Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Barang yang Berubah Jadi Bukti
Nama Nadia menyebar sepanjang malam.
Di TikTok, potongan live muncul dalam berbagai versi. Ada yang memberi judul Istri dikunci dari rumah sendiri. Ada yang menulis Dokter ambil barang dengan pengacara. Ada juga akun gosip kecil yang memakai kalimat lebih tajam: Tas istri diduga dipakai perempuan lain.
Nadia membaca tiga komentar, lalu mematikan layar.
"Jangan dibaca semua," kata Sari.
"Aku dokter, Ma. Aku biasa baca hasil lab buruk."
"Komentar netizen bukan hasil lab. Banyak sampelnya rusak."
Nadia tertawa lemah.
Mereka duduk di kontrakan Sari dengan kardus barang di sekitar. Ayu membantu memisahkan dokumen, pakaian kerja, buku medis, dan barang yang perlu difoto ulang. Pak Surya mengirim pesan bahwa somasi akan dikirim pagi. Ia juga mengingatkan Nadia agar tidak membuat unggahan apa pun.
"Kalau aku diam, orang akan percaya cerita mereka."
Sari menuang teh. "Kalau kamu bicara tanpa arah, orang akan memotong suaramu sesuai kebutuhan mereka. Diam dulu bukan kalah."
Nadia menatap kardus buku medisnya. "Aku benci harus belajar semua ini."
"Ibu juga."
"Mama kelihatan pintar sekali."
"Karena Ibu sudah terlalu sering bodoh."
Nadia menoleh. Sari tidak sedang merendahkan diri. Suaranya datar, seperti orang mencatat harga gula.
Ponsel Nadia menyala.
Pesan dari Livia.
Mbak Nadia, saya minta maaf. Saya benar-benar tidak tahu tas itu milik Mbak. Dimas bilang itu hadiah karena saya bantu proyek rumah sakit. Kalau Mbak mau, saya kembalikan.
Nadia membaca tanpa berkedip.
Sari duduk di sebelahnya. "Screenshot."
Nadia mengikuti. Tangannya tidak gemetar.
"Dia bilang tidak tahu."
"Mungkin benar."
Nadia menatap ibunya, kaget.
Sari mengangkat gelas teh. "Mungkin juga bohong. Dua-duanya tidak mengubah fakta bahwa tasmu ada padanya."
Nadia mengirim screenshot kepada Pak Surya. Lalu ia membalas singkat, setelah mendapat arahan:
Silakan kembalikan melalui Pak Surya atau antar ke kontrakan Ibu saya besok pukul lima. Saya akan dokumentasikan penerimaan.
Livia membalas hampir langsung.
Saya antar lewat Dimas saja, Mbak. Saya tidak enak.
Nadia menatap kalimat itu.
"Dia tidak enak," gumamnya.
Sari menyesap teh. "Orang sering baru tidak enak setelah ketahuan."
Nadia tidak membalas lagi.
Pagi berikutnya, somasi dikirim. Isinya jelas: kembalikan perhiasan atau beri lokasi gadai, kembalikan tas cokelat beserta aksesorinya, jelaskan transfer rekening bersama, dan sepakati pengambilan barang bergerak milik Nadia. Batas waktu dua kali dua puluh empat jam.
Dimas menelepon berkali-kali.
Nadia tidak mengangkat.
Ia hanya mengirim satu pesan:
Silakan jawab tertulis melalui Pak Surya.
Dimas membalas panjang. Ia menulis bahwa Nadia membuat semuanya rumit. Bahwa Bu Marni menangis semalaman. Bahwa Livia tidak bersalah. Bahwa Sari meracuni pikiran Nadia. Bahwa rumah tangga tidak seharusnya dibawa ke pengacara.
Nadia membaca sampai selesai, lalu mengirim ke folder bukti.
Tidak ada lagi keinginan menjelaskan. Ia mulai mengerti kenapa Sari sering berkata penjelasan panjang bisa berubah menjadi tali untuk menjerat diri sendiri.
Sore harinya, Dimas datang ke kontrakan.
Ia berdiri di depan pagar kecil dengan paper bag di tangan. Wajahnya lelah, kemejanya kusut. Tidak ada Bu Marni. Tidak ada Livia. Hanya ia, Sari, Nadia, dan Ayu yang pura-pura menyapu halaman kios sebelah.
"Aku bawa tasnya," kata Dimas.
Nadia keluar dengan ponsel merekam di tangan. "Saya rekam penerimaan barang."
Dimas mengernyit. "Nad, jangan begini terus."
"Tasnya."
Ia menyerahkan paper bag. Nadia membukanya. Tas cokelat itu ada di dalam. Permukaannya masih mulus. Tapi gantungan huruf N hilang.
"Gantungannya mana?"
"Mungkin lepas."
"Di Livia?"
Dimas diam.
Nadia menatapnya. "Bahkan saat mengembalikan barang pun kamu tidak bisa jujur."
"Aku salah. Aku sudah bilang aku salah."
"Kamu menyesal karena ketahuan."
"Tidak. Aku menyesal menyakitimu."
Kalimat itu mengenai bagian lama dalam diri Nadia. Bagian yang dulu menunggu Dimas pulang, memaafkan karena ia terlihat lelah, dan percaya bahwa laki-laki yang bicara pelan pasti lebih baik daripada laki-laki yang berteriak.
