenek ku juga berasal dari sana. Aku pindah kekota semenjak umur 3 tahun, Kamu sendiri Andita?"
"Oh, sama, hanya saja.. kakek nenek dan kedua orang tua ku sudah Almarhum. Sekarang disana tinggal rumah kakek saja yang dibiarkan kosong, dan beberapa kerabat dekat. Bedanya aku pindah ke kota setelah menikah dengan mas Tio."
"Yang sabar ya Andita, sekarang kamu tidak sendiri. Ada Mila dan aku."
"Apa?" kenapa kata-kata Rifqan barusan terdengar sedikit berbeda. Mungkin aku saja yang salah mengartikannya.
"Iya, Mila dan aku. Sekarang aku sudah menjadi teman kamu kan Andita. Apa kamu tidak mau mengakuinya."
"Hehe bukan seperti itu." Gawat, apa Rifqan bisa menduga kalau tadi itu, aku salah paham dengan kata-katanya.
Lagian, mana mungkin Rifqan memiliki niat yang lebih dari teman. Dia pemuda tampan yang masih lajang, sedangkan aku Janda satu anak dengan penampilan acak-acakan.
Andita.. Andita. mungkin karena Rifqan bersikap terlalu baik, Kamu jadi salah mengartikannya.
"Kenapa Dita? apa ada yang salah."
"Eum tidak.. Rifkan, kira-kira tempat tinggal kita dibukit indah itu dekat nggak ya?"
"Kalau dari perkebunan teh, rumah kamu ada dimana." Tanya Rifqan.
"Eumm, masih tinggal dibelakang Rifqan. Mungkin 5 atau 7 menit perjalanan. Kamu sendiri?"
" 2 menit dari perkebunan teh. Nggak jauh juga ternyata. Berarti nenek kakek kita dulunya itu tetanggaan ya. Hehe,"
Ucap Rifqan lalu tersenyum kearah ku. Entah kenapa aku jadi semakin senang melihat senyuman Rifqan.
"Andita.." Panggilnya dengan lembut.
"Iya Rifkan, ada apa?"
"Apa yang paling kamu rindukan dari kampung kelahiran."
"Kedua orang tua ku. Hanya mereka yang tulus menyayangiku. Dulu aku tidak merasa sendiri, karena kufikir ada mas Tio disampingku sebagai sandaran dikala senang dan susah. Tapi sekarang aku benar-benar merasa sendiri Rifqan. Maksud ku, didunia ini aku tidak punya lagi tempat untuk mengadu selain sajadah." Kutahan Air mataku dari mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maaf kan aku ya. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih. Kan tadi aku udah bilang, ada aku disini. Katakan apa saja yang kamu butuhkan, aku siap membantu." Ucap Rifqan yang sekilas membuat ku kembali merasa senang mendengarnya.
Tapi ada hal lain yang harus aku fikirkan. Aku nggak boleh egois, Jangan semata-mata memikirkan kebahagiaan ku sendiri. Karena itulah, mungkin aku malah harus menjauh dari Rifqan demi Mila.
"Rifqan, tidak mungkin aku merepotkan kamu terus. Kamu juga punya kehidupan sendiri. Malah lebih baik untuk kedepannya kita harus jaga jarak. Kamu tau kan Rifqan? sekarang aku ini hanya seorang janda. Aku tidak mau jika ada orang lain berfikir yang tidak-tidak terhadap ku, apalagi sampai timbul fitnah. Dan aku juga tidak ingin masa depan Mila jadi korbannya. Mulai sekarang aku ingin.. "
"Andita.. Apa aku harus menjauhi kamu dan Mila, Seperti itu kah?"
"Iya Rifqan. Jangan sampai tetangga disana membenciku, seperti para tetanggaku dulu membenci Hesty."
"Aku berbeda dari Tio Andita. Tio sudah punya istri, sedangkan aku tidak."
"Aku tau. Bukan maksudku kita tidak boleh berteman, tapi hanya menjaga jarak supaya tidak timbul fitnah. Kamu mengerti kan Rifqan apa yang aku maksud?"
"Iya, aku mengerti. Perlu kamu tau Andita. Apapun yang aku lakukan untuk kedepannya, aku tidak akan membahayakan kamu atau mencoreng nama baik kami. Aku janji."
"Iya Rifqan." Duh, aku jadi nggak enak dan serba salah sama Rifqan.
"Andita.. Aku minta maaf. Aku itu sudah terlanjur sayang sama Mila, Rasanya tidak mau dipisahkan lagi dari dia."
"Maksud kamu Rifqan?"
