NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Satu Atap yang Dingin

Jam dinding aula besar baru saja berdentang tepat pukul enam pagi ketika Ayranza sudah berdiri di depan pintu kamar. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang dibeli terburu‑buru sebelum berangkat ke Italia—cukup sopan namun jauh dari kemewahan yang mengelilingi kediaman keluarga Alexander. Angga dan Arshen sudah siap di belakangnya, wajah mereka masih mengantuk namun berusaha tampil tegar. Semalam tak ada yang benar‑benar tidur nyenyak; suara angin kencang dan bayangan lorong panjang membuat hati terus waspada.

Ketika mereka melangkah ke lorong utama, Leonardo sudah menunggu di sana. Wajahnya tetap datar, pakaiannya serapi biasa, seolah ia tak pernah butuh istirahat sedikit pun.

“Tepat waktu,” katanya singkat lalu berbalik berjalan mendahului mereka menuju tangga besar yang berkilauan. “Tuan Axel sudah menunggu di lobi depan. Hari ini ia akan langsung mengantar kalian ke sekolah.”

Sesampainya di lobi utama, suasana makin menyesakkan. Di sana Axel sudah berdiri di samping pintu besar kaca, mengenakan setelan jas abu‑abu gelas berpotongan sempurna, rambutnya disisir rapi hingga tak ada satu helai pun berantakan. Di sebelahnya, Mommy Xena sedang membetulkan ujung dasi Axel dengan gerakan lembut namun berwibawa, sementara Daddy Xavier berdiri sedikit di belakang sambil membaca koran pagi dengan pandangan tajam sesekali melirik ke arah Ayranza dan kedua adiknya.

“Pagi,” sapa Mommy Xena, suaranya halus namun ada nada penilaian yang jelas terdengar. Ia menatap Ayranza dari kepala hingga ujung kaki. “Ingat baik‑baik pesan kami kemarin. Bersikap sopan, bicara seperlunya saja, dan jangan sampai ada berita buruk sampai ke telinga kami. Keluarga kami tidak suka gunjingan orang lain.”

“Baik, Nyonya,” jawab Ayranza pelan sambil menundukkan kepala sedikit.

Axel tak banyak bicara. Ia hanya memberi isyarat tangan agar mereka segera berjalan ke luar menuju mobil hitam panjang yang sudah dipanaskan sopir di halaman depan. Saat melewati Daddy Xavier, pria itu berhenti sejenak membaca koran dan menatap tajam ke arah Axel.

“Pastikan semuanya berjalan sesuai kesepakatan,” ucapnya rendah, hanya terdengar oleh anaknya. “Jangan sampai keputusanmu kemarin malah menjadi kesalahan besar.”

Axel mengangguk sekilas tanpa ekspresi berubah. “Saya tahu batas saya, Daddy.”

Perjalanan menuju pusat kota Milan berlangsung hening. Di dalam mobil yang bergerak mulus itu, hanya terdengar suara mesin halus dan angin di luar kaca. Arshen sesekali menempelkan wajahnya ke jendela, terpesona melihat gedung‑gedung tua yang megah dan deretan toko mewah di pinggir jalan, sementara Angga diam seribu bahasa, tangannya mencengkeram tas sekolah erat‑erat seolah takut kehilangannya. Ayranza duduk di kursi belakang tepat di sebelah Axel; jarak mereka cukup dekat, namun udara di antara mereka terasa dingin dan penuh jarak.

Sekali waktu Axel menoleh sedikit ke arahnya, matanya kelabu tajam. “Sekolah yang akan mereka masuki adalah salah satu yang terbaik di sini. Semua muridnya berasal dari keluarga terpandang. Jika Angga atau Arshen sampai terlibat masalah apa pun, baik berkelahi, nilai jelek, atau sekadar dianggap kurang pantas, kau yang bertanggung jawab sepenuhnya. Mengerti?”

“Mengerti,” jawab Ayranza mantap meski jantungnya berdebar. Ia sadar, beban yang dipikulnya makin berat.

Sesampainya di sekolah, Axel tak sekadar mengantar lalu pergi begitu saja. Ia ikut masuk ke ruang administrasi, berbicara langsung dengan kepala sekolah dan kepala jurusan dengan nada berwibawa yang membuat siapa saja segan. Leonardo berdiri di sudut ruangan, memastikan berkas‑berkas surat perjanjian dan jaminan biaya pendidikan terserahkan sempurna tanpa ada celah sedikit pun. Tak sampai satu jam, segala urusan pendaftaran selesai tuntas. Angga langsung masuk ke kelas tingkat akhir, sedangkan Arshen ditempatkan di kelas menengah dengan penyesuaian jadwal pelajaran yang disusun khusus.

