Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Pesan pertama Mei Li datang pukul tujuh lewat lima belas.
Arka sedang bersiap berangkat ke KADIN ketika ponselnya menyala.
Kirim jadwalmu hari ini.
Ia menatap layar beberapa detik, lalu tersenyum.
Dimas yang sedang duduk di meja makan langsung curiga. "Itu senyum orang yang baru dapat transfer batin."
Arka tidak menjawab. Ia mengetik:
Selamat pagi juga, Mei Li.
Balasan datang cepat.
Jadwal.
Dimas hampir tersedak kopi saat Arka memperlihatkan layar.
"Mas, ini bukan chat pacaran. Ini formulir keamanan."
"Untuk Mei Li, mungkin itu hal yang sama."
"Wah. Kamu sudah parah."
Arka mengirim jadwalnya: KADIN pukul sembilan, rapat asosiasi pukul sebelas, makan siang di kantor, kunjungan ke Senayan pukul tiga, pulang sebelum magrib. Beberapa detik kemudian, Mei Li membalas dengan daftar singkat.
Jangan pakai rute Sudirman jam tiga. Vulture sempat memutar di area itu. Minta sopir lewat Gatot Subroto. Jangan berhenti di lobby lebih dari dua menit. Kabari saat sampai.
Arka membaca pesan itu pelan.
Tidak ada kata hati-hati. Tidak ada emoji. Tidak ada kalimat manis.
Namun di setiap instruksi, ada kekhawatiran yang disembunyikan dengan sangat buruk.
Ia membalas:
Baik. Saya akan patuh.
Mei Li:
Jangan bercanda dengan keamanan.
Arka:
Saya tidak bercanda. Saya hanya senang diperintah oleh Anda.
Tidak ada balasan selama satu menit.
Dimas memukul meja. "Mas! Kamu mau hidup panjang atau nggak?"
Ponsel Arka akhirnya bergetar.
Fokus.
Satu kata.
Namun Arka bisa membayangkan wajahnya saat mengetik itu. Dingin di luar, mungkin telinganya sedikit panas. Bayangan itu membuat pagi terasa lebih ringan daripada seharusnya.
***
Di villa sebelah, Amy membaca salinan jadwal Arka yang sudah masuk ke sistem keamanan.
"Nona, Anda bisa meminta tim kami memantau tanpa perlu menghubunginya langsung."
"Aku tahu."
Bella berdiri di samping jendela. "Tapi Nona memilih menghubungi langsung."
Mei Li tidak menoleh. "Kalau kalian berdua ingin tetap bekerja, berhenti menganalisis kehidupan pribadiku."
Amy menunduk. "Baik."
Bella menambahkan, "Kami hanya memastikan protokol komunikasi baru tercatat."
"Tidak ada protokol baru."
Ponsel Mei Li bergetar.
Arka mengirim foto singkat dari kursi belakang mobil. Tidak ada wajah. Hanya jalan yang berbeda dari rute biasa dan tulisan:
Mengikuti instruksi.
Mei Li menatap foto itu. Sudut bibirnya bergerak sedikit.
Amy melihat. Bella juga.
Keduanya memilih hidup panjang.
Satu jam kemudian, Arka mengirim:
Sampai KADIN.
Dua jam kemudian:
Rapat selesai. Tidak berhenti di lobby.
Pukul tiga:
Lewat Gatot Subroto. Macet, tapi aman.
Mei Li membalas setiap pesan dengan satu atau dua kata.
Baik.
Lanjut.
Pantau belakang.
Pukul tiga lewat tujuh, Sean mengirim tangkapan kamera lalu lintas. Sebuah mobil abu-abu yang sempat dipakai tim Vulture terlihat di jalur Sudirman, tepat di rute lama Arka.
Bella meletakkan tablet di meja. "Kalau Pak Arka tetap pakai rute biasa, mereka akan berada dua mobil di belakangnya."
Amy menatap Mei Li. "Instruksi Anda memotong kontak."
Mei Li tidak bereaksi. "Pantau mobil abu-abu itu."
"Sudah." Bella memperbesar peta. "Mereka berhenti lima menit, lalu bergerak ke arah Kuningan. Sepertinya sadar target tidak lewat."
Untuk beberapa detik, ruangan terasa sangat sunyi.
Kekhawatiran yang sejak pagi Mei Li bungkus sebagai daftar instruksi tiba-tiba punya bentuk konkret: plat nomor, koordinat, jarak dua mobil.
Ia mengirim pesan baru pada Arka.
Jangan ubah rute tanpa kabar.
Balasan Arka datang cepat.
Dimengerti. Ada sesuatu?
Mei Li menatap layar. Ia bisa saja menulis tidak ada. Ia bisa saja menyembunyikan, seperti yang selalu ia lakukan agar orang lain tidak panik.
Namun Arka sudah meminta untuk tahu risiko.
Ada kendaraan Vulture di rute lamamu. Sudah lewat. Tetap waspada.
Kali ini balasan Arka tidak bercanda.
Terima kasih sudah memberitahu. Saya tetap di rute aman.
Di kantor KADIN, Arka membaca pesan itu di ruang rapat kosong. Dimas yang duduk di sebelahnya menatap wajahnya.
"Serius?"
Arka mengangguk. "Mereka hampir mengikuti rute lama."
Dimas memucat. "Oke. Mulai sekarang gue berhenti bercanda soal jadwal dari Kak Mei Li."
"Bagus."
Untuk pertama kalinya hari itu, Dimas benar-benar menutup mulutnya cukup lama tanpa protes lagi sama sekali.
Namun ketika pukul lima lewat tiga puluh Arka belum memberi kabar pulang, jarinya mengetuk meja lebih cepat.
Amy memperhatikan. "Kemungkinan rapat mundur."
"Aku tidak bertanya."
"Belum."
Bella menatap layar peta. "Mobil Pak Arka masih di Senayan. Tidak ada anomali."
Mei Li mengambil ponsel.
Ia menunggu lima detik.
Lalu mengetik:
Status?
Tidak ada balasan.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Mei Li berdiri.
Ponsel bergetar.
Maaf. Rapat molor. Baru masuk mobil. Aman.
Mei Li menutup mata sebentar.
Amy dan Bella melihatnya menarik napas yang terlalu pelan untuk disebut biasa.
Ia membalas:
Kabari saat sampai rumah.
Arka:
Baik.
Lalu, beberapa detik kemudian:
Terima kasih sudah menunggu kabar saya.
Mei Li menatap layar.
Ia tidak membalas.
Namun ketika mobil Arka akhirnya masuk gerbang Menteng Regency dan Bella mengonfirmasi "Pak Arka sudah pulang", Mei Li berjalan ke jendela.
Rumah sebelah menyala.
Ponselnya bergetar lagi.
Saya sudah sampai. Selamat malam, Mei Li.
Kali ini, ia tidak mengirim jawaban dingin.
Ia mengetik:
Selamat malam, Arka.
Sebelum pikirannya sempat mencari alasan untuk menghapus, ia menekan kirim.