NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Resmi

Keira pulang ke apartemennya lima belas menit kemudian dengan kening yang masih terasa hangat.

Padahal Xavier hanya mencium keningnya.

Hanya.

Kata itu jelas tidak masuk akal, karena setelah pintu apartemen tertutup, Keira langsung merosot ke lantai, menutup wajah dengan kedua tangan, lalu mengeluarkan suara kecil yang tidak bisa disebut tertawa maupun menangis.

"Gue punya pacar," bisiknya ke ruangan kosong.

Kata itu terdengar aneh.

Pacar.

Bukan tetangga seberang.

Bukan partner Psikologi Hubungan.

Bukan target sistem.

Bukan sandiwara di depan Engkong.

Pacar.

Keira mengulang kata itu dalam kepala sampai pipinya panas sendiri. Ia berdiri, berjalan ke meja, lalu mengambil ponsel modernnya. Chat dengan Xavier masih tersimpan dengan nama `Xavier Sia`, lengkap dengan foto profil setengah gelap yang terlalu rapi untuk manusia seusianya.

Ia membuka pengaturan kontak.

Jempolnya melayang di atas layar.

Nama baru apa?

`Xav`?

Terlalu santai.

`Xav Pacar`?

Terlalu memalukan. Kalau Celine melihat, ia tidak akan selamat.

`Pacar Galak`?

Keira tertawa sendiri.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

`Sudah sampai?`

Keira menatap pesan itu.

Apartemen mereka berhadapan. Xavier tahu jaraknya hanya beberapa langkah. Namun pertanyaan itu tetap datang, seolah ia baru mengantar Keira pulang melewati setengah kota.

Keira mengetik, `Sudah. Terima kasih sudah mengantar dari pintu kamu ke pintu aku. Perjalanan sangat jauh.`

Balasan Xavier cepat.

`Sama-sama. Jalanan tadi berbahaya.`

Keira menahan senyum.

`Berbahaya karena apa?`

`Karena pacarku gampang kabur.`

Keira hampir menjatuhkan ponsel.

Pacarku.

Satu kata itu muncul di layar tanpa peringatan, hitam di atas latar chat, dan tetap saja terasa seperti seseorang menyalakan kembang api di dalam dadanya.

Ia menutup layar.

Membuka lagi.

Membaca ulang.

Menutup lagi.

Membuka lagi.

"Ampun," gumamnya, menempelkan ponsel ke dada. "Satu kata doang, Kei. Jangan norak."

Ia tetap norak selama sepuluh menit.

Akhirnya ia mengganti nama kontak itu menjadi `Xav` dan menambahkan emoji hati merah di belakangnya. Setelah menekan simpan, ia langsung panik dan menggantinya lagi menjadi `Xav`. Dua detik kemudian, ia merasa itu terlalu dingin. Ia menambahkan emoji hati lagi.

Lima kali.

Pada percobaan keenam, ia berhenti.

`Xav` dengan emoji hati kecil.

"Ini normal," katanya pada diri sendiri. "Orang pacaran melakukan hal normal seperti ini."

Nokia tua di laci meja tiba-tiba bergetar.

Keira menoleh.

Rasa manis di dadanya langsung bercampur dengan ingatan bahwa hidupnya masih punya bagian yang tidak bisa dijelaskan.

Ia membuka laci, mengambil ponsel tua itu. Layarnya menyala dengan pesan lama Misi 3 yang belum berubah.

`Pakai outfit couple bersama target, minimal 3 kali.`

Keira menatapnya, lalu menatap ponsel modern di tangan satunya, tempat nama `Xav` dengan hati masih terbuka.

Sekarang tugas itu seharusnya lebih mudah.

Mereka sudah resmi.

Ia bisa saja berkata, `Besok kita pakai warna yang sama, yuk.` Xavier mungkin akan menjawab dengan wajah datar, lalu benar-benar melakukannya. Mungkin bahkan tanpa bertanya kenapa.

Namun justru karena sekarang sudah resmi, Keira merasa lebih takut.

Sebelum ini, semua bisa bersembunyi di balik misi, kebetulan, dan alasan aneh. Sekarang setiap permintaan kecil akan terdengar seperti permintaan pacar.

Pacar.

Keira menutup laci pelan.

"Besok saja," katanya lagi.

Untuk hal-hal penting, Keira ternyata sangat suka berkata besok.

Besok datang terlalu cepat.

Pukul tujuh pagi, bel apartemennya berbunyi.

Keira yang masih memakai piyama bergambar awan hampir tersandung karpet. Rambutnya belum disisir. Wajahnya baru dicuci seadanya. Ia membuka pintu sedikit, yakin yang datang hanya paper bag sarapan seperti biasa.

Tetapi yang berdiri di depan pintu bukan paper bag.

Xavier.

Ia memakai kemeja biru muda, celana hitam, dan membawa dua kotak makan. Rambutnya rapi. Wajahnya segar. Terlalu tampan untuk jam tujuh pagi.

Keira langsung ingin menutup pintu.