"Ma.. Ayil !" Ucap Mila yang sedang duduk dipangkuan ku hingga memotong pembicaraanku dengan Rifqan.
"Kamu haus ya sayang"
"Butan ma.. Tu !" Mila menunjukkan danau yang begitu indah lewat kaca jendela mobil. Jika sudah sampai danau ini. Artinya setengah jam lagi, kami akan sampai kekampung setelah 2 jam perjalanan.
Rifqan melambatkan laju mobilnya. Mungkin agar Mila bisa puas melihat danau itu. Kulihat Rifqan begitu senang melihat wajah Mila yang bahagia.
"Putri kecil.. kamu mau turun sama om? kita akan melihat danau lebih dekat." Rifqan mengelus kepala Mila sehingga membuat Mila mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Jangan Rifqan. Kita harus cepat-cepat sampai kesana. Ada hal penting yang harus aku lakukan."
"Okey baik. Putri kecil, lain kali ya kita main kedanau itu." Rifqan mencubit pelan pipi kanan Mila.
Setelah melewati jalan aspal yang sedikit berbukit, dalam waktu setengah jam. Kami akhirnya sampai juga ke kampung bukit indah. Benar-benar seperti namanya. Kampung kelahiran ku ini memang sangat lah indah. Dan udaranya sangat menyejukkan.
"Rifqan, lorong rumahku setelah melewati dua lorong didepan ya?"
"Baik, Eh.. bukannya di lorong itu, kalau kita jalan sampai ujung, nanti disana ada air terjunnya."
"Hehe benar, kamu pernah kesana ya Rifqan?"
"Pernah sama teman-teman dari kota dulu, waktu kuliah."
"Tapi kita kok nggak pernah ketemu ya? Padahal kamu sudah melewati rumahku."
"Ha ha.. belum waktunya Andita. Allah tau kapan waktu terbaik untuk mempertemukan kita."
Rifqan ini, bisa-bisanya dia menjawab seperti itu. Jawabannya terdengar sangat puitis, sehingga membuat hatiku luluh mendengarnya. Padahal dia bukan sedang merayuku.
Hmmm, aku nya aja kali udah lama tidak ada yang merayu. Mungkin karena itulah aku jadi selalu salah paham mendengar kata-kata Rifqan.
"Andita. kamu bengong lagi.. Kenapa hayo? Kita udah hampir sampai ini."
"Hampir sampai kah.. Hufft jadi deg-degan. Kira-kira temanku masih mengenalku nggak nih. Ah, untuk apa? Yang ada mereka hanya akan menertawakan aku karena status jandaku sekarang."
"Andita, dengar kan aku baik-baik. Kamu ini lucu banget. Jangan pernah malu dengan status janda yang kamu sandang. Kecuali status janda kamu itu kamu gunakan untuk hal yang nggak benar seperti siroti sobek. Sudah ya.. Semangat ! dan percaya diri. itu kunci hidup senang, tenang nyaman dan sukses."
"Hehe,, kamu ini Rifqan. bisa aja !" ku akui.. beberapa kali dibuat tersenyum dan tertawa oleh Rifqan, rasa sakit yang kumiliki rasanya mulai hilang perlahan."
"Andita sebentar ya. Aku mau masuk ke warung dulu nggak lama cuman 2 menit. Kalian mau ikut?"
"Tidak Rifqan, Kamu aja."
"Okey." Rifqan menghentikan mobilnya lalu turun dan menuju kewarung.
"Ma.. Miya yapal."
"Nanti ya sayang? Ini mau nyampe rumah. Nanti mama masak dirumah ya?"
Mila memang tidak pernah membantah. Tapi wajahnya terlihat sedih. Mungkin karena sudah benar-benar lapar setelah menempuh perjalanan 2 jam lamanya.
"Yasudah.. kita kesana sekarang ya nak." Aku tidak sanggup menatap wajah Mila yang terlihat sedih, Akhirnya akupun menggendong mila turun dari mobil dan menuju kewarung.
"Eh.. putri kecil. Ini om sudah beli nasi kok buat kita makan. Ada kueh juga nih buat Putri kecil." Mila tersenyum lebar lalu mengambil kue yang dikasih Rifqan.
"Bilang apa dulu sama om Rifqan."
"Maacih, om.. yihcan"
"Ha ha .. kamu sebut om apa barusan sayang?" Tanya Rifqan yang terlihat semakin akrab dengan Mila.
"Om Yihcan." Sahut Mila kembali dan tersenyum malu.
"Hehe kamu ini.. sini putri kecil biar digendong sama om aja ya." Rifqan mengecup pipi Mila lalu dia mengambilnya dari gendongan ku.