Bagian itu belum mati. Tapi Nadia kini tahu bagian tersebut tidak boleh memegang keputusan.
"Kalau menyesal, jawab somasi. Kembalikan perhiasan. Jelaskan rekening."
"Kamu benar-benar mau pakai pengacara untuk suami sendiri?"
"Aku pakai pengacara karena suamiku mengganti kunci."
Dimas menatap Sari. "Ini semua karena Mama kamu."
Sari baru akan menjawab, tetapi Nadia lebih cepat.
"Tidak. Ini karena kamu, ibumu, dan pilihanmu."
Dimas terdiam.
Ayu berhenti menyapu. Sari melihat, tetapi membiarkan.
"Nad," suara Dimas melemah, "aku masih sayang kamu."
Nadia memegang tas cokelat itu. Dulu tas ini membuatnya bahagia. Ia membelinya setelah menerima honor jaga malam pertama yang benar-benar terasa miliknya. Ia memasang gantungan huruf N sendiri di kamar, sambil Dimas menertawakan kebiasaannya memberi tanda pada barang.
Sekarang tas itu kembali tanpa huruf N.
Seperti dirinya yang pulang dari pernikahan tanpa nama yang utuh.
"Sayang yang kamu maksud tidak membuatku aman," katanya.
Dimas terlihat seperti ingin memeluk. Sari maju satu langkah. Ia berhenti.
"Aku bisa berubah."
"Berubahlah. Tapi jangan jadikan aku ruang tunggu."
"Kamu mau cerai?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Nadia tidak langsung menjawab. Jalan gang sore itu ramai oleh suara motor, anak pulang mengaji, dan penjual siomay. Hidup orang lain tetap berjalan seperti biasa. Pernikahannya berdiri di tengah gang kecil, menunggu satu kata.
"Aku mau menyusun berkas."
"Itu sama saja."
"Belum. Tapi arahnya ke sana."
Dimas menutup mata. "Ibu akan hancur."
"Ibumu hancur karena ia kehilangan kendali, bukan karena aku menyelamatkan diri."
Dimas membuka mata. Marahnya naik lagi. "Kamu sekarang bicara seperti ibumu."
Nadia tersenyum tipis. "Akhirnya ada yang bisa kubanggakan."
Dimas pergi tanpa pamit.
Setelah ia menghilang di ujung gang, Nadia duduk di teras kontrakan. Tas cokelat ada di pangkuannya. Barang itu kembali, tetapi rasanya tidak kembali.
"Ma," katanya, "aneh ya. Dulu aku senang sekali beli tas ini. Sekarang rasanya seperti barang bukti."
Sari duduk di sebelahnya. "Beberapa benda berubah fungsi setelah orang berkhianat."
Nadia mengangguk.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Pak Surya.
Bu Nadia, kalau sudah siap, kita bisa mulai susun cerai gugat. Tidak harus didaftarkan hari ini, tapi kronologi dan berkas bisa disiapkan.
Nadia membaca pesan itu lama.
Lalu ia membuka laptop. Bukan hanya folder bukti. Ia juga membuka CV lama yang terakhir diperbarui sebelum menikah.
Sari melihat layar. "CV?"
"Pak Surya bilang hidup lama dan hidup baru bisa diurus bersamaan."
"Pak Surya mulai pandai bicara."
"Mama cemburu?"
"Sedikit."
Nadia tersenyum untuk pertama kalinya tanpa pecah.
Ia mengetik balasan kepada Pak Surya:
Saya siap menyusun.
Sebelum mengirim, ia menatap Sari.
"Kalau aku klik ini, hidupku berubah."
Sari menatap jalan gang yang mulai gelap.
"Hidupmu berubah saat mereka mengganti kunci. Klik itu cuma membuatmu ikut memegang arah."
Nadia menarik napas.
Lalu ia menekan kirim.
Di layar laptop, CV lamanya masih terbuka. Di sana tertulis namanya tanpa nama Dimas di belakangnya.
Nadia Wulandari.
Ia membaca nama itu pelan, seolah baru pulang kepada dirinya sendiri.
Malam itu mereka tidak langsung tidur. Sari membuat teh, Nadia memperbarui CV. Pengalaman IGD yang dulu ia tulis singkat mulai dibuka lagi. Pelatihan trauma dasar. Seminar bedah saraf. Jadwal jaga. Kasus-kasus yang pernah ia tangani. Semua hal yang selama ini diperkecil karena Dimas berkata istri yang terlalu sibuk membuat rumah tidak hangat.
"Tulis dengan benar," kata Sari.
"Aku takut kelihatan sombong."
"Kamu sedang melamar kerja, bukan meminta maaf."
Nadia menghapus kalimat "membantu dokter senior" dan menggantinya menjadi "berkolaborasi dalam penanganan pasien". Sari mengangguk puas.
Pukul sebelas malam, pesan dari Mira, teman lama Nadia, masuk.
Nad, RS Pejaten buka posisi dokter umum. Kalau kamu serius mau balik jalur spesialis, coba daftar. Deadline besok.
Nadia menatap pesan itu. Di satu sisi ada berkas cerai yang baru mulai disusun. Di sisi lain ada pintu rumah sakit yang dulu ia kira sudah tertutup.
Sari membaca dari samping. "Kirim."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Nadia melampirkan CV, menarik napas, lalu menekan tombol kirim.
Di hari yang sama ia memilih meninggalkan rumah lama, ia juga mengetuk pintu hidup baru.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??