Tangan Xavier menahan pintu dengan mudah.

"Pacarku," katanya, sangat tenang, "mau sarapan bareng?"

Keira membeku.

Kata itu lagi.

Diucapkan langsung.

Dengan suara Xavier.

Di depan wajahnya.

Pintu benar-benar hampir ia tutup karena sistem pertahanan tubuhnya memilih kabur sebagai solusi.

Xavier menunduk sedikit, menahan senyum. "Kenapa ditutup?"

"Aku belum siap."

"Untuk sarapan?"

"Untuk kamu."

Kalimat itu keluar sebelum Keira sempat memfilternya.

Mata Xavier berubah.

Keira ingin menggigit lidah sendiri.

"Maksudku, aku belum siap menerima tamu. Aku masih..." Ia menunjuk rambutnya sendiri. "Begini."

Xavier memperhatikan rambutnya yang setengah kering, poni berantakan, dan piyama awan yang sangat tidak dewasa.

"Lucu."

Keira menarik napas tajam. "Jangan."

"Jangan apa?"

"Jangan bilang hal yang membuat aku ingin menutup pintu lagi."

"Kalau aku bilang kamu cantik?"

Pintu tertutup tiga senti.

Xavier tertawa.

Tertawa.

Keira menatap celah pintu dengan wajah panas. "Kamu berubah jadi berbahaya setelah jadi pacar."

"Aku dari dulu begini. Kamu saja baru sadar."

"Fitnah."

"Buka pintunya, Kei. Buburnya dingin."

Keira berhenti.

Kei.

Ia pernah dipanggil begitu oleh Celine, oleh Tania, oleh teman-teman dekat. Namun dari mulut Xavier, panggilan itu terasa berbeda. Lebih pendek. Lebih dekat. Seperti seseorang yang tidak lagi berdiri di luar hidupnya.

Ia membuka pintu perlahan.

"Masuklah, tapi jangan komentar soal rambut."

"Baik."

"Dan jangan lihat piyama."

"Sudah telanjur."

"Xavier."

"Xav," koreksinya.

Keira terdiam.

Xavier masuk sambil membawa kotak makan, melepas sepatu di dekat pintu dengan rapi. Ia tidak langsung menuju meja. Ia menoleh, menunggu Keira menutup pintu.

"Kalau sudah pacaran," katanya, "boleh panggil Xav lebih sering."

"Siapa bilang aku mau?"

"Kamu sudah panggil tadi malam."

"Itu karena aku setengah sadar."

"Berarti alam bawah sadar kamu lebih jujur."

Keira mengambil bantal kecil dari sofa dan memukul lengannya. Xavier menerima pukulan itu tanpa menghindar, bahkan terlihat puas.

Sarapan mereka berlangsung di meja kecil dekat jendela. Xavier membuka kotak makan satu per satu: bubur ayam, telur, potongan roti panggang, dan buah pepaya yang sudah dipotong kecil.

"Kamu bawa banyak sekali."

"Aku belum tahu pacarku suka sarapan apa di hari pertama pacaran."

Sendok Keira berhenti di udara.

Xavier menatapnya polos.

"Kamu sengaja, ya?"

"Apa?"

"Ngomong pacarku terus."

"Memang fakta."

Keira menunduk, menggigit ujung sendok.

Fakta.

Xavier Sia, orang yang dulu ia lihat di bawah lampu jalan dengan hoodie yang sama, orang yang pernah membuat seisi kampus heboh karena membelanya di confession page, orang yang selalu terlihat jauh seperti poster kampus mahal, sekarang duduk di apartemennya dan menyebutnya pacar.

Kalau ini mimpi, Keira tidak mau bangun.

Namun tentu saja, karena ini hidup Keira, momen manis itu harus diganggu oleh ponsel.

Celine menelepon.

Nama `Cel` muncul besar di layar.

Keira menatap Xavier panik.

Xavier mengangkat alis. "Angkat."

"Tidak."

"Kenapa?"

"Dia akan tahu."

"Memang tidak boleh?"

Keira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Boleh.

Tentu saja boleh.

Hanya saja, begitu Celine tahu, seluruh dunia mungkin akan tahu dalam waktu tiga puluh menit. Bukan karena Celine tidak bisa menjaga rahasia, tetapi karena kebahagiaannya punya volume sendiri.

Panggilan berhenti. Dua detik kemudian, pesan masuk.

`GUE MERASAKAN GETARAN ALAM. ADA UPDATE?`

Xavier membaca sekilas dari seberang meja, lalu tertawa pelan.

"Dia tajam."

"Dia mengerikan."

"Bilang saja."

"Sekarang?"

"Kalau kamu mau."

Keira menatapnya. Xavier tidak terlihat menuntut diumumkan. Tidak ada ego terluka karena Keira belum berteriak ke seluruh kampus bahwa mereka pacaran. Ia hanya menunggu, seperti semalam.

Selalu memberi ruang.

Keira mengetik pelan.