"Eh, ternyata kamu Andita. Tadi Mak pikir siapa?" Ucap pemilik warung itu yang biasa dipanggil Mak.
"Iya Mak.. Mak apa kabar, sehat-sehat aja kan?"
"Alhamdulillah sehai. Bentar ya Andita.. ini nasinya lagi Mak bungkus."
"Iya Mak nggak papa.. Nggak usah buru-buru."
"Andita, Ini suami baru kamu, tampan sekali ya? Kamu semakin pintar aja mencari suami.." Mak warung itu tersenyum genit kearah Rifqan.
"Eh Mak.. Aku itu.."
"Iya Mak benar.. Doakan kami ya?" Sahut Rifqan dan memotong pembicaraan ku.. Lalu
dia mengedipkan matanya ke arah ku.
"Oh iya.. Akan Selalu Mak doain, semoga kalian langgeng dan bahagia. Tapi Ini putri kamu Andita, dia lebih mirip suami kamu yang sekarang ya, sama sekali tidak mirip dengan suami yang pertama. Sebenarnya dia anak siapa Andita?" Tanya Mak itu seakan mencurigai kalau Mila hasil perselingkuhan ku dengan Rifqan. Bisa-bisanya Mak itu. Tapi benar juga, kuperhatikan kenapa Mila banyak kemiripan dengan Rifqan.
"Ehm ! Mak, cepetan ya bungkus nasinya. Kami buru-buru" Ucap Rifqan.
"Oh iya baik ! Andita.. tapi Mak senang lho melihat kamu yang sekarang. Sepertinya suami kamu ini jauh lebih baik dari suami yang dulu. Dari segala bidang." Ucap Mak itu lagi.
"He he iya donk Mak. Berapa semuanya?" Jawab Rifqan dan dia terlihat sangat senang.
" Semuanya 30 ribu saja. Jangan lupa mampir-mapir lagi ya? masakan mak sangat enak."
"Siap mak, ini kebalikannya di ambil saja." Rifqan membayar nasi itu dengan uang 50 ribu.
"Hehe terima kasih.. Terima kasih. Tuh kan Andita sudah Mak bilang, dia memang sangat baik."
"Iya Mak, yasudah ya? Andita pamit dulu.."
Aku dan Rifqan yang masih menggendong Mila langsung menuju kemobil. Setelah kami masuk kedalam dan dia siap menyetir, akupun langsung mengintrogasinya.
"Rifqan? Kenapa kamu mengatakan sama Mak warung itu, kalau kamu adalah suami ku?"
"Demi masa depan Mila.. Kan tadi kamu sendiri yang bilang, kalau kamu itu nggak mau difitnah jadi janda yang nggak baik. Dan akan berakibat buruk untuk masa depan Mila."
Ucap Rifqan lalu di membelokkan mobilnya kedalam lorong yang aku maksud tadi.
"Kan nggak gitu juga. Sekali berbohong.. Maka kita harus selalu berbohong Rifqan. Untuk menutupi kebohongan pertama, akan timbul kebohongan yang kedua dan ketiga."
"Aku mengerti.. Masalah itu biar aku yang urus, percayalah ! Oh iya Andita, rumah yang kamu maksud Dimana?"
"Setelah Melewati rumah yang ada didepan kita."
"Yang mana Andita nggak ada rumah lagi. Didepan tanahnya kosong." Rifqan pun menghentikan mobilnya, tepat didepan dimana seharusnya rumah kakekku berada.
"Ya ampun." Aku sangat terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Sambil menggendong Mila aku langsung turun mobil dan lari kesana.
BERSAMBUNG.
Halo Readers ku yang tercinta.. Yang baik hati, terimaksih banyak ya atas semua komentar kalian .. Author sangat senang dan bersemangat sekali setiap membaca komentar dari para readers semuanya.
Cerita ini penuh dengan Misteri dan hal yang tidak terduga, Tapi tenang saja karena Rifqan sudah ada disamping Andita. Jadi Andita sudah sudah aman dari banyak hal yang ada di hidupnya..
Readers.. Kalian harus sabar dulu ya ! Tidak mungkin Author akan langsung menikahkan Rifqan dan Andita tanpa ada cinta. . jadi diiantara mereka pasti harus tumbuh benih-benih cinta dulu kan?
Yang jelas, setelah Andita menikah dengan Rifqan. Andita akan menjadi wanita yang lebih cantik dan elegan.
Oh, iya para readers.. Author sangat berharap, bagi kalian yang suka dengan novel ini. . silahkan like dan komentar untuk meninggalkan jejak ya, Biar Author lebih semangat lagi? Terimakasih i love you Readers ku.. Terimakasih..
.he he