Saat berjalan keluar gerbang sekolah, Angga sempat berbisik pelan pada Ayranza sebelum berpisah masuk gedung: “Kau hati‑hati ya, Kak. Aku rasa mereka semua di sini akan menatap kita dengan pandangan yang aneh.”

“Kau pun begitu, ya,” balas Ayranza lembut sambil mengusap bahu adiknya sebentar. “Ingat pesan Ibu: tetap rendah hati tapi jangan biarkan siapa pun meremehkanmu.”

Setelah kedua adiknya masuk, Ayranza kembali duduk di kursi penumpang depan mobil bersama Axel. Kali ini Axel tak langsung menyuruh pulang. Ia memberi isyarat pada sopir untuk berkeliling kota sebentar sebelum kembali ke kediaman.

“Sebelum kau dianggap benar‑benar menjadi bagian dari rumah itu,” kata Axel tiba‑tiba sambil menunjuk bangunan‑bangunan besar yang lewat di sisi jalan, “kau harus paham betul lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerjaku. Semua orang yang kau lihat di sini, pemilik toko, pejabat kota, pengusaha, sebagian besar kenal baik namaku maupun nama keluargaku. Satu gerak‑gerikmu akan langsung sampai ke telinga mereka.”

Ia berhenti sejenak, lalu nada suaranya makin rendah dan tegas. “Dan ingat satu hal lagi: di depan orang luar, kau adalah istri sahku. Kau boleh bicara apa saja yang pantas, tapi jangan pernah sekalipun membocorkan isi kontrak rahasia di antara kita. Jika sampai bocor sedikit saja, aku takkan ragu menarik kembali segala bantuanku. Termasuk menghentikan sekolah adik‑adikmu.”

Ayranza menelan ludah berat. “Saya paham sepenuhnya.”

Setelah berkeliling hampir dua jam, mobil akhirnya berbelok masuk kembali ke jalanan menuju kediaman keluarga Alexander. Hari itu cerah dan langit Milan bersih tanpa kabut, namun hati Ayranza masih diselimuti kekhawatiran. Ia sadar, hari‑hari berat baru saja benar‑benar dimulai.

Sesampainya di kediaman, Leonardo langsung mengantar Ayranza menemui Mommy Xena yang sedang duduk di teras belakang ditemani dua wanita lain berpenampilan sama mewahnya. Ayranza disuruh duduk sedikit jauh, mendengarkan saja tanpa banyak bertanya. Obrolan mereka berputar pada bisnis keluarga, acara amal, hingga gosip‑gosip kecil lingkungan elit kota itu. Sesekali Mommy Xena meliriknya, lalu memberi perintah‑perintah kecil. Mulai dari cara berpakaian yang pantas, tata cara makan di pesta besar, hingga bagaimana menyapa tamu penting yang akan berkunjung minggu depan.

Siang berganti sore, sore berubah senja. Saat jam makan malam tiba nanti, suasana akan kembali menegangkan seperti malam pertama mereka datang. Namun Ayranza mulai menyadari pola di sini. Axel yang tampak dingin dan kejam ternyata diam‑diam menjaga segala sesuatunya berjalan tertib dan aman. Mommy Xena yang kritis ternyata mengajarkan hal‑hal penting supaya ia tak mudah salah langkah, bahkan Daddy Xavier yang keras kepunyai aturan tegas demi menjaga nama baik keluarga.

Di dalam hati Ayranza perlahan tumbuh tekad baru: ia takkan sekadar bertahan tiga tahun sesuai kontrak. Ia akan belajar, berusaha, dan membuktikan bahwa keluarga Geovan pun punya harga diri yang tak boleh diinjak‑injak sembarangan, bahkan oleh keluarga Alexander sekalipun.

Di sisi lain, di ruang kerjanya yang tertutup rapat, Axel diam‑diam memandangi foto kecil berisi wajah Ayranza dan kedua adiknya yang diselipkan di antara berkas kontrak. Ia tak mau mengakuinya, namun rasa penasaran dan sesuatu yang lain mulai perlahan tumbuh di dada. Sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur dalam‑demi menjaga wibawa dan kekuasaannya.

Malam itu kembali turun menyelimuti Milan, membawa serta janji, rahasia, dan benih‑benih perasaan yang perlahan mulai tumbuh di bawah satu atap yang dingin itu.

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!