`Nanti gue cerita.`

Celine membalas:

`ITU ARTINYA IYA.`

`GUE MENANG.`

`TANIA BAYAR MAKAN.`

Keira menutup layar dengan pasrah.

"Mereka taruhan?" tanya Xavier.

"Sepertinya."

"Kevin juga."

Keira mendongak. "Apa?"

Xavier mengambil ponselnya sendiri dan memperlihatkan chat dari Kevin.

`BRO. LO HIDUP?`

`Dino bilang muka lo tadi pagi kayak orang menang lotre.`

`JANGAN BILANG LO SUDAH RESMI.`

Keira menutup mulut.

"Kenapa semua orang punya radar?"

"Karena kamu tersenyum sejak tadi."

Keira langsung menahan bibir.

Xavier melihatnya, lalu mengulurkan tangan ke meja. Ia tidak menggenggam tangan Keira. Hanya menyentuh ujung jarinya dengan ujung jari sendiri, ringan sekali.

"Tidak perlu ditahan."

Keira menatap jari mereka yang bersentuhan.

Sentuhan kecil itu membuat seluruh tubuhnya diam. Bukan karena takut, melainkan karena baru sadar bahwa sekarang ia boleh.

Ia boleh tersenyum.

Ia boleh membiarkan Xavier menyentuh ujung jarinya.

Ia boleh punya seseorang yang duduk di meja sarapannya dan bertanya apakah buburnya terlalu panas.

Keira perlahan membalik telapak tangan, lalu menggenggam jari Xavier.

Xavier tidak bergerak selama satu detik.

Setelah itu, ia menggenggam balik.

Tidak erat. Tidak dramatis.

Tetapi cukup untuk membuat mata Keira panas.

"Aku masih takut," katanya pelan.

"Aku tahu."

"Mungkin besok aku masih takut."

"Aku juga masih di sini besok."

Keira tertawa kecil. "Kamu yakin sekali."

"Iya."

"Kenapa?"

Xavier menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu wajah Keira.

"Karena aku sudah menunggu lebih lama dari yang kamu tahu."

Kalimat itu terdengar aneh. Terlalu dalam untuk ukuran hubungan yang baru resmi beberapa jam. Keira ingin bertanya, tetapi Xavier sudah melepaskan tangannya untuk mengambil mangkuk.

"Makan dulu. Nanti bubur benar-benar dingin."

Keira menyipit. "Kamu menghindar?"

"Kamu juga sering."

"Sekarang kita pacaran, kamu tidak boleh memakai kelemahanku sebagai senjata."

"Justru aku makin boleh."

Keira menendang kakinya pelan di bawah meja. Xavier tidak menghindar.

Mereka sarapan sambil bertengkar kecil tentang apakah pepaya termasuk buah yang menyenangkan. Keira bilang teksturnya mencurigakan. Xavier bilang Keira terlalu dramatis. Pada akhirnya, Keira tetap makan tiga potong karena Xavier menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Setelah sarapan, Xavier mencuci kotak makan di dapurnya seperti sudah biasa. Keira berdiri di samping, menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar berubah dan semuanya berubah sekaligus.

Kemarin, kalau Xavier masuk apartemennya, ia akan sibuk mencari alasan.

Hari ini, ia berdiri di samping pria itu dengan status pacar, dan rasanya seperti memakai baju yang masih baru. Sedikit kaku. Sedikit membuat sadar diri. Tetapi hangat.

Sebelum Xavier pulang ke unitnya, ia berhenti di ambang pintu.

"Ke kampus besok bareng?"

Keira berkedip. "Besok?"

"Iya."

"Kalau kita datang bareng, orang-orang akan..."

"Tahu?"

Keira menggigit bibir.

Xavier menunduk sedikit, mencari matanya. "Kalau kamu belum mau, tidak apa-apa."

Lagi-lagi ruang itu diberikan padanya.

Keira memikirkan Celine yang sudah menebak. Kevin yang kemungkinan sudah menyiapkan pesta verbal. Tania yang akan tersenyum diam-diam. Seluruh kampus mungkin akan berbisik.

Lalu ia memikirkan pertanyaan yang lebih sederhana.

Apakah ia ingin berjalan di samping Xavier sebagai pacarnya?

Jawabannya muncul tanpa perlu dipaksa.

"Bareng," katanya.

Senyum Xavier kembali muncul, kecil tapi tidak bisa disembunyikan.

"Baik."

Ia melangkah keluar, lalu berhenti lagi.

"Kei."

"Hmm?"

"Besok aku jemput pacarku ke kampus."

Keira mengambil sandal rumah dan hampir melemparkannya.

Xavier sudah menutup pintu sambil tertawa pelan dari luar.

Keira berdiri di ruang tamu, wajah panas, tangan masih memegang sandal.

Setelah beberapa detik, ia menurunkannya dan tertawa sendiri.

Hari pertama menjadi pacar Xavier Sia ternyata sangat berbahaya.

Dan Keira, untuk pertama kalinya, tidak ingin kabur.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!